Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Serangan Ke Kadipaten Langitan


__ADS_3

Sesampai di pendopo Kadipaten Langitan, Puguh melihat banyak orang berkumpul dan berseliweran. Kelihatannya mereka para tokoh dunia persilatan.


Saat ini, Puguh diuntungkan dengan keadaan dirinya yang masih kecil, sehingga dia dengan mudahnya masuk dan ikut bergabung di sekitar pendopo bersama orang orang yang lain.


Saat Puguh kebingungan, dia mendengar suara suara orang bercerita yang cukup akrab di telinganya. Puguh pun mendekat ke arah orang orang itu.


Mereka adalah orang orang dari Kademangan Pandan Ireng yang hadir dalam acara pertandingan beladiri kemaren. Mereka dan juga perwakilan perwakilan dari daerah yang lain ataupun yang dari padepokan memang belum berani pulang, karena keadaan yang genting.


"Den Roro ... " kata Puguh pelan pada anak gadis yang kurang lebih seusia dengannya.


Mendengar suara memanggil namanya, gadis itu menoleh dan kemudian terkejut.


"Puguh ... !!!" teriak Den Roro sambil mendekati Puguh dan kemudian memegang kedua bahunya, "Dari mana saja engkau ?"


Puguh tidak sempat menjawab, karena keburu tangannya ditarik oleh Den Roro menuju ke tempat rombongannya.


----- o -----


Setelah Ki Klawu Carma dan Ni Srayu melarikan diri serta Ki Dwijo dan Puguh pergi, pada sore harinya datang sekelompok orang yang berpakaian serba hitam dengan gambar awan dari sulaman benang warna kuning, yang mencoba menyatroni Kadipaten Langitan dan para tamu yang masih berada di Kadipaten Langitan. Sehingga banyak para tamu dan perwakilan yang belum pulang.


Di sore hari itu, terjadi pertempuran antara prajurit Kadipaten Langitan yang dibantu tokoh tokoh persilatan yang masih disitu melawan sekelompok orang berpakaian serba hitam yang tiba tiba datang menyerang.


Untungnya, yang datang menyerang ke Kadipaten Langitan hanyalah orang orang yang berkemampuan silatnya tidak terlalu tinggi. Sehingga senopati utama Widura dan senopati Nata yang dibantu oleh beberapa tokoh persilatan yang masih berada disitu seperti Ki Bajrapadsa bisa menghalau para penyerang dan tidak menimbulkan korban jiwa.


Untuk menjaga segala kemungkinan dari terjadinya penyerangan sore tadi, adipati Langitan, Raden Tumenggung Suryolangit meminta semua tamu untuk tinggal di rumah Kadipaten yang cukup luas dan mampu menampung semua tamu.


Para prajurit Kadipaten Langitan dibantu para tokoh persilatan dari berbagai padepokan, mulai berbagi tugas untuk menjaga keamanan di rumah Kadipaten dan sekitarnya.


Puguh yang diajak bergabung ke dalam rombongan Kademangan Pandan Ireng, juga ikut berada di rumah Kadipaten.


Sejak malam menjelang, sebenarnya hati dan pikiran Puguh tidak tenang. Dia selalu teringat pada gurunya dan mengkhawatirkan keadaan gurunya yang tadi masih bertarung melawan dua orang lawan saat dia pergi meninggalkannya.


Karena hati dan pikiran yang selalu gelisah memikirkan gurunya, Puguh pun keluar rumah dengan diam diam. Karena tidak ingin menimbulkan banyak pertanyaan, Puguh agak menjauh dari rumah rumah dan akhirnya mencari pohon besar yang terdekat.


Dengan tanpa menimbulkan suara, menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Puguh melesat ke atas dan mencari dahan yang nyaman untuk duduk dan bersandar.

__ADS_1


Walau masih berusia sekitar delapan tahun, dengan cara latihan yang dia jalani, membuat tubuh Puguh lebih tinggi dibanding anak anak seusianya. Dan tanpa dia sadari, Puguh telah memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Ilmu yang dia pelajari saat terjebak di lubang pohon raksasa. Dengan bimbingan gurunya, dia bisa menguasai ilmu itu dengan hampir sempurna. Hanya karena tenaga dalamnya yang masih sedikit, membuatnya belum bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh itu dengan sempurna.


Sambil duduk di dahan pohon, Puguh berusaha mengamati sekitarnya. Matanya yang sudah terbiasa melihat dalam cahaya yang sangat kurang, membuat Puguh bisa melihat semuanya dengan jelas, walau cukup jauh jaraknya. Bahkan pendengarannyapun menjadi lebih tajam pada suara suara disekitarnya.


