
Serangan mendadak dengan tebasan pedang yang dilakukan oleh Ki Dahana Yaksa dengan kekuatan penuh itu, menghantam punggung Puguh dan menimbulkan suara ledakan yang sangat keras serta membuat tubuh Puguh terlempar cukup jauh, hingga meluncur turun dan jatuh ke tanah.
Dbuuummm !
Puguh merasakan sedikit perih di punggungnya. Puguh yang tidak mengira akan mendapatkan serangan dari belakang, segera bangkit.
Tetapi, baru saja Puguh berdiri, Ki Dahana Yaksa telah kembali menyerangnya dengan tebasan pedang.
Karena belum bisa menyerap kekuatan siluman elang, dalam perasaan terkejutnya, Puguh menangkis serangan Ki Dahana Yaksa dengan menebaskan secara melintangkan pedang yang mengandung tenaga dalam penuh di atas kepalanya. Kemudian disusul dengan tebasan melintang ke bawah sambil memutar balik tubuhnya. Lalu disusul lagi dengan tendangan kaki kiri yang tepat mengenai perut Ki Dahana Yaksa.
Jdaaammm !
Sraaakkk ! Bruuaaakkk !
Terkena sabetan pedang dan tendangan Puguh yang mengandung tenaga dalam penuh, tubuh Ki Dahana Yaksa terlempar hingga beberapa langkah memudian terjatuh ke tanah dalam posisi terlentang.
Debu mengepul di tempat Puguh berdiri dan tempat Ki Dahana Yaksa terjatuh. Terlihat, bahu kanan dan dada Ki Dahana Yaksa terkoyak dan mengeluarkan banyak darah. Mulutnya juga dipenuhi darah hingga mengalir di kedua sudut bibirnya. Tidak terlihat lagi gerakan tubuh Ki Dahana Yaksa.
Sesaat, suasana halaman depan istana Kerajaan Banjaran Pura menjadi senyap.
Setelah kepulan debu itu menghilang, terlihat Puguh berdiri tegak di tengah tengah tempat bertarung, dengan tangan kanan menggenggam gagang pedang yang bilahnya berlumuran darah.
Melihat hal itu, Prabu Pandu Kawiswara yang diikuti oleh Senopati Cakrayuda dan Senopati Wiraga segera melesat ke tengah tengah halaman depan istana.
"Prabu Girindra Nata ! Sebagai raja dari kerajaan yang sangat besar dan terhormat, tentunya Paduka tidak akan menjilat ludah sendiri. Pertarungan sudah usai. Wakil dari kerajaan kami yang memenangkan pertarungan. Kami minta Prabu Girindra Nata menarik kembali pasukan perang !" kata Prabu Pandu Kawiswara.
"Prabu Pandu Kawiswara, karena kami telah kalah, akan aku tarik pulang seluruh pasukan perang Kerajaan Kisma Pura !" jawab Prabu Girindra Nata yang kemudian langsung memerintahkan seluruh pasukan armada perangnya pulang kembali ke Kerajaan Kisma Pura.
Setelah seluruh pasukan dari Kerajaan Kisma Pura pergi jauh, tiba tiba tubuh Puguh terjatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri.
Melihat hal itu, Rengganis dan Resi Wismaya serta Dewi Laksita segera melesat mendekat.
__ADS_1
"Kakang Puguh !" teriak Rengganis.
"Para pendekar yang terhormat ! Harap percayakan Puguh pada tabib tabib Kerajaan Banjaran Pura. Sebagai bentuk terimakasih pihak kerajaan, kami akan merawat Puguh agar pulih secepatnya !" kata Prabu Pandu Kawiswara.
Mendengar titah raja itu, Rengganis, Resi Wismaya dan Dewi Laksita menjadi terdiam.
Sementara itu, Senopati Roro Nastiti bersama tim tabibnya, sudah bergerak cepat memberikan pertolongan pada Puguh, dan membawanya ke ruang pengobatan.
----- * -----
Sementara itu di tempat lain, yang sudah tidak masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Banjaran Pura ataupun Kerajaan Kisma Pura. Di dalam bangunan yang cukup besar di tengah hutan.
"Topeng Seta ! Yakinkah kau dengan yang kau ceritakan itu ?" tanya seorang laki laki paruh baya yang bertubuh tinggi kurus dengan pakaian serba hitam, tetapi memakai topeng berwarna putih pucat.
Laki laki yang duduk di sebuah kursi itu adalah Topeng Kawung, pemimpin tertinggi dari sebuah perguruan silat sekaligus sebuah sekte yang bernama Perguruan Topeng Klika.
Perguruan Topeng Klika, walaupun sebuah perguruan silat, namun hanya memiliki anak murid sedikit, karena memiliki syarat yang sangat sulit untuk menjadi murid di Perguruan Topeng Klika.
