Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan di Pinggir Pedesaan


__ADS_3

Seperti halnya di Kerajaan Banjaran Pura, ataupun di negeri negeri lainnya, pelosok pedesaan merupakan tempat yang sangat tenteram dan indah. Dengan bentangan sawah dan ladang yang luas dengan sungainya yang airnya mengalir jernih, memberikan pemandangan tersendiri yang tidak pernah membosankan. Penduduknya yang sangat ramah serta rasa kepedulian terhadap satu sama lain yang masih tinggi, memberikan perasaan nyaman yang tidak bisa dilukiskan. Kehidupan yang masih kental dengan adat dan budaya serta spiritualitas yang masih kuat, memberikan ketenangan lahir maupun batin.


Rangkaian dari semua itu seharusnya bisa mentahbiskan keberadaan kita sebagai manusia yang hanya makhluk. Makhluk yang tidak abadi. Makhluk yang diciptakan. Makhluk yang akan kembali kepada yang menciptakan.


Namun, keterkaitan semua hal itu, terkadang bisa rusak atau lepas simpul simpulnya, bila keinginan dan ego diletakkan di atasnya, dengan pemaksaan pemaksaan sebagai alat untuk mencapainya.


Seperti halnya pagi ini. Sejak meninggalkan Bukit Gumuk Pasir Wedhi, kemudian berlari sejak siang hari hingga tengah malam, pada pagi harinya, Puguh dan Rengganis tiba di suatu tempat di luar wilayah kekuasaan Kerajaan Banjaran Pura.


Namun, baru saja Puguh dan Rengganis hendak memasuki perkampungan, terlihat di kejauhan, di jalanan yang masih sepi itu, telah menghadang tiga orang dengan pakaian ringkas yang berwarna hitam seluruhnya.


Sebenarnya Puguh dan Rengganis merasakan getaran kekuatan mereka. Namun, karena sudah terlanjur berhadapan, akhirnya Puguh dan Rengganis tetap berjalan hingga cukup dekat dengan tiga orang yang menghadangnya.


Begitu cukup dekat, Puguh dan Rengganis melihat, tiga orang itu adalah laki laki paruh baya yang kemaren saat di puncak Bukit Gumuk Pasir Wedi, bertarung melawan Biyung Kencana. Laki laki itu adalah Topeng Kawung dan dua orang murid terbaiknya, Topeng Seta dan Topeng Jenar.


"Haahhh ! Hari ini adalah hari keberuntungan kita. Kita baru saja akan pergi mencarinya, justru mereka sudah menuju ke tempat kita !" kata Topeng Kawung pelan.


"Betul Guru ! Tidak sia sia kesabaran kita, sejak dulu mencari berita, akhirnya datang sendiri ke negeri kita mengantarkan diri !" jawab Topeng Seta.


"Anak muda ! Selamat datang di Kerajaan Gading Pura. Walau aku bukan orang pemerintahan, tetapi aku sangat senang menyambut tamu, khususnya tamu seperti dirimu !" kata Topeng Kawung.


"Terimakasih paman !" jawab Puguh dengan tetap waspada.


"Aahhh rupanya kau orang yang tidak suka banyak basa basi. Aku juga. Makanya aku beritahukan kau satu hal. Kau boleh lewat dan menjelajahi negeri ini, tetapi harus kau serahkan senjata pedangmu itu padaku !" kata Topeng Kawung lagi.


"Sayangnya senjata pedang ini tidak bisa terpisah dariku, paman !" jawab Puguh.


"Begitu ya. Kalau begitu biar aku yang mengambilnya dan memisahkannya darimu !" kata Topeng Kawung yang tubuhnya tiba tiba menghilang.


Puguh yang sejak tadi sudah sangat waspada dan semua inderanya selalu siap siaga, segera merasakan ada getaran kekuatan yang meluncur dengan sangat cepat ke arahnya dari arah atas.


"Adik Rengganis hati hati ! Yang satu ini biar kakang yang menghadapinya !" kata Puguh sambil tubuhnya segera melesat ke arah atas depan dengan telapak tangan kanan yang terbuka.

__ADS_1


Sesaat kemudian, terdengar suara bertemunya dua pukulan yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi.


Jdaaammm !


Dalam benturan serangan itu, tubuh Topeng Kawung terlempar lagi ke belakang sedangkan tubuh Puguh segera meluncur kembali ke samping Rengganis.


