
Namun, walau sudah berjalan cukup jauh, Puguh tetap tidak bertemu dengan orang orang yang dikenalnya. Hal ini karena memang Puguh tidak mengetahui, di mana mereka menginap.
Maka kemudian Puguh kembali lapangan tempat didirikannya panggung panggung pertandingan. Lapangan yang cukup luas itu dikelilingi oleh jalan di semua sisinya. Lapangan dan panggung panggung itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa prajurit penjaga yang berjaga di pintu gerbang menuju ke pendopo kadipaten.
Kemudian Puguh berjalan menuju ke salah satu sudut yang dinaungi pohon yang cukup besar. Ketika sudah dekat dengan pohon itu, Puguh hendak meloncat ke atas. Namun diurungkan, karena Puguh melihat ada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon besar itu.
Begitu melihat orang itu, Puguh terkejut bercampur rasa senang.
"Kakang .... Wi ...dura ?" tanya Puguh pada orang itu.
"Siapa ... ?" tanya orang itu sambil berdiri. Karena waktu sudah menjelang petang, membuat segala sesuatunya tidak begitu jelas.
"Aku kakang," jawab Puguh yang sudah mendekat ke arah Widura.
"Kau ... ? Benarkah kau adi Puguh ?" tanya Widura sambil memegang pundak Puguh dengan kedua tangannya.
"Iya kakang, ini aku Puguh," jawab Puguh sambil tersenyum.
"Ahhh ... ternyata kau selamat adi Puguh !" jawab Widura setengah berteriak, sambil memeluk Puguh dengan eratnya.
Akhirnya mereka berdua duduk bersama dan saling bercerita.
Widura menceritakan kalau saat dulu pulang sendirian dari hutan Alas Ombo, dia sempat di marahi oleh Ki Bajdapadsa. Tetapi setelah dia menceritakan kejadian yang mereka alami, Ki Bajrapadsa bisa memaklumi keputusan Widura.
Namun meskipun begitu, dalam hati Widura terus saja merasa bersalah dan ada keinginan, suatu saat dia akan kembali ke hutan Alas Ombo untuk mencari Puguh.
Bahkan saat ada acara pertandingan beladiri di Kadipaten Langitan pun, Widura memanfaatkannya untuk mencari cari informasi, apapun yang ada kaitannya dengan Puguh.
__ADS_1
Maka betapa gembiranya hati Widura, ketika melihat anak kecil yang dia temui di bawah pohon di salah satu sudut lapangan Kadipaten Langitan adalah Puguh.
Sementara itu, Puguh menceritakan secara singkat apa yang dia alami. Puguh hanya bercerita, dia bisa selamat dari siluman kera raksasa karena tubuhnya yang tertangkap,, dilemparkan oleh siluman kera raksasa itu sampai terlempar sangat jauh dan jatuh tersangkut di pepohonan. Lalu ditolong oleh seseorang yang kemudian menjadi gurunya.
Tiba tiba Widura berdiri dari duduknya dan mengajak Puguh untuk menemui Ki Bajrapadsa yang menjadi tamu salah satu senopati Kadipaten Langitan.
Puguh sangat bersemangat ketika mendengar nama Ki Bajrapadsa di sebut. Karena diapun juga ingin bertemu dan berpamitan tidak bisa meneruskan menjadi murid Padepokan Macan.
Mereka berdua segera menuju jalan yang arahnya tidak terlalu jauh dari lapangan. Akhirnya setelah cukup lama mereka berdua menunggu di tepi jalan di dekat rumah tempat Ki Bajrapadsa bertamu, mereka melihat Ki Bajrapadsa keluar dari rumah itu dan berjalan menuju ke arah mereka.
Awalnya Ki Bajrapadsa tidak terlalu memperhatikan Puguh dan tidak mengenal Puguh lagi. Karena Ki Bajrapadsa memang hanya beberapa kali bertemu dengan Puguh saat di Padepokan Macan Kumbang.
Setelah Widura memberitahukan kalau anak kecil di sampingnya adalah Puguh, murid Padepokan Macan Kumbang yang hilang saat mendapat tugas mencari kayu hitam, barulah Ki Bajrapadsa memperhatikan Puguh.
Ki Bajdapadsa merasa senang sekaligus terkejut, Puguh bisa selamat dari keangkeran hutan Alas Ombo.
"Kalau boleh guru tahu, siapa penolongmu yang sekarang menjadi gurumu itu, ngger ?" tanya Ki Bajrapadsa.
