
Entah kapan mengambilnya dan di mana menyimpannya, di kedua tangan kakek tua itu tiba tiba ada buah buahan yang kemudian disodorkan pada Puguh. Tanpa ragu ragu, Puguh langsung menerima dan langsung memakannya hingga habis semuanya.
Akhirnya Puguh menghabiskan malam dengan tidur di tempat itu, di bawah pohon besar, ditemani kakek tua keriput yang menolongnya.
----- * -----
Pagi harinya, matahari belum menampakkan wajahnya, Puguh sudah terbangun. Dilihatnya, kakek yang menolongnya tidak terlihat di dekatnya.
Puguh berdiri dan melihat lihat ke sekelilingnya. Tiba tiba terdengar suara pelan seperti berkata di dekat telinganya.
"Naiklah ke sini ngger," terdengar suara kakek yang menolongnya.
Puguh mendongakkan kepalanya, mencari arah suara. Terlihat kakek berdiri di salah satu dahan pohon besar. Segera saja Puguh menyusul kakek itu.
Begitu sampai di dahan tempat kakek itu berdiri, sang kakek sudah tidak ada di tempatnya lagi.
Terdengar lagi suara di dekat telinganya, "Naiklah !"
Puguh kembali mengangkat kepalanya. Kakek itu sudah berdiri di dahan atasnya lagi. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Puguh menyusul ke tempat kakek itu berdiri.
Setelah Puguh sampai di dekatnya, kakek itu tertawa.
"He he he he ..... kau mau ikut kakek ke bukit itu ?" kata kakek itu sambil menunjuk ke satu arah.
Puguh baru saja hendak menjawab, tubuh kakek itu susah berkelebat turun dan kemudian melesat ke arah bukit yang ditunjuknya.
Karena takut ketinggalan, Puguh pun segera turun dan berlari menyusul kakek itu menggunakan ilmu meringankan tubuh yang dia pelajari sendiri.
Sebentar saja, kakek itu sudah sampai di tanah datar di puncak sebuah bukit kecil dan kemudian membalikkan badannya melihat ke arah Puguh yang menyusulnya.
"Bocah itu selalu saja membuatku terkejut. Dari mana dia mendapatkan ilmu meringankan tubuh yang dikabarkan telah hilang itu. Siapa yang mengajarinya dengan terbalik balik, kalau tidak dibetulkan kelak akan membahayakan jiwanya," kakek itu bergumam.
Beberapa saat kemudian, Puguh berhasil menyusul kakek itu.
__ADS_1
"Ngger, kau mau ikut kakek ?" tanya kakek itu.
Sambil nafasnya sedikit tersengal sengal, Puguh mengangguk dan menjawab, "Mau kek,"
"Bagus, sekarang kesinilah, namamu siapa ?" yanya kakek itu.
Sambil berjalan mendekat, Puguh menjawab, "Nama saya Puguh, kek."
"Baiklah. Ngger Puguh, mulai saat ini kamu ikut kakek. Kakek akan mengajarkan sedikit yang kakek punya," kata kakek itu, "Sekarang kakek ingin melihat kamu berlari mengelilingi bukit ini, tiga putaran saja."
"Baik kek," jawab Puguh sambil mengangguk.
Puguh pun segera berlari mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya mengelilingi puncak bukit kecil dengan semangat hingga tiga kali putaran. Walaupun di putaran ketiga nafasnya tersengal sengah dan tubuh kecilnya gemetaran di akhir putaran.
Kakek keriput yang menunggu di sudut tanah datar sambil duduk bersila itu segera menyuruh Puguh untuk mendekat, melihat Puguh sudah menyelesaikan tiga putaran.
Sesampainya di depan kakek yang sekarang menjadi gurunya itu, Puguh segera duduk di depan gurunya dengan nafas yang masih tersengal sengal.
Kakek itu segera bangkit dari duduk bersilanya mendekati Puguh, kemudian dengan cepat kedua tangannya menyentuh titik titik tertentu di tubuh Puguh. Barulah Puguh merasa nafasnya kembali lancar dan tubuhnya tidak terlalu lemas.
"Puguh berlatih sendiri kek," jawab Puguh.
"Coba kamu perlihatkan pada kakek cara berlatihmu," kata kakek itu menyuruh Puguh.
Puguh segera berdiri kemudian melakukan gerakan yang dia latih saat terjebak di dalam lubang batang pohon hitam raksasa. Gurunya menyuruh untuk mengulang kembali semua gerakannya hingga tiga kali.
