
Tiba tiba terdengar suara cemeti yang lain lagi.
Ctaaarrr ! Ctaaarrr !
Di depan Den Roro, seorang pendekar yang lainnya lagi, terlihat mencambuk beberapa petani yang sedang duduk sebentar beristirahat.
Den Roro hendak bergerak mendekati para petani itu, namun tiba tiba ada sebuah golok yang melintang di lehernya.
"He he he he ..... Kalau kau berani melangkah lagi, akan ada laporan, kalau putri Ki Demang melakukan perlawanan !" kata pendekar yang melintangkan golok di leher Den Roro, "Dan kau ingin tahu akibatnya ? He he he he .... Ki Demang akan ditangkap dan digantung di tengah alun alun !"
Mendengar perkataan itu, Den Roro hanya bisa diam saja. Namun terlihat dadanya naik turun, menandakan kalau dia sedang menahan tangis sekuatnya. Tangannya gemetar dan air mata memenuhi pelupuk matanya.
Saat Den Roro masih berusaha menahan tangis dan marahnya, tiba tiba terdengar suara pelan dari arah belakangnya.
"Pendekar bergolok ! Bagaimana kalau aku yang menghentikan cemeti itu ? Apa yang akan kau lakukan padaku ?" tanya suara di belakang Den Roro.
Begitu suara itu berhenti, ada sosok yang bergerak di depan Den Roro. Kemudian terdengar suara golok jatuh yang disusul dengan suara tubuh jatuh.
Klang !!!
Buuggghhh !!!
Entah bagaimana, tiba tiba golok yang dipegang oleh pendekar yang mengancam Den Roro terjatuh dan pendekar itu juga jatuh terjengkang.
Kemudian dsri arah tengah sawah terdengar suara orang lagi yang disusul dengan suara cambukan.
"Bagaimana kalau bergantian dalam merasakan cambukan ?"
Dari tempatnya berdiri, Den Roro melihat, seseorang merebut cemeti yang dibawa oleh pendekar yang tadi mencambuk para petani, dan kemudian mengayunkan cambuk itu ke arah pendekar itu.
Sreeettt !!!
Ctaaarrr ! Ctaaarrr !
"Anak kurang ajar ! Jangan ikut campur urusan ini !" teriak seorang pendekar berbadan tinggi besar yang sejak tadi duduk di sebelah kereta pengangkut barang.
"Aku tidak turut campur urusanmu ! Tapi aku sedang membuat urusan denganmu ! Hendak kulihat, apakah kalian masih bisa berdiri tegak dan berlaku kejam !" jawab orang yang merebut cemeti itu.
__ADS_1
"Kau akan menyesal, telah berurusan dengan Kelompok Jaladara Langking !" teriak pendekar berbadan tinggi besar itu sambil mengayunkan goloknya ke arah orang itu.
Taaakkk !
Klaaannnggg !
Saat golok itu mengayun ke arah lehernya, orang itu menyentil bilah golok dengan jari tengah tangan kanannya , yang membuat golok itu jatuh terlempar. Pendekar bertubuh tinggi besar yang kehilangan golok pun terpelanting hampir kehilangan keseimbangan.
"Bangsat ! Teman teman ! Bunuh dia !" teriak pendekar yang terpelanting itu, sambil kembali berdiri.
Mendengar teriakan pendekar tinggi besar itu, segera saja pendekar yang lain berlari ke arah orang yang baru datang itu sambil menghunus golok mereka dan langsung menyerang orang yang baru datang itu.
Sreeettt ! Sreeettt !
Swiiinnnggg ! Swiiinnnggg !
Terlihat enam orang termasuk pendekar berbadan tinggi besar melepaskan serangan golok bertubi tubi pada orang yang baru datang.
"Kalian memang orang orang yang selalu menggunakan kekerasan untuk menindas orang lemah !" kata orang itu pelan sambil tubuhnya meliuk liuk menghindari tebasan golok dan kedua tangannya melakukan tamparan ke muka enam orang itu.
Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk !
Dengan kemarahan yang meluap luap, keenam orang itu kembali menyerang orang yang menamparnya dengan tebasan tebasan golok.
Dan kembali lagi mereka terlempar agak jauh saat tengkuk mereka terkena tamparan tangan orang itu.
Mereka berenam masih berusaha bangun. Namun mereka merasakan sakit di kepala dan pandangannya berputar, sehingga mereka berdiri dengan terhuyung huyung, bahkan beberapa ada yang jatuh lagi.
