
Pada pagi hari berikutnya, Puguh terbangun dari semedinya. Ketika matanya terbuka, Puguh tidak mendapati, tubuh gurunya berada di dalam ruangan goa. Puguh terkejut dan khawatir dengan keadaan gurunya.
Segera saja dengan ringannya, tubuhnya berkelebat menuju keluar goa. Puguh menemukan, gurunya sedang berdiri membelakangi mulut goa dengan kedua tangan berada di belakang.
"Gerombolan serigala mata biru ya ?" kata Ki Dwijo dalam hati sambil tersenyum.
"Guru ! Guru sudah bisa berjalan ?" tanya Puguh dengan heran sekaligus gembira.
"Terimakasih atas jerih payahmu merawat guru selama ini ngger," kata Ki Dwijo.
"Semua itu sudah menjadi kewajiban Puguh, guru," jawab Puguh.
"Nanti kita bahas lagi, muridku," sambung Ki Dwijo lagi, "Kau lihat di depan itu ? Sejak kapan mereka berada di dekat goa ini ?"
Puguh melihat ke depan. Dilihatnya di depan sana banyak berpasang pasang mata yang mengeluarkan sinar kebiruan.
"Sejak pertama kita masuk ke dasar jurang ini, guru," jawab Puguh lagi.
"Kamu ingin mencoba tenaga dalam dan kecepatanmu, ngger ?" tanya Ki Dwijo, "Coba kau lawan mereka. Tapi jangan membunuhnya !"
Puguh segera bergerak maju dwngan cepat. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah berdiri di depan gerombolan srigala mata biru itu.
"Ternyata kalau di dekati, serigala ini sangat besar !" kata Puguh dalam hati.
Serigala mata biru memang bertubuh sangat besar. Tiga ekor serigala mata biru yang tingginya mencapai kepala Puguh maju beberapa langkah sambil matanya tajam menatap ke arah Puguh. Ketiga serigala itu menggeram sambil seolah memperlihatkan taring taringnya.
Sesaat kemudian, ketiga serigala mata biru itu melompat dan berlari menerkam ke arah Puguh. Meninggalkan serigala mata biru yang lain.
Puguh pun melenting ke atas untuk menghindarinya. Namun saat tubuh Puguh melayang ke atas, serigala yang lainnya telah melompat menerkam tubuhnya. Dengan meliukkan tubuhnya, Puguh berkelit dan tubuhnya meluncur di antara tubuh tubuh serigala raksasa itu.
Namun, seolah tidak mau memberi waktu pada Puguh untuk sekedar menarik nafas, ada dua serigala lagi yang telah melompat ke arah Puguh.
__ADS_1
Kawanan serigala itu menyerang seolah seperti ada yang mengatur. Mereka bisa bergantian menyerang dan saling menyambung dengan serangan sebelumnya. Sehingga terlihat, seolah olah kawanan serigala itu bisa bekerja sama layaknya manusia.
"Kecepatan serigala mata biru memang mengagumkan, kecerdasannya jauh di atas hewan buas lainnya," kata Puguh dalam hati.
Karena gurunya berpesan tidak boleh membunuh, maka Puguh berusaha tidak menyerang bagian kepala serigala serigala itu.
Buuuggghhh ! Buuuggghhh ! Buuuggghhh !
Berkali kali pukulan Puguh mengenai bagian perut dari serigala serigala yang menyerangnya. Membuat setiap serigala yang terkena pukulannya, tersurut mundur dan jatuh bergulingan.
Namun, serigala yang terpukul itu segera bangkit lagi dan kembali bergabung dengan kawanannya untuk menyerang.
Apabila manusia yang menjadi lawannya adalah pendekar menengah, menghadapi serbuan serigala mata biru akan sangat kewalahan dan cepat kehabisan tenaga. Apalagi bagi pendekar yang kecepatannya bisa diimbangi oleh kawanan serigala ini.
Maka dari itu, Melihat hal itu, Puguh menambah aliran tenaga dalamnya, terutama ke kedua tangannya.
Melihat manusia yang menjadi lawannya terdiam sejenak, kawanan serigala itu kembali menyerang dengan melompat dan menerkam ke arah Puguh.
Walaupun sudah banyak yang terlempar terkena pukulan Puguh, kawanan serigala itu terus menerus menyerang seperti tidak ada habisnya.
