
Ledakan beruntun karena benturan pukulan jarak jauh itu menimbulkan asap yang sangat tebal. Sesaat setelah ledakan beruntun itu, dari kepulan asap itu melesat dengan sangat cepat, secarik sinar merah yang membentuk seutas tali, yang langsung melilit tubuh Puguh.
Wanita paruh baya yang memegang ujung talinyang terbentuk dari sinar membara itu tersenyum, melihat serangannya berhasil melumpuhkan lawannya dengan cepat.
"Hahhh ! Ternyata hanya sampai begini kemampuanmu, anak muda !" kata wanita paruh baya itu, sambil tangan kanannya membuat gerakan menyentak untuk menarik tali sari sinar merah itu.
Tetapi, wanita paruh baya itu kembali terkejut. Walaupun dia sudah menarik tali sinar itu berulang ulang, tubuh Puguh yang terlilit tali sinar merah itu tidak bergeming. Maka, wanita paruh baya itupun menggenggam ujung tali yang terbentuk dari sinar merah membara itu dengan kedua tangannya.
Bersamaan dengan itu, dari kedua telapak tangan Puguh yang ikut terlilit tali sinar merah, dengan sangat cepatnya, keluar sinar hujau terang yang berbentuk akar akar pohon, yang dengan cepat bergerak seperti ular, menjulur melilit tali sinar merah, hingga hanya dalam sesaat menjangkau kedua tangan wanita paruh baya itu.
Tiba tiba kembali terjadi ledakan yang sangat keras saat ujung ujung akar yang terbentuk dari sinar hijau terang itu mengenai dan menyengat kedua tangan wanita paruh baya itu.
Blarrr ! Blarrr !
Dalam ledakan itu, tubuh wanita paruh baya itu terlempar ke belakang hingga jatuh terkapar di tanah.
Kemudian, perlahan, wanita paruh baya itu bangkit. Seluruh tubuhnya terlihat bergetar. Kedua matanya berubah menjadi berwarna merah membara. Raut wajahnya berubah menjadi lebih tua.
"Archhh ... ! Anak muda ! Kau benar benar sudah mewarisi kekuatan resi Baruna ya ?" kata wanita paruh baya itu dengan suara yang berubah serak.
Mendengar ucapan itu, Puguh tidak menjawab, namun ganti bertanya.
"Hmmm ! Jadi, engkau, ratu iblis itu ya ?" tanya Puguh.
"Akhirnya kau tahu juga. Katakan pada resi Baruna, aku datang, hendak menuntut balas padanya !" kata wanita paruh baya yang ternyata adalah sang Ratu Iblis.
"Ratu Iblis ! Kau tidak perlu repot repot mencari resi Baruna. Cukup aku yang akan menghadapimu !" jawab Puguh.
"Huhhh ! Kau hanya muridnya ! Lekaslah minggir, kalau kau masih sayang nyawamu !" kata Ratu Iblis sambil mengibaskan tangan kanannya yang tiba tiba menyala merah membara ke arah Puguh. Seketika hawa yang sangat panas menerpa tubuh Puguh.
Melihat serangan Ratu Iblis, Puguh mengelak dengan menggeser kuda kudanya sedikit ke samping. Kibasan tangan kanan Ratu Iblis memang bisa dihindari, namun ternyata diikuti dengan pukulan jarak jauh yang membawa hawa sangat panas yang tiba tiba sudah sangat dekat dengan tubuh Puguh. Maka dengan cepat Puguh menambah aliran tenaga dalamnya untuk melindungi seluruh tubuhnya dari terpaan hawa panas.
Terdengar suara seperti api bertemu dengan air saat Puguh mengibaskan lengan kirinya untuk menepis hawa panas yang menerpa tubuhnya.
Tstttt !!!
__ADS_1
Namun ternyata serangan Ratu Iblis tidak berhenti disitu. Dari kedua tangannya, tiba tiba keluar cairan yang sangat panas berwarna merah membara, yang memancar ke arah Puguh.
Puguh pun segera menggerakkan kedua tangannya, memainkan jurus yang dia pelajari dari kitab yang dia temukan di makam Pendekar Pengendara Elang.
Sesaat kemudian, muncul gerakan angin yang sangat kuat dari kedua tangan Puguh yang langsung menerpa cairan panas merah membara yang mengarah ke tubuhnya.
Tskkk ! Tskkk ! Tskkk !
Merasa beberapa kali serangannya tidak berhasil, Ratu Iblis segera menjejakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat ke atas sambil mengarahkan kedua telapak tangannya berkali kali ke arah puguh.
Dari kedua telapak tangannya keluar banyak bola api merah membara yang meluncur cepat menghujani Puguh yang masih berdiri di tanah.
Melihat hujan bola api yang mengarah kepadanya, Puguh segera menghindar. Tubuhnya melenting ke atas, sehingga bola bola api itu mengenai tanah dan menimbulkan ledakan di tanah berkali kali.