Pendekar yang berbadan tinggi besar itu tidak bangun lagi, sepertinya dia langsung pingsan.
"Kalian pergi dan bawa pemimpin kalian itu !" kata orang yang sudah menjatuhkan mereka semua itu.
Salah satu dari pendekar itu ada yang berteriak teriak sambil menuding ke wajah orang itu. Namun karena mulutnya penuh dengan darah dan giginya banyak yang rontok, membuat ucapannya menjadi tidak jelas.
Kemudian, dengan terburu buru para pendekar yang mengawasi pekerjaan panen padi itu pergi dari persawahan.
Setelah keenam pendekar itu pergi, Den Roro mendekat ke orang yang baru datang itu.
__ADS_1
"Kisanak ....," ucap Den Roro yang terputus ketika melihat wajah orang yang baru datang itu.
"Kita berjumpa lagi Den Roro," kata orang itu.
"Kau ... ? Benarkah kau Puguh ? Kau belum mati ?" tanya Den Roro dengan penuh keheranan.
"Benar Den Roro, saya Puguh," jawab Puguh.
Begitu mendengar kalau pemuda di hadapannya itu Puguh, Den Roro langsung menghentak hentakkan kaki kanannya ke tanah berkali kali sambil mengomel.
"Kau .... kau tahu tidak, apa yang kau lakukan ini telah membahayakan semua anggota keluarga Kademangan. Kami semua bisa digantung di alun alun. Semua itu hanya gara gara perbuatanmu !" kata Den Roro dengan histeris.
"Anu ... ," Puguh baru hendak menjawab, tetapi sudah disahut lagi oleh Den Roro.
"Kalau hanya membunuh mereka berenam, aku saja bisa melakukannya dengan mata terpejam. Tetapi bukan mereka permasalahannya ! Yang di belakang mereka, yang melindungi mereka, para pemimpin mereka !" kata Den Roro yang kemudian sambil terisak, "Tahukah kau Puguh, pendekar sekuat Pendekar Tangan Seribu dan si raja obat Cakar Harimau Besi saja bisa mereka kalahkan. Satu orang dari pimpinan mereka, sudah cukup untuk menghancurkan Kademangan."
Memang yang ditakutkan oleh Den Roro, bukan kekuatan enam pendekar tadi. Kalau hanya mereka, Den Roro pun sanggup mengatasinya. Tetapi yang mereka takutkan adalah para pemimpin Perkumpulan Jaladara Langking. Satu orang pimpinan saja yang datang, bisa menghancurkan mereka semua.
Kademangan Pandan Ireng, pada awal awal masuknya pengaruh Perkumpulan Jaladara Langking, pernah melawan. Namun mereka semua bisa dikalahkan oleh Ki Kapiraga, yang sekarang dipercaya untuk mengawasi Kademangan Pandan Ireng dan beberapa Kademangan yang lain.
Pada saat itu, Ki Demang Pandan Ireng, diberi pilihan. Menurut perintah Perkumpulan Jaladara Langking dan tetap dibiarkan menjadi Demang, atau melawan, akan dibunuh bersama semua keluarganya dan kedudukan Demang akan diganti oleh orang bersedia menurut.
Karena terpojok, saat itu Ki Demang Pandan Ireng memilih tetap menjabat, walau harus menuruti perintah Perkumpulan Jaladara Langking.
Namun saat itu Ki Demang Pandan Ireng berpikiran, kalau dia tetap menjabat, dia akan tetap bisa memperjuangkan dan mengetahui nasib rakyatnya.
----- * -----
Kemudian Den Roro menatap tajam wajah Puguh. Berbagai perasaan campur aduk memenuhi hatinya. Marah, jengkel, menyesal, senang karena bertemu Puguh, takut, membuat dirinya jadi uring uringan.
"Kalau sampai keluargaku hancur, Kademangan Pandan Ireng hancur, aku tidak akan bisa memaafkanmu !" sambung Den Roro.
Kemudian Den Roro terisak. Sambil membalikkan badannya, dia mulai melangkah ke arah jalan.
"Aku harus memberitahu semuanya, agar mereka bisa bersiap pergi menghindar," kata Den Roro lirih sambil kakinya melangkah ke arah Kademangan.
"Den .... Den Roro," panggil Puguh. Namun, dengan tangis yang semakin tak tertahankan, Den Roro berlari cepat menuju ke rumah Kademangan.
__ADS_1
__________ ◇ __________