
Beberapa hari sebelumnya di tempat yang jauh dari tempat Puguh bertarung, setelah keluar dari istana Kerajaan Banjaran Pura, Resi Wismaya yang ditemani oleh Ki Dwijo, memutuskan untuk mengembara. Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari hingga akhirnya mereka berdua masuk ke wilayah Kerajaan Kisma Pura. Mereka berdua berniat berkunjung ke sebuah bukit tempat berdirinya Istana Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Di tempat itu, Resi Wismaya dan Ki Dwijo berniat menanyakan pada sahabatnya, Iswara Dhatu, mengenai kabar berita yang mereka dengar di sepanjang perjalanan, tentang kehebohan di dunia persilatan.
Setelah bertemu dengan Iswara Dhatu, pemimpin tertinggi Trah Keluarga Asmara Dhatu saat ini, Resi Wismaya dan Ki Dwijo semakin dibuat terkejut dengan berita yang sampaikan oleh Iswara Dhatu.
Kepada keduanya, Iswara Dhatu menceritakan jikalau dirinya sempat bertemu dengan Puguh, yang saat ini sedang mencari Rengganis yang dalam keadaan terkena sihir. Menurut cerita Puguh kepadanya, Rengganis terkena sihir dari Wiku Polobogo dan Mahawiku Nuraga.
Mendengar cerita dari Iswara Dhatu, untuk beberapa saat Resi Wismaya dan Ki Dwijo terdiam.
"Resi Wismaya, bukankah Rengganis seharusnya sudah sangat kuat untuk menghadapi sekedar serangan sihir ?" tanya Ki Dwijo.
"Dengan tingkat tenaga dalam dan kekuatan yang dimilikinya, seharusnya iya. Apalagi dengan menyatunya kekuatan siluman serigala mata biru yang merupakan siluman binatang yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, seharusnya sedikit sekali pendekar yang bisa mengalahkan Rengganis !" jawab Resi Wismaya, "Kecuali terjadi dua hal !"
"Apa itu Resi Wismaya ?" tanya Iswara Dhatu yang ikut mendengarkan penuturan Resi Wismaya.
"Yang pertama, Rengganis dijebak. Dalam arti, lawan memasukkan serangan sihirnya melalui suatu benda seperti senjata jarum atau serbuk apapun. Itupun bisa dilawan dengan menggunakan tenaga dalamnya sendiri andaikata segera menyadari jikalau terkena serangan sihir. Yang kedua, Rengganis belum menguasai secara sempurna tehnik menggabungkan atau menyatukan tiga kekuatan yang dimilikinya. Ingat, selain kekuatan tenaga dalamnya sendiri dan kekuatan siluman serigala mata biru, Rengganis juga memiliki suatu kekuatan istimewa yang jarang dimiliki oleh pendekar, kecuali manusia yang terpilih oleh Dewa. Semakin tinggi tingkat kekuatan, semakin tinggi tingkat kesulitan dalam menyatukannya !" kata Resi Wismaya menjelaskan.
"Atau mungkin dua duanya terjadi secara bersamaan pada diri Rengganis. Karena, pada saat menyatukan kekuatan siluman serigala mata biru dengan kekuatannya, kita belum sempat mengujinya, karena harus segera pergi bersama Puguh. Hal yang sama yang mungkin sekali bisa terjadi pada Puguh, pada penyatuannya dengan kekuatan siluman elang ! Karena penyatuan kekuatan manusia dengan siluman tidak bisa terjalan secara instan !" kata Ki Dwijo sambil matanya menerawang seolah melihat sesuatu yang berada di tempat yang jauh.
"Kita harus segera menemukan kedua anak itu, Resi Wismaya !" sambung Ki Dwijo sambil berdiri dan terlihat risau karena mengkhawatirkan keadaan Puguh dan Rengganis.
"Berdasarkan informasi dari anak anak yang aku sebar untuk mendapatkan berita, Puguh sedang menuju ke Gunung Pedang. Sebaiknya kita langsung menuju ke sana, siapa tahu kita bisa segera menemukan mereka berdua !" kata Iswara Dhatu.
Akhirnya, tanpa menunggu hari berikutnya, Resi Wismaya dan Ki Dwijo dengan ditemani oleh Iswara Dhatu, segera berangkat menuju ke Gunung Pedang, tempat yang menjadi wilayah kekuasaan Padepokan Wukir Candrasa.
Sebelum berangkat, Iswara Dhatu sempat berpesan pada Kartika Dhatu cucunya, untuk menyusulnya ke Gunung Pedang dengan membawa dua puluh anggota pilihanTrah Keluarga Asmara Dhatu yang memiliki kekuatan tingkat tinggi.
__ADS_1
Tidak sampai setengah hari perjalanan, ketiga tokoh senior dunia persilatan itu tiba di kaki Gunung Pedang.
Saat mereka bertiga hendak mendaki lereng Gunung Pedang, mereka bertemu dengan Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita yang terlihat gelisah.
