
Berhadapan satu lawan satu dengan salah seorang lawan yang berpakaian panglima perang, laki laki pengemis itu tanpa ragu ragu melakukan serangan serangan yang mematikan. Bahkan setiap serangannya, seakan hendak memastikan, lawannya tidak akan lari atau tidak akan terlepas dari tangannya.
Sambil menahan serangan salah satu panglima perang yang menyerangnya, Puguh sempat memperhatikan, betapa cara bertarung pengemis itu, sangat lain dengan saat membantunya.
Selain dua pertarungan yang terjadi antara Puguh dan laki laki pengemis yang masing masing melawan satu panglima perang, di tempat yang tidak terlalu jauh, Roro Nastiti juga menghadapi seorang lawan.
Dari gerakan dan setiap serangan yang dilakukan, Roro Nastiti terlihat berimbang dengan lawannya. Dengan dua pedang pendeknya, Roro Nastiti bisa mengimbangi kecepatan gerak dan kelebatan pedang lawannya.
Sementara itu, seorang lagi lawan, mendapatkan keroyokan dari pengikut laki laki pengemis itu. Namun, walaupun dikeroyok, lawan yang berpakaian panglima perang itu, tidak kesulitan menghadapi keroyokan, karena semua pengikut laki laki pengemis itu sudah terluka sebelumnya.
Bahkan, kelebatan senjata pedangnya telah berhasil menambah luka pada beberapa pengeroyoknya yang menyebabkan beberapa tewas dan beberapa lagi tidak bisa melanjutkan pertarungan.
Dua puluh jurus kembali berlalu. Masih dengan jurus Bantala Wreksa, Pukulan Puguh berkali kali bersarang di tubuh lawannya.
Karena luka luka yang disandangnya, akhirnya laki laki berpakaian panglima perang itu terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Namun, kali ini tidak bisa bangkit lagi dan hanya bisa terduduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Bersamaan dengan itu, setelah lebih dari dua puluh jurus bertarung, akhirnya laki laki pengemis itu berhasil menjatuhkan lawannya hingga tewas.
Begitu lawannya tewas, laki laki pengemis itu segera melenting ke arah pengikutnya yang tersisa. Dengan gerakan yang ganas, laki laki pengemis itu segera menerjang ke arah lawannya. Senjata tongkatnya berkelebat cepat dan mengeluarkan suara menderu, mengarah ke kepala ataupun bagian tubuh lawan yang lainnya. Perlahan laki laki pengemis itu mulai mendesak lawannya.
Entah apa yang menyebabkannya, laki laki pengemis itu bertarung sangat telengas terhadap lawannya. Senjata tongkatnya selalu mengarah ke bagian tubuh yang mematikan dari lawannya.
Sementara, ditempat yang tidak terlalu jauh dari tempat bertarung Puguh, Roro Nastiti pelan tapi pasti, juga mulai bisa mendesak lawannya.
Kedua pedang pendeknya sudah beberapa kali memberikan luka sayatan pada lawannya.
Akhirnya, setelah pertarungan melewati lima puluh jurus, Roro Nastiti dan laki laki pengemis itu berhasil menghabisi lawan mereka masing masing.
__ADS_1
Setelah tidak ada pertarungan lagi, laki laki pengemis itu melesat ke depan Puguh. Ujung tongkatnya mengarah ke kepala laki laki berpakaian panglima perang yang duduk berlutut di depan Puguh karena terluka.
Namun, saat ujung tongkatnya hampir mengenai kepala panglima perang itu, tiba tiba tongkatnya terpental, ditepis oleh Puguh yang telah menghadang arah geraknya.
"Biarkan dia hidup ! Kita bisa mengorek informasi yang kita butuhkan darinya !" kata Puguh.
Kemudian, Puguh dan laki laki pengemis mendekati lawan yang masih duduk di tanah.
"Kisanak, kalian pasukan perang dari negeri mana dan apa tujuan kalian memasuki negeri ini ?" tanya Puguh.
Tetapi, Puguh dan laki laki pengemis tadi terkejut, saat lawan yang masih berlutut itu mendongakkan kepalanya yang sudah berwarna hitam legam.
"Jangan harap kalian semua bisa mengambil informasi dari kami ! Haahhh ha ha ha ha !" kata laki laki yang terduduk itu.
Sesaat kemudian, kepalanya yang sudah berubah menjadi menghitam itu meledak dan mengeluarkan bau yang sangat busuk. Diikuti dengan tubuhnya yang perlahan menghitam dan menjadi lunak.
"Dia sudah menelan racun penghancur tubuh. Sungguh racun yang sangat berbahaya !" kata laki laki pengemis itu.
