
Kemudian Puguh menceritakan tentang siluman binatang yang menghuni Hutan Perbatasan dan juga tentang serigala mata biru yang hidupnya di dasar jurang yang sangat dalam.
Mendengar cerita itu, Resi Wismaya menatap tajam Puguh.
"Puguh, coba ceritakan tentang serigala mata biru itu !" kata Resi Wismaya.
Kemudian Puguh menceritakan tentang serigala mata biru, hewk⁴an penghuni dasar jurang yang sangat dalam, yang bisa tumbuh sangat besar, yang tingginya bisa mencapai setinggi dua kali tinggi tubuh manusia dewasa. Puguh menceritakan juga tentang kekuatannya, kecepatan larinya hingga tentang cara berlari serigala mata biru yang bisa berlari dengan sangat cepat di dinding jurang.
"Kalau siluman binatang penghuni Hutan Perbatasan, aku sudah beberapa kali bertemu. Tetapi untuk serigala mata biru, aku baru kali ini mendengarnya !" kata Resi Wismaya sambil berdiri.
"Kalau bisa, pergilah ke dasar jurang tempat serigala mata biru itu hidup. Usahakan bisa menemukan serigala mata biru yang sudah menjadi siluman, yang tentunya usianya sudah ratusan tahun. Kalau tidak menemukan dalam wujud silumannya, kau bisa menakhlukkan satu serigala mata biru yang terkuat. Kemudian kau ikat binatang itu dengan mantera yang nanti aku ajarkan. Setelah itu kau gabungkan kekuatan siluman atau binatang itu dengan kekuatanmu. Barulah kau bisa melawan Ki Dahana Yaksa !" kata Resi Wismaya.
Kemudian, pada tengah malam itu juga, Resi Wismaya mengajarkan mantera untuk menggabungkan kekuatan siluman atau binatang buas yang tumbuh menjadi raksasa dan berkekuatan sangat tinggi pada Puguh dan Rengganis.
Pada pagi pagi di hari berikutnya, Puguh segera berpamit pada semuanya untuk mendahului pulang dengan alasan menjalankan tugas dari gurunya.
Beberapa saat setelah Puguh dan Rengganis pergi menuruni Gunung Pedang, Dewi Laksita tiba tiba sudah berada di samping Resi Wismaya.
"Resi Wismaya, aku tahu kedua anak muda itu bukan muridmu. Kenapa mereka berdua menyusup ke sini ?" tanya Dewi Laksita.
"Heehhh he he he he ! Dewi Laksita, matamu sungguh jeli dan tidak bisa dikelabui. Tetapi, sejak mereka belajar mantera padaku, berarti mereka sudah menjadi muridku !" jawab Resi Wismaya.
Kemudian Resi Wismaya bercerita pada Dewi Laksita tentang Puguh dan Rengganis, sejauh yang dia ketahui.
"Kabar yang beredar, Ki Bajraseta kakek gadis muda itu telah tewas. Aku ingin gadis yang banyak keunikannya itu menjadi muridku !" kata Dewi Laksita.
"Heehhh he he he he ! Dewi Laksita, kau sudah tua tapi tetap tergiur bakat istimewa !" sahut Resi Wismaya.
"Maaf Resi Wismaya. Aku tidak bisa ikut berpesta. Aku akan mengikuti gadis itu," kata Dewi Laksita sambil beranjak dan bersiap untuk pergi.
"Kau hendak ke Kerajaan Banjaran Pura ? Ayo, aku juga sudah lama tidak mengunjungi negeri itu !" sahut Resi Wismaya sambil mengambil perlengkapannya.
Sesaat kemudian, Resi Wismaya bersama dengan Dewi Laksita melesat menuruni Gunung Pedang kemudian mengambil arah ke Kerajaan Banjaran Pura.
----- * -----
__ADS_1
Setelah sampai di kaki gunung, Puguh dan Rengganis segera melesat cepat bagaikan terbang menuju ke hutan perbatasan.
Seperti halnya saat pergi menuju ke Padepokan Wukir Candrasa, perjalanan Puguh dan Rengganis menuju ke hutan perbatasan juga memakan waktu seharian.
Akhirnya pada petang hari, Puguh dan Rengganis tiba di Hutan Perbatasan.
Baru saja masuk beberapa saat ke dalam Hutan Perbatasan, Puguh dan Rengganis sudah ditemui oleh siluman harimau yang didampingi oleh siluman ular dan siluman badak
"Anak manusia ! Apa yang kau dapatkan di Padepokan Wukir Candrasa ?" tanya siluman harimau.
"Selain aku bertemu dengan beberapa tokoh sakti, aku juga memiliki kecurigaan, siluman elang ditangkap dan dikurung di suatu ruangan di dalam bangunan yang menyendiri di halaman belakang Padepokan Wukir Candrasa !" jawab Puguh.
