
Sementara itu di waktu sebelumnya. Saat terkena dorongan pukulan dari salah satu sosok pendek bulat, tubuh Rengganis meluncur turun dan tercebur ke dalam air lautan yang ombaknya cukup besar dan berulang ulang menghantam dinding tebing.
Sesaat kemudian, disusul dengan masuknya dua sosok pendek bulat, yang bergerak sangat cepat di dalam air lautan.
Dua sosok pendek bulat itu, segera meraih tubuh Rengganis yang terlihat terombang ambing oleh gerakan ombak dan terlihat kewalahan berada di dalam air laut yang bergejolak liar. Kemudian, dua sosok pendek bulat itu meluncur di dalam air laut dengan sangat cepat, menembus dinding tebing yang berada di dalam air laut, yang ternyata merupakan pintu masuk rahasia ke dalam goa yang sangat besar yang berada di dalam dinding tebing.
Begitu di dalam dinding tebing, kedua sosok pendek bulat itu membawa tubuh Rengganis menaiki tangga batu menuju ke ruangan yang kering dan tidak tersentuh oleh air laut.
Tubuh Rengganis yang lemas, dibaringkan di batu datar yang cukup lebar yang berbentuk seperti tempat tidur.
"Kwa kwwaaa ! Anak manusia ini, aliran tenaganya sangat kacau dan saling berbenturan !" kata salah satu sosok pendek bulat itu.
Kemudian dengan cepat, sosok pendek bulat itu melakukan beberapa totokan di tubuh Rengganis, kemudian mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Rengganis.
"Kwa kwa kwa kwa ! Kenapa kau ngotot untuk menolong anak manusia ini ? Kenapa tidak kita biarkan tenggelam atau tubuhnya hancur terhempar ke dinding tebing ?" tanya salah satu sosok pendek bulat.
"Aswa Muka ! Apakah kau tidak bisa merasakan tenaga dalam yang dimiliki gadis manusia itu ?" kata sosok pendek bulat yang satunya.
"Kenapa dengan tenaga dalamnya, Aswa Kudana ?" tanya sosok pendek yang bernama Aswa Muka sambil berjalan mendekat.
"Kamu periksa sendiri !" jawab Aswa Kudana.
Kemudian, Aswa Muka mencoba memeriksa keadaan tenaga dalam Rengganis.
Awalnya dia merasakan biasa saja, seperti tenaga dalam pendekar pada umumnya. Namun setelah beberapa lama mencoba merasakan, Aswa Muka merasakan getaran kekuatan yang unik dari dalam tubuh Rengganis.
"Kwa kwa kwa kwa ! Gadis manusia ini, mewarisi kekuatan dewa !" teriak Aswa Muka terkejut.
"Kwa Kwwaaa ! Hanya saja alirannya kacau dan saling berbenturan, sehingga tenaga dalamnya tidak bisa disimpan lama di tubuhnya !" jawab Aswa Kudana lagi, "Kita harus menolong gadis manusia ini !"
__ADS_1
Kemudian, Aswa Kudana melakukan beberapa totokan di kepala, leher dan tubuh Rengganis yang masih lemas. Setelah itu, dengan tenaga dalamnya, Aswa Kudana memisah misah tiga unsur tenaga dalam yang ada di dalam tubuh Rengganis. Kemudian Aswa Kudana dibantu oleh Aswa Muka, mendorong dan menata arah arus tenaga dalam Rengganis.
Setelah beberapa waktu, kedua manusia pendek bulat itu membiarkan Rengganis terbaring sendirian di batu datar.
Terdengar, mereka berdua melangkah menaiki tangga menuju ruangan yang terletak lebih di atas lagi. Ruangan yang sepertinya seperti sebuah kamar yang menghadap ke ruangan yang sangat luas, tempat Rengganis terbaring. Ruangan kamar itu ada beberapa dengan posisi berjajar.
Sementara itu, Rengganis yang tubuhnya lemas, sebenarnya tetap sadar dan samar samar bisa mengikuti apa yang terjadi pada tubuhnya. Tetapi, karena ruangan tempat dia terbaring itu cukup gelap, sehingga Rengganis tidak bisa memperhatikan dengan jelas.
Saat itu, Rengganis yang masih terbaring, merasakan pernafasannya menjadi sangat ringan. Aliran tenaga dalamnya sangat lancar, tidak terhambat lagi seperti sebelumnya. Bahkan pendengarannya menjadi lebih tajam, sehingga bisa mendengarkan dengan jelas, suara suara dari tempat yang cukup jauh.
Tetapi, karena tenaga dalam yang masih tersimpan di tubuhnya tinggal sedikit bahkan bisa dikatakan habis, Rengganis tetap diam terbaring.
"Kwa Kwwaaa ! Untung saja gadis manusia itu masih suci, sehingga tatanan arus tenaga dalamnya masih bisa diperbaiki !" kata Aswa Kudana yang duduk di salah satu kamar bersama dengan Aswa Muka.
"Kwa Kwa Kwa Kwa ! Dilihat dari kondisi syaraf dan pembuluh darahnya, tingkat tenaga dalam dan kekuatan gadis manusia itu sudah sangat tinggi !" jawab Aswa Muka.
