Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan Di Pinggiran Kota Kadipaten


__ADS_3

Dalam perjalanan memasuki kota Kadipaten Randu Beteng, ada hal yang menguntungkan bagi Ki Dwijo. Saat ini di Randu Beteng, tidak ada tokoh tokoh senior dunia persilatan yang bekerja sama dengan Perkumpulan Jaladara Langking. Sehingga Ki Dwijo tidak terlalu khawatir dikenali oleh orang orang dunia persilatan. Karena, walaupun dulunya Ki Dwijo sangat terkenal dan termasyur dengan julukan Pendekar Tangan Seribu, namun karena Ki Dwijo lama menghilang dari dunia persilatan, membuat banyak yang sudah melupakannya.


Bahkan Ki Dwijo dan Rengganis sempat berpapasan dengan rombongan Pangeran Panji yang di dalam rombongannya, ikut diajak serta Ki Bhanujiwo dan Den Roro.


Ki Dwijo dan Rengganis berjalan menuju ke pusat kota Kadipaten dimana terdapat markas cabang Perkumpulan Jaladara Langking. Mereka berdua berusaha bisa sedekat mungkin dengan markas cabang Perkumpulan Jaladara Langking, karena mereka ingin mendapatkan informasi terbaru tentang Perkumpulan Jaladara Langking.


----- * -----


Sementara itu, setelah memisahkan diri dari Ki Dwijo dan Rengganis, Puguh segera melesat ke gedung Kadipaten Randu Beteng. Dia ingin memastikan dahulu situasi pemerintahan. Apakah masih dipegang oleh Tumenggung yang menjabat sebagai Adipati, atau sudah dikendalikan oleh orang orang Perkumpulan Jaladara Langking.


Pada malam harinya, dengan berloncatan dari satu atap rumah ke atap rumah yang lain, Puguh mendekat ke arah gedung Kadipaten Randu Beteng.


Saat melewati pagar tembok belakang, Puguh merasa seperti ada yang mengikutinya. Namun, saat dilihatnya di sekelilingnya, Puguh tidak melihat seseorang.


Di beberapa tempat dari gedung Kadipaten, Puguh tidak melihat adanya tumenggung yang menjadi pemimpin dan penguasa di Kadupaten Randu Beteng, baik itu di pendopo, di bangsal paseban ataupun di teras belakang. Puguh hanya melihat adanya dua laki laki muda yang berpakaian seperti prajurit kerajaan yang berada di bangsal paseban. Memang ada perbedaan yang sangat jelas dalam hal pakaiannya antara prajurit kerajaan dengan prajurit Kadipaten ataupun Kademangan.


Puguh belum bisa menyimpulkan keberadaan dua laki laki muda yang berpakaian prajurit kerajaan di wilayah Kadipaten Randu Beteng ini, ketika masih dalam jarak yang cukup jauh, Puguh melihat dua bayangan yang lainnya lagi, dari luar komplek bangunan Kadipaten, yang bergerak cepat ke arahnya.


Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti dengan mata, tubuh Puguh lenyap dan dalam sesaat sudah berada sangat jauh dari gedung Kadipaten.


Sesaat kemudian, dua bayangan tubuh yang ternyata Suryanala dan Candranala, melayang turun di bangsal paseban.


"Kartikanala, Angkasanala, apa kalian tidak merasakan kehadiran seseorang di sini ?" tanya Suryanala.


"Aku sempat merasakan getaran tenaga dalam, namun sangat lemah sekali. Aku pikir, itu paling prajurit Kadipaten yang sedang berjaga," jawab Kartikanala, "Kenapa kalian berdua kesini ?"


"Aku sempat melihat sedikit gerakan di atas genting. Tetapi tidak kutemukan apa apa," jawab Suryanala lagi, "Ya sudah, kalian berdua hati hati. Kami akan melakukan tugas kami lagi !"


Kemudian, tanpa menunggu jawaban, tubuh Suryanala dan Candranala kembali melesat ke arah luar gedung Kadipaten, dan terus menuju ke pinggiran kota Kadipaten. Mereka berdua tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang memperhatikan dengan cermat kemanapun mereka berdua bergerak.


Ketika Suryanala dan Candranala sampai pinggiran kota Kadipaten Randu Beteng, tiba tiba di depan mereka muncul bayangan putih yang menghadang jalan mereka. Mereka berdua pun segera menghentikan lari mereka.

__ADS_1


Terlihat di depan mereka seorang laki laki yang berpakaian serba putih dan menutupi mukanya dengan kain putih hingga hanya terlihat matanya.


"Siapa kau ! Berani lancang menghadang jalan prajurit kerajaan !" bentak Suryanala.


"Ada urusan apa, hingga prajurit kerajaan menjaga Kadipaten Randu Beteng ?" tanya orang berpakaian serba putih itu.


