Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Serangan Ki Bajraseta


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah dua hari sejak Ki Bajraseta ditemui oleh kakaknya yaitu Ki Bayuseta. Namun, dalam waktu dua hari itu, Ki Bajraseta belum melakukan apa apa. Setiap harinya, yang lakukan adalah pergi ke padang rumput di setiap dini hari. Sedangkan untuk waktu kembalinya tidak tentu. Terkadang begitu matahari muncul, Ki Bajraseta langsung kembali. Terkadang juga saat siang terik matahari, Ki Bajraseta baru kembali.


Seperti di hari hari sebelumnya, pagi ini, sebelum Ki Dwijo dan Puguh pergi berlatih, Ki Bajraseta sudah terlebih dahulu pergi ke padang rumput. Dan selalu berdiri di tempat yang sama. Selalu ditemani embun pagi, yang terlihat berkerlip memantulkan terangnya langit fajar walaupun matahari belum menampakkan batang hidungnya.


Namun, pagi ini ada yang berbeda dari penampilan Ki Bajraseta. Dia memakai pakaian yang lebih ringkas, seolah hendak melakukan perjalanan panjang.


Tiba tiba terdengar suara pelan seolah orang yang sedang berbicara dalam posisi yang sangat dekat.


"Bajraseta adikku, selalu saja kamu berlaku tidak tega," terdengar suara Ki Bayuseta walaupun belum tiba di tempat itu.


Sebentar kemudian, terdengar kesiuran angin pelan mengiringi datangnya Ki Bayuseta yang sudah berdiri di depan Ki Bajraseta.


"Hari ini batas waktu yang diberikan kepadamu," kata Ki Bayuseta, "Bagaimana, apakah kamu sudah siap melakukan tugasmu ? Atau perlu kakangmu ini yang melakukannya ?"


"Kakang Bayuseta, satu hal yang ingin aku tanyakan," ucap Ki Bajraseta, "Kalau aku melakukan tugas ini, apakah setelahnya, aku bisa terbebas dari urusan kalian semua, dari urusan kekuasaan yang memuakkan ini ? Dan kalian menjamin tidak akan mengganggu cucuku dan keluargaku lagi ?"


"Ha ha ha haaaa .... Adi Bajraseta. Hanya satu itu yang keluarga besar minta kau lakukan. Setelahnya, kau bebas melakukan apa saja dan bebas mau kemana saja !" tukas Ki Bayuseta.


"Aku pegang kata katamu, kakang. Tetapi kalau sampai masih mengganggu keluargaku dan cucuku, akan aku lawan, walau kalian semua adalah keluargaku !" jawab Ki Bajraseta lirih.


"Tunggu saja di sini !" ucap Ki Bajraseta pendek.


Kemudian, tubuhnya sudah melesat ke arah gunung, yang berada di atas gubug itu.


Ki Bajraseta terus saja berlari cepat hingga tubuhnya seperti melayang, mengelilingi wilayah puncak untuk mencari Ki Bhanujiwo.


Setelah beberapa waktu mencari, Ki Bajraseta bisa merasakan getaran tenaga dalam Ki Bhanujiwo. Hingga kemudian terlihat, Ki Bhanujiwo sedang berjalan menyisiri jalan menurun membawa bungkusan berisi bahan untuk membuat obat.


Ki Bhanujiwo sedikit terkejut melihat Ki Bajraseta telah berdiri di depannya.


"Ki Bajraseta, tumben pagi pagi sudah ..."


"Maafkan aku Ki Bhanujiwo," ucap Ki Bajraseta sambil melesat maju melancarkan serangan ke arah Ki Bhanuniwo. Serangan yang langsung mengarah ke nyawa Ki Bhanujiwo, karena Ki Bajraseta ingin semuanya cepat selesai.

__ADS_1


"Ki Bajraseta ! Ada masalah apa ?" tanya Ki Bhanujiwo sambil membuang tubuh guna menghindari serangan berbahaya Ki Bajraseta.


Plaaakkk ! Buuukkk ! Buuukkk !


Walaupu sudah berusaha menghindar, namun karena tidak siap dan tidak mengetahui apa permasalahannya, Ki Bhanujiwo tetap terkena pukulan di bahu dan punggungnya.


Karena menghindar dengan menggulingkan tubuh yang reflek dilakukan dengan baik, membuat serangan Ki Bajraseta tidak terlalu telak mengenai tubuh Ki Bhanujiwo. Namun tetap saja Ki Bhanuniwo merasakan sesak di dadanya, nafasnya agak berat, dan ujung bibirnya terlihat sedikit mengeluarkan darah.


"Ada apa ini Ki Bajraseta," tanya Ki Bhanujiwo lagi.


Namun Ki Bajraseta seolah tidak mendengar pertanyaan Ki Bhanujiwo. Tubuhnya kembali melesat ke arah Ki Bhanujiwo dan kembali melakukan serangan bertubi tubi.


