
Di halaman rumah makan itu, terlihat dua orang muda berpakaian mewah dengan senjata golok yang sangat indah terselip di pinggangnya, sedang menghajar seorang pengemis.
"Pengemis ! Pergi jauh dari sini ! Kau membuat semua yang datang ke sini, tidak bisa menikmati hidangan kalau melihat tubuhmu yang kotor !" teriak salah seorang dari pemuda berpakaian mewah itu sambil menendang bahu pengemis yang duduk di tanah itu.
Buuukkk !
Pengemis itu jatuh bergulingan ke samping dan kemudian berhenti dalam posisi duduk lagi.
"Kau tidak mau pergi ? Biar aku lempar kau keluar dari pekarangan ini !" kata pemuda berpakaian mewah yang satunya yang langsung berjalan cepat ke arah pengemis itu.
Kemudian, dengan sedikit ancang ancang, pemuda berpakaian mewah itu menendang ke arah dada pengemis itu.
"Duuaaakkk !
Pengemis itu terlempar cukup jauh hingga sampai ke seberang jalan.
Tanpa memperdulikan pengemis itu, dua pemuda berpakaian mewah itu masuk ke rumah makan dengan berjalan gagah.
Sementara itu, orang orang yang sudah berada di dalam rumah makan hanya diam saja melihat hal itu. Karena sudah sering terjadi, seorang pengemis diusir dari rumah makan karena dianggap menghilangkan selera makan para pengunjung.
Kemudian, setelah memilih meja dan duduk mereka berteriak memanggil pelayan rumah makan dan memesan makanan.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, kedua pemuda berpakaian mewah itu melihat ke seluruh tamu yang ada di dalam rumah makan itu. Tatapan mata mereka sempat terhenti pada Rengganis untuk beberapa lama.
Namun, kedua pemuda berpakaian mewah itu harus menghentikan pandangan mereka, karena makanan yang mereka pesan sudah tiba. Kemudian mereka berdua pun menyantap hidangan yang telah mereka pesan.
Sambil makan, terkadang mereka berdua menatap ke arah pintu untuk sekedar melihat siapa yang masuk ke rumah makan itu.
Namun, saat kedua pemuda berpakaian mewah itu sedang tengah menyantap hidangan yang mereka pesan dengan nikmatnya, tiba tiba datang lagi seorang pengemis yang tadi mereka tendang dan langsung duduk tepat di pinggir pintu. Hal itu membuat mereka berdua naik pitam.
"Pengemis kurang ajar ! Pergi kau dari sini !" teriak salah seorang pemuda berpakaian mewah itu sambil melemparkan tulang yang ada di atas piring mereka ke arah kepala pengemis itu.
Swinggg !
__ADS_1
Seperti kebetulan, saat tulang yang meluncur itu hampir mengenai kepalanya, pengemis itu menundukkan kepalanya untuk meraih telapak kakinya yang terasa gatal dan menggaruknya, sehingga tulang itu hanya lewat diatas kepalanya.
Kemudian, salah seorang dari pemuda berpakaian mewah itu berjalan keluar.
"Kau memang pengemis yang tidak tahu diri ! Sudah dilarang datang ke sini tetap saja menampilkan mukamu yang jelek itu di depan kami. Sekarang pergilah !" kata pemuda berpakaian mewah itu sambil mengayunkan kaki kirinya untuk menendang pengemis itu.
Dduuuaaakkk !
Kaki kiri pemuda berpakaian mewah itu mendarat tepat di dada pengemis, hingga membuat tubuh pengemis itu terlempar cukup jauh.
Tidak sampai disitu, pemuda berpakaian mewah itu kemudian meloncat ke arah pengemis itu dan kembali melakukan tendangan hingga membuat pengemis itu terlempar semakin jauh.
Sementara, bersamaan dengan itu, Puguh dan Rengganis yang sudah selesai makan, segera beranjak dan membayar makanannya sambil meminta lagi yang dibungkus.
Rengganis yang sudah sejak tadi melihat pengemis itu, berencana untuk memberikan bungkusan itu pada pengemis tadi. Kemudian mereka berdua segera keluar dari rumah makan itu, setelah mendapatkan yang dibungkus.
Setelah berjalan agak jauh, Rengganis dan Puguh melihat, pengemis tadi sedang dihajar oleh pemuda berpakaian mewah tadi.
"Kisanak, tolong hentikan seranganmu ! Kasihan kakek pengemis itu !" kata Rengganis sambil mendekati pengemis itu.
"Ehhh Nona ! Pengemis itu sudah kuusir, jadi Nona bisa kembali menikmati makanan di rumah makan itu !" kata pemuda berpakaian mewah itu.