Sehingga kemudian, Puguh menghindari terkaman mereka dengan berlari di dinding jurang. Tujuan Puguh adalah menjauhkan kawanan serigala itu dari goa tempat Puguh dan gurunya.
Kawanan serigala itu segera mengejar Puguh dengan melompat dan berlari di dinding jurang. Di sinilah keunggulan serigala mata biru dari hewan buas lainnya. Mereka bisa berlari di dinding jurang sama cepatnya dengan saat mereka berlari di dasar goa.
Tanpa terasa, Puguh berlari di dinding goa, sudah sangat tinggi. Namun saat Puguh melihat ke atas, jarak ketinggian yang dia tempuh baru mencapai setengah dari keseluruhan kedalaman jurang.
Teringat gurunya yang masih di bawah, Puguh kembali melesat ke bawah dengan memutar sambil menghindari terjangan serigala yang berada di dekatnya.
"Kalau begini terus, aku bisa kehabisan tenaga," kata Puguh dalam hati.
Akhirnya, setelah kembali mencapai dasar jurang, Puguh mengarahkan setiap serangan pukulannya ke leher serigala itu.
__ADS_1
Paaaccckkk ! Paaaccckkk ! Paaaccckkk !
Setiap serigala yang terkena pukulan Puguh, tidak terdorong dan tidak terlempar terlalu jauh. Namun, begitu serigala yang terkena pukulan Puguh pada lehernya, akan terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi karena pingsan.
Ki Dwijo, yang melihat Puguh mulai bisa menjatuhkan banyak serigala hingga pingsan, menganggap cukup dan kemudian menyuruh Puguh kembali ke goa.
Mendengar perintah gurunya, Puguh segera berlari memutar sedemikian rupa, untuk menjatuhkan beberapa serigala untuk menutup jalan bagi serigala yang lainnya selama beberapa saat. Kemudian dengan cepat, Puguh menyusul gurunya masuk ke dalam goa.
Ketika sampai di dalam goa, Puguh baru saja hendak duduk ketika di mulut goa muncul dua ekor serigala mata biru yang dengan cepat bisa menyusul Puguh.
Karena terkejut, Puguh segera menyambar pedangnya yang tergeletak di tempat dia biasanya duduk beristirahat. Sambil menarik keluar pedang dari sarungnya, Puguh mulai mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya dan terutama ke bilah pedangnya untuk menghadang kedua serigala itu agar tidak masuk terlalu jauh ke dalam goa.
Namun tiba tiba terjadi hal yang mengherankan. Ketika bilah pedang itu mulai mengeluarkan pendaran cahaya hijau terang, kedua serigala itu kembali mundur dan menjauh dengan cepat keluar goa.
Melihat hal itu, Ki Dwijo memperkirakan, kawanan serigala itu takut dengan sesuatu yang terkandung dalam pendaran cahaya hijau terang yang keluar dari bilah pedang itu.
"Coba kamu bawa keluar pedang yang sudah kau aliri tenaga dalam. Dan coba mendekatlah ke arah kawanan serigala itu ngger. Kita lihat reaksi mereka !" kata Ki Dwijo memberi perintah pada Puguh.
"Baik guru," jawab Puguh sambil kemudian melesat ke luar goa menuju ke sekelompok serigala yang masih menunggu di luar.
Begitu Puguh berdiri agak jauh dari mereka dengan pedang yang bilahnya mengeluarkan pendaran cahaya hijau terang, serigala serigala mata biru itu terdiam dan perlahan melangkah mundur dengan mulut menggeram marah.
Puguh mencoba lebih mendekat. Kawanan serigala itupun bereaksi sama. Segera mundur walau dengan ekspresi kemarahan.
Melihat itu, Puguh segera kembali ke goa dan menceritakan hal itu pada gurunya.
"Jadi benar. Selama ini serigala mata biru tidak menyerang ke dalam goa karena ada yang ditakuti pada pendaran cahaya hijau yang keluar dari pedang itu," kata Ki Dwijo.
"Sepertinya begitu guru," jawab Puguh.
"Baiklah ngger. Mulai sekarang, kita fokus berlatih menyempurnakan penguasaan ilmu pedangmu dari kitab yang kamu dapatkan dan meningkatkan tenaga dalammu. Setelah kamu bisa menguasai dengan sempurna, kita secepatnya keluar dari sini. Karena, untuk menaiki dinding goa setinggi itu, dibutuhkan tingkat tenaga dalam yang sangat tinggi !" kata Ki Dwijo.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_◇\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_