Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Disusul Putri Mahatariti


__ADS_3

Setelah mencari cari Puguh selama dua hari dan belum menemukan tanda tanda keberadaan Puguh, Putri Mahatariti segera kembali ke markas cabang Perkumpulan Jaladara Langking di Kadipaten Randu Beteng. Di markas itu, Putri Mahatariti hanya memberikan beberapa perintah pada para pembantunya untuk mengurus markas cabang itu.


Kemudian, Putri Mahatariti segera pergi lagi. Dengan ilmu meringankan tubuh serta tenaga dalamnya yang sudah sangat tinggi, Putri Mahatariti menuju ke tempat ayah dan ibunya yang tempat tinggalnya hanya orang orang tertentu yang mengetahuinya.


Di tempat tinggal kedua orangtuanya, Putri Mahatariti segera berganti pakaian.


Kali ini Putri Mahatariti memakai pakaian berwarna serba hitam yang ringkas namun tetap tidak menghilangkan bentuk tubuh perempuannya. Rambutnya dikuncir sederhana ke belakang dengan memakai kain penutup kepala yang ringkas juga. Pedang tipis berwarna hitam legam terlihat terselip di punggungnya.


Semua itu adalah pakaian khusus yang selalu dipakai oleh anggota inti Perkumpulan Jaladara Langking saat melakukan tugas penting ataupun yang bersifat rahasia. Dan juga pakaian yang menandakan posisi di Perkumpulan Jaladara Langking.


Melihat anak perempuan kesayangannya telah memakai pakaian itu, Dharma Shankara menanyakan pada Putri Mahatariti anaknya.


"Ngger anakku, sebegitu pentingkah anak muda itu, sehingga kau sangat serius untuk mencarinya ?" tanya Dharma Shankara.


"Sangat penting, ayah. Pertama, aku suka padanya. Dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya, dia pantas menjadi suamiku. Kedua, dengan ilmu silat dan tenaga dalamnya yang sangat tinggi, dia sangat bisa membantu Perkumpulan Jaladara Langking bangkit lagi. Dan yang ketiga, pedangnya. Aku menginginkan pedangnya !" jawab Putri Mahatariti.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi tekadmu. Kau pergilah ke perbatasan Kadipaten Randu Beteng. Di tepi hutan, mereka sudah menunggumu. Mereka yang akan menemani dan membantumu !" kata Dharma Shankara.


"Tidak ayah. Aku akan pergi sendiri. Jangan ada yang mengikutiku, karena hanya akan merepotkanku," jawab Putri Mahatariti.


Kemudian, setelah berpamitan, Putri Mahatariti segera melesat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, yang di kalangan Perkumpulan Jaladara Langking, termasuk yang tercepat.


Sebenarnya, dibandingkan dengan ayah dan ibunya, Dharma Shankara dan Muka Pucat, ilmu Putri Mahatariti lebih tinggi, tenaga dalamnya pun lebih tinggi tingkatannya. Hal ini karena hasil didikan kakeknya, Ki Jimbun Waloka, yang mengetahui kecerdasan dan bakat cucunya dalam ilmu silat.


Namun karena rasa sayang Dharma Shankara dan Muka Pucat pada Putri Mahatariti, yang selalu berusaha menjaga dan melindunginya, membuat tidak semua anggota inti mengetahui betapa ilmu dan tenaga dalam Putri Mahatariti sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi.


Hanya beberapa anggota inti yang berkesempatan mengetahuinya, salah satunya adalah Nyi Chandra Praya.


Sementara itu Dharma Shankara dan Muka Pucat, mengetahui anak perempuan kesayangannya memutuskan pergi sendirian dan tidak mau ditemani, segera menemui beberapa tokoh tingkat tinggi Perkumpulan Jaladara Langking yang dia perintahkan menunggu di perbatasan Kadipaten Randu Beteng.


Tokoh tokoh itu diantaranya Nyi Chandra Praya, Ki Bayuseta, serta dua orang kembar Kalayaksa dan Kaladitya.

__ADS_1


Kalayaksa dan Kaladitya bertubuh tinggi kurus dengan mimik wajah yang datar serta tidak pernah menunjukkan perasaan apapun. Usianya pun sangat sulit untuk diperkirakan.


Walaupun hanya diam saja tanpa pernah menunjukkan keinginan apapun, namun dalam setiap pertarungan, keduanya terkenal sangat kejam dan brutal. Bahkan lebih kejam dari Gogor Gora.


