
Setelah Puguh pergi meninggalkan bangunan sederhana yang berada di salah satu sudut kotaraja itu, pada sore hari itu juga, Pangeran Indra Prana yang telah mengenakan kembali topeng tipisnya sebagai Ki Prana Jiwa, segera mengabarkan pada seluruh anggota Padepokan Kuwanda Brastha, jika pasukan perang Kerajaan Kisma Pura akan melakukan penyerangan pada pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang berada di dekat perbatasan kotaraja.
Ki Prana Jiwa memerintahkan seluruh anggota Padepokan Kuwanda Brastha untuk bersiap membantu pasukan perang Kerajaan Kisma Pura.
Selain itu, Ki Prana Jiwa juga memerintahkan seluruh anggotanya, untuk memberitahukan rencana penyerangan itu pada para pendekar yang lainnya.
Setelah itu, kemudian dengan cepat Ki Prana Jiwa kembali ke Istana Kerajaan Kisma Pura. Di dalam istana, sebagai Pangeran Indra Prana, memerintahkan pada seluruh senopatinya, untuk mempersiapkan seluruh pasukannya, karena dua hari lagi, mereka akan melakukan penyerangan pada pasukan pedang Kerajaan Menara Langit.
Sementara itu di waktu yang bersamaan, setelah menemui kedua gurunya, Puguh melesat ke arah perbatasan kotaraja. Puguh bermaksud hendak melihat gambaran kekuatan pasukan perang Kerajaan Menara Langit, terutama kekuatan pada panglima perangnya.
Ketika sampai di dekat suatu tempat yang dijadikan markas darurat pasukan perang Kerajaan Menara Langit, Puguh melesat ke atas, terbang cukup tinggi untuk melihat keadaan dan kekuatan pasukan perang Kerajaan Menara Langit.
Dari angkasa, Puguh bisa merasakan adanya banyak sekali getaran kekuatan tingkat sangat tinggi di tengah tengah pasukan perang itu. Bahkan ada sekitar lima getaran kekuatan yang sangat sangat tinggi, yang tingkatannya berada pada tingkat yang sama dengan getaran kekuatan yang dimiliki Panglima Perang Jaladri ataupun Panglima perang Jaladra.
"Dari getaran kekuatan yang kurasakan, kemungkinan, pasukan perang yang sangat besar ini, dipimpin oleh lima Panglima Perang berbaju keemasan. Sungguh suatu kekuatan pasukan perang yang yang sangat besar !" kata Puguh dalam hati.
Dalam keadaan masih melayang di angkasa, Puguh segera meningkatkan kewaspadaannya, saat merasakan ada dua getaran kekuatan dengan tingkat kekuatan yang sangat tinggi, melesat ke arahnya.
Namun, saat dua sosok Panglima Perang yang memiliki getaran kekuatan tingkat sangat tinggi itu sampai di tempat Puguh tadi melayang, mereka berdua tidak mendapati sosok yang mereka lihat dan rasakan, melayang di atas mereka.
"Panglima Perang Anggaraksa ! Bukankah getaran kekuatan tadi berasal dari sekitar sini ?" kata Panglima Perang Gardapati yang melayang agak di depan.
"Apakah mungkin dia, pendekar yang diceritakan oleh Panglima Perang Jaladra ?" jawab Panglima Perang Anggaraksa dengan pertanyaan juga.
"Kalau pemilik getaran kekuatan tadi adalah pendekar yang lainnya lagi, akan semakin berat tugas kita !" kata Panglima Perang Gardapati lagi.
__ADS_1
"Kita kembali ke tenda !" kata Panglima Perang Anggaraksa sambil memutar tubuhnya, kemudian melesat turun dengan sangat cepat kembali ke markas darurat mereka.
----- * -----
Sementara itu di tempat yang cukup jauh dari markas darurat pasukan perang Kerajaan Menara Langit, Puguh melesat turun tepat di perbatasan kotaraja Kerajaan Kisma Pura.
"Dua Panglima Perang itu saja sudah merupakan lawan yang berat !" gumam Puguh pelan.
"Penyerangan yang akan dilakukan oleh Pangeran Indra Prana masih besok. Masih ada waktu. Aku akan mencoba bertanya pada guru, dimana kira kira bisa mencari tumbuhan untuk obat Rengganis," kata Puguh dalam hati.
Kemudian, dengan cepat Puguh melesat ke arah salah satu sudut pinggiran kotaraja, guna menemui kedua gurunya untuk meminta petunjuk, harus kemana dia pergi mencari tumbuhan yang dia maksudkan.
