Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Batu Bintang


__ADS_3

Puguh terus meningkatkan aliran tenaga dalamnya. Dengan tangan kanan memainkan jurus jurus Pedang Elang Malam dan tangan kiri memainkan tehnik pukulan Bantala Wreksa, Puguh berusaha sebanyak mungkin dan secepat mungkin untuk menjatuhkan lawan lawannya


Karena, selain khawatir dengan keadaan Trah Keluarga Asmara Dhatu, Puguh juga khawatir jika nantinya semakin banyak siluman manusia yang mengepungnya.


Dengan tingkat tenaga dalam dan kesaktian para siluman manusia, yang sebagian besar sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, Puguh khawatir apabila Roro Nastiti harus menghadapi keroyokan para siluman manusia itu.


Sambil terus berkelebatan menghadang serbuan para siluman manusia, Puguh mencoba terus untuk memperhatikan keadaan Roro Nastiti. Namun, ada satu hal yang membuat Puguh terkejut sekaligus membuatnya sedikit tenang.


Roro Nastiti, walaupun pernah menyaksikan wujud siluman, tetapi, melihat siluman manusia yang wujudnya mengerikan serta ukuran tubuhnya yang sangat besar dan jumlahnya banyak sekali, tetap ada perasaan takut di dalam hatinya.


Dengan mengalirkan sebagian besar tenaga dalamnya, Roro Nastiti memainkan kedua pedang pendeknya dengan jurus Pedang Cakar Jatayu untuk menahan serangan sabetan senjata gada para siluman manusia.


Berkali kali menahan gempuran senjata gada dari para siluman manusia itu, membuat kedua tangan Roro Nastiti kebas dan bergetar hingga ke bahu.


Hingga pada suatu saat, tiba tiba ada satu tubuh siluman manusia yang terlempar ke arah Roro Nastiti, setelah serangan senjata gadanya tertepis oleh senjata pedang Puguh.


Karena jarak yang sangat dekat, sehingga tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar, Roro Nastiti menggerakkan kedua pedang pendeknya untuk menahan tubuh raksasa siluman manusia itu.


Dengan sangat cepatnya, pedang pendek di kedua tangan Roro Nastiti berhasil menembus kulit dada dan perut siluman manusia itu, hingga amblas seluruh bilahnya.


Roro Nastiti baru saja hendak menarik kembali kedua senjata pedang pendeknya, saat tiba tiba siluman manusia didepannya itu matanya melotot dan bergetar seluruh tubuhnya.


Sesaat kemudian, tubuh raksasa itu terjatuh ke tanah dan terlepas dari tusukan dua pedang pendek Roro Nastiti, dalam keadaan tewas.


Tiba tiba, dari tubuh siluman manusia itu, keluar bola sinar sebesar kepalan tangan manusia dewasa, yang menyala berwarna merah membara.


Bola sinar itu untuk beberapa saat melayang, namun kemudian melesat cepat ke arah Roro Nastiti dan masuk ke dalam salah satu pedang pendek Roro Nastiti.


Melihat hal itu, sejenak Roro Nastiti tertegun. Para siluman manusia yang kebetulan melihat kejadian itu, menjadi gelisah. Tetapi, Puguh justru senang melihat hal itu.


"Ada yang istimewa, dari sepasang pedang pendek milik Roro Nastiti ! Tetapi apapun itu, itu merupakan hal yang bagus ! Aku tidak harus terlalu mengkhawatirkan keselamatannya !" kata Puguh dalam hati.


Kemudian, dengan mengubah arah menghadapnya, Puguh kembali menghadapi serangan dari para siluman manusia. Bahkan terkadang, Puguh mendahului menyerang siluman manusia yang dekat dengannya.

__ADS_1


Dalam menyerang ataupun menangkis serangan para siluman manusia itu, Puguh sengaja membuat para siluman manusia itu terpental ke arah posisi Roro Nastiti berdiri.


Sementara itu, setiap ada tubuh raksasa siluman manusia yang meluncur ke arahnya, Roro Nastiti langsung menyambutnya dengan tusukan ataupun sabetan pedang.


Tusukan atau sabetan pedang itu selalu mengakibatkan siluman manusia itu tewas, dan inti jiwanya yang berbentuk bola sinar berwarna merah membara keluar dari tubuhnya, kemudian melesat masuk ke dalam pedang pendek Roro Nastiti.


Tanpa sepengetahuan Roro Nastiti, setiap siluman manusia yang terbunuh oleh pedangnya, sebelumnya sudah mengalami luka dalam terlebih dahulu, terkena pukulan telapak tangan kiri Puguh.


Bebarapa waktu berlalu. Tanpa terasa, pertarungan di dalam perkampungan Trah Keluarga Asmara Dhatu sudah berjalan hampir seratus jurus. Sudah puluhan siluman manusia yang terbunuh.


Tetapi sepertinya, para siluman manusia itu belum ada tanda tanda hendak mengakhiri serbuannya.


