
Sesaat setelah keluar dari istana Kerajaan Banjaran Pura, Dewi Laksita menanyakan arah tujuan yang akan mereka tempuh.
"Putri Cinde Puspita, menginginkan kita melakukan perjalanan ke arah mana ?" tanya Dewi Laksita.
"Guru, sebenarnya aku sangat ingin bertemu dengan Puguh," jawab Putri Cinde Puspita.
"Baiklah. Sambil menuju ke perbatasan kerajaan, kita mendengar berita perkembangan dunia persilatan dulu !" kata Dewi Puspita.
Kemudian, sesampai di daerah perbatasan, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita yang sudah mengenakan pakaian biasa hingga tidak mudah dikenali orang, memasuki sebuah rumah makan yang biasa menjadi tempat berkumpul para pendekar pengelana ataupun para saudagar dan pedagang.
Setelah beberapa lama di rumah makan itu, mereka berdua mendengar berita kalau banyak pendekar yang pergi ke Kerajaan Kisma Pura karena berebut sebuah pusaka.
Maka Dewi Laksita mengajak Putri Cinde Puspita menuju ke Kerajaan Kisma Pura, siapa tahu nantinya di sana bisa bertemu dengan Puguh.
Akhirnya, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, mereka berdua melintasi Hutan Perbatasan menuju ke Kerajaan Kisma Pura.
Karena Dewi Laksita sudah beberapa kali memasuki Hutan Perbatasan, apalagi menuju ke negerinya sendiri, sehingga Dewi Laksita hafal tempat tempat mana yang aman untuk dilewati.
----- * -----
Pada pagi berikutnya, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita yang sudah jauh masuk ke wilayah Kerajaan Kisma Pura tiba di suatu daerah perbukitan padas yang sangat gersang bahkan bisa dikatakan tidak ada tumbuhan yang hidup di daerah itu. Udara di perbukitan padas itu berbau menyengat, bahkan airnya saja terasa cukup panas dan juga berbau menyengat.
Saat tiba di suatu tempat yang cukup luas, Dewi Laksita bertemu dengan Rengganis yang anehnya, tidak bersama sama dengan Puguh namun justru bersama dengan Wiku Polobogo dan Mahawiku Nuraga.
Dewi Laksita yang sangat paham dengan kedua biksu itu segera menemui Rengganis.
"Rengganis, dimana Puguh ?" tanya Dewi Laksita.
Mendengar pertanyaan Dewi Laksita, sambil sedikit heran, Rengganis pun menjawab, "Bibi Dewi Laksita, kenapa bibi masih mencari kakang Puguh yang berdiri di depan bibi ?"
Baru saja perkataan Rengganis selesai, Dewi Laksita sudah bersikap siaga sambil menatap tajam kedua biksu yang berdiri disamping Rengganis.
"Biksu jahat ! Lepaskan gadis itu ! Atau terpaksa aku akan menggempur kalian berdua !" kata Dewi Laksita.
"Heehhh he he he ! Dewi Laksita, pergilah, jangan turut campur urusan kami !" jawab Resi Polobogo.
"Heehhh ! Aku tahu siapa kalian ! Lepaskan gadis itu, atau terpaksa kugempur kalian !" kata Dewi Laksita.
"Dia yang dengan suka rela bersama dengan kami ! Kalau tidak percaya, tanyakan sendiri pada gadis itu !" jawab Wiku Polobogo.
"Rengganis, kamu bersama bibi saja. Ayo kita cari Puguh !" kata Dewi Laksita pada Rengganis.
"Maaf bibi Dewi Laksita, aku bersama kakang Puguh saja," jawab Rengganis.
__ADS_1
Mendengar jawaban Rengganis, sontak Dewi Laksita menatap tajam wajah Wiku Polobogo dan Mahawiku Nuraga.
"Kalian telah memberi sihir pada gadis itu ! Terpaksa aku akan menghajar kalian !" kata Dewi Laksita yang kemudian melesat ke arah Mahawiku Nuraga yang diketahui Dewi Laksita memiliki ilmu kesaktian yang lebih tinggi dari Wiku Polobogo.
Namun, saat serangannya hampir mengenai Mahawiku Nuraga yang tetap terdiam sambil tersenyum, tiba tiba Rengganis melesat menangkis serangan Dewi Laksita.
Plaaakkk !
"Bibi Dewi Laksita, apa yang kau lakukan ? Kenapa kau serang kakang Puguh ?" teriak Rengganis yang sudah berdiri di depan Mahawiku Nuraga.
"Nduk Rengganis, sadarlah ! Dia bukan Puguh. Dia adalah biksu jahat yang hanya akan memperalat kamu !" kata Dewi Laksita.
"Bibi tidak boleh mengatakan begitu pada kakang Puguh !" sahut Rengganis.
Sesaat Dewi Laksita terdiam. Melihat keadaan Rengganis, dia masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Tidak mungkin dia menyerang Rengganis.
"Guru, untuk sementara, biar Rengganis aku yang menahan. Guru bisa menyerang mereka berdua dulu !" kata Putri Cinde Puspita tiba tiba memberi saran.
Dewi Laksita sadar, sebenarnya apa yang diucapkan oleh Putri Cinde Puspita merupakan cara yang terbaik.
Namun Dewi Puspita menyadari, kemampuan Putri Cinde Puspita masih belum matang, sehingga belum mampu untuk menahan Rengganis.
