
Tanpa diberi aba aba, Bantala Yaksa dan tamu tamunya serentak melesat menuju ke puncak Gunung Pedang.
Sesampainya di puncak, bertepatan dengan saat Ki Dahana Yaksa melompat kemudian meluncur ke arah Resi Wismaya sambil bersiap melayangkan pukulan.
Melihat hal itu, Puguh yang sekilas melihat Resi Wismaya terluka, segera melesat menghadang arah munculnya Ki Dahana Yaksa sambil mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya dalam jumlah yang cukup besar.
Benturan tenaga dalam tingkatan sangat tinggi terjadi lagi hingga menimbulkan suara ledakan.
Blaaannnggg !
Sesaat setelah suara ledakan itu, tubuh Puguh terlempar ke belakang hingga beberapa meter dan mendarat di tanah dengan tubuh yang sedikit sempoyongan, di dekat Resi Wismaya yang sudah berdiri lagi.
Puguh merasakan ada kekuatan yang sangat besar melesak ke dalam tubuhnya, tetapi anehnya, tidak terjadi apa apa pada tubuhnya.
Namun sesaat kemudian, Puguh merasakan pedang yang terselip di pinggang kirinya bergetar.
Sambil tatapan matanya terus mengarah ke Ki Dahana Yaksa, dengan cepat Puguh meraba gagang pedangnya dan hendak mencabutnya.
Namun, gagang pedang itu belum sempat terangkat, ketika Puguh mendengar suara kakek tua yang mengajaknya ke Padepokan Wukir Candrasa ini.
"Jangan kau keluarkan pedangmu dulu, anak muda, belum saatnya !" kata Resi Wismaya sambil berjalan kemudian berhenti di samping Puguh.
Mendengar perkataan Resi Wismaya, Puguh tidak melanjutkan gerakannya.
"Ki Dahana Yaksa ! Selamat, kau berhasil mengalahkan kami semua !" kata Resi Wismaya.
Sementara itu, Ki Dahana Yaksa yang merasa gembira karena keberhasilannya menyerap kekuatan dari siluman elang yang dia kurung di tempat latihan pribadinya, sehingga sudah tidak terlalu memperhatikan keadaan Resi Wismaya dan Puguh yang tadi menangkis pukulannya.
"Baiklah Resi Wismaya. Karena sekarang ini aku sedang merasa gembira, besok siang kalian sahabatku semua, aku undang berpesta. Sekarang kalian silahkan beristirahat di tempat yang sudah disediakan murid murid Padepokan Wukir Candrasa !" kata Ki Dahana Yaksa.
__ADS_1
"Maaf aku pamit mendahului. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan !" sambung Ki Dahana Yaksa sambil membalikkan badan dan kemudian melesat ke bawah dengan cepat.
Sementara itu, Resi Wismaya, Dewi Laksita dan tokoh tokoh persilatan senior lainnya, serta Puguh dan anak anak muda yang lainnya segera dipersilahkan ke bawah menuju ke gedung Padepokan Wukir Kencana yang berdiri di punggung Gunung Pedang persis di bawah puncaknya.
Dalam perjalanan menujunke gedung Padepokan Wukir Candrasa, Resi Wismaya sempat berkata pada Puguh.
"Nanti malam temuilah aku. Ada yang perlu kita bicarakan !" kata Resi Wismaya.
----- * -----
Pada tengah malam, Puguh ditemani Rengganis menemui Resi Wismaya di kamar Resi Wismaya.
"Anak muda, sebelumnya perkenalkan, aku yang renta dan lemah ini bernama Resi Wismaya. Kalau boleh tahu, siapa nama kalian dan dari mana kalian berasal ?" kata Resi Wismaya.
Mendengar nama Resi Wismaya disebut, diam diam Puguh terkejut dan merasa senang bisa.bertemu dengan salah satu tokoh paling sakti di Kerajaan Kisma Pura.
"Ahh kalian murid murid tokoh tokoh paling sakti di Kerajaan Banjaran Pura," sahut Resi Wismaya, "Tetapi, maaf. Bagaimana kau bisa memiliki pedang itu ?"
"Ada apa dengan pedang ini, Resi Wismaya ?" tanya Puguh dengan heran.
"Aku seperti tidak asing dengan pedang itu, walaupun sebenar aku juga belum pernah melihat sebelumnya. Tetapi, sepertinya ada kaitannya dengan hal yang akan aku ceritakan kepada kalian !" jawab Resi Wismaya.
Mendengar ucapan Resi Wismaya, Puguh teringat akan bangunan khusus di halaman belakang Padepokan Wukir Candrasa, yang diceritakan oleh Bantala Yaksa. Maka Puguh pun memberanikan diri menceritakan tentang pedang yang dibawanya.
"Pedang ini secara tidak sengaja, aku temukan dan akhirnya aku warisi dari Pendekar Penunggang Elang," kata Puguh.
"Berarti ilmu ilmunya juga kamu yang mewarisi ?" sahut Resi Wismaya.
