
Hanya dalam sesaat, Puguh hampir sampai di tepi hutan. Dilihatnya, diantara pepohonan, banyak bergerombol manusia setengah kera. Mereka membawa berbagai macam senjata. Sambil menunggu malam tiba, mereka menyiapkan banyak obor yang akan mereka gunakan untuk penerangan. Beberapa orang terlihat sedang berbincang. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya mereka para pemimpinnya.
Mereka semua yang sedang berbincang itu merasakan ada getaran kekuatan yang sangat besar mendekat ke arah tepi hutan. Mereka pun segera berlompatan dan bersiaga menghadap ke arah padang rumput. Dan mereka pun dibuat terkejut, saat di depan mereka, sudah berdiri seorang pemuda dari bangsa manusia, tetapi dengan cara berpakaian yang asing bagi mereka.
"Kakek, dialah kesatria tanah seberang, yang kami ceritakan !" ucap salah seorang perempuan manusia setengah kera.
Sementara itu, Begitu mendekat, Puguh juga terkejut, cara berpakaian manusia setengah kera yang dipanggil kakek ini sama dengan kera raksasa saat dalam wujud manusia.
"Apakah wujud manusia dari kera raksasa yang membawa lari Rengganis itu, sebenarnya manusia setengah kera ?" kata Puguh dalam hati, "Sayangnya aku tidak tahu namanya !"
"Anak muda dari bangsa manusia, selamat datang di hutan tempat tinggal kami, bangsa manusia setengah kera," kata manusia setengah kera yang paling tua dan sepertinya sebagai pemimpin suku, "Kalau orangtua ini boleh tahu, apakah kau manusia yang datang dari tanah seberang ?"
Puguh yang kembali dikejutkan dengan lembutnya tutur kata pemimpin suku manusia setengah kera ini, sejenak terdiam.
"Benar kakek. Aku berasal dari suatu negeri yang berada di tanah Jawadwipa," jawab Puguh sambil menatap tajam kakek pemimpin suku ini.
"Aahhh ... Jawadwipa ya. Tempat yang sangat jauh," kata kakek kepala suku itu.
"Siapa namamu dan ada tujuan apa engkau datang ke Negeri Tanah Dewa ini anak muda ?" lanjut kakek tua itu bertanya.
"Namaku Puguh. Aku tidak berniat sama sekali untuk datang ke tempat ini. Aku sedang bertarung melawan siluman kera raksasa. Saat terjadi ledakan karena adu pukulan, tiba tiba saja aku sudah berada di sini !" jawab Puguh.
"Aahhh ... Jagad Dewa Bathara. Sepertinya engkau memang dikirim ke sini oleh Dewa, untuk menolong kami !" kata kakek tua pemimpin suku dengan mata yang berkilat berbinar binar seolah mendapatkan harapan.
"Anak muda ... Aahhh ... Puguh. Kami mengundangmu untuk bertamu ke kampung kami. Kuharap engkau bersedia menerima undangan kami !" kata kakek tua itu.
"Apa maksud kakek mengundang aku ?" tanya Puguh.
"Nanti saja kita bicarakan di rumah," jawab kakek tua itu.
Kemudian kakek tua pemimpin suku dari bangsa manusia setengah kera memerintahkan anggota sukunya untuk pulang kembali ke perkampungan, karena mereka ada tamu, seorang kesatria dari tanah seberang.
__ADS_1
----- * -----
Sementara itu, di suatu negeri di Tanah Jawadwipa, tempat yang sangat jauh dari tempat Puguh sekarang ini.
Dalam ledakan karena benturan pukulan antara Puguh dan siluman kera raksasa, Rengganis yang disembunyikan oleh resi Baruna di dalam rongga batang pohon, terjebak sendirian di dalam selubung pelindung yang dibuat Puguh, hanya ditemani oleh sebuah pohon besar.
Selama di dalam selubung pelindung itu, tanpa disadarinya, Rengganis tidak merasakan lapar dan haus.
Awalnya Rengganis hanya duduk diam saja, menunggu pertolongan. Namun sehari kemudian dua hari, tetap tidak ada siapapun yang muncul untuk menolongnya.
Akhirnya, untuk mengisi waktu dan untuk mengusir kebosanan, Rengganis mulai melemaskan otot otot seluruh tubuhnya, dengan melatih ilmu silatnya.
Tanpa terasa, beberapa hari dilewati Rengganis dengan terus berlatih. Seperti halnya hari ini, pagi pagi sekali, Rengganis sudah berlatih dan mengulang ulang gerakan ilmu silatnya.
