Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pengejaran Ke Dalam Hutan


__ADS_3

Hanya dalam beberapa saat, Rengganis dan laki laki muda itu telah bergebrak hingga puluhan jurus. Dalam setiap jurusnya, laki laki muda itu selalu melangkah mundur. Bahkan dalam setiap benturan pukulan ataupun tendangan, laki laki muda itu selalu terdorong mundur.


Bahkan, karena keteter, akhirnya laki laki muda itu hendak melarikan diri. Dan akhirnya, setelah beberapa saat terus menerus mundur, laki laki itu akhirnya melesat pergi, melarikan diri. Rengganis pun dengan sigapnya mengejar, namun laki laki muda itu ternyata bisa berlari dengan cepat.


Melihat Rengganis mengejar lawannya, pendekar muda yang membantu penduduk kampung itu ikut mengejar.


Tanpa terasa, mereka berlari hingga memasuki hutan. Setelah beberapa saat kejar kejaran, di tanah yang cukup lapang di dalam hutan, laki laki muda yang dikejar itu berhenti, kemudian membalikkan badan, menghadap ke arah Rengganis.


"Kedatanganmu dan kakekmu itu mengganggu rencana kami," kata laki laki muda yang tadi dikejar.


"Apa maksudmu ?" tanya Rengganis heran.


"Kau tidak perlu tahu urusan kami. Kau sudah cukup menjadi pengganggu rencana kami !" terdengar suara dari belakang Rengganis. Reflek, Rengganis pun menoleh ke belakang.


Rengganis terkejut saat melihat yang berbicara tadi adalah pendekar muda yang membantu warga kampung.


"Pendekar muda, apa maksudmu ?" tanya Rengganis.


"Kau belum paham juga ? Kami adalah anggota organisasi yang sama," jawab pendekar muda itu.


"Kalian anggota Perkumpulan Jaladara Langking ?" tanya Rengganis lagi sambil memutar sedikit tubuhnya, sehingga kedua orang itu menjadi dari arah kiri dan kanannya.


"Hhh ... sekarang kau sudah tahu. Dan tugas kami adalah menangkap kalian !" jawab laki laki muda itu.


"Terserah, siapapun kalian. Yang jelas, kalian sudah berbuat keji dan sudah membuat kesengsaraan pada warga kampung ini. Aku akan membasmi kalian !" ucap Rengganis sambil bersiap dengan kuda kudanya.


Melihat perempuan di depannya itu bersiap, kedua laki laki muda itu saling menatap dan kemudian saling mengangguk.


Sesaat kemudian, mereka berdua melesat ke arah Rengganis, serentak menyerang bersamaan.


Melihat kecepatan mereka, Rengganis terkejut.


"Jadi selama beberapa ini mereka menyembunyikan kemampuannya," kata Rengganis dalam hati.

__ADS_1


Begitu kedua lawannya mendekat, Rengganis memapakinya dengan pukulan dan tendangan. Sesaat kemudian, terdengar benturan pukulan dan tendangan berkali kali.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Plak ! Plak ! Plak !


Kali ini, kedua laki laki muda itulah yang terkejut. Perempuan yang menjadi lawannya itu ternyata mempunyai tenaga dalam dan kecepatan yang tidak kalah dengannya. Bahkan bisa mengimbangi keroyokan mereka berdua.


Kembali kedua laki laki muda itu saling berpandangan dan saling mengangguk. Kemudian keduanya meloloskan untaian tali berwarna hitam yang terikat di pinggang mereka. Pangkal untaian tali itu mereka pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang untaian tali agak ke tengah. Rupanya yang menjadi senjata mereka itu adalah jaring lempar, yang terbuat dari tali baja yang sangat lentur.


Melihat kedua lawannya mengeluarkan senjata, Rengganis pun segera meloloskan pedang dari sarungnya.


Kemudian, dengan menambah lagi aliran tenaga dalamnya, Rengganis melesat mendahului menyerang dengan kecepatan yang lebih lagi.


Kedua lawannya yang terkejut dengan perubahan kecepatannya, segera menghindar dengan membuang tubuh sambil memutar untaian tali hingga membentuk suatu perisai yang menghadang serangan pedang Rengganis. Terdengar suara dentingan saat pedang Rengganis membentur senjata untaian tali.


Triiing triiing triiing !


Dalam setiap benturan senjata, Rengganis mencoba menebas untaian tali itu. Namun ternyata, tali itu sangat kuat dan liat serta sangat lentur. Sehingga Rengganis selalu gagal untuk menebasnya.


