
Pada masanya Ki Dwijo, ilmu pukulan Bantala Wreksa tidak ada yang bisa menandingi kecepatannya. Apalagi sekarang dimainkan oleh Puguh dengan tingkat tenaga dalam yang sekarang, yang membuat kecepatan pukulannya bertambah lagi.
Pada jurus jurus awal, Lawang Badra masih bisa menangkis dan menghindari serangan pukulan Puguh, namun, semakin lama kecepatan Puguh semakin bertambah. Membuat Lawang Badra kebingungan untuk menghadapinya.
Baru memasuki sepuluh jurus, pukulan beruntun Puguh mengenai beberapa bagian tubuhnya.
Bukkk bukkk bukkk !
Plak plak !
Desss !
Beberapa kali pukulan Puguh berhasil mengenai dada, perut serta bahu Lawang Badra hingga tubuhnya tersurut mundur hingga beberapa langkah. Hingga akhirnya, tubuh Lawang Badra terlempar ke belakang saat menangkis pukulan Puguh yang terakhir. Untungnya segera ditangkap oleh Lawang Kori.
Terlihat wajah Lawang Badra sedikit memucat. Nafasnya naik turun dan terlihat berat. Ditambah lagi di kedua ujung bibirnya terlihat ada sedikit darah
"Kakang Lawang Badra tidak apa apa ?" tanya Lawang Kori yang masih memegangi tubuh Lawang Badra.
Lawang Badra tidak menjawab, karena sedang menata pernafasannya. Lawang Kori melihat, Lawang Badra kesulitan untuk melanjutkan pertarungan. Maka, Lawang Kori memutuskan untuk menyelamatkan Lawang Badra dulu.
----- * -----
Sementara itu ditempat lain, pertarungan Rengganis dengan lawannya, seorang perempuan berbaju serba putih berjalan sengit. Tingkat ilmu silat dan tingkat tenaga dalam mereka hampir seimbang. Saling menyerang pun berjalan dengan seru.
Namun, kali ini lawannya tidak bisa memanfaatkan keunggulannya dalam lemparan senjata rahasia. Rengganis sudah mewaspadainya dan sudah mempelajari cara menghadapinya.
Karena, selama melakukan perjalanan bersama Puguh, walau hanya dalam waktu yang singkat, Rengganis belajar banyak hal pada Puguh. Apalagi Rengganis adalah anak yang cepat bisa memahami apa yang diajarkan kepadanya.
Setelah pertarungan berjalan sekitar dua puluh jurus, Rengganis dengan kecerdasannya dalam membuat variasi setiap jurusnya, sedikit demi sedikit mulai bisa menguasai keadaan dan menunjukkan keunggulannya.
Karena selalu teringat dengan keselamatan kakeknya, Rengganis berniat sesegera mungkin menyelesaikan lawannya. Dengan senjata pedang yang sudah dia keluarkan, Rengganis semakin rapat mengurung lawannya dengan jurus pedang yang dikuasainya.
Hingga akhirnya, pada suatu kesempatan, Rengganis membuat lawannya hanya bisa bertahan dengan menangkis dan terkadang menghindar.
Dengan menambah sedikit kecepatannya, yang membuat lawannya tidak bisa lagi mengimbangi gerakannya, Rengganis berhasil membuat beberapa luka di tubuh lawannya, sebelum akhirnya pedangnya bersarang di dada lawannya.
__ADS_1
Begitu lawannya tewas, Rengganis tidak membuang buang waktu, langsung melesat menuju ke tempat pertempuran kakeknya.
----- \* -----
Di tempat tinggal kakeknya Rengganis, tanpa memperdulikan lagi sekitarnya, Lawang Kori langsung membawa tubuh Lawang Badra, melesat pergi.
Bersamaan dengan itu, saat Puguh akan mengejar lawannya, terdengar suara Rengganis yang tiba di tempat itu, mengkhawatirkan keadaan kakeknya.
"Kakang Puguh, bagaimana keadaan kakek ?" tanya Rengganis sesaat sebelum dirinya sampai di samping Puguh.
"Kakekmu tidak apa apa, adik," jawab Puguh sambil melihat ke orang tua yang telah dibantunya.
Deggg !!!
Puguh dan Ki Bajraseta sama sama terkejut, saat mereka saling bertatap mata.
Muka Puguh langsung terlihat tegang, saat melihat wajah kakek Rengganis. Kedua telapak tangannya terlihat mengepal dengan sangat erat. Gurat senyuman hilang dari wajah Puguh.
Demikian juga dengan Ki Bajraseta. Cuma bedanya, dari mimik wajahnya, terlihat penyesalan pada diri Ki Bajraseta.
