Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kisah Tentang Asmara Dhatu


__ADS_3

Pada suatu kesempatan, cecaran pedang Puguh berhasil memaksa Pendekar Penyebar Cinta terus bertahan. Bahkan, dalam benturan senjata yang terus menerus, pedang Puguh berhasil menembus senjata kipas Pendekar Penyebar Cinta dan membuatnya robek.


Kemudian pada satu serangan berikutnya, pedang Puguh berhasil memberikan luka sayatan memanjang di pipi sebelah kiri Pendekar Penyebar Cinta disusul dengan tendangan yang mengenai perutnya.


Buaaakkk !


Terkena tendangan di perutnya, Pendekar Penyebar Cinta terdorong ke belakang beberapa langkah kemudian jatuh terduduk dan memuntahkan darah segar.


Sambil membersihkan kedua sudut mulutnya, Pendekar Penyebar Cinta berdiri lagi. Terlintas sedikit senyuman kecewa di bibirnya.


"Anak muda ! Lain waktu kita bertemu lagi !" ucap Pendekar Penyebar Cinta yang kemudian meloncat muncur dan melesat pergi.


Melihat Pendekar Penyebar Cinta melarikan diri, Rengganis yang sudah sejak awal penuh dengan rasa jengkel berniat mengejar. Namun langkahnya terhenti saat terdengar suara perempuan yang lain lagi.


"Kisanak ! Perkenalkan, aku dari Trah Keluarga Asmara Dhatu. Aku mengucapkan terimakasih karena telah menolong saudara saudaraku. Kalau boleh aku tahu, dari mana asalmu ?" tanya pemilik sepasang mata yang melihat pertarungan Puguh dengan sinar mata yang berbinar itu.


"Aku hanya berusaha menolong siapapun yang tertindas !" jawab Puguh sambil sesaat menatap Rengganis yang berjalan mendekatinya.


Puguh sesaat terdiam, tatapan matanya tajam memandang gadis yang tidak dia rasakan kedatangannya, bahkan sekarang pun, Puguh tidak bisa merasakan getaran tenaga dalamnya.


"Maaf, nona ini adalah Ketua Muda kami, dari Trah Keluarga Asmara Dhatu !" kata salah satu gadis yang ditolong oleh Rengganis.


Mendengar perkataan itu, diam diam Puguh terkejut. Karena sebenarnya Puguh menghindari berurusan dengan tokoh tokoh persilatan dari Kerajaan Kisma Pura, terutama dengan ketiga tokoh yang kemarin diceritakan oleh Ki Sugih Brana. Sekarang bahkan mereka bertemu dengan Ketua Muda dari Trah Keluarga Asmara Dhatu.


"Maafkan kami yang tidak mengetahui datangnya Ketua Muda Trah Keluarga Asmara Dhatu !" jawab Puguh, "Namaku Puguh, kami dari Kerajaan Banjaran Pura."


"Kisanak, kami berharap, semoga kalian berdua bersedia menerima undangan kami untuk bertemu dengan Ibu Ketua kami !" kata nona Ketua Muda itu, "Ada yang Ibu Ketua kami ingin sampaikan pada kalian."


Karena merasa sungkan untuk menolak undangan yang disampaikan secara baik baik, akhirnya Puguh dan Rengganis mengikuti nona Ketua Muda itu, menuju ke tempat Ibu Ketua Trah Keluarga Asmara Dhatu berada.

__ADS_1


----- * -----


Puguh dan Rengganis mengikuti nona Ketua Muda itu berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh selama setengah hari.


Selama berlari cepat, Puguh dan Rengganis merasakan, banyak getaran tenaga dalam yang mengikuti mereka.


"Ternyata banyak juga yang diam diam mengikuti dan mengawal nona Ketua Muda mereka ! Dan hebatnya lagi, mereka semua perempuan !" kata Puguh dalam hati.


Setelah melewati perbukitan yang luas, mereka menaiki sebuah bukit yang paling besar yang berada di tengah tengah rangkaian perbukitan itu. Hingga sampailah mereka semua di satu bangunan rumah yang sangat besar dan luas serta dengan pendoponya yang luas.


"Bangunan ini tidak kalah besarnya dengan istana Kerajaan Banjaran Pura !" kata Puguh dalam hati lagi.


Nona Ketua Muda itu terus saja mengajak Puguh dan Rengganis memasuki rumah besar yang lebih menyerupai istana itu, hingga akhirnya mereka sampai di ruangan tengah dengan meja yang sangat besar berada di tengah tengahnya. Di salah satu ujung meja itu, duduk seorang perempuan muda yang cantik.


"Ibu, merekalah dua orang yang telah diceritakan itu !" kata nona Ketua Muda sambil mendekati perempuan muda yang lebih dulu duduk, dan kemudian berdiri di samping perempuan muda itu sambil mempersilahkan Puguh dan Rengganis untuk duduk.


Mendengar ucapan nona Ketua Muda itu, perempuan muda itu berdiri sambil menjura.


