Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Negeri Tanah Dewa


__ADS_3

Walaupun pelan, ucapan Puguh tetap bisa didengar oleh mereka berenam ibu dan anak.


"Namaku Arcaganis, bukan Rengganis !" kata Arcaganis sambil mengangkat mukanya. Sedikit senyuman tersungging disudut bibirnya. Senyuman yang semakin memperlihatkan, betapa cantik wajahnya. Senyuman yang mengagetkan Puguh, yang membuatnya semakin teringat pada Rengganis.


"Anak muda, perkenalkan dirimu, siapa namamu dan dari mana asalmu !" kata Arcamanik.


"Namaku Puguh, bibi. Aku berasal dari suatu negeri yang berada di tanah Jawadwipa !" jawab Puguh.


Kemudian Puguh menceritakan dengan singkat tentang pertarungannya dengan siluman kera raksasa yang mengakibatkan dirinya bisa terlempar ke tempat ini.


Mendengar penuturan Puguh, Arcamanik terkejut.


"Tanah Jawadwipa, tempat yang sangat jauh !" kata Arcamanik dalam hati.


"Puguh, aku tidak tahu, apakah sekarang ini, kau masih di alam yang sama dengan alam asal negerimu. Yang pasti, saat ini kamu berada di suatu negeri yang sangat luas, negeri warisan para dewa pada kami. Negeri yang sekarang hampir terpecah menjadi dua, karena perebutan wilayah kekuasaan antara bangsa manusia dengan bangsa manusia setengah kera.


Kemudian Arcamanik menceritakan kisah tentang Negeri Tanah Dewa.


Negeri Tanah Dewa dahulu adalah daratan luas yang dihuni secara liar oleh semua makhluk hidup. Mereka hidup berkelompok berdasarkan bangsa mereka. Ada bangsa manusia, ada bangsa manusia setengah kera, ada bangsa kera raksasa, ada bangsa siluman.


Dalam perjalanan waktu, bangsa kera raksasa menjadi bangsa yang paling kuat dan memiliki ilmu silat dan kekuatan yang hampir menyamai para dewa.


Begitu kuat dan dominannya bangsa kera raksasa, membuat mereka sombong dan tidak mau tunduk pada dewa.


Bahkan begitu sombongnya, hingga mereka berani menantang para dewa, dan akhirnya mereka naik ke nirwana untuk menyerang para dewa.


Para dewa yang tidak mau mengotori tangannya dengan menghadapi serangan bangsa kera raksasa, menitahkan bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera untuk melawan dan menghancurkan kesombongan bangsa kera raksasa.


Kemudian terjadilah peperangan di Tanah Dewa antara bangsa kera raksasa dengan bangsa manusia yang bekerja sama dengan bangsa manusia setengah kera.

__ADS_1


Setelah peperangan yang panjang dan melelahkan akhirnya bangsa kera raksasa bisa dikalahkan dan dihukum oleh dewa dengan dibuang ke alam lain.


Bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera yang dianggap berjasa pada para dewa, diberi hadiah yaitu boleh menguasai dan memiliki Tanah Dewa hingga akhirnya menjadi Negeri Tanah Dewa.


Selama puluhan bahkan ratusan tahun, bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera hidup bahagia. Dua bangsa itu bisa hidup rukun dan saling membantu.


Namun semua itu diam diam ada yang tidak menyukainya. Bangsa siluman yang pada masa itu juga ikut tinggal di Tanah Dewa, merasa tidak dianggap dan dianak tirikan.


Akhirnya bangsa siluman melakukan segala cara yang jahat untuk merusak kebahagiaan bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera. Mulai dari mengadu domba bangsa manusia dengan bangsa manusia setengah kera, hingga menggunakan keahliannya untuk merubah wujud menjadi kera raksasa untuk menyerang bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera.


Hingga akhirnya, sampai sekarang, kebahagiaan dan kerukunan bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera, hilang. Bahkan digantikan dengan rasa penuh kecurigaan dan permusuhan antara dua bangsa itu.


Selama bertahun tahun bahkan puluhan tahun, kekuatan bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera semakin melemah. Karena, selain dua bangsa itu saling berperang, juga harus menghadapi serangan bangsa siluman yang merubah wujudnya menjadi kera raksasa. Peperangan mereka banyak memakan korban jiwa, terutama kaum laki laki dari kedua bangsa itu, banyak yang gugur.


