Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan Di Alun Alun Kadipaten Langitan


__ADS_3

Enam batang anak panah yang melesat dengan sangat cepat dan sambil berputar itu, serentak menghujam punggung Puguh.


Namun Ki Naga Wiru tidak jadi melanjutkan kata katanya, saat dilihatnya, entah dengan gerakan yang bagaimana, tahu tahu keenam anak panah tadi sudah disapok jatuh dengan telapak tangan kiri Puguh.


Padahal Ki Naga Wiru melihat, Puguh tidak melakukan gerakan apa apa dan gerakan kakinya juga tidak berubah.


Penasaran dengan kegagalan serangannya, Ki Naga Wiru mengulang lagi gerakan yang tadi dia lakukan. Kali ini gerakan tangannya lebih cepat lagi dan dilakukan beberapa kali.


Tiba tiba, keenam anak panah yang tadi sudah disapok jatuh oleh Puguh, kembali terangkat dan berputar lebih cepat dibandingkan tadi. Bukan hanya itu. Bebatuan di sekitar mereka juga ikut melayang dan berputar dengan cepatnya.


"Coba kau rasakan ini !" teriak Ki Naga Wiru.


Kemudian, benda benda yang sudah melayang tadi, sambil berputar, meluncur dengan lebih cepat lagi ke arah Puguh berdiri.


Karena tidak ingin melewatkan sedikitpun apapun yang terjadi, Ki Naga Wiru segera menatap setiap gerakan yang dilakukan oleh Puguh.


Namun Ki Naga Wiru kembali dibuat heran. Dilihatnya Puguh melangkah biasa ke arah dia berdiri bahkan tidak berusaha menghindar. Namun tiba tiba semua serangannya rontok.


Dan yang sangat mengejutkannya adalah, tahu tahu tubuh Puguh sudah berada di depannya dan tangan kirinya melakukan dorongan yang membuat tubuhnya terhuyung dan terjengkang ke belakang.


Sreeettt !


Buuuggghhh !


Ki Naga Wiru akhirnya bisa menguasai tubuhnya dan berhenti dalam posisi membungkuk. Hal itu membuat amarah Ki Naga Wiru semakin terbakar.


Maka, tanpa berkata kata lagi dan hanya bisa berteriak, Ki Naga Wiru mengeluarkan senjata andalannya yaitu tombak pendek dengan mata tombak di kedua ujungnya.


Aarrrccchhh !!!


Tombak pendeknya diputar sedemikian cepat mengelilingi tubuhnya. Selain mengeluarkan suara mendengung, tombak pendek itu juga mengeluarkan loncatan loncatan petir dari kedua ujung mata tombaknya.

__ADS_1


Kemudian, dengan sekali menggerakkan kakinya, tubuh Ki Naga Wiru melesat ke arah Puguh dan mengurungnya dengan serangan bertubi tubi.


Ki Naga Wiru berusaha membuat tidak ada celah menghindar bagi Puguh. Ditambah lagi dengan benda benda di belakang Puguh yang ikut berputar dan bergerak kemanapun tangan kiri Ki Naga Wiru memerintahkan. Membuat Puguh benar benar terkurung dan sepertinya tidak akan bisa menghindar lagi.


----- * -----


Sementara itu, bersamaan dengan pertarungan Puguh melawan Ki Naga Wiru. Senopati Nata dan Senopati Raksaguna serta Senopati Utama Wiguna langsung mengepung Nyi Srayu yang ikut datang bersama sama dengan Ki Naga Wiru.


Ni Srayu yang tidak menyadari jika dirinya dikepung untuk dipisahkan dari Ki Klawu Carma, segera menanggapi tantangan ke tiga senopati.


Senjata tasbih coklatnya dia putar sedemikian rupa mengelilingi tubuhnya, hingga menimbulkan suara bergemuruh. Kemudian, dengan sedikit menotolkan kakinya ke tanah, tubuh Ni Srayu melesat ke arah ke tiga senopati dengan gerakan tasbih yang berputar menghantam ke arah kepala.


Senopati Nata dan Senopati Raksaguna langsung memapaki pergerakan Ni Srayu dengan menggunakan senjata golok mereka. Kedua senjata golok mereka berkali kali menghadang meluncurnya senjata tasbih. Suara benturan senjata mereka, terkadang menimbulkan suara berkeritikan.


Trikkk trikkk trikkk ! Triiikkk ! Triiikkk !


Triiinnnggg ! Triiinnnggg !


"Hahhh ha ha ha ..... Ayo ! Keluarkan seluruh kemampuan kalian !" teriak Ni Srayu.