"Maaf, aku sudah selesai makan ! Aku akan memberikan makanan ini pada pengemis itu !" sahut Rengganis sambil melangkah cepat ke arah pengemis itu dan memberikan bungkusan makanan pada pengemis itu kemudian segera pergi bersama Puguh meninggalkan tempat itu.
Pengemis yang belum sempat mengucapkan terimakasih itu, hanya bisa melongo dan menatap Rengganis dan Puguh yang sudah berjalan jauh.
Sementara pemuda berpakaian mewah yang sejak tadi bengong katena terpana dengan kecantikan alami Rengganis, dengan perasaan mendongkol karena tidak digubris oleh Rengganis segera kembali ke dalam rumah makan, untuk menemui temannya.
Untuk sesaat, mereka berdua terlihat berbisik bisik dengan serius. Kemudian, setelah membayar makanan yang mereka makan, dua pemuda berpakaian mewah itu segera melesat ke arah perginya Puguh dan Rengganis.
---- * ----
Sementara itu, tanpa Puguh dan Rengganis sadari, berita tentang tewasnya Topeng Kawung dan kedua muridnya, hanya dalam jarak beberapa hari sudah menyebar di dunia persilatan.
__ADS_1
Berita itu membuat banyak tokoh tokoh dunia persilatan dari berbagai negeri datang ke Kerajaan Gading Pura.
Walaupun belum ada kabar pastinya, sebagian besar pendekar itu memiliki perkiraan, tewasnya Topeng Kawung dan kedua muridnya ada kaitannya dengan kabar ditemukannya senjata pedang dan siluman elang.
Banyaknya para pendekar dan tokoh tokoh dunia persilatan yang datang ke Kerajaan Gading Pura itu, di satu sisi mereka saling tidak peduli. Namun di sisi lain, mereka saling melihat dan mengawasi.
Andaikata ada orang masih asing bagi mereka datang, mereka diam diam akan memperhatikan dan mengawasi. Apalagi kalau ciri ciri orang asing itu, sama atau mirip dengan rumor yang beredar di kalangan dunia persilatan. Demikian juga dengan yang dialami Puguh dan Rengganis pada hari ini.
Setelah keluar dari rumah makan, Puguh dan Rengganis menyusuri jalanan kota yang cukup besar tetapi tidak terlalu ramai pejalan kaki.
Namun, setelah beberapa waktu, Puguh dan Rengganis merasakan ada yang aneh di depannya.
Agak jauh di depannya, Puguh dan Rengganis melihat seorang pengemis membawa bungkusan yang diberikan oleh Rengganis, berjalan di depannya dalam jarak yang selalu sama dan terkadang sambil menoleh ke belakang, melihat ke arah mereka berdua.
"Adik Rengganis melihat pengemis di depan itu ? Bukankah itu pengemis yang adik beri bungkusan ?" tanya Puguh.
"Betul kakang. Dan sepertinya pengemis itu memperhatikan dan mengikuti kita terus, walau jalannya di depan kita," jawab Rengganis.
"Mari kita coba berbelok di jalan lain, apakah pengemis itu masih mengikuti kita !" sahut Puguh sambil menggandeng tangan Rengganis berbelok arah mengambil jalan lain, saat mereka sampai di pertigaan.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, tiba tiba Puguh dan Rengganis melihat, pengemis yang mereka lihat tadi, sudah berdiri diujung jalan dan menatap ke arahnya, sambil menggoyang goyangkan bungkusan yang dibawanya, seolah olah agar terlihat oleh Puguh dan Rengganis.
Saat Puguh dan Rengganis mendekat, pengemis itu langsung pergi mengambil jalan yang arahnya lain lagi.
Karena penasaran, sekali lagi Puguh dan Rengganis berbelok dan kali ini mengikuti arah jalan yang diambil pengemis tadi. Dan terlihat lagi, pengemis itu berdiri diujung jalan menatap ke arah mereka, sambil mengacungkan bungkusan makanan tadi ke arah mereka.
"Apakah adik Rengganis berpikiran sama dengan kakang ?" tanya Puguh.
"Sepertinya, pengemis itu ingin kita mengikuti arah perginya !" jawab Rengganis.
"Baiklah ! Ayo kita ikuti pengemis itu. Sepertinya dia ingin kita pergi ke suatu tempat yang dia tunjukkan !" kata Puguh lagi.
Akhirnya, Puguh dan Rengganis mengikuti pengemis itu, kemanapun pengemis itu berjalan.
__ADS_1
__________ ◇ __________