Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kala Soca dan Kala Dupa


__ADS_3

Rengganis baru saja selesai bercerita, saat tiba tiba dari arah atas melesat turun secarik sinar merah yang membawa getaran kekuatan yang sangat tinggi, yang dengan cepat tiba di tanah dan menimbulkan suara dentuman yang keras dan kepulan debu.


Dbaaammm !


Dari kepulan debu itu terdengar suara disertai keluarnya dua sosok tubuh yang sangat pendek dan bulat.


"Kwa kwa kwa ! Ternyata ada juga manusia yang berani menginjakkan kaki di tanah ini !" teriak salah satu sosok pendek itu.


Baru saja suara itu berhenti, dua tubuh pendek itu sudah melesat dengan sangat cepat, melayang ke arah Puguh dan Rengganis.


"Lekas, turun kalìan !" teriak sosok pendek yang satunya.


Tubuh mereka berdua yang pendek dan bulat, membuat tubuh mereka seperti sebuah bola yang melayang.


Saat sudah dekat dengan Puguh dan Rengganis, dari kedua tubuh bulat itu, dengan sangat cepat, keluar tangan dan kaki yang langsung memberikan beberapa tendangan ataupun pukulan.


Begitu cepatnya gerakan mereka, membuat Puguh dan Rengganis tidak sempat untuk menghindar.


Puguh dan Rengganis memutar kedua tangan mereka untuk menangkis.


Plak ! Plak ! Plak ! Plak !


Jdaaammm ! Jdaaammm !


Begitu kuatnya serangan kedua manusia pendek bulat itu, membuat tubuh Puguh dan Rengganis terdorong mundur hingga melewati bibir tebing. Namun, kedua manusia pendek bulat itu terus merangsek dan mendorong mereka berdua.


Karena kekuatan tenaga dalamnya yang belum pulih, membuat tubuh Rengganis terus terdorong dan meluncur turun dengan sangat cepat. Sesaat kemudian, terdengar suara tubuhnya tercebur di air laut yang langsung bersentuhan dengan dinding tebing. Namun, suara tubuh tercebur ke air laut itu, segera tertutup oleh suara deburan ombak yang menghantam dinding tebing, yang terlihat tinggi menjulang.


Sementara itu, Puguh, begitu tubuhnya terdorong hingga sampai di atas lautan di samping tebing, segera bersiap siaga dalam posisi melayang.


Namun, dalam keadaan terkejut, Puguh berteriak dan segera melesat ke bawah, saat melihat tubuh Rengganis ditelan ombak lautan yang susul menyusul menghantam dinding tebing, diikuti oleh dua tubuh pendek bulat yang juga ikut masuk ke dalam air laut.


"Adik Rengganis !" teriak Puguh.


Puguh segera terjun ke dalam air laut yang bergejolak. Dengan tingkat tenaga dalamnya yang sudah sangat tinggi, Puguh bisa menyelam ke dalam air laut hingga cukup dalam. Dan dengan matanya yang terlatih melihat dalam pencahayaan yang sangat minim, Puguh memperhatikan sekitarnya.

__ADS_1


Namun, walaupun telah beberapa kali memeriksa dinding tebing yang terkena air laut hingga ke dasar pantai, Puguh tidak menemukan Rengganis dan dua sosok pendek bulat yang tadi ikut masuk ke dalam air.


Sementara itu, bersamaan waktunya dengan saat Puguh menyelam di dasar pantai. Di atas tebing, kembali melesat turun dengan sangat cepat, dua buah bola sinar kuning kemerahan yang kemudian mendarat di dekat tempat Puguh dan Rengganis tadi berdiri.


Turunnya dua buah bola sinar kuning kemerahan itu juga menimbulkan suara ledakan keras.


Dbaaannnggg ! Dbaaannnggg !


Sesaat kemudian, terlihat dua sosok makhluk raksasa yang tingginya dua kali tubuh manusia dewasa. Dari tubuh dua makhluk raksasa itu merembes keluar, getaran kekuatan yang tingkatnya sudah sangat tinggi.


"Grrwww ! Kala Soca ! Bukankah dua manusia cebol tadi lewat sini ?" tanya salah satu makhluk raksasa.


"Grrwww ! Tapi getaran tenaga dalamnya tidak terasa sama sekali, Kala Dupa!" jawab makhluk raksasa yang satunya lagi.


Kemudian, kedua makhluk raksasa itu berjalan mendekati bibir tebing. Selama beberapa saat, mereka menatap ke arah air laut yang ombaknya tiada henti menghantam dinding tebing.


Setelah beberapa lama kedua makhluk raksasa itu mengamati sekitaran pantai dan tidak menemukan sesuatu yang mereka cari, kedua makhluk raksasa itu kembali mundur.


"Grrwww ! Kita cari ke arah perbukitan. Mungkin mereka berhenti di sana !" kata salah satu makhluk raksasa itu.


"Grrwww ! Biarkan saja mereka. Bisa kita urus lain waktu ! Ayo kita lakukan permintaan Kala Rekta !" sahut makhluk raksasa yang satunya lagi.


Bersamaan dengan melesatnya dua makhluk raksasa itu ke atas, Puguh keluar dari dalam air laut dan langsung melayang ke atas tebing lagi.