Kemudian Ni Srayu menambah kembali jumlah tenaga dalam yang dia keluarkan. Suara dengungan tasbih yang berputar itu semakin keras hingga menyerupai suara lebah hutan.


Dengan gerakan yang lebih cepat lagi, Ni Srayu mengurung Senopati Nata dan Senopati Raksaguna dengan sabetan tasbih. Kedua senopati itu terpaksa menahan dan menangkis serangan Ni Srayu dengan tangan yang semakin kesemutan.


Melihat kedua rekannya kerepotan menangkis, Senopati Utama Wiguna segera ikut terjun ke dalam pertarungan.


Begitu putaran tasbih itu tertangkis golok Senopati Utama Wiguna, terpental balik dengan suara yang semakin nyaring.


Traaannnggg ! Traaannnggg !


Keadaan itu segera dimanfaatkan oleh Senopati Nata dan Senopati Raksaguna untuk balas memberikan serangan.

__ADS_1


Ni Srayu yang merasa keunggulannya tidak bertahan lama, kembali menambah daya gedor tasbihnya dengan meningkatkan aliran tenaga dalamnya.


Namun, dengan kerjasama yang apik dari ke tiga senopati itu, senjata tasbih yang menghantam sambil bergulung itu, selalu ditangkis oleh Senopati Utama Wiguna dan selalu mental dengan keras.


Karena serangannya selalu bisa ditangkis dan bahkan ke dua lawan yang lainnya mulai bisa melancarkan serangan, membuat Ni Srayu mulai keteter dan sedikit demi sedikit terdesak.


----- * -----


Di tempat lain lagi Ki Klawu Carma segera disambut oleh Ki Bajdapadsa dan Ki Ragajampi.


"Hehh he he he .... cecurut cecurut padepokan ! Majulah bersama sekalian ! Biar aku bisa segera menghabisi kalian !" kata Ki Klawu Carma menantang.


Kemudian, dengan tongkat bututnya, Ki Klawu Carma melesat ke arah Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi. Tongkat butut itu, terlihat hanya bergerak seenaknya. Namun dalam gerakannya yang seperti ngawur, tongkat itu membawa tenaga dalam yang sangat besar. Sehingga bila tidak hati hati, Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi bisa terluka. Ki Bajrapadsa yang menggunakan senjata pedang serta Ki Ragajampi yang juga memegang tongkat, berusaha menangkis kemanapun arah serangan Ki Klawu Carma.


Namun, yang Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi lawan adalah seorang tokoh persilatan yang seangkatan dan kemampuannya hampir setingkat dengan Ki Dwijo dan Ki Naga Wiru. Sehingga dalam setiap menangkis, Ki Bajrapadsa dan Ki Ragajampi merasakan telapak tangannya sakit dan pegangan senjatanya hampir terlepas.


Duanpertarungannyang lain itu, tidak pernah terlepas dari perhatian Puguh. Untuk mslawan Ni Srayu, Puguh sudah merasa tenang, karena ke tiga senopati mampu mengimbangi ksmampuan Ni Srayu. Namun, untuk melawan Ki Klawu Carma, Puguh masih mengkhawatirkan keselamatan guru guru dari Padepokan Macan Kumbang. Untuk menyuruh para murid ikut membantu, jelas tidak mungkin. Karena justru akan membahayakan keselamatan mereka sendiri.


Maka, dengan menambah lagi alirsn tenaga dalamnya, Puguh segera memainkan jurus Cakar Harimau, yang dipadukan dengan tehnik Bantala Wreksa, kedua tangan Puguh berani untuk menghadapi datangnya tombak walaupun tetap harus menghindari bagian bilah mata tombak.


Dengan kecepatannya yang sekarang dimiliki Puguh, Ilmu Cakar Harimau, walaupun gerakan gerakannya sederhana, menjadi sangat berbahaya berkali kali lipat.


Sebentar saja, beberapa cakaran Puguh berhasil mengenai dada, bahu, lengan bahkan muka Ki Naga Wiru.


Walaupun hanya berhasil memberikan luka luar, namun hal itu membuat Ki Naga Wiru semakin murka.


Hingga suatu saat, dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti lagi oleh Ki Naga Wiru, tendangan kaki kanan Puguh mendarat di punggung Ki Naga Wiru.


Buuuggghhh !


Tubuh Ki Naga Wiru terlempar hingga beberapa langkah dan jatuh bergulingan dan berhenti dalam posisi terduduk. Nafas Ki Naga Wiru agak sesak, walaupun tidak mendapatkan luka dalam.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2