"Ngger Puguh, kalau kau hendak mencari tanaman yang bisa digunakan untuk menyembuhkan Rengganis, ada beberap tempat yang bisa kau datangi," kata Resi Wismaya.
"Yang terdekat, kau bisa pergi ke Rawa Jingga. Kau cari 'Pohon Api'. Rengganis bisa menyerap kekuatan pohon itu dan bisa menghilangkan warna hitam di seluruh kulit tubuhnya. Dua tempat lainnya, cukup jauh dari sini. Di Gunung Mahameru, ada pohon beringin putih. Kau bisa mengajak Rengganis ke tempat itu, untuk menyerap getaran kekuatan pohon beringin putih itu. Atau, kau bisa mencari telur burung kepodang yang bersarang di pohon beringin itu, yang kemudian telur itu untuk dimakan Rengganis. Semakin tinggi tempat pohon itu tumbuh, semakin baik khasiatnya, baik itu getaran kekuatannya atau khasiat telur burungnya. Sedangkan tempat yang ketiga adalah Danau tujuh warna. Di tempat itu, Rengganis bisa menyelam dan menyerap getaran kekuatan dari tanaman yang tumbuh di dasar danau yang membuat air danau bisa berubah rubah warnanya hingga tujuh kali dalam satu kali putaran purnama !" sambung Resi Wismaya menjelaskan.
"Sayangnya belum ada cara lain yang kami ketahui. Tapi, cobalah serap dengan bilah pedangmu. Siapa tahu itu termasuk jenis racun yang bisa diserap oleh pedangmu !" jawab Ki Dwijo.
Kemudian Puguh berpamitan untuk menggunakan waktu satu hari ini untuk mencari Rengganis yang juga pergi ke arah pedalaman dan jalur yang diambil, melewati wilayah kotaraja Kerajaan Kisma Pura.
Dengan melesat ke angkasa, Puguh berusaha mencari arah tempat yang diceritakan oleh gurunya tadi, atau bahkan mungkin jika bisa merasakan getaran kekuatan Rengganis atau kedua gurunya.
Karena tidak merasakan adanya getaran kekuatan yang sangat tinggi, yang diperkirakan getaran kekuatan milik Rengganis, akhirnya Puguh mengambil arah yang ditunjukkan oleh kedua gurunya untuk menuju ke Danau Tujuh Warna.
Dari atas, Puguh melihat, daratan yang mengarah ke Danau Tujuh Warna, semakin lama semakin lebat pepohonan yang tumbuh.
__ADS_1
Namun, karena waktu yang dimilikinya hanya sampai besok pagi, maka Puguh tidak terlalu menghiraukan keadaan di bawahnya.
Hingga tengah malam, sampailah Puguh di suatu danau yang tidak seberapa luas yang berada di tengah tengah hutan lebat. Di sekeliling danau itu, tumbuh aneka pepohonan yang tinggi tinggi.
Segera saja Puguh melesat turun dan mendarat tepat di tepi danau. Selama beberapa waktu, Puguh mengedarkan pandangannya untuk melihat keadaan.
Air danau yang menampakkan warna semburat kekuningan, terlihat sangat tenang. Keadaan di tepi danau itupun terlihat senyap seakan tidak ada satupun makhluk hidup yang tinggal di sekeliling danau.
"Inikah danau yang diceritakan oleh guru, dan dinamakan Danau tujuh Warna ? Di dalam airnya, sepertinya ada tumbuhannya yang membuat airnya seolah olah berwarna !" kata Puguh dalam hati.
Hingga menjelang pagi buta, Puguh merasakan adanya tiga sosok yang mendekat ke arahnya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya muncul di dekat pinggir danau, tiga bayangan tubuh yang ternyata adalah Rengganis dan kedua gurunya yaitu Aswa Muka dan Aswa Kudana.
Sebaliknya, Rengganis dan kedua gurunya sedikit terkejut, ketika melihat Puguh sudah berdiri di depan mereka.
"Apakah adik Rengganis sudah menemukan cara untuk memulihkan keadaan kulitmu ?" tanya Puguh.
Mendengar pertanyaan Puguh itu, Rengganis hanya menggeleng pelan.
"Paman berdua, menurut yang diceritakan oleh guruku, tumbuhan yang hidup di dasar danau itu, bisa digunakan untuk menyembuhkan adik Rengganis !" kata Puguh.
"Apakah kamu tahu, cara yang harus kita lakukan ?" tanya Aswa Muka.
"Sebelum kuberitahukan caranya, bolehkah aku minta tolong pada paman berdua ?" kata Puguh.
__ADS_1
"Pertolongan apa, yang bisa kami berikan ?" jawab Aswa Muka.
---------- ◇ ----------