Dammm dammm dammm !
Dammm ! Dammm !
Tiba tiba terdengar teriakan sangat keras dari Ratu Iblis.
Bersamaan dengan suara teriakan itu, tubuh Ratu Iblis mulai berubah. Seluruh badannya berubah menjadi api yang menyala merah membara. Ukuran tubuhnya menjadi tinggi besar, setinggi pohon kelapa. Pada punggungnya tumbuh dua sayap yang terbentuk dari api hingga menyala merah membara. Terlihat tangan kanannya memegang cambuk yang juga terbuat dari api.
Kemudian, dengan melecutkan cambuknya ke udara hingga menimbulkan kilatan petir yang menyambar nyambar, Ratu Iblis melesat ke arah Puguh yang melayang agak jauh di depannya.
Hanya dalam sekejap, Ratu Iblis tiba di depan Puguh. Sayap api di punggungnya mengepak keras dan menimbulkan angin kencang yang sangat panas yang langsung menyelimuti tempat Puguh melayang. Kemudian disusul dengan semburan nyala api yang keluar dari mulutnya.
Melihat Ratu Iblis sudah merubah seutuhnya dengan memegang senjata, Puguh pun mengeluarkan pedangnya. Seketika bilah pedangnya mengeluarkan sinar hijau terang, bahkan kali ini lebih terang dari sebelumnya.
Ketika serangan angin yang sangat panas mendekatinya, Puguh memutar pedang di tangan kanannya. Dari bilah pedang yang menyala hijau sangat terang itu keluar hawa sangat dingin yang dengan cepat menyelimuti tempat Puguh melayang, bahkan hawa sangat dingin itu terus melebar, menyebar ke sekeliling Puguh.
Bersamaan dengan itu, Puguh menambah aliran tenaga dalam ke tangan kirinya. Kemudian, dari telapak tangan kirinya, keluar bola sinar hijau terang yang dengan cepat melesat menghadang datangnya semburan api dari mulut Ratu Iblis.
Dari semua benturan serangan yang sangat cepat itu, menimbulkan suara petir dan suara ledakan yang sangat keras.
Trattt ! Trattt ! Trattt ! Trattt !
__ADS_1
Ctasss ! Ctasss !
Dbaaammm !!!
Tanpa terasa, pertarungan mereka berlangsung hingga seharian. Suara suara ledakan serta angin dan kekuatan pukulan yang mengenai tempat sekitarnya, membuat wilayah perbatasan hutan itu, seperti diterjang hujan badai selama seharian.
Semakin lama, pertarungan mereka bukannya semakin mereda, justru meningkat dengan penggunaan tenaga dalam yang semakin tinggi.
Memasuki malam hari, terlihat serangan serangan Ratu Iblis semakin bertenaga.
Untuk menghadapi serangan Ratu Iblis yang semakin berbahaya itu, Puguh mulai mengeluarkan tenaga dalam yang mengandung kekuatan sinar rembulan.
Malam semakin larut dan sedikit demi sedikit mulai bisa memaksakan Ratu Iblis untuk bertahan.
"Ratu Iblis, menyerahlah ! Kita sudahi pertarungan ini ! Ketahuilah ! Resi Baruna sudah menunggumu, untuk bersama sama dengan jiwamu, pergi ke alam keabadian !" kata Puguh.
"Krrrkkkk ! Aku bahkan akan membunuhnya, setelah aku membakarmu !" sahut Ratu Iblis.
"Kalau kau tetap tidak bisa disadarkan, terpaksa aku akan memusnahkanmu !" jawab Puguh.
Kemudian, Puguh kembali mengerahkan tenaga dalamnya lebih besar lagi disertai dengan tenaga dalam yang mengandung kekuatan sinar rembulan.
Dengan tenaga dalam dan tehnik yang diajarkan oleh resi Baruna, Puguh mulai membuat selubung yang melingkupi tempat pertarungan mereka.
Sambil tangan kanannya terus melakukan serangan dengan pedangnya, tangan kirinya sedikit demi sedikit melakukan serangkaian gerakan, hingga muncul selubung yang melingkupi mereka berdua hingga berlapis lapis.
Saat lapisan selubung itu dirasa sudah cukup kuat, Puguh mulai memainkan jurus Jata Candrama yang dimainkan dengan menggunakan aliran tenaga dalam.
Gabungan jurus Jata Candrama dengan hawa sangat dingin dari bilah pedang dan dengan tenaga dalam yang membawa kekuatan sinar rembulan, berhasil membuat Ratu Iblis terdesak.
Hingga pada suatu kesempatan, Puguh berhasil menyarangkan pukulan tangan kirinya dengan menggunakan tenaga dalam yang mengandung energi sinar rembulan, tepat di dada kiri Ratu Iblis.
Blaaannnggg !!!
__________ ◇ __________
__ADS_1