Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Ancaman Pangeran Panji


__ADS_3

Tiba tiba, pedang yang masih bersarang di dalam sarungnya yang terselip di pinggangnya, bergetar dengan keras dan mengeluarkan suara berdengung.


Ketika Puguh baru saja membuka tali kancingnya, terlihat kilatan sinar hijau terang, saat pedang itu melesat dengan sangat cepat ke langit.


Puguh mendongakkan kepalanya dan melihat, butiran sinar kuning yang keluar saat terjadi ledakan karena terbakarnya tubuh Ki Kama Catra, seperti diserap masuk ke dalam bilah pedang.


Di ujung butiran sinar kuning itu, ada sebutir sinar berwarna merah sebesar ibu jari yang ikut terserap masuk ke dalam bilah pedang.


Saat semua butiran sinar itu habis terserap, pedang itu kembali meluncur dan masuk ke dalam sarungnya kembali.


"Sungguh jiwa yang sudah sepenuhnya dikuasai iblis, hingga inti jiwanya berwarna merah membara !" kata Puguh dalam hati.


Walau pertarungan telah usai, semua pendekar masih tetap berada di sekitar istana dan sebagian berada di gerbang istana. Mereka semua bersiap siaga, bilamana terjadi lagi serangan ke istana.


Pada sore menjelang malam, Puguh yang bersama Rengganis ikut berada di luar pintu gerbang, sekilas merasakan hadirnya getaran kekuatan yang sangat besar.


"Adik Rengganis, tolong sampaikan pada guru, kakang akan pergi sebentar !" kata Puguh.


"Tidak mau ! Rengganis akan ikut kemanapun kakang pergi !" sahut Rengganis.


Akhirnya, setelah menitipkan pesan pada prajurit jaga di gerbang istana, Puguh dan Rengganis segera melesat pergi.


Puguh mengajak Rengganis pergi ke arah dimana tadi getaran kekuatan sangat besar dia rasakan.


Namun, sesampai di tempat yang diperkirakan sebagai tempat munculnya getaran kekuatan itu, Puguh tidak menemukan apapun.


Kemudian malam hari itu juga, mereka berdua kembali ke istana Kerajaan Banjaran Pura.


Sementara itu, pada malam harinya, Prabu Pandu Kawiswara mengadakan pertemuan dengan semua senopati dan semua pendekar yang berada di dalam istana kerajaan.

__ADS_1


Pada ķesempatan itu, Ki Dwijo menyarankan pada Prabu Pandu Kawiswara, untuk menarik sebanyak mungkin kaum muda dunia persilatan umtuk dijadikan dan juga untuk mengisi sebanyak mungkin posisi pemimpin prajurit dan menambah posisi senopati.


Hal itu untuk berjaga andaikata kerajaan kembali mendapatkan serangan.


Mendapat saran dari Ki Dwijo, Prabu Pandu Kawiswara menerima dengan senang hati. Bahkan sejak satu bulan yang lalu, sang raja telah mengutus beberapa pemimpin prajurit untuk mendatangi padepokan padepokan bela diri dan menawarkan kesempatan untuk menjadi prajurit, pemimpin prajurit hingga posisi senopati.


----- * -----


Beberapa hari berlalu dengan tenang, tidak ada kejadian yang membahayakan istana kerajaan dan seluruh penduduk Kerajaan Banjaran Pura.


Namun ketenangan hari itu, terusik dengan suara derap kaki kuda yang dipacu dengan kencang oleh pemimpin prajurit telik sandi.


Pemimpin prajurit telik sandi itu langsung menuju ke istana dan ditemui oleh Senopati Wiraga.


Kepada Senopati Wiraga, pemimpin prajurit telik sandi itu menceritakan semua yang dilihat dan dialaminya.


Saat mereka akan pergi meninggalkan tempat itu, tiba tiba mereka dihadang oleh seolah laki laki muda tampan berbadan tegap.


Tanpa berkata apa apa, laki laki muda itu menggerakkan tangan kanannya ke arah para prajurit telik sandi. Dari telapak tangannya itu, keluar secarik sinar berwarna merah yang meluncur ke tubuh para prajurit telik sandi.


Setiap yang terkena sinar merah, prajurit telik sandi itu merasakan panas yang luar biasa dan kemudian tewas tanpa sempat mengatakan apa apa.


Semua prajurit telik sandi Kerajaan Banjaran Pura tewas, kecuali pemimpin prajurit telik sandi.


