Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan di Dekat Air Terjun


__ADS_3

"Bibi Iswara Dhatu ! Adik Rengganis ! Kalian cari adik Kartika Dhatu ! Aku akan menahan Pangeran ini !" kata Puguh sambil kemudian tubuhnya melesat dan berdiri tepat di depan Pangeran Langit Barat.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Iswara Dhatu dan Rengganis bergerak mendekat ke arah air terjun.


Sudah sejak pertama tiba di tempat itu, Iswara Dhatu dan Rengganis menangkap adanya getaran kekuatan, walaupun lemah, berasal dari balik air terjun.


"Bibi, sepertinya di balik air terjun itu ada goa !" kata Rengganis.


"Benar nduk ! Ayo kita kesana !" jawab Iswara Dhatu.


Kemudian, sambil melindungi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam, Iswara Dhatu dan Rengganis melenting dan masuk ke dalam dinding air terjun yang cukup tebal dan airnya jatuh dengan derasnya.


Sesaat kemudian, mereka berdua tiba di balik dinding air terjun, yang ternyata terdapat cekungan yang cukup luas dan tinggi.


Di ujung cekungan itu, terdapat jalan menanjak yang cukup lebar yang sepertinya menuju ke sebuah goa.


Tanpa menunggu lagi, mereka berdua pun segera melesat masuk ke dalam goa yang ternyata memiliki lorong yang sangat besar dan tinggi, serta panjang.


Sementara bersamaan dengan itu, di samping air terjun, Puguh berhadapan dengan Pangeran Langit Barat.


"Pangeran Langit Barat ! Sekarang tinggal pilih ! Kau kembali ke negerimu, atau aku yang akan memulangkanmu, walau hanya namamu !" kata Puguh sambil menatap tajam Pangeran Langit Barat. Diam diam Puguh memperhatikan seluruh tempat di sekitar air terjun itu. Terutama tempat di sekitar Pangeran Langit Barat berdiri.


"Haahhh ha ha ha ha ! Pendekar Puguh ! Aku sudah menantikan hal ini terjadi, selama beberapa waktu ! Aku ingin bertarung denganmu ! Aku dengar, kau berhasil mewarisi ilmu ilmu kesaktian peninggalan Pendekar Penunggang Elang !" kata Pangeran Langit Barat.


"Pangeran Langit Barat ! Akan aku berikan apa yang kau inginkan ! Tetapi setelah itu, kau harus kembali ke negerimu bersama seluruh pasukanmu !" jawab Puguh.


Kemudian, selama beberapa saat, Pangeran Langit Barat dan Puguh terdiam. Hanya gemuruh suara air terjun, yang selalu terdengar tiada hentinya.


Mereka berdua saling menatap dengan tajam, seakan saling mengukur kekuatan lawan.


Setelah beberapa saat, tiba tiba terjadi lonjakan getaran kekuatan yang sangat besar, dari tubuh mereka berdua.


Dan dengan gerakan yang hampir bersamaan, tubuh mereka seolah lenyap, melesat seperti kilat.


Sesaat kemudian terdengar dentuman dan ledakan berkali kali, setiap pukulan ataupun tendangan mereka beradu.

__ADS_1


Dbammm ! Dbammm ! Dbammm !


Blarrr ! Blarrr ! Blarrr !


Begitu cepatnya gerakan mereka berdua, membuat pertarungan mereka hanya terlihat seperti dua kilatan cahaya yang saling berbelit. Terkadang saling mendekat dengan cepat diikuti suara suara ledakan. Terkadang saling menjauh, dan berhenti bergerak dalam sesaat, menampakkan tubuh mereka berdua yang bermandikan keringat.


Waktu seolah berjalan dengan cepat. Tanpa terasa, lima puluh jurus sudah mereka lewati. Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali mereka berbenturan pukulan ataupun tendangan.


Pada suatu saat, setelah tubuh mereka berdua saling menjauh, Puguh dan Pangeran Langit Barat melentingkan tubuh mereka ke atas. Kemudian dengan sangat cepat mereka melesat ke arah lawan sambil melayangkan beberapa pukulan sekaligus.


Beberapa saat kemudian, terdengar ledakan beberapa kali saat pukulan mereka berbenturan di udara.


Jdaaammm ! Jdaaammm ! Jdaaammm ! Jdaaammm !


Sesaat setelah suara ledakan itu, terlihat tubuh Puguh melayang kembali ke belakang dan kembali mendarat dengan kuda kuda yang tetap kokoh.


Sementara itu, tubuh Pangeran Langit Barat terdorong ke belakang dan mendarat dengan kedua kakinya. Terlihat muka Pangeran Langit Barat memerah dengan nafas yang terengah engah.


Namun sesaat kemudian, Pangeran Langit Barat memaksakan senyuman.


Kemudian, sambil mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya, Pangeran Langit Barat bersiap untuk menyerang lagi.


