Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kekalahan Prabu Girindra Nata


__ADS_3

Pertarungan Puguh melawan Prabu Girindra Nata semakin lama semakin berjalan cepat dan semakin meningkat tingkat tenaga dalam yang dipergunakannya. Suara suara benturan pukulan dan tendangannya terdengar semakin keras.


Sebagai seorang raja dari kerajaan besar yang sangat tergila gila dengan ilmu silat, Prabu Girindra Nata menguasai ilmu ilmu silat tingkat tinggi khas kerajaan, yang sangat lugas dalam penyerangan dan sangat kuat dalam pertahanan. Ilmu ilmu silat dari kerajaan, yang secara khusus diperuntukkan untuk keprajuritan, secara umum gerakannya sedikit lebih lambat, tetapi setiap serangannya membawa kekuatan yang sangat besar dan menghentak. Karena menitik beratkan pada secepatnya melumpuhkan atau mengalahkan lawannya, tidak terlalu mementingkan unsur seni bela diri.


Dalam penguasaan Prabu Girindra Nata, ilmu ilmu silat kerajaan itu dipadukan dengan kecepatan yang dia miliki tanpa mengurangi sifat lugasnya, sehingga serangan serangannya tetap menghentak.


Keistimewaan Prabu Girindra Nata adalah sangat menjiwai setiap jurus ilmu ilmu silat yang dipelajarinya. Sehingga, dengan jurus yang sederhana, didukung dengan tenaga dalamnya yang sangat tinggi, tidak jarang Prabu Girindra Nata mampu mengimbangi bahkan mengalahkan lawannya yang berada dalam tingkat yang sangat tinggi.


Namun kali ini, yang dia hadapi adalah Puguh, seorang anak muda yang ilmu silat dan tenaga dalamnya sudah berada dalam tingkat yang sangat tinggi.


Pada awal awal jurus, dalam setiap benturan serangan, Puguh selalu merasakan hentakan yang sangat kuat menerpa tubuhnya hingga membuat tubuhnya bergetar.


Namun setelah beberapa jurus mempelajari tehnik serangan Prabu Girindra Nata, Puguh bisa menghadapi dan mampu menetralisir hentakan yang diterimanya. Hingga akhirnya, setiap pukulan dan tendangan Prabu Girindra Nata mampu diimbangi oleh Puguh.


Seratus jurus telah berlalu. Prabu Girindra Nata masih juga belum bisa mendesak lawannya yang hanya seorang anak muda. Hal tersebut membuat Prabu Girindra Nata semakin merasa penasaran.


"Anak muda ini ternyata memiliki kekuatan dan tenaga dalam yang sangat tinggi ! Ilmu silat yang dia mainkan, sepertinya aku pernah melihatnya ! " kata Prabu Girindra Nata dalam hati.


"Anak muda ! Apa hubunganmu dengan Pendekar Tangan Seribu ?" tanya Prabu Girindra Nata sambil terus melayangkan serangan.


"Aku sangat beruntung diangkat menjadi muridnya ?" jawab Puguh.


"Murid Pendekar Tangan Seribu ? Bukankah sudah puluhan tahun pendekar itu menghilang ?" gumam Prabu Girindra Nata.


Prabu Girindra Nata pernah mendengar nama besar Ki Dwijo dengan julukannya Pendekar Tangan Seribu. Walau belum pernah berhadapan, namun Prabu Girindra Nata merasa yakin mampu menghadapi Pendekar Tangan Setibu.


"Anak muda ini hanya murid Pendekar Tangan Seribu, seharusnya aku bisa menjatuhkannya !" kata Prabu Girindra Nata dalam hati.

__ADS_1


Kemudian, dengan menambah lagi aliran tenaga dalamnya, Prabu Girindra Nata kembali melesat dengan sangat cepat. Tubuhnya menghilang, dan tiba tiba sudah berada tepat di depan Puguh dengan ayunan pukulan dan tendangan yang lebih kuat lagi.


Sementara itu, dengan tetap menggunakan jurus jurus dari ilmu Bantala Wreksa yang diajarkan oleh Ki Dwijo gurunya, Puguh menghadapi setiap serangan Prabu Girindra Nata.


Unsur kecepatan yang ada dalam jurus jurus ilmu Bantala Wreksa, sangat efektif untuk meredam setiap gerakan Prabu Girindra Nata yang sangat cepat.


Sehingga kemanapun mereka bergerak, selalu terjadi benturan tenaga dalam yang menimbulkan suara yang sangat keras.


Plak ! Plak ! Plak ! Plak !


Jdammm ! Jdammm !


Namun Prabu Girindra Nata kembali terkejut. Anak muda yang mengaku sebagai murid dari Pendekar Tangan Seribu itu, selalu bisa menghadapi serangan serangannya. Bahkan mulai bisa membuat tubuhnya terdorong mundur.