"Aahhh Selamat datang di tempat kami, anak anak muda yang hebat. Perkenalkan, namaku Iswara Dhatu. Aku biasa dipanggil dengan sebutan Ibu Ketua oleh mereka, keluarga dan anak cucuku !" ucap perempuan muda itu, "Dan di sampingku ini, cucuku Kartika Dhatu !"


"Dan jangan terkejut anak muda, usiaku sudah tua, mungkin lebih tua dari nenek kalian !" sambung Iswara Dhatu sambil tersenyum melihat mimik keheranan Puguh dan Rengganis.


Trah Keluarga Asmara Dhatu memang mempunyai ilmu turun temurun yang bisa membuat tubuh dan wajah mereka tetap terlihat muda. Seperti halnya Iswara Dhatu, yang usianya hampir seratus tahun, namun wajah dan tubuhnya masih seperti gadis berusia dua puluh tahunan.


Kemudian Iswara Dhatu bercerita. Kisah yang didengar dari Asmara Dhatu sendiri atau neneknya Iswara Dhatu. Kisah yang kemudian juga diceritakan oleh ibunya Iswara Dhatu karena ada amanat yang harus disampaikan pada Iswara Dhatu.


Dahulu kala, Asmara Dhatu, pendiri Trah Keluarga Asmara Dhatu, waktu mudanya adalah kekasih dari Pendekar Penunggang Elang. Mereka saling mencinta dan akhirnya mengikat janji dalam pernikahan.


Karena masih muda dan jiwa bertualang mereka masih sangat tinggi, mereka berdua melakukan perjalanan.

__ADS_1


Dalam perjalanan itu, mereka sampai di Kerajaan Banjaran Pura yang saat itu mendapat gangguan dari makhluk iblis.


Pendekar Pengendara Elang bersama Asmara Dhatu ikut membantu Kerajaan Banjaran Pura untuk mengusir makhluk makhluk iblis itu, bersama sama dengan pendekar pendekar dari Kerajaan Banjaran Pura.


Namun, di luar perkiraan mereka, Asmara Dhatu menjadi kelemahan mereka dalam melawan makhluk iblis, karena ternyata Asmara Dhatu sedang hamil muda, sehingga bisa dipengaruhi oleh ratu iblis.


Karena sedang hamil muda, maka proses melawan dan memaksa ratu iblis keluar dari tubuh Asmara Dhatu, tidak bisa dengan kekuatan tenaga dalam.


Hingga suatu saat, ada seorang resi yang mengatakan, kalau ratu iblis bisa dikalahkan dan diusir dengan memakai darah keperawanan.


Saat itu, dalam keadaan darurat, di istana Kerajaan Banjaran Pura, yang masih perawan adalah Putri Kahiyang Kawiswara, adik kandung raja Kerajaan Banjaran Pura saat itu. Dan juga, yang bersedia memberikan darah keperawanannya hanya Putri Kahiyang Kawiswara.


Dan sialnya bagi Pendekar Pengendara Elang. Putri Kahiyang Kawiswara bersedia memberikan darah keperawanannya dengan syarat, yang mengambil adalah Pendekar Pengendara Elang. Karena diam diam Putri Kahiyang Kawiswara jatuh hati pada Pendekar Pengendara Elang.


Karena dikejar waktu, ingin segera menyelamatkan Asmara Dhatu istrinya, tidak ada pilihan lain, akhirnya Pendekar Pengendara Elang terpaksa menyanggupi syarat itu.


Hingga akhirnya, dengan darah keperawanan dari Putri Kahiyang Kawiswara, ratu iblis bisa dikalahkan dan diusir dari tubuh Asmara Dhatu.


Setelah terbebas dan selamat dari cengkeraman ratu iblis, beberapa hari kemudian, Asmara Dhatu mendengar pengakuan Pendekar Pengendara Elang suaminya yang telah menikah dengan Putri Kahiyang Kawiswara.


Merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan Pendekar Pengendara Elang, dan dengan membawa emosi dan rasa cemburunya yang meluap luap, Asmara Dhatu pergi meninggalkan Pendekar Pengendara Elang.


Karena harus bertidak sebagai laki laki yang bertanggung jawab, Pendekar Pengendara Elang tidak mungkin meninggalkan Putri Kahiyang Kawiswara, maka Pendekar Pengendara Elang mengutus elang tunggangannya yang telah berubah menjadi wujud siluman, untuk mengejar Asmara Dhatu untuk menjaga dan menemani Asmara Dhatu selama Asmara Dhatu masih hidup.


Namun, karena rasa cintanya yang mendalam pada Asmara Dhatu dan rasa bersalahnya yang terus memenuhi hati dan pikirannya, serta tidak bisa memilih, akhirnya Pendekar Pengendara Elang pergi meninggalkan Putri Kahiyang Kawiswara untuk menyepi dan bertapa sebagai penebusan rasa bersalahnya.


Pendekar Pengendara Elang menghilang dari dunia persilatan dalam keadaan tidak mengetahui bahwa Asmara Dhatu dan Putri Kahiyang Kawiswara hamil, mengandung anak dari benihnya.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2