Kemudian, untuk menghilangkan rasa lelahnya, seperti biasanya, Rengganis duduk bersila di dekat pokok pohon besar itu.
Namun kali ini, saat baru saja Rengganis tenggelam dalam semedinya, tiba tiba terdengar suara perempuan yang seperti berbicara dengannya.
Entah kenapa, mendengar suara itu, Rengganis langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh suara itu.
Pada awal awal melakukan olah pernafasan yang diajarkan oleh suara itu, Rengganis merasakan kesulitan. Namun, setelah mengulang hingga beberapa kali, Rengganis mulai merasakan ada perbedaan pada kondisi tubuhnya.
Peredaran darahnya menjadi lebih lancar. Badannya terasa lebih segar. Pikirannya pun terasa lebih jernih.
Dan yang membuat Rengganis merasa lebih bersemangat adalah, tenaga dalamnya bisa lebih banyak lagi dia simpan.
Bahkan pada hari berikutnya lagi, saat hendak duduk dan kembali beristirahat, Rengganis kembali mendengar suara perempuan berbicara padanya.
"Coba sekarang kau beristirahat dengan menggantungkan tubuhmu pada dahan, dengan cara mengaitkan kakimu pada dahan !" kata suara perempuan itu.
Tanpa berpikir panjang, Rengganis langsung melompat ke sebuah dahan pohon besar, yang cukup kecil namun tetap kuat menahan tubuh Rengganis.
__ADS_1
Kemudian Rengganis mengaitkan kedua kakinya pada dahan itu dengan kedua tangan terlipat didepan dadanya.
Hingga beberapa waktu, bersemedi dengan badan menggantung belum Rengganis rasakan hasilnya.
Namun, saat menjelang sore, Rengganis mulai merasakan panas di seluruh tubuhnya.
Kemudian, saat panas tubuhnya belum juga reda, Rengganis mulai merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Badannya terasa gemetar. Setelah beberapa saat, Rengganis merasa ada yang meledak di bagian bagian tertentu tubuhnya.
Di setiap bagian tubuhnya yang meledak, rasa panas itu perlahan menghilang. Hingga akhirnya seluruh rasa panas di tubuhnya, lenyap.
Pada saat itulah, Rengganis merasakan, sebagian dari syaraf syaraf kecil di seluruh tubuhnya mulai terbuka. Membuat tubuhnya bisa menyerap dan menyimpan tenaga dalam lebih lama lagi.
Akhirnya, setelah semalam suntuk Rengganis melakukan semedi dengan tubuh menggantung terbalik, pada pagi harinya, Rengganis merasakan tubuhnya sangat ringan. Dengan menotolkan kakinya sedikit saja, tubuhnya menjadi bisa bergerak dengan lebih cepat. Pandangan matanya lebih tajam, bahkan penglihatan jarak jauhnya bisa lebih jelas lagi.
Rengganis pun menghentikan latihannya. Dirasakan, tingkat tenaga dalamnya meningkat. Pada saat itulah, Rengganis terpikir untuk bertanya pada suara perempuan itu.
"Bibi, terimakasih atas bimbingannya beberapa hari ini. Kalau boleh tahu, siapakah bibi ini sebenarnya ?" tanya Rengganis.
"Aku tidak mau dipanggil bibi ! Panggil aku ibu ! Dasar bocah ayu yang bodoh ! Jadi selama ini kamu tidak merasakan keberadaanku !" jawab suara perempuan itu.
"Aku memang terlalu bodoh dan terlalu lemah untuk mengetahui itu semua, bi ... Eh ibu," kata Rengganis lagi.
"Naahhh ... begitu !" kata suara perempuan itu terdengar senang dipanggil ibu.
"Aku adalah pohon besar ini. Akulah ibu pohon, yang selama ini menaungi dan menjaga daerah sekitar sini." jawab suara perempuan itu lagi, "Namaku sebenarnya adalah Dyah Astari."
"Kenapa ibu berwujud pohon besar ?" tanya Rengganis.
Kemudian, Dyah Astari menceritakan, kalau sebenarnya dia adalah salah satu dewi kehidupan yang sudah diturunkan ke bumi untuk menjaga kehidupan.
Akhirnya, tanpa terasa, mereka berdua saling bercerita. Pada kesempatan itu, Dyah Astari mengatakan, kalau dia mulai besok akan membantu Rengganis meningkatkan kemampuannya.
__ADS_1
__________ ◇ __________