"Maka dari itu, kami selalu menaruh harapan besar dari para pendekar yang berasal dari luar Negeri Tanah Dewa. Termasuk kamu Puguh, saat tiba tiba kami mendengar kamu yang entah dari mana, jatuh di tanah lapang !" kata Arcamanik mengakhiri ceritanya.


"Benar, banyak bangsa manusia yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Tetapi bangsa manusia setengah kera dan bangsa siluman juga memiliki kesaktian yang tidak kalah dengan kami. Puguh, sayangnya, kami tidak hanya berperang melawan bangsa siluman, namun terkadang kami juga berperang melawan bangsa manusia setengah kera. Dan sayangnya lagi, sekarang, bangsa manusia terpecah menjadi bersuku suku !" jawab Arcamanik.


"Apakah perkampungan ini juga merupakan satu suku tersendiri, bibi ?" tanya Puguh.


"Benar Puguh. Suamiku telah gugur dalam peperangan. Dua anak laki lakiku, hilang, sampai sekarang belum pulang !" jawab Arcamanik lagi.


"Bibi Arcamanik, aku akan mencoba membantu suku kalian. Tetapi syaratnya, bibi Arcamanik juga harus membantuku untuk menemukan jalan pulang ke negeriku !" kata Puguh.


"Baiklah ! Setelah kau berhasil membantu kami, kami akan membantumu menemukan cara pulang !" sahut Arcamanik. Walaupun sebenarnya Arcamanik belum tahu, apa yang akan dilakukannya.


"Mulai saat ini, kau tinggal di rumah ini. Kamarmu akan disiapkan oleh anak anakku !" kata Arcamanik lagi, sambil kemudian berdiri dan melangkah keluar dari ruang tengah.


Sesaat setelah Arcamanik keluar dari ruang tengah, keempat perempuan muda yang berpakaian warna warni berebut mendekat ke arah Puguh dan bersahutan menawarkan diri untuk menyiapakan kamarnya.

__ADS_1


"Puguh ! Ayo ikut aku, akan aku siapkan kamarmu !" kata Arcapita yang berpakaian serba merah.


"Aku saja yang menyiapkan kamarnya !" sahut Arcakalpika yang berpakaian serba kuning.


Mereka berempat terus saja berebut, hingga belum beranjak juga untuk menyiapakan kamar bagi Puguh.


Saat mereka berempat masih meributkan siapa yang akan menyiapkan kamar Puguh, tiba tiba terdengar suara perempuan muda, yang walaupun hanya lirih, namun terdengar sangat merdu.


"Kakak semua tidak usah berebut. Kamar buat Puguh sudah aku siapkan !" kata Arcaganis, anak bungsu Arcamanik.


Mendengar suara itu, tiba tiba suara berebut empat perempuan muda dan cantik itu mendadak berhenti. Mereka saling pandang dan merasa kecolongan.


"Puguh ! Kamarmu sudah ku siapkan. Letak kamarnu tepat di samping kiri kamarku !" Ujar Arcamanik.


Mendengar perkataan Arcaganis, Puguh segera melepaskan diri dari kepungan keempat gadi itu. Tubuhnya melesat ke arah yang tadi sudah ditunjuk oleh Arcaganis.


Namun, sesampainya di depan pintu kamarnya, Puguh tidak jadi masuk ke kamar. Kemudian, setelah memastikan belum ada yang mengikutinya, Puguh segera melesat pergi. Hanya dalam sesaat, Puguh sudah berada di tengah tengah perkampungan.


Sambil berjalan, Puguh memperhatikan keadaan sekitarnya. Puguh melihat, perkampungan itu benar benar hampir semua penghuninya, kaum perempuan. Hanpir bisa dikatakan, tidak ada kaum prianya. Karena perkampungan ini hanya ada beberapa laki laki, itupun masih kanak kanak.


Tanpa terasa, Puguh berjalan jalan menyusuri seluruh jalan kampung itu hingga sore hari. Sepanjang jalannya, Puguh tidak pernah luput dari perhatian semua orang yang dilewatinya, walaupun mereka hanya mencuri curi lihat ataupun memandanginya.


Kemudian ketika waktu memasuki petang hari, Puguh pun melanjutkan jalannya dengan menyusuri dan berkeliling pinggiran perkampungan itu.


Ketika sampai di jalan yang menghadap padang rumput yang cukup luas itu, Puguh melihat cukup banyak gerakan tubuh dari pinggiran hutan.


Maka, Puguh pun melesat dengan sangat cepat ke arah hutan, untuk memastikan, siapa yang saat petang hari begini, berkumpul di tepi hutan.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2