"Nduk, kakek tidak apa apa. Justru merekalah yang baru saja lari. Coba kamu kejar lari mereka, siapa tahu mereka masih berada di sekitar sini," kata Ki Bajraseta, kakek Rengganis sambil menunjuk ke arah Lawang Kori pergi membawa Lawang Badra pergi.
"Baik kek," jawab Rengganis yang langsung melesat ke arah yang ditunjuk oleh kakeknya.
Ki Bajraseta, sengaja meminta Rengganis cucunya, untuk mengejar, karena Ki Bajraseta tahu, kalau hanya menghadapi satu orang Lawang Kori, Rengganis cucunya akan mampu, karena Lawang Badra baru terluka berat.
Selain itu, Ki Bajraseta tidak ingin cucunya tahu, permasalahannya dengan pemuda yang berdiri di depannya.
"Anak muda, aku tahu kamu sangat membenciku dan sangat ingin membunuhku. Aku siap untuk menerima balasan dari yang telah kulakukan padamu dan gurumu dulu. Namun, sebelum sebelumnya, tolong beritahukan padaku, apa hubunganmu dengan Rengganis cucuku," kata Ki Bajraseta pelan.
"Kami bertemu saat Rengganis bertarung di hutan dan sejak saat itu kami berteman !" jawab Puguh juga dengan suara pelan.
Ki Bajraseta tersenyum lega. Kemudian berdiri tepat di depan Puguh dengan jarak hanya sekitar lima meter.
"Aku senang cucuku bisa menjadi temanmu. Aku titip cucuku, ajaklah dia berjalan di jalan yang benar dalam berkecimpung di dunia persilatan. Dan satu lagi permintaan dari orang tua yang tidak tahu diri ini. Aku titip, jagalah cucuku, bersediakah kau anak muda ?" kata Ki Bajraseta.
__ADS_1
"Aku akan menjaga Rengganis, karena dia adalah temanku !" sahut Puguh masih dengan mimik muka yang kaku.
"Bagus. Jawabanmu itu sudah cukup membuatku tenang," kata Ki Bajraseta pelan, "Anak muda, aku siap menerima pembalasanmu !"
Selesai berkata, tubuh Ki Bajraseta langsung berkelebat sangat cepat ke arah Puguh. Kemudian telapak tangan kanannya mengarah ke dada Puguh.
Melihat serangan yang dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat, Puguh mengimbanginya dengan ilmu pukulan Bantala Wreksa yang lebih cepat lagi.
Plak !!!
Buggg buggg buggg !
Tiga kali pukulan Puguh tepat mengenai dengan telak, dada Ki Bajraseta, yang tubuhnya langsung terlempar cukup jauh ke belakang dan jatuh tertelungkup. Kemudian Ki Bajraseta berusaha bangkit hingga bisa duduk. Namun, tiba tiba Ki Bajraseta memuntahkan darah segar, tetapi bibirnya tetap tersenyum.
Sebenarnya, saat Ki Bajraseta melesat menyerang, dia tidak bersungguh sungguh menyerang, karena dia tidak jadi melakukan gerakan memukul. Hanya saja, di luar dugaannya, gerakan pukulan Puguh terjadi dengan sangat cepatnya, sehingga Ki Bajraseta harus menerima hingga tiga kali pukulan.
Ki Bajraseta berusaha berdiri lagi. Saat itulah, Rengganis sudah kembali dari mengejar musuh yang ditunjukkan oleh kakeknya.
"Mereka sudah pergi jauh, kek," kata Rengganis. Namun, kemudian dia terkejut saat melihat keadaan kakeknya.
"Kakek terluka !" kata Rengganis dengan suara agak melengking sambil segera menghampiri kakeknya.
Mendengar ucapan cucunya, Ki Bajraseta memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kakek tidak apa apa nduk," jawab Ki Bajraseta. Untung tadi dibantu oleh temanmu.
Selesai berkata, Ki Bajraseta terjatuh dan kemudian pingsan.
"Kakang Puguh, tolong bawa kakekku ke tempat tinggalnya. Kakek harus segera diobati !" teriak Tengganis dengan suara agak terisak, san kemudian melesat ke arah tempat tinggal Ki Bajraseta.
Melihat hal itu, Puguh sejenak termangu. Namun, saat Rengganis sudah tidak ada di tempat itu, Puguh segera menyahut tubuh Ki Bajraseta dan menyusul ke arah melesatnya Rengganis.
Perasaan hati Puguh menjadi terombang ambing. Saat melihat Ki Bajraseta, Puguh ingin sekali membunuhnya untuk membalas perlakuannya pada dirinya dan kedua gurunya.
Namun secara bersamaan, mendengar nada suara Rengganis yang sangat mengkhawatirkan keadaan kakeknya, Puguh menjadi tidak tega dan menyesal telah memukul Ki Bajraseta.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_