"Sungguh anak muda dengan kemampuan yang sangat tinggi. Sepertinya Topeng Seta dan Topeng Jenar bukan tandingannya kalau satu lawan satu !" kata Topeng Kawung sambil meningkatkan aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya hingga jumlah yang sangat besar.


Kemudian, dengan sedikit menotolkan ujung jari kakinya ke tanah, tubuh Topeng Kawung melesat lagi dengan sangat cepat ke arah Puguh berdiri, kemudian menyerang dengan serangkaian pukulan dan tendangan.


Puguh yang sedikit banyak sudah mengetahui gambaran kekuatan lawannya, segera menambah aliran tenaga dalamnya dan segera memapaki datangnya serangan Topeng Kawung dengan ilmu pukulan tangan kosong Bantala Wreksa, hingga menimbulkan suara benturan berkali kali yang cukup keras.


Plak ! Plak ! Plak !


Jdammm ! Jdammm !


Dalam setiap benturan tenaga dalam, diam diam Topeng Kawung merasakan kedua tangannya bergetar dengan sangat hebat.


Ketika melihat pertarungan gurunya yang sudah berlangsung cukup lama belum menunjukkan hasil, Topeng Seta dan Topeng Jenar berniat ikut terjun ke dalam pertarungan.


Namun, saat Topeng Seta dan Topeng Jenar baru saja bergerak, Rengganis sudah menghadang di depannya.


"Kalian ingin mengeroyoknya ?" tanya Rengganis dengan posisi siap bertarung.


Namun, kedua murid Topeng Kawung itu tidak menghiraukan pertanyaan Rengganis. Mereka tetap melesat ke arah Puguh.


Melihat hal itu, Rengganis segera melenting dan menghadang arah gerakan Topeng Seta.


Topeng Seta yang masih meremahkan Rengganis, segera mengarahkan pukulannya ke kepala Rengganis.


Tidak ingin basa basi lagi, Rengganis menyambut pukulan Topeng Seta dengan dengan pukulan tangan kanannya. Benturan kedua pukulan itu menghasilkan suara ledakan yang cukup keras.

__ADS_1


Blammm !


Sesaat setelah benturan pukulan, tubuh Topeng Seta terlempar ke belakang hingga harus jungkir balik untuk kemudian mendarat di tanah lagi. Untuk sesaat, Topeng Seta meringis merasakan tangan kanannya bergetar hingga pangkal bahu.


Sementara itu, Rengganis yang hanya tersurut satu langkah, sudah kembali melesat menerjang Topeng Seta kembali dengan pukulan beruntunnya.


Topeng Seta yang baru saja menapakkan kakinya ke tanah, harus kembali berjumpalitan berkali kali untuk menghindari serangan beruntun dari Rengganis. Setelah pontang panting menghindari serangan Rengganis, akhirnya Topeng seta bisa selamat dari serangan Rengganis.


Tanpa menyadarinya, Topeng Seta mendarat cukup jauh dari Topeng Kawung gurunya.


"Perempuan itu ternyata sangat tinggi kemampuannya !" kata Topeng Kawung dalam hati.


Karena ternyata mendapatkan lawan yang sangat kuat, Topeng Seta segera mengeluarkan senjatanya, yaitu dua buah golok tipis.


Kemudian, dengan sangat cepat, Topeng Seta melesat lagi ke arah Rengganis. Dua senjata goloknya berkelebatan mengarah ke bagian bagian berbahaya dari tubuh Rengganis.


Sementara itu, melihat lawannya mengeluarkan senjata, sambil melenting ke depan, Rengganis mencabut senjata pedangnya dan menghadang ke arah manapun dua golok Topeng Seta bergerak.


Bersamaan dengan itu, Topeng Kawung yang mendapat bantuan dari Topeng Jenar muridnya, segera memberi tanda pada muridnya itu untuk mengeluarkan senjatanya.


Sama seperti Topeng Seta, senjata Topeng Kawung dan Topeng Jenar juga berupa dua buah golok tipis. Segera saja empat golok dari dua arah yang berbeda mengarah ke tubuh Puguh.


Sementara itu, karena kedua lawannya sudah mengeluarkan senjata, akhirnya Puguh mengeluarkan senjata pedangnya.


Pada.pagi hari menjelang siang, daerah di pinggir pedesaan itu tiba tiba terselimuti pendaran sinar hijau terang, yang berasal dari bilah pedang di tangan kanan Puguh.


Sesaat kemudian, terdengar dentangan senjata beradu berulang kali.


Trang ! Trang ! Trang !


Tang tang ! Tang tang !

__ADS_1


__________ ◇ _________


__ADS_2