
Sudah berhari hari, Puguh dan Ki Dwijo hidup di dalam goa. Dengan sangat telaten, Puguh merawat gurunya. Bekal makanan mereka sudah habis. Sudah dua hari ini mereka berdua hanya meminum air yang menetes dari akar pohon yang menjulur dari atap goa. Puguh belum berani untuk keluar goa, jika teringat akan sekelompok serigala mata biru yang mengepungnya. Walaupun sebenarnya Puguh heran, kenapa kawanan serigala itu tidak mengejar masuk ke goa.
Puguh pun sudah memeriksa keadaan goa. Goa yang cukup luas dan di kiri dan di kanannya ada cabang yang membentuk ruangan lain. Di ujung goa, ada cerukan kecil yang mengeluarkan cahaya hijau berpendar.
Dari arah cerukan kecil itu keluar udara yang sangat dingin yang seperti menampar muka. Namun Puguh belum bisa mengerti, apa yang membuat munculnya hawa sangat dingin di dalam goa itu.
Cahaya hijau itu, sedikit membantu memberikan penerangan di dalam goa yang gelap karena sedikit sekali sumber cahaya.
Namun,mata Puguh dengan cepat bisa beradaptasi dengan keadaan gelap itu.
Hari demi hari, Puguh dan Ki Dwijo gurunya menjalani kehidupan di dalam goa. Puguh menjalaninya dengan melihat lihat dan mempelajari keadaan goa dan sekitarnya, di sela sela berlatihnya bersama gurunya.
Walaupun lumpuh seluruh tubuhnya, Ki Dwijo masih mampu untuk memberi petunjuk pada Puguh.
Pada suatu hari, Puguh nekat untuk mendekati cerukan kecil di ujung goa. Dengan sekuat tenaga dalamnya, Puguh berusaha menahan hawa dingin di ruangan goa yang berasal dari cerukan kecil itu.
Setapak demi setapak, Puguh melangkah dengan hati hati masuk ke dalam cerukan kecil itu.
Saat melewati mulut cerukan, hawa sangat dingin menerpa mukanya dan seluruh permukaan kulitnya.
Cerukan itu hanya sebesar tiga kali tiga meter dengan ketinggian sekitar tiga meter.
Di ujung cerukan yang hampir berbentuk persegi itu, Puguh melihat ada segaris sinar hijau berpendar yang tergeletak di atas altar yang sepertinya terbuat dari batu hitam. Altar itu berbentuk seperti peti dengan panjang hampir dua meter dan lebar serta tingginya setengah meter.
Puguh memaksakan diri untuk mendekat ke altar itu. Dalam jarak sekitar satu meter, Puguh melihat sebentuk pedang yang bilahnya berwarna hijau dengan gagang yang hitam legam.
__ADS_1
Namun, karena tidak tahan lagi dengan hawa dingin yang menerpa tubuhnya, Puguh segera kembali berbalik dan keluar dari cerukan. Karena Puguh juga ingin segera menceritakan semua yang dia lihat dan dia temukan, pada gurunya.
Begitu keluar dari cerukan, segera saja Puguh menghampiri dan bercerita pada gurunya. Mendengar cerita Puguh, Ki Dwijo juga merasa penasaran dan meminta Puguh besok membawanya ke cerukan untuk melihat pedang yang di ceritakan Puguh. Untuk hari ini, Ki Dwijo merasa apa yang Puguh lakukan sudah cukup melelahkan dan perlu beristirahat.
-----o-----
Pada hari berikutnya, Puguh membawa Ki Dwijo menuju cerukan tempat keluarnya hawa dingin. Mereka berdua menggunakan tenaga dalam untuk menahan terpaan hawa dingin.
Walau tubuhnya lumpuh, tetapi yang lumpuh adalah otot ototnya. Tetapi organ dalmnya tetap bekerja secara normal, sehingga Ki Dwijo masih bisa mengendalikan tenaga dalamnya dengan pikirannya.
Sesampai di depan altar, Ki Dwijo mengajak Puguh untuk duduk berlutut dan meminta untuk mendudukkan di depan altar, persis menghadap ke bilah pedang yang bersinar kehijauan.
Mereka duduk berlutut untuk sekedar meminta ijin pada siapapun yang telah meletakkan pedang itu di atas altar.
Saat menundukkan wajah dan pandangan itu, tanpa sengaja, Ki Dwijo melihatbke arah sisi dinding altar yang menghadap ke depan.
