
"Haahhh ! Aku merasa terhormat, menjadi orang yang pertama mengicipi kesaktian sahabatku Ki Kala Caraka !" kata Ki Dahana Yaksa.
"Engkau memang tuan rumah yang baik, Ki Dahana Yaksa ! Memberiku kesempatan menjajal ilmu barumu !" jawab Ki Kala Caraka.
Kemudian, di ruangan tempat mereka berdua bertarung itu, sangat terasa adanya lonjakan aliran tenaga dalam pada tingkatan yang sangat tinggi.
Dengan seluruh tubuh yang penuh dengan aliran tenaga dalam dan dengan jari jari tangan membentuk cakar, Ki Dahana Yaksa melesat dengan sangat cepat bagaikan menghilang.
Demikian juga dengan Ki Kala Caraka. Tubuhnya meluncur cepat ke arah datangnya Ki Dahana Yaksa dengan kedua kepalan tangannya yang siap melakukan pukulan.
Sesaat kemudian, di ruangan yang hanya berisi mereka berdua itu, terdengar berkali kali suara benturan pukulan dan tendangan mereka.
Plak ! Plak ! Plak !
Pack ! Pack !
Jdammm ! Jdammm !
Sementara itu, di ruangan lain yang hanya dibatasi oleh sekat putih tipis, Resi Wismaya berhadapan dengan Ki Jala Seta.
"Resi Wismaya ! Memang sudah takdirmu, untuk memberi kesempatan padaku mencoba kesaktianmu yang tersohor itu. Sekarang kamu sudah tidak ada alasan untuk menghindar lagi !" kata Ki Jala Seta dengan wajah serius.
"Heehhh he he he he ! Ki Jala Seta, bukankah kemaren kita sudah bertarung ?" sahut Resi Wismaya.
"Pffiihhh ! Resi Wismaya ! Itu bukan pertarungan ! Saat itu kau hanya menghindar terus !" kata Ki Jala Seta lagi, "Sekarang ini, kau boleh menghindar terus, kalau kau ingin terlempar dari sekat putih ini !"
Kemudian, tanpa menunggu Ki Wismaya menjawab, Ki Jala Seta langsung menerjang dengan tendangan yang dilakukan dengan setengah melompat. Walaupun bertubuh tinggi besar dan gemuk, Ki Jala Seta mampu melakukan tendangan bertubi tubi dengan sangat cepat.
Menghadapi serbuan tendangan beruntun itu, Resi Wismaya melompat ke belakang untuk menghindar. Namun, karena kedua kaki Ki Jala Seta yang seperti mengejar terus, akhirnya Resi Wismaya harus menangkis.
Packkk ! Packkk ! Packkk !
Bugghhh ! Bugghhh ! Jdammm !
__ADS_1
Walau lebih dalam posisi menyerang, kaki Ki Jala Seta selalu terpental kembali dan merasa bergetar setiap terkena tangkisan Resi Wismaya.
"Memang bukan omong kosong belaka, kesaktian Resi Wismaya memang sulit diukur !" kata Ki Jala Seta dalam hati.
Bersamaan dengan itu, di ruangan lain lagi yang juga hanya dibatasi dengan sekat putih tipis. Dewi Laksita sudah berhadapan dengan Ki Kraman Jiwa.
Sejak awal, Ki Kraman Jiwa yang tidak suka banyak omongan, langsung menggebrak Dewi Laksita dengan serangan serangannya yang lugas namun sangat bertenaga.
Dewi Laksita juga tidak mau kalah. Menghadapi lawan yang setingkat dengannya, tanpa sungkan sungkan lagi, Dewi Laksita langsung mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
----- * -----
Pertarungan Ki Dahana Yaksa melawan Ki Kala Caraka telah berlangsung lebih dari lima puluh jurus. Pertarungan tangan kosong itu semakin seru karena mereka berdua sudah mulai menggunakan tenaga dalam dan kemampuan terbaik mereka.
Namun semakin lama, akhirnya semakin terlihat kalau Ki Kala Caraka sedikit keteter dalam hal tenaga dalam.
"Kenapa tenaga dalam Ki Dahana Yaksa bisa meningkat sepesat ini ?" tanya Ki Kala Caraka dalam hati.
Dalam pertarungan terakhir mereka tiga tahun yang lalu, Ki Kala Caraka masih bisa mengimbangi tenaga dalam Ki Dahana Yaksa.