Baru sebentar saja Puguh mengamati keadaan, tiba tiba dari kejauhan, matanya menangkap gerakan dua bayangan mencurigakan.


Walaupun dua bayangan itu sudah menggunakan pakaian serba hitam, namun penglihatan Puguh yang terlatih bisa menangkapnya.


Terlihat dua orang berpakain seeba hitam yang melompat dari satu dahan ke dahan yang lain dengan cepatnya dan sepertinya menuju ke rumah Kadipaten.


Seketika Puguh menjadi waspada. Tubuhnya dengan cepat bereaksi, menjaga segala kemungkinan.


Ketika dua bayangan itu sampai di pohon yang berdekatan dengan pohon tempat dia bersandar, Puguh segera menekan semua getaran di tubuhnya agar tidak bisa dirasakan oleh kedua bayangan itu.


Pendengarannya yang sangat terlatih, bisa menangkap pembicaraan kedua orang itu walaupun dengan berbisik.


Terdengar olehnya, jika kedua orang itu mendapat tugas menculik beberapa anak dari orang orang yang berkuasa di Kadipaten Langitan, ataupun anak anak dari penguasa kademangan kademangan.


Mendengar itu, pikiran Puguh berkecamuk mengingat banyak hal. Dia jadi teringat gurunya, yang tadi masih bertarung. Teringat den Roro dan Den Bagus, jangan jangan mereka juga menjadi sasaran.


Dengan tanpa menimbulkan suara, Puguh mengambil beberapa ranting kering yang berada di dekatnya.


Puguh mengambil dua ranting dan menggenggamnya di tangan kanannya.


Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat dan tidak menimbulkan suara, tangan kanannya terayun ke arah kedua bayangan itu.


Tessskkk ! Tessskkk !


Dua ranting kering kecil yang dilempar, melesat dengan sangat kuat dan cepat, hingga mengenai leher kedua orang itu.


Aduhhh !!!


Tiba tiba tubuh kedua orang itu terjatuh ke bawah, tanpa tahu kenapa.


Bruuuggghhh ! Bruuuggghhh !

__ADS_1


Walaupun lemparan ranting kering yang dilakukan Puguh belum bisa melumpuhkan atau membuat luka yang serius di leher mereka berdua, namun sudah bisa membuat mereka kaget dan pandang matanya nanar untuk sementara waktu.


Kedua orang itu segera bangkit dan melihat ke arah bangunan Kadipaten. Mereka tidak menemukan keanehan. Para prajurit dan beberapa tokoh pendekar berjaga seperti biasa.


Mereka berdua menjadi waspada. Jangan jangan, ada orang sakti yang melihat mereka.


Maka mereka berdua berencana untuk meninggalkan tempat itu. Puguh yang mendengar apa yang mereka rencanakan, berniat mengikuti kedua orang itu.


Beberapa saat setelah kedua orang itu pergi, tubuh Puguh melesat mengukuti arah lari mereka berdua.


Setelah beberapa saat, Puguh memperkirakan dari rute yang mereka tempuh, sepertinya kedua orang itu menuju ke dalam hutan. Maka Puguh pun tidak jadi mengikuti mereka dan segera berbelok arah untuk mencari gurunya.


----- o -----


Meskipun dikeroyok dua, Ki Dwijo mampu menahan serangan serangan kedua lawannya. Sehingga Ki Dwijo bisa memaksakan pertarungan dalam keadaan seimbang.


Pertarungan yang berlangsung sampai malam hari itu sangat menguras tenaga dalam. Gerakan mereka sudah semakin melambat, tenaga dalamnya pun juga semakin menipis.


Pada suatu ketika, sampai pada situasi yang membuat mereka beradu tenaga dalam. Benturan senjata yang sarat dengan tenaga dalam itu menciptakan suara yang cukup keras.


Traaannnggg ! Traaannnggg !


Terlihat ketiga tubuh sama sama terdorong ke belakang. Mereka berusaha semampunya menahan kuda kuda mereka.


Keadaan mereka sudah sangat payah. Pakaian sudah compang camping. Tubuh mereka sudah banyak dihiasi oleh luka luka.


Tiba tiba, Ki Naga Gringsing mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dan kemudian melemparkan ke arah Ki Dwijo.


Melihat datangnya serangan, Ki Dwijo menghindarinya dengan melompat ke atas.


Buuummmmm !!!


Saat Ki Dwijo melompat, sesuatu yang dilemparkan oleh Ki Naga Gringsing meledak dan menimbulkan suara ledakan yang keras dan kepulan asap yang sangat tebal.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2