"Anak muda, terimakasih atas bantuan kalian !" sambung laki laki pengemis itu.
"Paman pengemis dulu juga menolong kami, saat kami dikejar kejar oleh banyak pendekar !" jawab Puguh.
Mendengar jawaban Puguh, laki laki pengemis itu terkejut dan memperhatikan Puguh dan Roro Nastiti lebih tajam lagi. Namun terlihat ada keraguan dalam sorot matanya.
Melihat laki laki pengemis itu setengah tidak percaya, Puguh segera menjelaskan.
"Aku dan temanku yang perempuan saat itu, terpisah. Hingga saat ini kami masih mencari keberadaannya, paman !" kata Puguh.
__ADS_1
"Aahhh kebetulan. Jadi kamu anak muda yang berhasil mewarisi ilmu kesaktian dari Pendekar Penunggang Elang itu ? Sepertinya kita memang berjodoh untuk bertemu lagi, anak muda !" jawab laki laki pengemis.
Kemudian, setelah saling menanyakan kabar, laki laki pengemis itu bercerita.
Laki laki pengemis itu sebenarnya adalah Ketua Muda dari Padepokan Kuwanda Brastha, suatu perkumpulan para pendekar silat, yang tersembunyi dan bergerak untuk membasmi para pejabat kerajaan yang sewenang wenang, korup dan menindas rakyat.
Anggota dari Padepokan Kuwanda Brastha dibagi menjadi tiga dengan berdasarkan tempat berasalnya. Anggota yang berada di perkotaan, mengenakan pakaian seperti seperti pengemis. Anggota yang di pedesaan mengenakan pakaian layaknya seorang petani dan anggota yang tinggal di pesisir, mengenakan pakaian seperti seorang nelayan.
Pada suatu sore hari, secara tidak sengaja, sepuluh orang pengikutnya yang berpakaian ala pengemis, yang kebetulan sedang berada di pinggir kota, melihat lima orang asing yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, yang penampilan dan gerak geriknya mencurigakan. Orang orang asing itu seperti sedang mengamati sesuatu.
Saat ditegur, beberapa orang yang mencurigakan itu, tanpa mengatakan apa apa, langsung menyerang. Sehingga, terjadilah pertarungan sepuluh orang anggota Padepokan Kuwanda Brastha melawan lima orang asing, di pinggir kota.
Suara dentangan dari benturan senjata tongkat dengan senjata pedang, mengiringi masuknya sang surya ke peraduan malam.
Namun, naas bagi sepuluh orang anggota Padepokan Kuwanda Brastha. Ternyata, kelima orang asing itu memiliki tingkat ilmu silat yang lebih tinggi dari mereka semua.
Walaupun dua anggota Padepokan Kuwanda Brastha mengeroyok satu orang asing, tetapi karena kalah tingkatan tenaga dalam dan kesaktian, setelah lima puluh jurus, akhirnya sepuluh orang anggota Padepokan Kuwanda Brastha terdesak hebat.
Satu persatu anggota Padepokan Kuwanda Brastha jatuh tersungkur menemui ajalnya, dengan banyak luka sayatan menghiasi tubuhnya.
Melihat hal itu, salah seorang anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang menjadi pemimpin dari sepuluh orang itu, segera menyuruh pergi satu orang anggotanya yang maaih sehat dan belum mendapatkan banyak luka, untuk melaporkan pada Ki Prana Jiwa yang menjadi Ketua Muda dari Padepokan Kuwanda Brastha.
Akhirnya satu orang itu berhasil melarikan diri dari pertarungan dan melaporkan pada Ki Prana Jiwa. Sedangkan sembilan anggota Padepokan Kuwanda Brastha harus tewas di tangan lima orang asing.
Setelah menerima laporan dari anggotanya yang selamat, Ki Prana Jiwa mengajak sepuluh orang yang mempunyai tingkat ilmu silat dan tenaga dalam yang tinggi, dan pada malam itu juga, mereka melakukan pengejaran selama semalam suntuk.
Hingga pada hari berikutnya, mereka berhasil menemukan kelima orang asing, di suatu hutan yang tumbuh di sebuah bukit kecil.
__ADS_1
Ki Prana Jiwa dan sepuluh pendekar yang mengikutinya, segera menyerang lima orang asing yang telah membunuh teman teman mereka. Hingga sampai dengan kedatangan Puguh dan Roro Nastiti yang membantunya mengalahkan kelima orang asing yang ternyata merupakan beberapa panglima dari ribuan pasukan yang mendarat di pesisir.
__________ ◇ __________