Walaupun sudah cukup banyak teman temannya yang jatuh tewas, para siluman manusia itu terus saja menyerang.


Hingga menjelang sore hari, sudah sekitar separuh siluman manusia terbunuh, dengan inti jiwa yang masuk ke dalam pedang Roro Nasriti.


Tiba tiba, terdengar suara teriakan wanita yang melengking tinggi.


"Hentikan ! Apa yang kalian semua lakukan !" teriak seorang wanita dengan nada setengah menangis.


"Kala Soca ! Kala Dupa ! Apa yang kau lakukan !" tanya wanita itu dengan setengah membentak.


"Ggrrrwww ! Nyi Riwut Parijatha ! Jangan kau murka dulu ! Kami hanya memenuhi permintaan Kala Rekta suamimu !" jawab Kala Soca.


"Apa permintaan suamiku ! Dan apa yang telah kalian lakukan !" tanya wanita yang baru datang, yang ternyata adalah Nyi Riwut Parijatha dengan seluruh tubuh yang terlihat gemetar menahan amarah.


"Suamimu telah memberikan isyarat pada kami, untuk ikut membantu mencari dan membalaskan dendam pada anak manusia yang telah membunuh Kala Caraka dan melukai Nyi Riwut Parijatha !" jawab Kala Soca.


"Dan apa yang telah kalian lakukan ?" tanya Nyi Riwut Parijatha lagi.


Mendengar pertanyaan Nyi Riwut Parijatha kali ini, Kala Soca dan Kala Dupa serta siluman manusia yang lainnya hanya terdiam.


Melihat semuanya terdiam, Nyi Riwut Parijatha maju satu langkah dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


"Kalian semua tidak melaksanakan permintaan suamiku ! Kalian semua justru membuat keributan dengan mengganggu bangsa manusia ! Kalian semua justru melakukan hal yang membuat banyak saudara saudaramu bangsa siluman manusia, kehilangan nyawa !" kata Nyi Riwut Parijatha dengan suara melengking.


Lagi lagi semua siluman manusia terdiam, tidak ada yang berani menjawab.


"Kalian semua kembali ke Rawa Jingga, sekarang juga ! Atau kalau tidak mau, aku sendiri yang akan membakar kalian semua !" kata Nyi Riwut Parijatha lagi.


Mendengar perintah Nyi Riwut Parijatha, semua siluman manusia menatap ke arah Kala Soca dan Kala Dupa.


Melihat semua bangsa siluman manusia memandang ke arah mereka berdua, Kala Soca dan Kala Dupa segera menyahut.


"Kalian semua sudah mendengar perintah Nyi Riwut Parijatha. Kita kembali ke Rawa Jingga sekarang !" kata Kala Soca.


Sesaat kemudian, terdengar suara mendengung seperti suara sekumpulan lebah, saat para siluman manusia terbang melesat ke atas, untuk kembali ke Rawa Jingga.


Suasana di tengah perkampungan Trah Keluarga Asmara Dhatu kembali sunyi.


Setelah semua siluman manusia sudah pergi semuanya, Nyi Riwut Parijatha menatap tajam ke arah Roro Nastiti.


"Anak gadis itu memiliki senjata pedang yang terbuat dari Batu Bintang ? Dari mana dia mendapatkannya ?" kata Nyi Riwut Parijatha dalam hati, sambil kemudian sedikit mendongakkan kepalanya dengan tatapan mata jauh ke depan.


Namun, tiba tiba Nyi Riwut Parijatha dikejutkan oleh suara manusia yang berdiri di depannya.


"Nyi Riwut Parijatha ! Akulah yang telah membunuh Kala Caraka, dan juga yang telah melukai Nyi Riwut Parijatha ! Kalau kalian bangsa siluman manusia hendak membalas dendam kepadaku, lakukanlah. Aku siap menerimanya !" kata Puguh yang mengejutkan Nyi Riwut Parijatha.


"Anak muda, aku tahu itu. Aku juga sudah berpesan pada anakku dan suamiku, untuk jangan membalas. Karena aku ingin memutus dendam !" jawab Nyi Riwut Parijatha.


"Cah ayu, dari mana kau peroleh senjata itu ?" lanjut Nyi Riwut Parijatha dengan bertanya pada Roro Nastiti.


"Guruku membuatkan senjata pedang pendek ini, khusus buatku !" jawab Roro Nastiti.


"Di dunia ini, hanya ada satu Batu Bintang, yaitu yang telah aku berikan pada kakang Bhanu ! Ternyata dia masih hidup. Aku akan menemuinya segera, setelah urusan ini selesai !" kata Nyi Riwut Parijatha.


"Aahhh, baiklah anak anak muda. Maafkan kesalahan kami semua. Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi !" kata Nyi Riwut Parijatha.

__ADS_1


Kemudian, dengan sedikit menotolkan ujung kakinya ke tanah, tubuh Nyi Riwut Parijatha melesat ke atas, terbang melayang dengan sangat cepatnya menuju ke arah Rawa Jingga.


__________ ◇ __________


__ADS_2