"Pergilah ! Katakan pada rajamu, pembalasan dari Pangeran Panji akan segera tiba !" kata laki laki muda itu.


Kemudian, dengan sisa sisa keberaniannya, pemimpin prajurit itu berlari dan mengambil kuda yang mereka sembunyikan, untuk kemudian memacunya secepat mungkin menuju istana Kerajaan Banjaran Pura.


Mendengar laporan pemimpin prajurit telik sandi itu, Senopati Wiraga segera menghadap Prabu Pandu Kawiswara dan menceritakan semua laporan yang diterimanya.

__ADS_1


Untuk membahas hal itu, Prabu Pandu Kawiswara segera mengadakan pertemuan lagi dengan para senopati dan para pendekar yang masih berada di istana.


"Menilik dari apa yang terjadi pada Ki Kama Catra, ada kemungkinan Pangeran Panji bekerja sama dengan iblis, atau dengan orang yang berkekuatan iblis atau bahkan mungkin Pangeran Panji mendapatkan kekuatan iblis !" kata Ki Dwijo.


"Kemudian, apa yang harus kita lakukan, untuk melawan mereka, Ki Dwijo ?" tanya Prabu Pandu Kawiswara.


"Prabu Pandu Kawiswara, kita harus mempercepat merekrut anak anak muda atau siapapun pendekar yang bersedia menjadi prajurit dan mengisi pos pos jabatan yang Prabu Pandu tawarkan. Selain itu, setiap malam kita harus menyalakan obor sebanyak mungkin di wilayah wilayah Kerajaan yang berbatasan dengan hutan Setra Jenggala. Karena, kalau memang Pangeran Panji mendapat bantuan dari iblis, obor obor itu akan menghambat mereka dan mengurangi kekuatan pasukan iblis walau untuk sementara waktu," kata Ki Dwijo.


"Kita juga harus mengumpulkan pendekar pendekar terutama yang sudah mencapai tingkat tinggi atau sangat tinggi untuk membuat selubung gaib yang baru untuk menahan agar iblis iblis itu tidak bisa kembali ke alam manusia !" tambah Ki Bhanujiwo.


"Menurut cerita yang pernah aku dengar, dahulu sekali pernah terjadi juga hal seperti ini. Banyak makluk iblis yang masuk ke alam manusia dan menyerang manusia. Iblis biasanya akan keluar dari alamnya dan memasuki alam manusia pada malam hari, atau jika hari sudah mulai petang. Maka kalau bisa, mulai malam ini, kita nyalakan seluruh obor yang ada. Besok kita tambah lagi jumlahnya sebanyak banyaknya. Dan yang penting, Prabu Pandu Kawiswara, persenjatai para prajurit panah dengan panah api. Itu akan sangat efektif menghambat dan mengurangi kekuatan pasukan iblis. Untuk iblis iblis yang berkekuatan tinggi, biar kami yang memikirkan cara yang terbaik untuk melawannya !" Ki Dwijo menambahkan lagi.


Setelah banyak usulan dan saran disampaikan pada Prabu Pandu Kawiswara, akhirnya Prabu Pandu Kawiswara memerintahkan, mulai malam ini dikerjakan yang bisa langsung dilakukan.


Para prajurit mulai memasang obor di setiap sudut jalan ataupun tempat tempat yang gelap pada saat malam hari.


Beberapa prajurit diutus untuk menyebarkan titah raja tentang penerimaan prajurit dan beberapa posisi jabatan di keprajuritan ke padepokan padepokan tertentu.


----- \* -----


Pada hari berikutnya, sejak pagi, penjagaan di wilayah yang berbatasan dengan hutan Setra Jenggala diperketat.


Para pendekar yang tingkatannya sampai pada tingkat menengah yang sejak awal ikut membantu Prabu Pandu Kawiswara melawan pasukan Pangeran Panji, yang bersedia menerima tawaran menjadi prajurit, segera bergabung dengan prajurit yang lainnya. Beberapa pendekar, yang ilmunya sudah cukup tinggi, mendapatkan kedudukan sebagai pimpinan prajurit.


Bahkan Den Roro, dengan tingkat ilmu silatnya yang sudah tinggi, katena menjadi murid dari Ki Bhanujiwo, diangkat menjadi Senopati Pengobatan, membawahi banyak tabib dan tim pengobatan prajurit.


Den Roro bersedia menerima tawaran raja, karena berkat saran dari Ki Bhanujiwo gurunya, yang sangat paham, jika Den Roro muridnya adalah orang yang sangat disiplin.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2