"Pangeran Langit Barat ! Akan aku ikuti cara apapun yang kau gunakan !" jawab Puguh sambil mencabut senjata pedang dari sarungnya.


Sesaat kemudian, tempat mereka bertarung dan sekitarnya, bahkan hingga di sekitar air terjun, diselimuti pendaran sinar hijau terang yang keluar dari tubuh dan bilah pedang Puguh.


Setelah sejenak mereka berdua terdiam, kembali mereka berdua melesat dengan sangat cepat. Tubuh mereka tertutup oleh kilatan senjata pedang mereka. Dan tidak berapa lama, terdengar suara dentangan senjata pedang beradu berkali kali.


Trang ! Trang ! Trang ! Trang !


----- * -----


Sementara itu di perbatasan Hutan Perbatasan dengan Kerajaan Kisma Pura.


Rombongan besar para pendekar yang dipimpin oleh Ki Prana Jiwa atau Pangeran Indra Prana tiba di tepi Hutan Perbatasan.

__ADS_1


Selain membawa serombongan besar pendekar, Pangeran Indra Prana juga membawa sekitar lima ribu prajurit.


Baru saja mereka sampai di dekat Hutan Perbatasan, mereka dikagetkan oleh kedatangan beberapa orang berpakaian prajurit, yang keluar dari sisi hutan sebelah kanan.


Begitu melihat rombongan besar pendekar, lima orang prajurit yang keluar dari Hutan Perbatasan, segera menjatuhkan diri hingga duduk berlutut. Terlihat, tubuh kelima prajurit itu penuh dengan luka luka. Pakaian mereka terkena noda darah di beberapa tempat.


"Para pendekar ! Kami adalah prajurit Kerajaan Banjaran Pura yang letaknya di seberang Hutan Perbatasan sana ! Kami mohon pertolongannya ! Kerajaan Banjaran Pura dalam bahaya ! Ada pasukan perang dalam jumlah yang sangat besar, sedang menuju ke kotaraja Kerajaan Banjaran Pura !" kata salah satu prajurit itu dengan dengan cepat karena paniknya.


Mendengar perkataan prajurit yang duduk berlutut di depannya, Pangeran Indra Prana segera melangkah ke depan beberapa langkah.


"Kalian tenangkan hati dan pikiran kalian dahulu. Kami adalah pasukan dari Kerajaan Kisma Pura. Kami pasti akan membantu kalian. Coba ceritakan pada kami seluruhnya !" kata Pangeran Indra Prana.


Mendapat jawaban dari Pangeran Indra Prana, akhirnya salah satu prajurit Kerajaan Banjaran Pura itu bercerita.


----- \* -----


Sudah menjadi rutinitas Kerajaan Banjaran Pura, Prabu Pandu Kawiswara mengirim pasukan pengintai atau pasukan mata mata ke seluruh wilayah perbatasan Kerajaan Banjaran Pura.


Pada pagi itu, sekitar sepuluh prajurit sudah berada di wilayah Kerajaan Banjaran Pura yang berbatasan dengan Hutan Perbatasan. Mereka memeriksa dan mengawasi sepanjang daerah perbatasan, untuk memastikan tidak ada hal hal yang bisa mengancam dan membahayakan seluruh wilayah Kerajaan Banjaran Pura.


Saat itu, seorang prajurit yang ditunjuk menjadi pemimpin pasukan pengintai, sedang berusaha menajamkan seluruh inderanya untuk merasakan sekecil apapun getaran kekuatan yang mencurigakan.


Pemimpin pasukan itu merasa heran, karena merasakan hal yang tidak aneh.


Biasanya, hanya dari jarak yang cukup jauh, para prajurit itu sudah merasakan berat, merasakan getaran kekuatan siluman binatang yang sebagian besar berada pada tingkat sangat tinggi.


Namun, kali ini, para prajurit pengintai itu merasakan, Hutan Perbatasan itu sangat sepi.


Merasakan ada yang aneh, pemimpin pasukan pengintai itu mengajak seluruh anggota prajurit pengintai untuk memeriksa pinggiran Hutan Perbatasan.


Namun, baru masuk ke Hutan Perbatasan belum terlalu jauh ke dalam, para prajurit pengintai itu dikejutkan dengan adanya pasukan perang yang sangat banyak, berada di dalam Hutan Perbatasan.


Pemimpin pasukan pengitai segera memerintahkan lima prajurit bawahannya, untuk kembali ke kotaraja. Sedangkan, lima prajurit lagi diajak sedikit mundur untuk terus mengamati pasukan perang yang berjumlah sangat banyak itu.


Baru saja lima prajurit pengintai itu bergerak hendak meninggalkan tempat itu, tiba tiba mereka didekati dan diserang oleh beberapa prajurit yang berada di Hutan Perbatasan, sehingga kelima prajurit itu kesulitan untuk melepaskan diri dari serangan itu.

__ADS_1


---------- ◇ ----------


__ADS_2