Saat Dewi Laksita masih mempertimbangkan apa yang terbaik yang akan dilakukannya, tiba tiba Putri Cinde Puspita sudah melesat ke arah Rengganis sambil berteriak.
Melihat apa yang dilakukan oleh Putri Cinde Puspita muridnya, sejenak Dewi Laksita terkejut. Namun semua sudah terlanjur, akhirnya Dewi Laksita segera melesat menerjang Mahawiku Nuraga.
"Biksu jahat ! Bebaskan gadia itu dari sihir kalian !" ucap Dewi Laksita sambil melakukan serangan.
Karena menyadari kedua lawannya mempunyai kesaktian dan tenaga dalam yang sangat tinggi, Dewi Laksita pun langsung mengeluarkan senjatanya yaitu dua buah dwisula bergagang agak panjang.
Kemudian dengan sangat cepat kedua senjata dwisulanya mencecarkan tusukan berulang ulang ke beberapa bagian tubuh Mahawiku Nuraga.
Melihat serangan yang sangat berbahaya, Mahawiku Nuraga memutar tongkatnya untuk menghalau senjata dwisula yang mengarah ke tubuhnya.
Sesaat kemudian terdengar benturan senjata berkali kali.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
"Nenek tua ! Jangan kau ikut campur urusanku !" teriak Wiku Polobogo sambil melesat ikut menghadang serangan Dewi Laksita.
Sementara itu, Rengganis yang melihat serangan Dewi Laksita, segera dihadang oleh Putri Cinde Puspita, saat akan menangkis serangan.
"Aku tahu kau Putri Cinde Puspita. Apakah kau juga akan merebut kakang Puguh dari sisiku, Putri ?" tanya Rengganis sambil menghunus senjata pedangnya.
__ADS_1
"Buka matamu lebar lebar Rengganis ! Dia bukan Puguh !" sahut Putri Cinde Puspita.
"Pergilah ! Menjauhlah dari kakang Puguh !" ucap Rengganis sambil menerjang Putri Cinde Puspita dengan tusukan tusukan dan sabetan senjata pedangnya.
Putri Cinde Puspita yang sudah mengetahui kesaktian Rengganis, segera mengeluarkan senjata dwisulanya untuk pertarungan sesungguhnya yang pertama.
Walaupun senjata dwisula ditangan Putri Cinde Puspita hanya kecil, namun merupakan salah satu pusaka Kerajaan Banjaran Pura. Karena terbuat dari logam khusus yang bisa membuat tenaga dalam yang dialirkan ke dalamnya menjadi berlipat.
Benturan senjata pedang dengan senjata dwisula terjadi berkali kali dan menimbulkan suara berdentangan yang cukup keras.
Tang trang ! Tang trang ! Trang !
Dua puluh jurus berlalu. Pertarungan yang terjadi semakin meningkat ke dalam tingkat yang lebih tinggi lagi.
Bahkan kemudian muncul suara dengungan, saat tenaga dalam tingkat sangat tinggi mengaliri senjata dwisula di tangan Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita.
Diluar perkiraan semua orang yang bertarung, timbulnya suara dengungan itu menimbulkan pengaruh pada Rengganis.
Sesaat setelah mendengar suara dengungan, Rengganis merasakan sakit di kepalanya. Untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya, Rengganis berteriak dan kemudian bergerak lebih cepat lagi dan menyerang Putri Cinde Puspita secara brutal.
"Aarrrccchhh ! Kau sudah menyakitiku ! Aku balas kau !" teriak Rengganis.
Gerakan Rengganis yang bertambah cepat membuat Putri Cinde Puspita yang tidak berniat melukai Rengganis, sedikit kewalahan.
Setelah pertarungan berjalan sekitar enam puluh jurus, sedikit demi sedikit Putri Cinde Puspita terdesak.
Sementara itu, Dewi Laksita yang juga sudah terdesak karena menghadapi dua lawan berkekuatan sangat tinggi yang tingkatannya tidak berselisih banyak dengannya, sudah mulai mendapatkan beberapa luka.
Namun Dewi Laksita masih menyempatkan diri untuk memperhatikan pertarungan Putri Cinde Puspita.
"Putri Cinde, alirkan lebih banyak lagi tenaga dalammu ke dalam senjatamu !" teriak Dewi Laksita yang juga mulai mengalirkan lebih banyak tenaga dalam ke kedua senjata dwisulanya.
Sesaat kemudian, terdengar suara dentangan yang lebih keras lagi. Suara dentangan itu semakin membuat kepala Rengganis sakit dan mengacaukan gerakannya, hingga menjadi lebih liar dan semakin berbahaya.
Selain itu, suara dentangan dari dua senjata dwisulanya, diam diam juga mulai mempengaruhi syaraf syaraf Wiku Polobogo dan Mahawiku Nuraga. Gerakan mereka menjadi sedikit melambat dan kaku.
Menyadari hal itu, sambil terus bergerak menyerang, Mahawiku Nuraga mulai mengeraskan suaranya dalam membaca mantera manteranya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Mahawiku Nuraga, Wiku Polobogo pun mulai melakukan hal serupa.
Hingga akhirnya tidak hanya terjadi pertarungan dengan menggunakan senjata dan tenaga dalam namun juga mulai terjadi pertarungan menggunakan gelombang suara untuk saling mempengaruhi gerakan lawan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1