Hingga suatu saat dalam benturan tenaga dalam yang ke sekian kalinya, Ki Kala Caraka memanfaatkan tubuhnya yang terdorong untuk melompat ke belakang.
"Ki Dahana Yaksa, kuakui kekuatanmu meningkat dengan pesat. Bagaimana dengan kemampuanmu menggunakan senjata, apakah juga meningkat ?" kata Ki Kala Yaksa sambil mencabut senjatanya, dua golok kembar yang tipis.
Sring !
"Haahhh ha ha ha ha ! Ki Kala Caraka, aku suka sekali dengan semangatmu ! Aku ikuti ajakanmu !" jawab Ki Dahana Yaksa sambil meloloskan senjata pedangnya pelan pelan. Senjata pedang itu sejenak diacungkan ke atas sambil bibirnya bergerak gerak membaca mantera.
Tepat saat Ki Dahana Yaksa selesai membaca mantera, tubuh Ki Kala Caraka sudah melesat dengan sangat cepat ke arah Ki Dahana Yaksa dan kemudian mengayunkan kedua senjata goloknya secara bergantian ke arah bagian bagian tubuh Ki Dahana Yaksa.
Melihat serangan yang sangat cepat dan penuh dengan kekuatan tenaga dalam, Ki Dahana Yaksa segera memutar senjata pedangnya dengan cepat untuk menangkis dan melindungi tubuhnya.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
__ADS_1
Sambil terus melakukan serangan tebasan maupun tusukan, diam diam Ki Kala Caraka kembali terkejut dengan kekuatan Ki Dahana Yaksa. Kekuatan yang sekarang mampu membuat kedua goloknya bergetar hingga merembet ke pangkal lengannya.
Sementara itu, saat mendapatkan kesempatan menyerang balik, setelah menangkis serangan yang datangnya bertubi tubi, Ki Dahana Yaksa segera menyerang sambil bibirnya kembali membaca mantera.
Seketika terjadi lonjakan tenaga dalam yang sangat besar dari dalam tubuh Ki Dahana Yaksa. Membuat kelebatan pedang Ki Dahana Yaksa semakin cepat dan serangan sabetan pedang semakin kuat.
Bahkan, dalam setiap kelebatannya, pedang Ki Dahana Yaksa membentuk garis berwarna hijau tipis.
Tanpa memberi kesempatan pada Ki Kala Caraka untuk bernafas lega, Ki Dahana Yaksa ganti mencecar Ki Kala Caraka dengan serangkaian tebasan dan tusukan yang semakin lama semakin kuat dan bertenaga.
Hingga pada suatu saat, tebasan pedang Ki Dahana Yaksa yang dilakukan dari arah kanan, coba ditangkis oleh Ki Kala caraka dengan menyilangkan kedua goloknya.
Benturan senjata pedang dengan senjata golok itu menimbulkan suara yang sangat nyaring.
Klanggg !
Dalam benturan senjata itu, tubuh Ki Kala Caraka terdorong mundur dan terhuyung huyung hingga beberapa langkah.
Belum juga Ki Kala Caraka mengembalikan posisi kuda kudanya, Ki Dahana Yaksa sudah memyusulinya dengan tendangan kaki kanan yang sangat keras. Tendangan itu mendarat dengan telak di dada Ki Kala Caraka.
Deessshhh !
Terkena tendangan yang sangat keras itu, membuat tubuh Ki Kala Caraka yang belum kembali kokoh kuda kudanya, terlempar dengan keras ke belakang hingga sampai membentur dinding sekat putih.
Blanggg !
Terbentur dinding sekat putih itu, tubuh Ki Kala Caraka terlempar keluar dari bangunan besar berbentuk lingkaran yang terbuat dari gabungan tenaga dalam enam orang itu.
Tubuh Ki Kala Caraka terlempar keluar dan jatuh bergulingan hingga akhirnya terhanti dalam posisi duduk dengan bertumpu pada satu lutut.
Terlihat nafas Ki Kala Caraka yang terengah engah dan wajah yang putih memucat. Sesaat kemudian, Ki Kala Caraka harus memuntahkan darah segar dua kaki.
Beberapa saat kemudian, Ki Kala Caraka berdiri dengan perlahan walau dengan tubuh yang gemetaran.
__ADS_1
"Kekuatan apa yang digunakan oleh Ki Dahana Yaksa, hingga menjadi tenaga dalam yang diluar nalar manusia !" kata Ki Kala Yaksa dalam hati.
__________ ◇ __________