Pada keempat tokoh tingkat tinggi itu, Dharma Shankara menyampaikan kalau Putri Mahatariti tidak mau ditemani. Namun karena dasa khawatir akan keselamatan anaknya, Dharma Shankara memerintahkan untuk membuntutinya dengan hati hati agar jangan sampai Putri Mahatariti mengetahuinya.


Akhirnya keempat tokoh tingkat tinggi itu segera berangkat ke arah yang diperkirakan ditempuh oleh Putri Mahatariti.


----- * -----


Di pinggiran sebuah hutan kecil, Ki Bhanujiwo beserta Den Roro dan Puguh akan melanjutkan perjalanan, setelah mereka bertiga beristirahat.


Mereka telah berhari hari melakukan perjalanan keluar masuk hutan. Terkadang mampir ke suatu kampung untuk mencari perbekalan yang hampir habis.


Dalam perjalanannya, mereka belum juga menemukan bahan untuk ramuan yang bisa digunakan untuk menyembuhkan Puguh.


Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki biasa.


Mereka merasakan ada satu getaran tenaga dalam yang sangat tinggi, mendekat ke arah mereka dengan gerakan yang sangat cepat.


Belum juga mereka melihat wujud tubuh siapa yang datang, sebuah suara sudah sampai ke telinga mereka bertiga.


"Ternyata kalian melarikan Puguh sampai di sini ! Dasar orang tidak bisa dipercaya !"


Kemudian, sesaat setelah suara itu terdengar, sebuah kelebatan bayangan hitam menerjang Den Roro dan Ki Bhanujiwo dengan melayangkan tamparan.


Plaaasss !


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Karena sudah bersiap, Ki Bhanujiwo dan Den Roro bisa menangkis serangan mendadak itu. Walaupun begitu, Ki Bhanujiwo dan Den Roro diam diam merasakan tangan mereka bergetar hebat setelah menangkis tamparan itu.

__ADS_1


Terlihat di depan mereka, sudah berdiri sesosok tubuh langsing berpakaian serba hitam.


Dialah Putri Mahatariti. Setelah beberapa hari berusaha mencari Puguh, dengan memulai dari tempat Puguh terakhir dia baringkan, Putri Mahatariti mulai bisa mendapatkan berita tentang tiga orang yang selalu memberikan pertolongan saat melewati perkampungan sekalian mencari perbekalan.


Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat tinggi, hanya dalam beberapa hari, Putri Mahatariti akhirnya berhasil menyusul Puguh yang sedang melakukan perjalanan dengan Ki Bhanujiwo dan Den Roro.


Sejenak Putri Mahatariti terpaku menatap Puguh yang sudah sehat kembali. Tubuhnya sudah terlihat tegap, walaupun agak kurus.


Kemudian, tanpa memperdulikan Ki Bhanujiwo dan Den Roro, Putri Mahatariti mendekati Puguh.


"Puguh ! Ayo kita pulang !" kata Putri Mahatariti setelah dekat dengan Puguh.


Puguh yang ingatannya masih belum pulih, hanya terdiam mendengar perkataan Putri Mahatariti.


Berbeda dengan Puguh yang terdiam saja, Den Roro menyahut perkataan Putri Mahatariti dengan suara keras.


"Siapa kau, tiba tiba mengajak Puguh pulang ? Memangnya kamu siapanya Puguh ?" kata Den Roro setengah berteriak sambil telunjuk tangan kanannya menuding ke arah Putri Mahatariti.


Sejenak Putri Mahatariti menatap wajah Ki Bhanujiwo dan Den Roro.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian. Urusanku hanya mengajak Puguh pulang !" jawab Putri Mahatariti dengan ketus.


"Heeeiii ! Enak saja mengajak pulang, setelah kau racuni Puguh. Kami yang bersusah payah menyelamatkan nyawa Puguh yang hampir mati ! Kau tidak bisa seenaknya mengambil Puguh dari kami !" kata Den Roro lagi.


"Aku baru tidak selera membunuh orang. Apalagi yang sudah menolong Puguh ! Namun kalau kalian menghalangi aku, aku tidak akan segan segan membunuh kalian !" sahut Putri Mahatariti.


"Kau tidak bisa seenaknya merebut Puguh dari kami !" kata Den Roro pelan namun terdengar tegas, sambil kedua tangannya menarik dua pedang pendek yang disarungkan menyilang di punggungnya.


Sreeettt !


Melihat itu, Putri Mahatariti hanya mendengus pelan. Kemudian tangan kanannya bergerak cepat dan tahu tahu, sebilah pedang tipis berwarna hitam legam berada dalam pegangannya.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2