Setelah selesai, Puguh kembali duduk di depan gurunya.
"Ngger Puguh, cara melatih ilmu meringankan tubuh yang kamu miliki, banyak yang keliru dan terbalik balik. Seiring dengan bertambahnya tenaga dalammu, akan bertambah pula tekanan yang pada paru paru dan jantungmu. Makanya tadi kamu sewaktu berlari mengelilingi bukit ini, nafasmu menjadi tersengal sengal dan tidak teratur," kata gurunya menerangkan.
Kemudian kakek itu memperbaiki cara berlatih Puguh dan Puguh pun disuruh mengulang ulang gerakannya sampai benar benar hafal dan mendarah daging.
Tanpa terasa, sudah tiga hari Puguh berlatih di bawah bimbingan gurunya. Setiap harinya hanya ilmu meringankan tubuh itu yang dia latih. Terkadang diselingi mempraktekkannya sekali dua kali, itupun Puguh belum merasakan perbedaannya dengan saat dia masih berlatih sendiri.
__ADS_1
Melihat gerakan gerakan yang dilatih Puguh sudah bagus dan benar, pada pagi hari berikutnya, Puguh disuruh gurunya untuk mencoba hasil latihannya dengan berlari mengelilingi puncak bukit kecil tiga kali.
Segera saja dengan semangat, Puguh melakukan perintah gurunya, berlari dengan ilmu meringankan tubuh yang baru dia pelajari.
Puguh baru menempuh satu putaran, saat nafasnya menjadi berat dan pandang matanya gelap. Puguh terjatuh dan pingsan saat baru menempuh satu kali putaran.
Segera saja kakek itu melesat dan menyahut dan membopong tubuh Puguh, kemudia di baringkan dan diperiksa.
Betapa terkejut kakek itu, mengetahui keadaan tubuh Puguh. Pembuluh darahnya banyak yang terbalik dan simpul simpul syarafnya juga arahnya terbalik.
"Pantas saja bocah ini pingsan. Cara melatih tenaga dalamnya juga kacau. Untung ketahuan, kalau tidak, dia bisa lumpuh selamanya," gumam kakek itu.
Kemudian dengan cepat, kakek itu melakukan totokan di berbagai tempat di tubuh Puguh. Bahkan di beberapa titik titik tertentu, kakek itu harus menusukkan jarum kecil. Juga beberapa kali, kakek itu harus menyobek sedikit di bagian tubuh tertentu untuk mengeluarkan darah yang telah mati.
Selain itu, selama Puguh masih pingsan, kakek itu berkali kali menyalurkan tenaga dalamnya, untuk membalikkan arah peredaran darah yang terbalik. Hal ini memakan waktu hampir sehari semalam.
Puguh baru kembali sadar saat menjelang pagi.
Akhirnya oleh gurunya itu, Puguh tidak boleh bergerak dulu. Harus tetap terbaring, agar pembuluh darah yang telah diperbaiki menjadi kuat dan stabil dulu. Hal itu berlangsung selama dua hari dua malam.
Setelah dua hari dua malam, secara berangsur, tubuh Puguh mulai ada tenaga, sehingga Puguh mulai boleh bergerak yang ringan ringan.
Kemudian, pada suatu tengah malam, Puguh disuruh berendam di dalam air sungai yang mengalir cukup dekat dari tempat mereka berlatih hingga ketinggian sebatas leher.
Menjelang pagi, gurunya menyuruh Puguh berhenti berendam. Kemudian gurunya kembali melakukan totokan totokan pada beberapa bagian tubuhnya.
Setelah selesai, gurunya kembali menyuruh Puguh untuk berlari mengelilingi puncak bukit kecil itu. lima kali.
Puguh pun segera berlari mengelilingi puncak bukit. Tanpa Puguh sadari lima kali putaran mengelilingi puncak bukit kecil itu sudah selesai dia lakukan.
"He he he he .... Bagaimana ngger ? Nafasmu masih berat dan kepala sakit, ?" tanya gurunya saat Puguh sudah mendekat lagi.
"Sudah tidak lagi, guru. Terimakasih," jawab Puguh.
__ADS_1
"Sekarang kau istirahat dulu," kata kakek itu sambil mengeluarkan buah dari dalam jubahnya, "Nanti malam kita buka simpul syaraf dan pembuluh darahmu, agar kamu bisa mulai berlatih tenaga dalam."
----- * -----