Sehingga rasa penasarannya berubah menjadi murka. Dalam kemurkaannya, Prabu Girindra Nata mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya dan menggempur Puguh secara terus menerus.


Begitu besar tenaga dalam tingkat sangat tinggi yang dikeluarkan oleh Prabu Girindra Nata, hingga menimbulkan ledakan ledakan yang sangat keras setiap berbenturan dengan serangan Puguh. Bahkan menimbulkan debu pekat beterbangan.


Dalam kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata biasa, tanpa terasa pertarungan sudah melewati seratus jurus lagu.


Hingga pada suatu kesempatan, dalam posisi melenting ke atas, Prabu Girindra Nata melesat turun dengan sangat cepat diikuti dengan telapak tangan kanannya melakukan pukulan yang sudah dilapisi dengan hampir seluruh kekuatannya.


Bersamaan dengan itu, melihat lawannya yang melayang, meluncur sangat cepat ke arahnya sambil melepaskan serangan bertenaga dalam penuh, sambil meningkatkan aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya, Puguh memapakinya dengan pukulan telapak tangan kanannya, dengan kaki kiri yang melangkah satu kali ke depan.


Benturan yang sangat hebat terjadi. Debu mengepul dengan pekatnya. Getaran yang ditimbulkan dalam benturan itu, terasa hingga ke pinggir halaman depan istana Kerajaan Banjaran Pura yang sangat luas.


Jdaaammm !

__ADS_1


Dalam benturan itu, tubuh Puguh tersurut mundur dua langkah dengan kuda kuda yang tidak berubah. Pakaiannya terlihat koyak di beberapa tempat.


Sementara itu, tubuh Prabu Girindra Nata yang meluncur dengan sangat cepat, berhenti seketika.


Prabu Girindra Nata merasakan seluruh tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan. Hanya mata dan mulutnya yang masih bisa bergerak.


Melihat keadaan lawannya, Puguh segera mencegah Prabu Girindra Nata untuk tidak bergerak dulu.


"Prabu Girindra Nata, jangan bergerak dahulu !" teriak Puguh.


Mendengar teriakan lawannya, Prabu Girindra Nata yang memang tidak bisa menggerakkan tubuhnya, terdiam.


"Siapapun yang mengikuti Prabu Girindra Nata, tolong kalian bawa dan baringkan dengan hati hati ! Jangan sampai keluar darah dari permukaan kulitnya !" teriak Puguh.


Baru saja Puguh selesai berteriak, melesat dua bayangan tubuh dari pinggir halaman, kemudian mengangkat tubuh Prabu Girindra Nata dengan hati hati dan membaringkannya di dalam tandu, yang kemudian segera dibawa ke pinggir lapangan.


Kedua bayangan tubuh itu adalah dua orang Senopati Kerajaan Kisma Pura yang ikut dalam rombongan Prabu Girindra Kawiswara.


Mereka tahu betul dengan apa yang dialami oleh Prabu Girindra Nata. Sang raja mengalami pengerasan seluruh otot otot tubuhnya, dikarenakan keluarnya tenaga dalam tingkat sangat tinggi dalam jumlah yang banyak, dalam durasi waktu yang melebihi kemampuan ototnya. Hal itu sangat mungkin terjadi, karena Prabu Girindra Nata sudah bertarung lebih dari dua ratus jurus. Itu adalah dampak yang sering terjadi dari jurus jurus ilmu silat kerajaan yang dipergunakan untuk bertarung.


Unruk beberapa waktu, suasana menjadi hening. Hanya suara angin yang menerbangkan daun daun kering serta debu yang sangat lembut. Seolah, menarik nafas dengan menimbulkan suara pun tidak ada yang berani, apalagi sorakan, tidak ada satupun yang melakukannya.


Dalam keheningan itu, tiba tiba muncul getaran kekuatan yang sangat tinggi dari arah rombongan Prabu Girindra Nata, disertai tawa pelan, namun bisa terdengar oleh semua yang berdiri di pinggir lapangan.


"Haahhh ha ha ha ha ! Anak muda ! Ternyata kemampuanmu boleh juga. Bagaimana kalau aku mewakili sahabatku Prabu Girindra Nata, dan menjadi lawanmu !"


Tawa dan ucapan itu baru saja berhenti ketika tiba tiba di tengah halaman istana itu, di depan Puguh berdiri seorang laki laki bertubuh tinggi besar.

__ADS_1


Dia adalah Ki Dahana Yaksa, sahabat sekaligus sekutu Prabu Girindra Nata, yang diminta bantuannya oleh Prabu Girindra Nata untuk menjadi wakil dirinya dalam pertarungan melawan wakil dari Kerajaan Banjaran Pura.


__________ ◇ __________


__ADS_2