
Hari semakin sore, masing masing pasukan perang sudah mulai membunyikan terompet tanda untuk mundur dari peperangan.
Walaupun sedang bertarung dengan sengit, begitu mendengar suara aba aba mundur, Senopati Wiraga dan Senopati Lembu Caraka sebagai pemimpin pasukan pedang segera melenting ke belakang dan menghentikan serangannya.
Nafas mereka terlihat memburu. Pakaian prajurit mereka sudah memerah terkena percikan darah dari luka mereka.
Sesaat mereka berdua menoleh dan melihat ke belakang dan me sekelilingnya. Para prajurit mereka sudah mundur semua.
"Senopati Lembu Caraka, kita sudahi pertarungan ini untuk hari ini. Aku sangat berharap, besok kau berubah pikiran !" kata Senopati Wiraga sambil menyarungkan goloknya.
"Senopati Wiraga ! Aku juga berharap, besok kita bisa berhadapan lagi !" jawab Senopati Lembu Caraka sambil memaksakan tersenyum untuk menutupi rasa lelah dan sakit di seluruh tubuhnya.
Kemudian Senopati Lembu Caraka segera melesat ke belakang menuju ke arah prajuritnya berkumpul dan membuat tenda.
Untuk sejenak, Senopati Wiraga menatap tajam ke arah Senopati Lembu Caraka menghilang. Terlihat Senopati Wiraga menarik nafas panjang dengan raut wajah menunjukkan kesedihan.
"Dewa Bathara, ... kenapa perang sesama saudara ini harus terjadi ?" gumam Senopati Wiraga.
Kemudian, dengan gerakan pelan, Senopati Wiraga membalikkan badan dan berjalan menuju ke tempat para prajuritnya untuk melihat kondisi para prajuritnya.
----- * -----
Di istana kerajaan, bersamaan dengan waktu pertempuran tadi. Senopati Arya Kastara berkeliling istana untuk memastikan keamanannya dan tidak ada penyusup.
Yang pertama diperiksa oleh Senopati Arya Kastara adalah ruang pertemuan dimana ada singgasana untuk raja duduk.
Di ruang pertemuan itu, selain bertemu dengan Prabu Pandu Kawiswara, Senopati Arya Kastara juga berkesempatan bertemu dengan Ki Dwijo, Ki Klewang Klewung, Nyi Jinten dan juga Rengganis.
Namun,Senopati Arya Kastara tidak bisa berlama lama di ruang pertemuan, karena masih harus memeriksa tempat lainnya.
Setelah beberapa saat berjalan, Senopati Arya Kastara sampai di taman keputren. Segera saja Senopati Arya Kastara masuk ke keputren dan mendapati, Putri Cinde Puspita sedang duduk di kursi menghadap.ke kolam ikan.
Senopati Arya Kastara melihat, Putri Cinde Puspita hanya ditemani oleh seorang prajurit.
Melihat Senopati Arya Kastara yang tiba tiba masuk ke keputren tanpa ada laporan dari prajurit penjaga dahulu, Putri Cinde Puspita segera berdiri dan menunjukkan sikap tidak senang.
"Paman Senopati Arya Kastara, ada keperluan apa paman Senopati masuk ke keputren ? Dan kenapa tidak minta ijin terlebih dahulu ?" tanya Putri Cinde Puspita dengan nada sedikit marah.
__ADS_1
"Maaf putri. Aku hanya sedang menjalankan tugasku, memeriksa seluruh bagian istana aman dari penyusup !" jawab Senopati Arya Kastara.
"Tetapi paman Senopati seharusnya meminta ijinku dahulu !" sahut Putri Cinde Puspita.
"Sekali lagi maaf putri, "jawab Senopati Arya Kastara pelan, "Apakah Putri Cinde hanya dijaga oleh satu prajurit ?"
"Bagiku satu prajurit sudah cukup !" jawab Putri Cinde Puspita.
Sesaat suasana senyap. Senopati Arya Kastara melihat ke sekeliling taman. Dia memang tidak mendapati seorangpun prajurit di taman keputren itu, kecuali prajurit yang duduk di dekat Putri Cinde Puspita.
"Apa betul, Putri Cinde sudah merasa aman, hanya dengan satu orang prajurit penjaga ?" tanya Senopati Arya Kastara lagi.
"Di sini sangat aman. Karena semua yang ingin masuk ke keputren ini, harus mendapatkan ijinku. Tidak ada yang berani masuk, tanpa ijinku !" jawab Putri Cinde Puspita.
"Hhmmm ... baiklah Putri Cinde. Semua itu bisa diartikan, kau bisa mati tanpa ada yang mengetahui siapa yang membunuhmu !" sahut Senopati Arya Kastara dengan senyum menyeringai.
Kemudian, dengan tangan kanan yang tiba tiba sudah memegang belati, Senopati Arya Kastara melesat dengan sangat cepat ke arah Putri Cinde Puspita, dan kemudian menghujamkan belati di tangan kanannya ke dada Putri Cinde kawiswara.