"Saya belum terlalu paham Ki. Tetapi temannya memanggilnya dengan Pendekar Tangan Seribu," jawab Puguh.
Dalam sejenak Ki Bajrapadsa terdiam karena terkejut. Dia teringat di masa mudanya. Walaupun belum pernah berhadapan, namun sering mendengar dan pernah bertemu sendiri, kala itu nama besar Pendekar Tangan Seribu sudah menyebar ke mana mana. Hanya sedikit orang orang dunia persilatan yang mampu menandinginya. Karena kesaktiannya, Pendekar Tangan Seribu disegani oleh semua golongan. Namun saat itu dia tidak peduli dengan golongan. Dia mempunyai banyak teman dari golongan hitam, walaupun dia tidak pernah berbuat kejahatan. Teman dari golongan putih pun sangat banyak walaupun dia sering melanggar norma norma yang berlaku di dunia persilatan.
Karena itulah, selain temannya yang banyak, Pendekar Tangan Seribu juga mempunyai banyak musuh. Sehingga banyak tokoh persilatan yang mencarinya untuk membalas dendam ataupun sekedar mengajaknya mengadu kesaktian. Namun mereka semua bisa dikalahkan oleh Pendekar Tangan Seribu. Walaupun terkadang ada yang mengeroyoknya, namun tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Hal itu berjalan bertahun tahun hingga akhirnya Pendekar Tangan Seribu merasa jenuh dan akhirnya menghilang dari dunia persilatan. Selama berpuluh tahun sudah tidak terdengar lagi namanya.
Yang membuat Ki Bajrapadsa terkejut adalah memunculan kembali Pendekar Tangan Seribu. Setelah puluhan tahun menghilang, tiba tiba muncul lagi. Dan yang membuatnya terkejut sekaligus gembira, dia mengangkat Puguh menjadi muridnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat terdiam karena terhanyut akan ingatannya tentang masa masa dulu, Ki Bajrapadsa kemudian mendekati Puguh dan mengusap usap kepalanya.
"Ha ha ha ha ..... kau anak yang sangat beruntung ngger, bisa menjadi murid Pendekar Tangan Seribu. Kalau tidak salah namanya Ki Dwijo. Belajar dan berlatihlah yang rajin, serap semua ilmu gurumu, semoga kelak kau menjadi pendekar hebat pembela kebenaran pelindung yang lemah yang tertindas," kata Ki Bajrapadsa.
Kemudian Ki Bajrapadsa mengajak Puguh dan Widura ke tempat rombongan dari Padepokan Macan Kumbang menginap. Tempat itu adalah rumah salah seorang prajurit yang menjabat sebagai pemimpin prajurit, yang dulunya merupakan murid Padepokan Macan Kumbang.
Di tempat menginap itu, Puguh bertemu dengan Arimbi, Darutama dan Kaneko. Mereka semua terlihat gembira melihat Puguh ternyata selamat, terutama Arimbi, yang sejak dia berangkat menjalankan tugas sudah tidak pernah bertemu Puguh lagi. Saat itu Arimbi menyalahkan Widura dan menganggap Widura mencelakakan Puguh.
Mereka pun mengobrol cukup lama, hingga Ki Bajrapadsa menanyakan pada Puguh asal daerahnya. Puguh menjawab kalau dia berasal dari Kademangan Pandan Ireng.
Mendengar jawaban Puguh, Ki Bajrapadsa mengangguk angguk sambil seolah memikirkan sesuatu.
"Kamu tidak ingin menemui teman temanmu dari Kademangan Pandan Ireng, ngger ?" tanya Ki Bajrapadsa.
"Ingin sekali, guru," jawab Puguh cepat.
"Datanglah ke rumah yang kita lewati tadi sebelum belok ke jalan ini, mereka menginap di rumah itu, rumah milik salah satu abdi dalem kadipaten," Kata Ki Bajrapadsa menjelaskan.
"Baik guru, terimakasih telah diberitahu," jawab Puguh cepat, "Puguh mohon pamit."
Karena hari yang sudah memasuki malam, Puguh segera menuju rumah yang ditunjukkan oleh Ki Bajrapadsa.
Di rumah itu, kedatangan Puguh sempat membuat kaget Ki Pandan Ireng dan Den Roro Nastiti serta Den Bagus.
Apalagi Den Roro Nastiti yang sudah menganggap Puguh sebagai teman, merasa sangat gembira bisa bertemu dengan Puguh dan mengetahui kalau Puguh selamat dan bisa keluar dari hutan Alas Ombo.
__________ ◇ __________
__ADS_1