
"Heehhh he he he he ! Ayo prajurit asing ! Keluarkan kemampuanmu ! Jangan hanya mengandalkan jumlah banyak !" kata Resi Wismaya sambil terus memutar tongkatnya, merangsek, mengarahkan gebugan gebugan tongkatnya ke lawannya yang terdekat.
Dalam pertarungan kali ini, Resi Wismaya merasa lepas, setelah sebelumnya selalu khawatir dengan keselamatan teman temannya.
Tetapi, dengan kedatangan Puguh dan Roro Nastiti, Resi Wismaya tidak lagi mengkhawatirkan teman temannya. Dirinya bisa bertarung mengerahkan ilmu kesaktian dan tenaga dalamnya dengan sepenuhnya. Seperti menemukan kegemaran dan kesukaannya seperti saat maaih muda, yaitu mengadu kekuatan dan kesaktian.
Dengan bibir yang terus tersenyum, Resi Wismaya menghadapi dua panglima perang yang menjadi lawannya dengan leluasa.
"Heehhh he he he he ! Ayo prajurit tengik ! Apa senjata pedangmu sudah tumpul ?" kata Resi Wismaya lagi, yang membuat kedua lawannya semakin emosi.
Dengan mata sedikit melotot, dua orang panglima perang yang menghadapi Resi Wismaya maju bersamaan mengurung Resi Wismaya dengan serangan beruntun yang lebih kuat dan lebih cepat lagi.
Senjata pedang kedua panglima perang itu melesat berkelebatan membidik bagian bagian tubuh yang berbahaya dari Resi Wismaya.
Namun, kali ini, yang mereka hadapi adalah Resi Wismaya yang sedang dalam keadaan hati yang senang dan mantap serta pikiran yang fokus pada pertarungan.
Tongkat Resi Wismaya berputar cepat mengadang ke arah manapun senjata kedua lawannya menyerang, hingga menimbulkan suara berdentangan berkali kali.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
"Heehhh he he he he ! Aku sedang merasa gembira ! Akan aku ladeni kalian, sampai kalian tidak kuat mengangkat senjata kalian !" ucap Resi Wismaya sambil terus membenturkan senjata tongkatnya ke senjata lawan yang mengarah ke tubuhnya.
Setelah pertarungan berjalan sekitar lima puluh jurus, senjata tongkat Resi Wismaya mulai berhasil mendarat di tubuh kedua lawannya.
Sementara itu, tidak jauh dari pertarungan Resi Wismaya, Ki Dwijo juga melawan dua orang panglima perang. Seperti halnya Resi Wismaya, Ki Dwijo juga merasakan lepas, seolah tidak ada beban dalam bertarung. Karena Ki Dwijo merasakan rileks dalam bertarung, sehingga hal itu menyebabkan kemampuan tehnik bertempurnya bisa keluar secara maksimal.
Selain senjata tongkatnya, yang tidak kalah berbahayanya dari senjata tongkatnya adalah tangan kiri Ki Dwijo yang memainkan jurus Bantala Wreksa.
Kecepatan gerak tangan kiri Ki Dwijo yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata, semakin lama semakin tidak bisa diibangi oleh kedua lawannya.
__ADS_1
Beberapa kali, pukulan tangan kiri Ki Dwijo mampu mengenai dada dan bagian tubuh yang lainnya dari kedua lawannya. Berkali kali pula senjata tongkat Ki Dwijo berhasil membuat mental senjata kedua lawannya. Bahkan, sekali dua kali, senjata tongkat Ki Dwijo mampu melukai tubuh kedua lawannya.
Tidak berbeda dengan Resi Wismaya dan Ki Dwijo, Dewi Laksita juga sangat menikmati pertarungan dan merasa bisa leluasa dan fokus melakukan pertarungan, karena melihat teman temannya juga tidak mendapatkan kesulitan.
Kedua dwisula kecilnya menyambar nyambar menghadang setiap senjata lawan yang menyerangnya, hingga menimbulkan suara berdentangan yang sangat keras.
Twang ! Twang ! Twang ! Twang !
Suara dentangan dari kedua senjata dwisulanya itu, semakin lama semakin menjadi gangguan bagi kedua lawannya.
Dua orang panglima perang yang menjadi lawannya merasakan, telinga mereka menjadi sakit serta berdenging dan membuat mereka terpecah konsentrasinya.
Bersamaan waktunya dengan pertarungan ketiga tokoh tua dunia persilatan itu, Roro Nastiti dan Putri Cinde Puspita, yang sama sama menghadapi tiga orang lawan, bertarung tanpa mengeluarkan kata.
