Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kisah Rengganis


__ADS_3

Saat selesai membantu mengobati Ki Dwijo, Rengganis baru menyadari kalau hari telah menjelang petang. Pertarungan yang lain sudah berhenti beberapa waktu yang lalu.


Kemudian, bersama Ki Dwijo, Rengganis menghampiri Resi Wismaya yang sedang ditolong dan diobati oleh Puguh, karena terluka sangat parah pada pertarungan tadi. Resi Wismaya yang sejak masuk ke pertarungan tadi sudah terluka, kewalahan menghadapi seorang Panglima Perang yang bernama Ki Sambang Latu.


Setelah keadaan Resi Wismaya mulai membaik, Puguh yang sejak tadi ditemani oleh Rengganis dalam menolong dan mengobati Resi Wismaya, baru bisa memperhatikan keadaan Rengganis dengan seksama.


"Sukurlah adik Rengganis sudah pulih. Bahkan lebih cepat dari yang kakang perkirakan !" kata Puguh.


"Iya kakang. Karena ada hal hal yang secara tidak sengaja mempercepat proses penyembuhanku, " jawab Rengganis.


"Aahhh ! Sungguh beruntung dirimu. Hal apakah itu, adik Rengganis ?" tanya Puguh.


Kemudian kepada Puguh, Rengganis menceritakan semua yang telah dialaminya.


----- * -----


Sepeninggal Puguh, Rengganis segera menyelam ke dasar Danau Tujuh Warna.


Seperti yang dikatakan oleh Puguh, di seluruh dasar danau itu ada sejenis tanaman ganggang yang membuat seakan akan air danau itu tidak jernih, namun berwarna seperti warna tanaman ganggang itu.


Selain itu, Rengganis juga merasakan, tanaman tanaman ganggang itu mengeluarkan getaran kekuatan yang unik.


Setelah menemukan tempat yang nyaman, Rengganis segera duduk bersila di dasar danau. Dengan tingkat kesaktian dan tenaga dalamnya, bukan hal yang sulit bagi Rengganis untuk menutup jalan pernafasannya hingga beberapa waktu.

__ADS_1


Dengan menggunakan tehnik menyerap kekuatan dari tumbuhan yang diajarkan oleh Ibu Pohon, sesaat kemudian, Rengganis merasakan banyak sekali getaran kekuatan unik yang masuk ke dalam tubuhnya.


Dari segala penjuru di sekelilingnya, getaran kekuatan tanaman ganggang itu masuk ke dalam tubuh Rengganis.


Namun, tidak seperti biasanya saat menyerap kekuatan dari tanaman atau pepohonan, penyerapan kekuatan dari tanaman tanaman ganggang itu membuat tubuhnya terasa panas, bahkan kulitnya terasa seperti terbakar, walaupun seluruh tubuhnya berada di dalam air.


Secara berkala, Rengganis naik ke permukaan untuk sekedar beristirahat. Hal itu berlangsung hingga beberapa hari dan selama beberapa hari itu, Rengganis terus menerus merasakan panas di tubuh dan permukaan kulitnya, selama menyerap kekuatan dari tanaman ganggang itu.


Setelah selama lima hari berturut turut, Rengganis merasakan panas di tubuhnya, pada hari ke enam, rasa panas di tubuh dan seluruh permukaan kulit yang dirasakan Rengganis selama menyerap getaran kekuatan tanaman ganggang, tidak dirasakan lagi.


Pada hari keenam ini, Rengganis merasakan sejuk dan dingin di seluruh permukaan kulitnya. Rengganis juga mulai bisa merasakan, ternyata kekuatan dari tanaman ganggang yang diserapnya, tidak langsung menyatu dengan kekuatan tenaga dalam yang sudah dimilikinya. Namun, sebagian besar menyebar ke seluruh permukaan kulitnya dan seakan akan melapisi dan melindungi kulitnya. Karena itu, Rengganis semakin bersemangat untuk menyerap kekuatan dari tanaman ganggang itu.


Sementara itu di tepi Danau Tujuh Warna, Aswa Muka dan Aswa Kudana selalu menemani Rengganis dan berjaga jaga di tepi Danau Tujuh Warna. Selama beberapa hari itu, mereka berdua dengan sabar menunggu dan memantau perkembangan Rengganis muridnya. Tetapi di hari ke enam ini, mereka berdua sedikit heran, karena hingga siang hari, Rengganis belum naik ke daratan. Biasanya, setiap siang hari, Rengganis selalu menyempatkan naik ke daratan untuk sekedar berbincang dengan kedua gurunya. Namun hingga hari hampir sore, Rengganis belum juga muncul.