Namun saat Rengganis sudah di atas angin dan mulai menguasai jalannya pertarungan, tiba tiba kedua lawannya mengubah cara bertarung mereka. Mereka saling menjauh dan bergerak memutar mengitari Rengganis dan juga untuk menghindari serangan Rengganis. Namun Rengganis menambah lagi kecepatannya. Hingga pada satu kesempatan, Rengganis berhasil menghadang gerak laki laki muda yang dikejarnya tadi dan dengan serangkaian sabetan serta tusukan pedang, Rengganis berhasil menjatuhkan laki laki muda itu dengan satu tusukan di perutnya.


Laki laki muda itupun jatuh tersungkur dalam posisi berlutut sambil tangan kirinya mendekap luka di perutnya.


Namun tiba tiba sebuah jaring hitam mengerubuti tubuh Rengganis dari arah kepalanya.


"Kena kau !" teriak laki laki muda yang satunya lagi sambil menarik ujung untaian tali baja yang dipegang di tangan kirinya.


Rengganis berusaha melepaskan jeratan jaring yang terbuat dari tali baja yang lentur. Namun, semakin Rengganis berusaha melepaskan diri, jaring tali baja itu menjeratnya semakin kencang.


Akhirnya dengan sangat kencangnya, jaring baja itu berhasil menjerat Rengganis dengan sangat kencangnya yang membuat Rengganis tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya.


Begitu melihat lawannya tidak berdaya laki laki muda yang menjerat Rengganis itu menghampiri rekannya. Namun rekannya itu terlihat lemas dan sepertinya akan kehabisan darah, karena terlalu banyak yang keluar dari luka diperutnya.

__ADS_1


"Per ... gi ... lah. Tinggalkan aku !" ucap laki laki muda yang terluka itu.


"Iya pergilah ! Namun tinggalkan nyawamu dan gadis itu !" terdengar suara orang tua.


Laki laki muda yang memegang ujung untaian tali yang jaringnya menjerat Rengganis itu sangat terkejut, ketika di dekat tubuh Rengganis yang terperangkap jaring, telah berdiri seorang kakek tua.


Kakek tua itu Ki Dwijo yang tiba tepat saat Rengganis dalam bahaya. Dengan tongkat kayunya, Ki Dwijo menyapok tali yang ujungnya dipegang oleh laki laki muda di depannya itu.


Taaakkk ! Taaakkk !


Pada dua benturan ujung tongkat dengan untaian tali yang dipegangnya, laki laki muda itu merasakan tangannya menjadi kebas, sehingga terpaksa pegangan pada ujung untaian tali itu dia lepaskan.


Sebagai gantinya, dia segera menyambar untaian tali milik temannya yang sepertinya sudah tewas kehabisan darah.


Begitu ujung tali itu terlepas, jeratan tali baja pada tubuh Rengganis mengendur. Dengan tubuh masih di dalam tali, Rengganis berteriak pada Ki Dwijo.


"Guru, mereka ternyata anggota Perkumpulan ...,"


Belum selesai Rengganis berkata sebuah jarum meluncur dari tangan laki laki muda itu dan tepat mengenai urat di leher Rengganis, yang membuat Rengganis langsung pingsan.


Setelah melemparkan senjata rahasia jarumnya laki laki muda itu segera melompat menjauh dan hanya dalam beberapa saat kemudian, tubuhnya sudah hilang dalam rimbunnya pohon pohon hutan.


Ki Dwijo baru saja akan melesat mengejar laki.laki muda yang melarikan diri itu, namun saat menengok ke arah Rengganis, terlihat ada yang tidak beres. Terlihat tubuh Rengganis tetap di dalam jaring tali baja dan tidak bergerak sedikitpun.


Ki Dwijo mengurungkan niatnya mengejar. Kemudian dengan cepat Ki Dwijo memeriksa keadaan Rengganis, setelah sebelumnya melepaskan jaring yang menjeratnya.


Betapa.terkejutnya Ki Dwijo, melihat leher Rengganis menghitam. Segera saja Ki Dwijo memeriksa dengan lebih teliti lagi. Akhirnya, Ki Dwijo menemukan sebuah jarum kecil yang menancap di leher sebelah kanan Rengganis.


Setelah mencabut jarum itu, Ki Dwijo segera melakukan totokan di beberapa titik di leher dan kepala Rengganis. Lalu dilanjutkan dengan mengalirkan tenaga dalamnya melalui ubun ubun Rengganis untuk menghilangkan racun racun yang masih tertinggal di dalam leher Rengganis.


Ki Dwijo mengalirkan tenaga dalamnya hingga warna hitam di leher dan wajah Rengganis menghilang.


Sambil menghentikan penyaluran tenaga dalamnya, Ki Dwijo merasa lega, untungnya racun yang terkandung di dalam jarum itu bukan racun yang berbahaya, hanya racun penghilang kesadaran.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2