"Sangat yakin Guru. Karena saya dan adi Topeng Jenar menyaksikan sendiri. Anak muda itu bertarung melawan Ki Dahana Yaksa dengan menggunakan pedang peninggalan Pendekar Pengendara Elang, dan memasukkan siluman elang ke dalam pedangnya !" jawab Topeng Seta.
"Baik Guru. Semua sudah aku dan adi Topeng Jenar persiapkan !" jawab Topeng Seta lagi.
Topeng Seta dan Topeng Jenar adalah dua dari beberapa orang yang menyusup ke dalam rombongan Prabu Girindra Nata, saat memasuki Kerajaan Banjaran Pura.
Mereka berdua dan beberapa orang yang tidak saling kenal lainnya yang entah berasal dari nageri mana atau perguruan apa, diam diam datang ke Kerajaan Banjaran Pura, setelah mendengar desas desus munculnya senjata pedang dan siluman elang milik Pendekar Penunggang Elang, yang semasa hidupnya malang melintang di dunia persilatan, tiada tandingan sampai dengan Pendekar Pendekar Elang tiba tiba menghilang dan tidak pernah muncul lagi di dunia persilatan.
Sudah beberapa ratus tahun sejak menghilangnya Pendekar Penunggang Elang, para pendekar dan tokoh tokoh dunia persilatan diam diam berusaha mencari dan memburu senjata dan ilmu silat peninggalan Pendekar Penunggang Elang.
Banyak tokoh tokoh persilatan yang mempercayai, jika dapat mewarisi ilmu ilmu dari Pendekar Penunggang Elang, akan menjadi pendekar yang tiada tandingan.
----- * -----
__ADS_1
Di istana Kerajaan Banjaran Pura, Puguh dirawat oleh Senopati Roro Nastiti sendiri yang dibantu oleh Ki Bhanujiwo gurunya.
Sejak terjadinya pertarungan itu, cara pandang Senopati Roro Nastiti kepada Puguh langsung berubah. Senopati Roro Nastiti menjadi segan dan sangat menghormati Puguh, sejak melihat sendiri kemampuan dan kesaktian Puguh.
Hingga dua hari, Puguh masih belum sadar bahkan getaran tenaga dalamnya pun tidak bisa dirasakan. Hingga kemudian datang tokoh tokoh persilatan yang masih berada di istana Kerajaan Banjaran Pura, seperti Ki Dwijo, Resi Wismaya serta Dewi Laksita. Rengganis yang sangat mengkhawatirkan Puguh, selalu berada di dekat Puguh.
Ki Dwijo dan Resi Wismaya yang cukup akrab, sengaja datang ke istana untuk melihat keadaan Puguh.
"Resi Wismaya, hawa dingin yang keluar dari bilah pedang milik Puguh, mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan. Kenapa kali ini tidak terjadi pada Puguh ?" kata Ki Dwijo.
"Ki Dwijo, kalau bisa, kita pinjam sebentar pedang itu, kita lihat keadaan pedang itu, siapa tahu ada kaitannya dengan kondisi Puguh," kata Resi Wismaya memberi saran.
Kemudian, Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Dewi Laksita mencoba memeriksa pedang yang selama Puguh tidak sadarkan diri, selalu disimpan oleh Rengganis.
Pedang itu tidak mengeluarkan hawa dingin, saat dikeluarkan dari sarungnya. Bahkan saat Ki Dwijo dan Resi Wismaya mencoba mengalirkan tenaga dalam ke pedang itu, tenaga dalam mereka amblas seperti batu yang dimasukkan ke dalam lubang yang sangat dalam.
Hingga kemudian, Rengganis memberanikan diri untuk menceritakan apa yang dilihatnya.
"Para guru semua, saat terjadi serangan mendadak oleh Ki Dahana Yaksa, kakang Puguh sedang mengerahkan kekuatannya untuk mengendalikan siluman elang yang sudah bisa ditarik dari tubuh Ki Dahana Yaksa. Apa mungkin itu yang membuat kakang Puguh tidak sadarkan diri ?" kata Rengganis.
"Tetapi, kenapa Puguh masih sempat mengakhiri perlawanan Ki Dahana Yaksa dengan kekuatan dan tenaga dalamnya sendiri ?" jawab Ki Dwijo.
"Aahhh, apa mungkin Puguh sebenarnya tidak terluka dan bukan tidak sadarkan diri ?" sahut Resi Wismaya.
"Rengganis, apakah siluman serigala mata biru masih bersamamu ?" tanya Resi Wismaya lagi.
"Masih guru," jawab Rengganis.
"Kira kira, apakah kau mampu mengendalikan siluman serigala mata biru ?" tanya Resi Wismaya lagi.
"Demi kembalinya kakang Puguh, Rengganis akan melakukan apa saja, guru. Termasuk mengendalikan siluman serigala mata biru !" jawab Rengganis.
__ADS_1
"Heehhh he he he he ! Bagus cah ayu ! Ayo kita coba cara lain, yang kemungkinan hanya kamu yang bisa melakukannya !" kata Resi Wismaya.
__________ ◇ __________