"Jadi kalian sudah menemukannya ?" tanya siluman ular.
Puguh dan Rengganis menggelengkan kepalanya.
"Tapi kami merasakan adanya getaran kekuatan yang sangat tinggi, di salah satu bangunan Padepokan Wukir Candrasa !" kata Puguh.
Kemudian Puguh dengan pelan melepas cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Aku kembalikan cincin yang kalian pinjamkan pada kami," sambung Puguh.
Akhirnya, setelah istirahat dan bermalam di Hutan Perbatasan, Puguh dan Rengganis kembali melintasi Hutan Perbatasan.
Dengan mengerahkan ilmu berlari cepatnya, Puguh dan Rengganis melesat bagaikan terbang menuju ke Kerajaan Banjaran Pura.
Namun bukan ke arah kotaraja melainkan ke arah hutan Wanapura yang berbatasan langsung dengan sebuah gunung. Di bawah tebing di salah satu lereng gunung itulah terdapat jurang yang sangat dalam tempat tinggal serigala mata biru.
Sesampainya di tebing yang disampingnya terdapat jurang yang terlihat sangat gelap karena begitu dalamnya.
"Adik Rengganis yakin hendak ikut kakang masuk ke dalam jurang yang sangat gelap ?" tanya Puguh.
"Aku juga penasaran dengan apa yang ada di dasar jurang sana !" jawab Rengganis.
Mendengar jawaban Rengganis, Puguh segera menggandeng Rengganis lalu melompat ke arah jurang itu.
__ADS_1
Cukup lama tubuh mereka berdua meluncur turun. Beberapa saat kemudian, mereka berdua mendengar suara gemericik air mengalir, yang menandakan kalauereka hampir mendarat di dasar jurang. Hingga akhirnya Puguh dan Rengganis mendarat di dasar jurang yang cukup kering karena tidak dilewati air yang mengalir kecil.
Baru beberapa saat mereka berdiri di dasar jurang, Puguh yang indera penglihatannya sudah terlatih untuk bisa melihat dalam kegelapan, segera melihat adanya beberapa sinar biru berpasang pasangan.
"Adik Rengganis, disinilah tempat dulu kakang bersama guru terjatuh dalam keadaan pingsan. Adik Rengganis bisa melihat atau merasakan apa yang ada di sekeliling kita ?" tanya Puguh.
"Kakang Puguh tidak usah khawatir. Mataku mungkin tidak bisa melihat di kegelapan, tetapi kulitku bisa merasakan semua yang ada dan yang terjadi di sekitarku dengan sangat baik !" jawab Rengganis.
"Baik ! Adik Rengganis bisa rasakan, ada lima ekor serigala mata biru di depan dan samping kita. Kita mundur hingga ke dinding jurang untuk mengurangi arah serangan mereka, sehingga mereka tidak bisa menyerang kita dari belakang !" kata Puguh.
"Dari getaran kekuatannya, tinggi juga serigala mata biru itu !" sahut Rengganis.
"Hhmmm, ... Itu belum seberapa. Itu baru yang kecil kecil," kata Puguh sambil sedikit menoleh ke arah Rengganis sambil tersenyum.
"Oh iya ? Menarik juga. Aku jadi bisa membayangkan, bagaimana dulu kakang waktu kecil dikejar kejar kawanan serigala mata biru, di dasar jurang ini !" kata Rengganis sambil tersenyum.
"Mari kita mundur ke dinding jurang, perlahan saja," ajak Puguh sambil perlahan melangkah mundur, kemudian diikuti oleh Rengganis.
Saat Puguh dan Rengganis melangkah mundur, berpasang pasang sinar biru yang merupakan sepasang mata dari serigala mata biru itu juga semakin mendekat dan bergerak mengepung.
Ggrrrhhh ! Ggrrrhhh !
Belum juga Puguh dan Rengganis sampai di dinding jurang, ada dua serigala mata biru yang melesat dengan sangat cepat menuju ke arah mereka berdua.
Puguh dan Rengganis pun segera menghindar dengan meloncat ke belakang.
"Adik Rengganis, jangan dibunuh ! Lumpuhkan saja mereka. Sambil kita cari pemimpin mereka !" teriak Puguh.
"Baik kakang !" jawab Rengganis yang sedikit terkejut dengan kecepatan lari serigala mata biru.
"Akan aku tangkap satu untuk aku jadikan tunggangan !" sambung Rengganis.
"Kalau adik Rengganis mau, kita tangkap salah satu yang terkuat, untuk adik Rengganis takhlukkan !" kata Puguh.
Dua serigala mata biru yang terkamannya bisa dihindari itu segera membalikkan badannya dan kembali bersiap menyerang.
__ADS_1
Sesaat kemudian, dari dua arah yang berbeda, kedua serigala mata biru itu kembali melesat menerjang ke arah Puguh dan Rengganis.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_