"Itu bukan urusanmu ! Tapi agar kau tidak mati penasaran, kuberitahukan satu hal padamu. Kami prajurit kerajaan Banjaran Pura diutus oleh Pangeran Panji untuk menangkap buronan berbahaya yang telah membunuh banyak pendekar sahabat Pangeran Panji !" jawab Suryanala, "Sekarang tinggalkan nyawamu di sini !"


Dengan gerakan yang sangat cepat, Suryanala dan Candranala menyerang laki laki berpakaian serba putih itu.


Laki laki yang menghadang itupun segera menghindari serangan Suryanala dan Candranala. Terkadang, katena posisi yang tidak memungkinkan untuk menghindar, laki laki berpakaian serba putih itu memapaki datangnya serangan keduanya dengan menangkis ataupun membenturkannya dengan pukulan juga.


Plak ! Plak ! Plak !


Buuuggghhh ! Buuuggghhh !


Pukulan Suryanala dan Candranala tidak menimbulkan suara berkesiuran. Namun terasa oleh laki laki berpakaian serba putih itu, betapa pukulan keduanya mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi.


"Mereka sepertinya bukan prajurit biasa. Cara bertarung mereka lebih seperti orang orang dunia persilatan. Mungkin mereka para pendekar yang disewa atau dibayar sebagai prajurit pengawal !" kata laki laki berpakaian serba putih itu dalam hati.


Kemudian, dengan gerakan yang bertambah cepat, laki laki berpakaian serba putih itu mendahului menyerang. Kedua tangannya bergerak dengan sangat cepatnya, melayangkan pukulan bertubi tubi ke arah dua orang lawannya.


Plak ! Plak ! Plak ! Plak !


Suryanala dan Candranala sangat terkejut dengan kecepatan serangan yang dilakukan oleh lawannya. Hingga suatu saat, tanpa bisa dihindari lagi oleh keduanya, sebuah serangan pukulan mengenai dada mereka.


Deeesss ! Deeesss !


Tubuh Suryanala dan Candranala terdorong dan terpental mundur hingga beberapa langkah.


Mereka merasakan dada mereka sedikit sesak dan nafas mereka terasa berat.

__ADS_1


Dengan cepat, mereka berdua mengalirkan tenaga dalamnya ke dada dan organ dalamnya. Kemudian mereka bersiap dalam posisi berpasangan.


"Orang dengan penutup kepala ini, mempunyai kemampuan dan tenaga dalam yang sangat tinggi. Apakah orang ini yang telah membunuh banyak anggota Perkumpulan Jaladara Langking !" kata Suryanala pelan pada Candranala.


"Sayangnya dia menyembunyikan wajahnya, hingga kita belum bisa memastikan siapa dia," jawab Candranala.


"Ayo kita paksa dia untuk membuka penutup wajahnya !" kata Suryanala lagi.


Kemudian, Suryanala dan Candranala bergerak secara bersamaan melesat ke arah laki laki berpakaian serba putih itu.


Sementara, laki laki berpakaian serba putih itu merasakan pukulannya seperti memukul batu yang sangat keras.


"Prajurit dan para pendekar dari kerajaan memang banyak yang berkemapuan dan memiliki tenaga dalam tingkat tinggi. Berapa banyak orang orang seperti mereka yang berada di Kadipaten Randu Beteng ini ?" kata laki laki berpakaian serba putih itu dalam hati.


Namun, laki laki berpakaian serba putih itu tidak punya kesempatan berpikir lebih jauh lagi.


Tubuhnya segera lenyap melesat ke arah Suryanala dan Candranala yang sudah kembali melancarkan serangan beruntun.


Laki laki berpakaian serba putih itu meliuk liuk menghindari serangan Suryanala dan Candranala. Tubuhnya terlihat bergerak pelan, namun pukulan mereka berdua selalu meleset dan tidak ada yang mengenai sasaran.


"Sudah cukup aku menjajal kemampuan mereka berdua. Aku akan memancing mereka masuk ke hutan untuk kemudian aku tinggal mencari prajurit kadipaten !" kata laki laki berpakaian serba putih itu.


Kemudian, dengan sedikit menambah aliran tenaga dalamnya, laki laki berpakaian serba putih itu mulai menangkis dan membalas menyerang.


Untuk kedua kalinya, Suryanala dan Candranala yang terkejut dengan kecepatan lawannya, harus menerima tendangan yang mengenai bahu mereka.


Deeesss ! Deeesss !


Kembali tubuh mereka berdua terhuyung huyung terdorong ke belakang.


Kesempatan itu dimanfaatkan laki laki berpakaian serba putih itu untuk berlari ke arah hutan.

__ADS_1


Melihat lawannya melarikan diri, Suryanala dan Candranala segera mengejarnya ke arah hutan.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2