
Baru saja meninggalkan perbatasan kampung dengan sebuah hutan, Den Roro dikagetkan dengan munculnya empat orang laki laki yang penampilan pakaiannya mirip dengan laki laki gondrong yang dikejar oleh Den Roro.
"Kakang, dialah perempuan yang kami ceritakan itu !" tiba tiba salah seorang laki laki itu.
"Ha ha ha ha .... Pucuk dicinta ulam tiba. Belum dicari, perempuan ini sudah datang sendiri," kata salah seorang dari mereka, "Memang benar benar cantik, perempuan ini."
"Teman teman, ayo kita tangkap perempuan ini !" teriak orang yang satunya lagi.
Kemudian, ketiga orang itu segera mengepung Den Roro dari tiga arah, sedangkan laki laki yang satunya lagi menunggu di pinggir.
"Kebetulan, kalian sudah muncul di sini. Jadi aku tidak usah jauh jauh mencari kalian !" bentak Den Roro.
Kemudian, entah siapa yang memulai dulu, pertarungan segera terjadi. Den Roro, yang pernah berguru di Padepokan Macan Kumbang, tidak gentar walaupun dikerubut tiga orang laki laki. Dengan senjata pedangnya, tubuh Den Roro meliuk liuk menghindari setiap sergapan ketiga lawannya kemudian membalas dengan tebasan ataupun tusukan pedang.
Pada awalnya ketiga laki laki itu meremehkan kemampuan Den Roro. Sehingga pertarungan baru berjalan beberapa jurus, mereka bertiga sudah mendapatkan beberapa luka gores.
"Kurang asem ! Perempuan ini memang harus dihajar !" teriak salah seorang dari lawan Den Roro.
Kemudian, ketiganya serentak mengeluarkan senjata golok mereka. Kali ini pertarungan berjalan sengit lagi, karena berkali kali terjadi benturan senjata yang menimbulkan suara nyaring.
Trang trang ! Trang trang trang !
Walaupun sudah dikerubut tiga dan semua sudah menggunakan senjata, Den Roro masih bisa menguasai keadaan dan bahkan, pada suatu kesempatan, saat Den Roro merunduk untuk menghindari tebasan golok lawannya, sambil melakukan gerakan menusuk yang mengenai paha kiri salah satu lawannya dan memberikan luka yang serius pada salah seorang lawannya lagi, saat gerakan pedangnya dilanjutkan dengan tebasan menyilang ke atas yang berhasil merobek dada lawannya.
Dengan dua lawan yang sudah terluka, Den Roro dengan leluasa mendesak satu lawannya yang tersisa. Pedangnya mencecar lawan dengan serangkaian tebasan dan tusukan hingga lawannya pun terus menerus mundur untuk menghindari serangan pedang.
Sambil terus mengejar lawannya, Dan Roro melenting ke atas untuk kemudian meluncur ke bawah ke arah lawannya sambil menebaskan pedang dengan tenaga penuh.
Trang trang !
Lawannya yang sudah terdesak itu terhuyung huyung, terdorong ke belakang saat menangkis tebasan pedang Den Roro.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Den Roro untuk melayangkan tendangan kaki kanan ke dada lawannya.
Duuuaaakkk !!!
__ADS_1
Tendangan Den Roro tepat mengenai dada lawannya, yang langsung terlempar dan memuntahkan darah segar dan kemudian pingsan.
Kemudian, Den Roro bergerak ke arah dua orang yang terluka dan berniat untuk melumpuhkan mereka.
Namun, tiba tiba terdengar suara yang menggelegar.
"Siapa yang berani melawan Kelompok Kandang Wanara !" teriak seorang laki laki tinggi besar yang tingginya mencapai satu setengah tinggi rata rata manusia, sehingga dia dijuluki dengan nama Raseksa.
"Kakang Raseksa, dialah perempuan yang diceritakan itu !" sahut laki laki yang terluka paha kirinya.
"Hhhmmm .... akan kulumatkan kau jadi debu !" teriakan Raseksa menggelegar sambil tubuhnya melesat ke arah Den Roro. Kemudian, dengan ringannya, senjata gada di tangan kanannya dia hempaskan ke arah Den Roro berdiri.
Melihat serangan yang menggunakan tenaga otot yang sangat besar, Den Roro melompar ke samping untuk menghindar, sehingga gada itu hanya menghantam tanah dan mengakibatkan tanah di sekitarnya bergetar.