Pada ketiga tokoh tua dunia persilatan yang juga sahabatnya itu, Dewi Laksita menceritakan, kalau selama beberapa hari ini dia dan Putri Cinde Puspita muridnya, selalu menemani Puguh hingga sampai di kaki Gunung Pedang.
Kemudian, sejak kemaren pagi, Puguh naik ke lereng Gunung Pedang menuju ke Padepokan Wukir Candrasa guna mencari Rengganis, namun hingga sekarang Puguh belum turun lagi.
Dewi Laksita baru berencana, jika sampai nanti malam Puguh belum turun, mereka berdua yang akan menyusul Puguh naik.
Akhirnya pada siang itu juga, Resi Wismaya dan Ki Dwijo serta Iswara Dhatu dan juga Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita, melesat dengan sangat cepat menaiki lereng Gunung Pedang menuju ke Padepokan Wukir Candrasa. Sebagai tokoh tokoh persilatan yang sudah memiliki tingkat kekuatan sangat tinggi, mereka dengan melewati pos penjagaan yang isinya murid murid Padepokan Wukir Candrasa tingkat menengah.
Sesampai di pintu gerbang masuk padepokan, mereka berlima mendengar suara suara ledakan dari arah bagian tengah deretan gedung Padepokan Wukir Candrasa. Dengan cepat mereka berlima melewati penjagaan dengan cara melompati tembok benteng.
"Sepertinya ada pertarungan di sana ! Jangan jangan itu Puguh !" kata Dewi Laksita.
Tanpa dikomando, kelima orang itu segera berlari ke arah sumber suara. Dengan mudah mereka berlima menerobos penjagaan, hingga sesaat kemudian, mereka sampai.di tempat pertarungan.
Mereka tiba di tempat pertarungan bertepatan dengan lepasnya siluman serigala mata biru dari tubuh Rengganis.
Ketika melihat ke atas, mereka melihat, Puguh sedang bertarung melawan manusia raksasa yang tingginya hampir dua kali tinggi tubuh manusia dewasa.
Segera saja Resi Wismaya dan Ki Dwijo menerjang ke arah Mahawiku Nuraga yang sedang menarik siluman serigala mata biru dengan cambuk sihirnya.
"Mahawiku Nuraga ! Rupanya kau, biksu jahat yang menjadi biang keladi semua ini !" teriak Resi Wismaya sambil melayangkan serangan. Sedangkan Ki Dwijo sudah menghadang gerakannya dari arah yang lain.
Melihat kemunculan orang orang itu, Mahawiku Nuraga sangat terkejut. Karena dia baru saja berhasil mengeluarkan siluman serigala mata biru dan belum sempat untuk memasukkan ke dalam senjata tongkatnya.
__ADS_1
Maka sambil menghindar, dengan cepat Mahawiku Nuraga menarik masuk siluman serigala mata biru itu ke dalam tubuhnya.
Tanpa menyatukan dulu kekuatan siluman serigala mata biru itu dengan kekuatannya, wujud sosok siluman serigala mata biru itu langsung masuk ke dalam tubuh Mahawiku Nuraga.
Masuknya siluman serigala mata biru yang masih dalam keadaan terikat sihir ke dalam tubuh Mahawiku Nuraga, menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.
Jdaaammm !
Sesaat setelah suara ledakan itu, tubuh Mahawiku Nuraga mengalami perubahan. Kedua bola matanya berubah menjadi berwarna merah dengan lingkaran biru di tengahnya. Daun telinganya meruncing dan tumbuh taring yang cukup panjang di mulutnya. Kedua tangan dan kedua kakinya agak mengecil dan memanjang.
Tepat saat serangan Resi Wismaya datang, dengan perubahan tubuhnya yang sudah selesai, Mahawiku Nuraga mengibaskan tangan kirinya untuk menangkis datangnya pukulan Resi Wismaya.
Plaaakkk !
Dalam benturan pukulan itu, tubuh Resi Wismaya terpelanting hingga beberapa langkah.
"Kekuatan Mahawiku Nuraga meningkat drastis dalam penyatuan tubuh dengan siluman serigala mata biru. Sunggu penggabungan yang berbahaya ! Penggabungan tubuh bisa membuat tubuh dikendalikan sepenuhnya oleh siluman !" kata Resi Wismaya.
Melihat hal itu, Ki Dwijo tidak tinggal diam. Tubuhnya segera melesat ke arah Mahawiku Nuraga dan melakukan serangan pukulan tapak tangan kanan.
Melihat serangan itu, Mahawiku Nuraga kembali memutar tangan kirinya untuk menangkis pukulan Ki Dwijo hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Plaaakkk !
Tangkisan Mahawiku Nuraga membuat tubuh Ki Dwijo terdorong mundur terhuyung huyung hingga beberapa langkah.
"Ki Dwijo, hati hati. Kekuatannya meningkat dengan drastis. Ayo kita hadapi bersama sama !" kata Resi Wismaya.
__ADS_1
Kemudian, sama sama mengeluarkan senjata tongkatnya, Resi Wismaya dan Ki Dwijo mengurung dan memberondong Mahawiku Nuraga dengan serangan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_