"Tapi racun yang menyebar di dalam syaraf dan pembuluh darahnya, yang mengacaukan arus tenaga dalamnya, belum seluruhnya bisa hilang ! Masih membutuhkan beberapa kali dorongan tenaga dalam, agar benar benar bersih !" sahut Aswa Kudana.
Mendengar pembicaraan dua manusia pendek bulat itu, Rengganis merasa tenang pikirannya, karena tahu kalau kedua orang yang belum sempat dia lihat wujud tubuh dan wajahnya, bukanlah orang yang berniat jahat kepadanya.
Maka, sambil memejamkan matanya, Rengganis mencoba menata pernapasannya untuk bersemedi. Sesaat kemudian, Rengganis tenggelam di dalam semedinya.
Bersamaan dengan itu, muncul suara berdesir pelan di seluruh permukaan dinding goa bagian atas. Suara desiran yang cukup pelan itu ditimbulkan oleh gesekan permukaan dinding goa bagian atas dengan angin yang tiba tiba muncul dan berhembus pelan.
Gerakan hembusan angin itu terlihat seirama dengan gerak pernapasan Rengganis.
"Kwa Kwa Kwa Kwa ! Tenyata sumber kekuatan tenaga dalam dan tehnik pernapasan gadis manusia itu sangat unik. Tetapi, kenapa hanya udara di sekitar permukaan dinding atas goa yang bergerak, sedangkan di tengah ruangan dan di dasar lantai tidak ikut bergerak ?" kata Aswa Muka yang bisa merasakan hembusan udara dari tehnik pernapasan Rengganis.
"Kwa Kwwaaa ! Sepertinya dia mendapatkan sumber kekuatannya dari sesuatu yang ada di dalam dinding atas goa !" kata Aswa Kudana menimpali.
__ADS_1
Akhirnya setelah hampir seharian bersemedi sambil berbaring, Rengganis terbangun dan bangkit dari terbaringnya dan duduk di tepi batu datar itu.
Dengan kepekaan pendengaran dan indera perasa di seluruh permukaan kulitnya, walaupun baru sedikit tenaga dalam yang tersimpan di dalam tubuhnya, Rengganis bisa merasakan adanya dua getaran kekuatan yang tingkatannya sudah sangat tinggi, berasal dari sebuah ruangan yang ada di dinding goa.
"Paman berdua, siapakah kalian ?" tanya Rengganis yang merasa penasaran dengan dua orang yang menolongnya itu. Karena, di ruangan yang cukup gelap itu, Rengganis tidak bisa memperhatikan dengan cukup jelas.
"Kwa Kwwaaa ! Kau sudah sadar sepenuhnya, gadis manusia ?" tanya Aswa Kudana sambil melangkah keluar dari kamar di dinding tempat dia duduk.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Aswa Kudana melesat menyisiri dinding goa satu putaran.
Tiba tiba, ruangan goa yang cukup luas, tempat Rengganis tadi terbaring, terlihat cukup terang dengan menyalanya obor obor yang berada di dinding goa, yang baru saja dinyalakan oleh Aswa Kudana.
Dengan penerangan yang cukup terang itu, Rengganis bisa memperhatikan sekelilingnya dengan cukup jelas.
Tetapi, betapa terkejutnya Rengganis, saat melihat ada dua benda bulat yang melayang di dinding dan bergerak perlahan mendekat ke tempatnya.
"Siapa kau ! Berhenti bergerak, atau terpaksa aku menghentikanmu !" teriak Rengganis sambil tangan kanannya menunjuk ke arah Aswa Muka dan Aswa Kudana yang berniat turun mendekat ke arah Rengganis.
"Kwa Kwa Kwa Kwa ! Gadis manusia yang sangat aneh ! Tadi bertanya siapa kami, sekarang begitu melihat kami, menyuruh kami berhenti !" ucap Aswa Muka dengan sedikit mendongkol.
"Apakah kalian juga manusia ?" tanya Rengganis yang masih kebingungan.
"Kwa Kwwaaa ! Apakah kami sudah lebih mirip dengan hantu ?" kata Aswa Kudana bertanya balik.
Mendengar perkataan itu, Rengganis memperhatikan dua benda bulat yang melayang perlahan ke arahnya.
Setelah beberapa saat memperhatikan dengan lebih seksama, Rengganis melihat, benda bulat itu adalah tubuh manusia yang sangat besar hingga terlihat bulat, dengan sedikit tonjolan di atas yang merupakan kepala dan tonjolan di samping dan bawah yang merupakan kedua tangan dan kakinya yang cukup pendek.
Begitu lebar dan bulatnya tubuh mereka berdua, sehingga saat mereka berdua bergerak, terlihat seperti bola yang melayang.
__ADS_1
"Owhh ! Maafkan aku, paman berdua !" kata Rengganis setelah bisa menyadari dan memahami, kalau yang melayang di depannya adalah dua manusia yang sangat gemuk dan terlihat bulat.
__________ ◇ __________