'Hanya yang berjodoh yang bisa mengangkatnya'.
Membaca tulisan itu, Ki Dwijo segera mengajak Puguh kembali keluar dari cerukan.
Sesampainya di tempat biasanya Ki Dwijo berbaring, Ki Dwijo berkata pada Puguh.
"Ngger Puguh. Mulai sekarang, kamu berlatih terus untuk meningkatkan tenaga dalam kamu. Kalau tenaga dalam kamu sudah cukup tinggi, kamu bisa mencoba mengangkat pedang itu. Siapa tahu kamu berjodoh dengan pedang itu. Karena, hanya yang berjodohlah yang bisa mengangkat pedang itu," kata Ki Dwijo menjelaskan.
Kemudian, tanpa terasa hari demi hari, minggu demi minggu bahkan hingga bulan demi bulan, Puguh tidak hanya berlatih untuk meningkatkan tenaga dalam, namun juga melatih ilmu silatnya dan ilmu meringankan tubuhnya. Karena untuk meningkatkan tenaga dalam, latihan yang terbaik adalah berlatih ilmu silat dan ilmu meringankan tubuh.
__ADS_1
Dalam berlatih, secara berkala, Ki Dwijo mengecek tingkat kenaikan tenaga dalam Puguh. Walaupun badannya lumpuh, Ki Dwijo mencoba mengukur tingkat tenaga dalam Puguh dengan menyambit batu kecil menggunakan mulutnya, atau terkadang, Puguh diminta untuk menjatuhkan benda kecil yang dipegang Ki Dwijo dengan menggunakan mulutnya. Tentunya semua itu Ki Dwijo sertai dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke mulutnya.
Selain itu, Ki Dwijo juga secara rutin, mengajak Puguh untuk masuk ke cerukan tempat pedang yang mengeluarkan pendaran cahaya hijau. Pada setiap mendatangi cerukan itu, Ki Dwijo diam diam memperhatikan cara menghadapi hawa dingin yang keluar dari bilah pedang itu.
Ki Dwijo bisa mengukur kemampuan dan tingkat tenaga dalam Puguh, dengan membandingkan tenaga dalam yang dimilikinya.
Ki Dwijo sendiri, saat mengeluarkan tenaga dalam dan mengalirkan ke leher sampai ke kepalanya dalam tingkat tertentu, dia tidak merasakan hawa dingin dari bilah pedang itu.
Pada suatu saat, entah setelah berapa bulan atau mungkin bilangan tahun mereka lalui, Ki Dwijo melihat, Puguh sudah tidak terlihat terdampak ataupun kesulitan setiap memasuki cerukan itu. Bahkan akhir akhir ini, Puguh sudah tidak terlihat kedinginan.
Maka, Ki Dwijo berani membuat kesimpulan, Puguh Sudah saatnya mencoba untuk mengangkat pedang yang berada di dalam cerukan di ujung goa itu.
Pada terang hari, berpedoman pada sinar dari atas yang walaupun suram cukup menerangi dasar jurang, Puguh dan Ki Dwijo kembali masuk ke dalam cerukan.
Sesampainya di depan altar yang berbentuk peti tempat pedang yang menyala hijau itu tergeletak, Ki Dwijo yang didudukkan oleh Puguh, dan Puguh, duduk berlutut tepat di depan bilah pedang itu.
Sambil berlutut, Puguh mengucapkan permintaan ijin untuk mengangkat pedang itu. Setelah itu, Puguh berdiri dan berjalan mendekati altar untuk mencoba mengangkat pedang itu.
Dengan hati hati, Puguh memegang gagang pedang dengan kedua tangannya sambil mengalirkan tenaga dalam ke kedua tangannya.
Di luar dugaan mereka berdua, Puguh dengan mudah bisa mengambil dan mengangkat pedang itu, bahkan dengan tangan kanan saja.
Tetapi yang membuat mereka berdua terkejut, beberapa saat setelah pedang itu diangkat oleh Puguh, pendaran sinar hijau yang keluar dari bilah pedang itu menghilang, dan menampakkan wujud bilah pedang yang berwarna hijau tua pekat.
Kemudian, setelah pedang itu terangkat, altar tempat pedang itu tergeletak, tiba tiba runtuh dan hancur menjadi debu. Memperlihatkan wujud peti mati, karena di dalamnya terlihat kerangka manusia yang masih utuh dan belum berserakan. Terlihat kedua tulang tangan kerangka itu, memeluk sebuah kitab yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
__________ ◇ __________