Dbuuummm !!!
Namun, walaupun berbadan besar, gedakan Raseksa sangat lincah dan cepat. Begitu, senjata gadanya tidak mengenai lawan, senjata itu seperti melayang dan sudah menghantam ke arah Den Roro lagi.
Dbuuummm dbuuummm !
Trang trang !
Den Roro terkejut. Walaupun senjata gada itu bisa ditangkis dengan pedangnya, namun Den Roro merasakan pedas di telapak tangan kanannya yang memegang pedang.
Setelah mencoba menangkis beberapa kali hingga pedangnya hampir terlepas dari genggamannya, Den Roro menyadari, kalau pertqrungan dilanjutkan, dirinya akan benar benar mati di tangan manusia raksasa di depannya itu.
Maka Den Roro mencari upaya agar dirinya bisa melarikan diri. Hingga pada suatu saat, kembali terjadi benturan senjata yang sangat keras, yang membuat tubuh Den Roro terlempar kembali ke belakang cukup jauh. Begitu tubuhnya mendarat dengan bergulingan di tanah, Den Roro segera menjauh dan melesat pergi.
Melihat lawannya pergi, Raseksa segera mengejarnya diikuti beberapa orang yang tadi mengikutinya.
Dengan badan yang tinggi besar selerti raksasa, Raseksa bisa segera menyusul Den Roro.
Den Roro yang semakin panik, terus berlari menghindar hingga tanpa disadarinya dirinya terus berlari ke adah tengah hutan belantara.
Naas bagi Den Roro, larinya sampai di tempat yang dikelilingi tebing yang sangat tinggi.
__ADS_1
Den Roro.mencoba untuk meloncat dengan ilmu meringankan tubuhnya, namun karena ketinggian tebing yang begitu menjulang, membuat tubuh Den Roro kembali terjatuh.
Pada saat yang bersamaan, Raseksa sudah tiba di belakangnya dan langsung menghantamkan senjata gadanya.
Dalam posisi yang terjepit, tidak ada pilihan lain, terpaksa Den Roro menangkis datangnya hantaman gada.
Terdengar suara benturan pedang dengan gada yang diikuti dengan tubuh kecil Den Roro yang terlempar dan terhempas ke dinding.
Traaannnggg !
Breeesss !!!
Disusul kemudian dengan hantaman gada dari atas yang dilakukan Raseksa dengan tenaga otot yang sangat besar.
Dengan pandangan mata yang nanar dan berkunang kunang, Den Roro berusaha mengangkat pedangnya di atas kepalanya untuk menahan senjata gada yang menderu keras melesat ke arahnya.
Namun, baru saja pedangnya diangkat, pandangan mata Den Roro menjadi gelap dan suasana menjadi senyap dan kemudian dia tidak bisa mendengar dan melihat apa apa lagi.
----- * -----
Pada saat yang bersamaan, saat Raseksa memutar kembali senjata gadanya untuk kembali melakukan hantaman, terdengar suara pelan kakek tua.
"Anak gadis yang malang ! Bagaimana bisa, dikeroyok oleh cecunguk cecunguk ini ?"
Sesaat setelah suara itu berhenti, senjata gada Raseksa yang berkesiutan menghantam tubuh Den Roro, saat hanya tinggal berjarak satu jengkal, senjata gada itu seperti membentur batu yang sangat keras, saat ditangkis dengan tongkat kayu kecil di tangan seorang kakek tua yang punggungnya menggendong sebuah buntalan. Dan kemudian entah datang dari arah mana, tongkat kayu kecil itu menghantam tengkuk Raseksa dan beberapa orang yang berlari mengikutinya dari belakang.
Traaakkk !!!
Tak tak tak tak ! Tak tak tak !
Tubuh besar Raseksa seketika tumbang di tanah dalam keadaan pingsan, disusul jatuhnya tubuh tubuh lainnya yang juga hilang kesadarannya, setelah semuanya terhantam tongkat kayu kecil pada tengkuknya.
Kemudian, tanpa memperdulikan Raseksa dan kawan kawannya yang pingsan, kakek itu segera menyambar tubuh Den Roro dan membawanya melesat melompati tebing yang sangat tinggi untuk kemudian terbang melayang ke arah bukit yang terbentang di atas hutan itu.
__________ ◇ __________
__ADS_1