Mereka berdua diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dan lebih memilih untuk berkonsentrasi menghadapi lawan lawan mereka masing masing.
Putri Cinde Puspita, dengan senjata pusaka dwisulanya, dengan cara bertarung yang mirip Dewi Laksita gurunya, berkelebatan cepat seperti menari diantara tebasan senjata lawan lawannya.
Klang ! Klang ! Klang ! Klang !
Suara dentangan yang keluar dari getaran bilah senjata dwisula itu, menjadi serangan, yang ternyata lebih ganas dari suara dentangan senjata dwisula milik Dewi Laksita gurunya.
Karena, selain menyakitkan telinga lawannya, suara dentangan itu membuat jantung seperti mendapatkan hentakan.
Bagi lawan yang belum siap ataupun lawan yang tingkat tenaga dalamnya berada di bawahnya, jika jantungnya terhentak oleh suara dentangan dwisulanya, sesaat akan merasakan lemas dan seperti kehilangan tenaga.
Sehingga setelah lima puluh jurus, ketiga lawan Putri Cinde Puspita sudah mendapatkan beberapa luka, tergores ujung senjata dwisula. Hal itu membuat Putri Cinde Puspita semakin bersemangat.
Sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Putri Cinde Puspita menambah kecepatan gerakannya.
__ADS_1
Sekain itu, setiap kali senjata pusakanya terkena aliran tenaga dalam yang lebih besar lagi, senjata trisula itu mengeluarkan suara dentangan yang lebih keras lagi.
Hingga akhirnya, ketika pertarungannya memasuki delapan puluh jurus, ketiga lawannya, tanpa menyadarinya, keluar darah dari telinga dan hidungnya.
Dan setelah menerima berkali kali tusukan senjata dwisula di bahu, paha dan perutnya, serta akhirnya menghujam ke dadanya, satu persatu, ketiga lawannya terjatuh dan akhirnya tewas, dengan dada berlubang terkena senjata dwisula.
Sementara tidak jauh dari pertarungan Putri Cinde Puspita, terjadi juga pqertarungan sengit antara Roro Nastiti menghadapi ketiga panglima perang lawannya.
Kedua senjata pedang pendeknya memainkan jurus demi jurus ilmu Cakar Jatayu yang sudah dia kuasai secara sempurna berkat bimbingan Puguh selama melakukan perjalanan.
Kelebatan kedua senjata pedang pendeknya, karena kecepatan gerakan yang dimilikinya, sehingga hanya terlihat seperti kilatan cahaya putih menyambar nyambar.
Benturan senjata terdengar berulang kali. Dalam setiap benturan senjata itu, ketiga panglima perang itu diam diam merasakan telapak tangannya kebas dan bergetar hingga ke bahu.
Berkali kali, dengan diawali melenting ke atas, kemudian menukik ke bawah sambil melakukan tusukan dan tebasan yang sangat cepat, kedua senjata pedang pendeknya selalu memberikan ancaman yang apabila terlambat ataupun tidak bisa menghindarinya akan menjadikan luka luka di tubuhnya.
Hingga pada suatu saat, dengan luka luka yang sudah memenuhi tubuhnya karena terkena tebasan ataupun tusukan pedang pendek Roro Nastiti, satu persatu ketiga lawannya jatuh terkapar dan tewas.
Bersamaan dengan tewasnya lawan lawan Roro Nastiti dan Putri Cinde Puspita, para panglima perang yang dihadapi oleh Ki Dwijo dan Resi Wismaya serta Dewi Laksita, satu persatu berhasil dilumpuhkan bahkan tewas.
Bersamaan dengan semua itu, terjadi suara ledakan ledakan yang sangat keras di angkasa. Ledakan ledakan itu disebabkan oleh benturan kekuatan antara Puguh dengan Panglima Jaladra. Baik melalui benturan senjata ataupun benturan pukulan ataupun tendangan.
Hingga pada suatu saat, terjadi benturan senjata pedang Puguh dengan senjata tombak di tangan Panglima Jaladra.
Benturan kedua senjata pedang yang sama sama dipenuhi dengan aliran tenaga dalam itu, menghasilkan ledakan yang sangat keras.
Dbaaannnggg !
Sesaat setelah suara ledakan itu, terlihat tubuh Puguh dan tubuh Panglima Jaladra terpental kembali ke belakang hingga cukup jauh.
__ADS_1
---------- ◇ ----------