"Bisa dikatakan demikian, Resi," jawab Puguh.
__ADS_1
"Puguh, sejak pertama kita bertemu, sebenarnya aku sudah tertarik padamu, tertarik pada jurus jurus dan senjata yang kau gunakan. Dan ternyata tebakanku benar, kau mewarisi ilmu Pendekar Pengendara Elang !" kata Resi Wismaya.
"Nah sekarang dengarkan dengan cermat ! Saat aku bertarung melawan Ki Dahana Yaksa, aku merasakan adanya kekuatan yang sangat besar dari dalam tubuh Ki Dahana Yaksa. Selain itu, dalam ilmu barunya yang sedang dia kembangkan, aku menduga, Ki Dahana Yaksa menggunakan kekuatan siluman. Dan pada saat bertarung tadi, aku lihat dan aku rasakan, siluman yang diserap kekuatannya adalah siluman yang mempunyai kekuatan yang sangat besar. Apalagi setelah sekilas aku melihat, munculnya pendaran sinar hijau yang masuk ke dalam tubuh Ki Dahana Yaksa. Aku curiga, siluman yang diserap kekuatannya adalah siluman elang yang dulu pernah menjadi menunggu makam milik Trah Keluarga Asmara Dhatu !" lanjut Resi Wismaya panjang lebar.
Kemudian Resi Wismaya menceritakan sedikit, hubungan antara pendekar wanita bernama Asmara Dhatu dengan Pendekar penunggang Elang.
Mendengar cerita Resi Wismaya, Puguh menyampaikan kalau dirinya semakin yakin kalau getaran kekuatan yang sangat besar dari dalam bangunan di halaman belakang Padepokan Wukir Candrasa, yang dia rasakan adalah berasal dari kekuatan siluman elang yang dahulu milik Pendekar Pengendara Elang.
"Aku akan merebut dan mengambil siluman elang itu, Resi Wismaya !" kata Puguh.
"Puguh, kalau memang yang diserap kekuatannya oleh Ki Dahana Yaksa adalah siluman elang, memang kamulah yang paling berhak memiliki. Tetapi kau tidak bisa mengambilnya saat saat sekarang ini. Karena, saat ini siluman elang itu dalam keadaan yang tidak stabil. Pengaruh dari mantera mantera yang digunakan oleh Ki Dahana Yaksa, membuat kekuatan asli dari siluman itu keluar sekaligus sifat jahat dari siluman elang itu yang keluar. Dalam keadaan begini, siluman elang itu tidak akan mengenali pedang yang ada di tanganmu, walaupun kau memainkan jurus jurus ilmu pedang dari Pendekar Pengendara Elang !" kata Resi Wismaya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar aku bisa merebut siluman elang itu, Resi Wismaya ?" tanya Puguh.
"Sekarang ini, karena ilmu baru dan kekuatan Ki Dahana Yaksa belum sempurna, hal itu sangat berbahaya. Apalagi sepertinya Ki Dahana Yaksa menggunakan tehnik penggabungan secara paksa. Apabila dipaksakan bertarung, akan membuat sifat jahat dari siluman elang itu menguasai tubuh Ki Dahana Yaksa, sehingga menjadi kekuatan jahat dengan tingkat kekuatan yang sangat tinggi. Yang terjadi adalah siluman elang yang menguasai kekuatan gabungan antara kekuatannya dengan kekuatan milik Ki Dahana Yaksa. Dan itu akan sangat sulit untuk dikalahkan, mengingat dahulu kala, Pendekar Pengendara Elang bersama dengan siluman elangnya menjadi pendekar yang tidak ada tandingannya !" jawab Resi Wismaya.
"Tetapi jangan khawatir, ada satu cara yang akan membuat kau bisa merebut siluman elang dan sekaligus mengalahkan Ki Dahana Yaksa !" sambung Resi Wismaya.
"Cara apa itu Resi ?" tanya Puguh sedikit tidak sabar.
"Kita cari siluman binatang yang mempunyai kekuatan yang bisa menyamai kekuatan siluman elang. Atau binatang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi. Lalu kita gunakan untuk melawan Ki Dahana Yaksa. Siluman binatang itu akan memecah kekuatan siluman elang. Sebagian sebagai siluman elang itu sendiri yang nantinya akan menggempur siluman binatang yang kita gunakan. Dan sebagian lagi sebagai kekuatan yang bergabung dengan kekuatan Ki Dahana Yaksa yang akan kita lawan !" Resi Wismaya menjelaskan.
Mendengar penjelasan Resi Wismaya, untuk beberapa saat Puguh terdiam. Pikirannya melayang teringat akan dua hal.
Puguh teringat dengan siluman harimau, siluman ular dan siluman yang lainnya yang menghuni hutan perbatasan.
Puguh juga teringat binatang yang memiliki tenaga dalam yang tinggi yang sempat dia lawan saat dia hidup di dalam goa di dasar jurang, yaitu serigala mata biru.
__________ ◇ __________
__ADS_1