Sebenarnya Aswa Muka dan Aswa Kudana baru saja akan menegurnya, tetapi terlanjur ada kejadian yang membuat mereka menahan mulut mereka.


"Daripada jatuh ke tangan orang orang yang tidak bertanggung jawab, lebih baik senjata pedang ini aku tenggelamkan ke dasar danau ini. Biarlah yang berjodoh yang menemukannya !" kata Iswara Dhatu.


Kemudian, Iswara Dhatu melemparkan sebilah pedang tanpa sarung, ke tengah tengah Danau Tujuh Warna. Sebuah senjata pedang yang bilahnya mengeluarkan pendaran sinar putih pekat itu meluncur deras dan kemudian jatuh ditelan air Danau Tujuh Warna.


Baru saja Iswara Dhatu hendak melangkah pergi, tiba tiba datang mendekat lima orang yang terdiri dari tiga laki laki muda dan dua orang perempuan muda. Kelima orang muda itu masing masing memiliki getaran kekuatan yang sangat tinggi. Mereka berlima adalah para wakil pribadi dari Pangeran Langit Barat. Tiga yang laki laki itu bahkan sempat bertarung melawan Puguh.


"Nenek tua ! Serahkan pedang yang kau bawa pada kami !" kata salah seorang laki laki muda dari lima pemuda yang baru datang itu.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, aku tidak membawa pedang yang kalian maksud !" jawab Iswara Dhatu singkat.


"Kalau kau tidak mau menyerahkan pedang itu pada kami, nyawamu yang menjadi gantinya !" kata laki laki muda yang lainnya lagi, sambil kemudian mengawali melakukan serangan pada Iswara Dhatu. Serangan itu diikuti oleh empat pemuda pemudi lainnya sehingga hanya dalam sesaat, Iswara Dhatu dikeroyok oleh lima orang muda yang semuanya memiliki kesaktian dan tenaga dalam yang sangat tinggi.


Karena sudah mengalami luka ditambah dikeroyok lima orang muda yang tingkat kesaktiannya setingkat dengannya, membuat hanya dalam sesaat, Iswara Dhatu terdesak hebat. Bahkan beberapa saat kemudian, sebuah tendangan dari salah seorang laki laki muda tangan kanan Pangeran Langit Barat tepat mengenai dadanya, membuat Iswara Dhatu terlempar ke belakang, kemudian terjatuh ke tanah dan memuntahkan darah.


Melihat hal itu, Aswa Muka dan Aswa Kudana yang dulu saat masih muda kenal dengan kenal dan pernah berjumpa dengan Iswara Dhatu, tidak bisa menahan diri lagi. Mereka berdua segera meloncat masuk ke dalam pertarungan.


"Iswara Dhatu, kenapa kau bisa sampai berurusan dengan mereka ? Dan siapakah mereka itu ?" tanya Aswa Muka sambil menghadang arah gerak kelima orang muda itu !


Melihat dua orang yang baru datang itu, tepatnya baru memperlihatkan diri itu, Iswara Dhatu justru berusaha menghindar.


"Aswa Muka dan Aswa Kudana ! Ternyata kalian ! Mereka berlima adalah tangan kanan Pangeran Langit Barat !" jawab Iswara Dhatu.


Namun, baru saja menjawab, Iwara Dhatu menyambungnya, "Maaf Aswa Muka, Aswa Kudana ! Aku harus segera menyusul dan menyelamatkan cucuku !"


Segera saja, Iswara Dhatu meninggalkan tempat pertarungan, meninggalkan Aswa Muka dan Aswa Kudana berhadapan dengan lima orang muda, tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Melihat Iswara Dhatu yang hendak mereka bantu, justru pergi meninggalkan pertarungan, Aswa Muka dan Aswa Kudana saling pandang.


Kemudian, dengan sangat cepat, Aswa Muka dan Aswa Kudana ikut meninggalkan tempat pertarungan. Dengan cepat, mereka menyusul ke arah Iswara Dhatu pergi.


---------- ◇ ----------

__ADS_1


__ADS_2