Putri Cinde Puspita belum paham apa yang terjadi, saat tiba tiba terdengar benturan tubuh yang disusul dengan suara teriakan kesakitan Senopati Arya Kastara diiringi suara belati jatuh.
Aaauuuggghhh ! Traaannnggg !
Sesaat setelah terdengar suara itu, terlihat tubuh Senopati Arya Kastara jatuh bergulingan di tanah.
Dengan cepat, Senopati Arya Kastara bangun berdiri lagi. Matanya menyalang melihat ke segala arah. Senopati Arya Kastara sangat terkejut, tiba tiba ada yang menendang pinggang kanannya.
Namun, sekali lagi, yang dia lihat hanyalah seorang prajurit yang sekarang berdiri di depannya membelakangi Putri Arya Kastara.
"Pu ... guh ?" kata Putri Cinde Puspita sambil kedua telapak tangannya menutupi mulutnya, karena sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Senopati Arya Kastara.
"Putri tenang saja duduk di kursi. Aku yang akan menangani pengkhianat ini !" jawab Puguh mencoba menenangkan Putri Cinde Puspita.
Senopati Arya Kastara yang sempat terkejut, memperlihatkan senyum kelegaan, ketika melihat yang dihadapi hanyalah seorang prajurit muda.
"Huuuhhh ! Kau beruntung prajurit ! Tetapi keberuntunganmu sudah habis. Kau akan mati di tanganku dengan rasa yang sangat tidak kau harapkan !" kata Senopati Arya Kastara.
Kemudian, dengan rasa percaya diri yang tinggi, Senopati Arya Kastara kembali melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh yang mengenakan pakaian prajurit. Tangan kanannya yang sudah memegang belati yang lain lagi, melakukan gerakan menikam yang langsung mengarah ke dada Puguh.
__ADS_1
Puguh yang sudah bersiap dari tadi, karena mengetahui yang dihadapinya sekarang adalah senopati kerajaan Banjaran Pura yang tingkat kesaktiannya paling tinggi, segera memapaki datangnya luncuran belati dengan pedangnya. Puguh menghindari serangan tusukan itu, namun memilih untuk menangkis dengan pedangnya, karena posisi Putri Cinde Puspita yang masih di belakangnya. Dikhawatirkan, senopati yang menjadi lawannya ini akan berbuat licik.
Traaannnggg !
Senopati Arya Kastara dengan cepat kembali meloncat mundur, saat bilah belatinya patah ketika berbenturan dengan pedang di tangan Puguh.
"Ternyata prajurit ini kemampuan tenaga dalamnya sangat tinggi. Siapa dia ? Aku baru kali ini melihatnya !" kata Senopati Arya Kastara dalam hati.
"Aku harus membunuh mereka berdua, kalau tidak, tugasku akan gagal !" sambung Senopati Arya Kastara dalam hati.
"Mulutmu memang harus dibungkam selamanya !" kata Senopati Kastara sambil menghunus pedang yang terselip di pinggangnya.
"Kau tidak hanya pengkhianat kerajaan ! Ternyata kau juga manusia yang keji !" ucap Puguh pelan.
Mendengar perkataan Puguh itu, Senopati Arya Kastara hanya mendengus. Kemudian, tubuhnya kembali melesat dengan sangat cepat, melakukan serangan.
Menghadapi lawannya kali ini, Puguh tidak mau gegabah. Puguh langsung menggunakan ilmu pedang yang dia warisi dari Pendekar Pengendara Elang.
Sesaat kemudian, keputren yang biasanya suasananya sangat tenang dan damai, pada hari yang agak siang itu, dipenuhi dengan suara benturan senjata. Bahkan suara gemericik air pancuran di kolam ikan, menjadi kehilangan nada nada merdunya, dirusak oleh suara dentangan pedang beradu.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Pertarungan baru berjalan belum sepuluh jurus, namun Senopati Arya Kastara sudah dibuat bingung dengan gerakan gerakan jurus pedang yang Puguh mainkan. Suatu rangkaian gerakan jurus pedang yang di awal terlihat sederhana, namun memiliki lanjutan yang banyak variasinya.
Senopati Arya Kastara yang selama ini belum pernah merasakan kekalahan, mendapati seorang prajurit yang mampu mengimbanginya, menjadi murka.
Dengan amarah yang memenuhi dadanya, Senopati Arya Kastara sudah tidak segan lagi melakukan gerakan gerakan serangan yang kejam.
Hingga pada suatu saat, Senopati Arya Kastara dan Puguh secara bersamaan, melakukan gerakan melenting dengan sangat cepat ke depan kemudian menebaskan pedangnya ke tubuh lawan.
Trang ! Trang !
Sraaattt !
Sesaat kemudian, terlihat keduanya sama sama terdorong ke belakang.
__________ ◇ __________
__ADS_1