Sementara Ki Bhanujiwo, yang masih belum memahami keadaan, selalu menghindar walaupun tetap ada beberapa serangan yang mengenai tubuhnya.


"Ki Bajraseta ! Sabar dulu. Katakan ! Ada masalah apa !" teriak Ki Bhanujiwo sambil terus bergerak menghindar.


Buuukkk ! Buuukkk !


Namun Ki Bajraseta tetap diam saja dan terus menyerang.


"Ki Bajraseta ! Hentikan seranganmu ! Apa yang merasuki pikiranmu hingga kau membabi buta menyerangku !" tanya Ki Bhanujiwo sambil mulai bersiap.


"Maaf Ki Bhanujiwo, aku tidak bisa mengatakannya. Balas saja seranganku ini !" jawab Ki Bajraseta yang segera melesat lagi menyerang Ki Bhanujiwo.


Ki Bhanujiwo, yang masih kebingungan, akhirnya tidak hanya menghindar, namun mulai menangkis dan membalas serangan.


Hingga kemudian terjadi saling tukar pukulan dan beberapa kali benturan tenaga dalam.


Plaaakkk ! Plaaakkk ! Deeesss !


Dalam beberapa kali benturan, kali ini Ki Bajraseta yang dibuat terkejut. Ternyata Ki Bhanujiwo memiliki tenaga dalam yang setingkat dengannya. Sehingga setiap kali tangan atau kaki mereka berbenturan, mereka sama sama tersurut mundur dua langkah.


Kembali lagi Ki Bajraseta dan Ki Bhanujiwo terlibat adu kekuatan. Saat mereka sedang saling menyerang, tiba tiba terdengar sebuah suara.

__ADS_1


"Ha ha ha haaaa ... Rasa tidak tegamu membuat kemampuanmu tidak keluar secara maksimal."


Begitu selesai suara itu, tiba tiba terlihat sekelebatan tubuh ikut menyerang Ki Bhanujiwo.


"Kakang, jangan ikut campur ! Biar aku selesaikan sendiri !" teriak Ki Bajraseta.


Namun orang yang baru datang itu tetap melesat ke arah Ki Bhanujiwo.


Karena secara mendadak dikeroyok dua, membuat Ki Bhanujiwo agak kewalahan. Dengan terpontang panting, Ki Bhanujiwo berusaha menghindari semua serangan.


Menghadapi Ki Bajraseta saja sudah pekerjaan yang sulit, apalagi dikeroyok dua orang yang ilmunya setingkat dengannya. Sehingga kembali beberapa pukulan mulai mengenainya.


Buuukkk ! Buuukkk ! Plaaakkk !


Ki Bhanuniwo mulai merasakan bahaya. Dirasakannya, serangan orang yang baru datang ini sangat telengas. Karena serangannya selalu mengarah ke bagian bagian tubuhnya yang vital yang bisa menyebabkan kematian.


Setelah sekitar sepuluh jurus melawan keroyokan dua orang, Ki Bhanujiwo mulai mendapatkan luka luka yang cukup serius. Hingga pada suatu serangan, pukulan Ki Bajraseta tepat mengenai dada Ki Bhanujiwo.


Buuukkk !!!


Ki Bhanujiwo terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan. Bergulingan yang memang disengaja agar bisa menjauh dari kedua lawannya.


Begitu tubuhnya berhenti berguling, Ki Bhanujiwo dengan cepat melesat turun menuju ke air terjun dimana Ki Dwijo saat ini sedang berada di sana.


Melihat Ki Bhanujiwo pergi melarikan diri, Ki Bajraseta dan Ki Bayuseta segera mengejarnya.


Dalam keadaan normal, ilmu meringankan tubuh Ki Bhanujiwo seimbang dengan ilmu meringankan tubuh Ki Bajraseta dan Ki Bayuseta. Namun karena sudah terluka parah, Ki Bhanujiwo tidak bisa berlari dengan maksimal. Untungnya Ki Bhanujiwo sangat memahami liku liku jalanan di gunung itu.


Ki Bhanujiwo lari bukan karena takut, tetapi karena dia tidak ingin mati konyol tanpa mengetahui apa penyebab Ki Bajraseta menyerangnya.


Dengan dada yang terasa sesak dan nafas yang agak berat, Ki Bhanujiwo memaksakan diri untuk berlari secepatnya. Sambil berlari, diambilnya dua butir obat yang untungnya dia bawa di kantong pakaiannya. Obat yang dia racik sendiri untuk meredakan luka dalam.


Setelah beberapa waktu berlari, akhirnya Ki Bhanujiwo sampai di air terjun saat Ki Dwijo dan Puguh baru saja selesai berlatih.

__ADS_1


"Ki ... Dwijo ... ! Awas .... ada pe ...nyerang !" kata Ki Bhanuniwo yang kemudian terjatuh di depan Ki Dwijo dan Puguh.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2