Begitu mendarat di tebing, Puguh merasakan adanya getaran kekuatan yang sangat tinggi, menjauhi tempar Puguh berdiri dengan gerakan yang sangat cepat.


"Apakah getaran kekuatan itu yang tadi mendorong adik Rengganis terjun ke air laut ? Apa mau mereka ?" kata Puguh dalam hati sambil menatap ke arah perginya dua makhluk raksasa.


Sesaat kemudian, Puguh melesat ke atas dan mengejar getaran kekuatan yang tadi sempat dia tangkap getarannya.


Puguh terus saja mengejar dua getaran kekuatan yang juga terus bergerak menjauh itu. Tanpa terasa, mereka sudah berlari hingga semakin menjauh dari pesisir.


Sampai beberapa waktu, Puguh belum bisa memperpendek jarak. Maka Puguh pun semakin menambah kecepatannya.


Hingga setelah mengejar hampir selama seharian, saat menjelang sore, Puguh tiba di dataran yang sangat luas.

__ADS_1


Puguh melihat, dataran luas di depannya itu sangat aneh. Seluruh arah memandang, langit dan permukaan udara daerah itu, berwarna kuning kemerahan dan berkabut pekat. Bahkan bisa dikatakan, cahaya matahari ataupun yang sinar lampu, tidak bisa masuk ke daerah itu.


Hampir seluruh permukaan tanah di dataran itu, berair dan mengeluarkan asap, sehingga seperti berkabut. Walaupun tanahnya berair, namun tidak ada tanaman yang tumbuh di daerah itu. Hanya ada beberapa pohon yang berdiri, namun seluruh batang dan rantingnya berwarna hitam pekat dan tidak berdaun.


Tanpa Puguh sadari, dirinya sampai di suatu daerah yang bernama Rawa Jingga, daerah kekuasaan Nyi Riwut Parijatha dan Kala Rekta suaminya.


Walaupun Rawa Jingga terlihat sunyi dan hanya ada Nyi Riwut Parijatha dan Kala Rekta, namun, di dunia sebaliknya, di alam siluman, tempat itu merupakan perkampungan atau bahkan kerajaan siluman.


Tepat di perbatasan Rawa Jingga, Puguh menghentikan larinya.


"Sepertinya daerah ini merupakan daerah kekuasaan siluman. Sudah kuduga, dua sosok yang melesat seperti bola sinar tadi adalah siluman !" kata Puguh dalam hati.


"Apa mungkin Rengganis ditangkap oleh dua siluman tadi ? Aku harus hati hati, karena di seluruh daerah ini, kekuatan siluman lebih mendominasi dibandingkan dengan kekuatan manusia !" sambung Puguh dalam hati.


Perlahan Puguh mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat yang bisa dia lihat, berusaha mempelajari keadaan daerah itu.


Tiba tiba, dari arah tengah tengah wilayah Rawa Jingga itu, melesat sebuah bayangan manusia. Yang setelah cukup dekat, membuat Puguh sedikit terkejut.


"Bukankah itu Nyi Riwut Parijatha, kakak Ki Dahana Yaksa ?" gumam Puguh pelan.


"Anak muda, kenapa kau malah datang ke sini ? Lekas pergi jauh dari tempat ini. Jangan sekali kali kau berurusan dengan penghuni wilayah ini !" kata Nyi Riwut Parijatha yang juga terkejut, ternyata manusia yang mendekati wilayah Rawa Jingga adalah Puguh.


"Maaf Nyi, kalau kedatanganku telah mengganggu ketenangan daerah ini ! Aku hanya mencari Rengganis temanku yang sepertinya ditangkap dan dibawa masuk ke wilayah ini !" jawab Puguh.


"Apa kau melihat sendiri, temanmu itu dibawa masuk kesini ?" tanya Nyi Riwut Parijatha.


"Tidak Nyi, aku hanya mengejar dua getaran kekuatan yang akhirnya masuk ke wilayah ini," jawab Puguh.


"Cepatlah pergi dan jangan pernah mendekati tempat ini. Temanmu tidak ada di sini. Akulah satu satunya manusia yang menghuni wilayah ini, sehingga aku bisa merasakan apabila ada manusia lain yang mendekati tempat ini !" kata Nyi Riwut Parijatha sambil tangan kanannya membuat gerakan seperti orang mengusir.


"Tapi Nyi, temanku ... " kata Puguh mencoba bertahan.


"Percayalah padaku, temanmu tidak ada disini ! Jangan membuatku repot nantinya ! Sekarang pergilah sebelum semuanya terlambat !" sahut Nyi Riwut Parijatha dengan suara tegas.


Mendengar perkataan Nyi Riwut, Puguh tidak bisa memaksa lagi. Akhirnya Puguh pergi menjauhi wilayah itu dengan rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


"Maafkan aku anak muda. Aku tidak dendam padamu dan aku ingin memutus rantai dendam dalam diri suamiku, dengan membuat suamiku tidak pernah bertemu denganmu. Aku hanya ingin hidup tenang di wilayah ini !" kata Nyi Riwut Parijatha sangat pelan setelah bayangan tubuh Puguh hilang dari pendangannya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2