
Pertarungan yang menggunakan kekuatan siluman memang sangat hebat. Karena, semakin lama pertarungan berlangsung, kekuatan mereka semakin meningkat, disebabkan kekuatan siluman yang masuk ke tubuh semakin banyak.
Demikian juga dengan Ki Dahana Yaksa. Setiap melakukan serangan, kekuatan serangannya semakin bertambah.
Bahkan setelah pertarungan melewati lima puluh jurus, pendaran sinar merah mulai keluar dari siluet berwujud siluman burung elang.
Pendaran sinar merah itu tidak hanya menyelimuti wujud siluman elang, namun juga memasuki tubuh Ki Dahana Yaksa.
Garis garis merah pembuluh darah mulai memenuhi tubuh Ki Dahana Yaksa.
Dengan bulatan mata yang mulai berubah menjadi berwarna merah, serta pendaran sinar merah yang mulai mendominasi bilah pedangnya, membuat serangan serangan Ki Dahana Yaksa semakin kuat dan semakin ganas.
Sementara itu, hembusan angin mulai mengelilingi tubuh Puguh. Hembusan angin yang membawa kilatan kilatan sinar biru itu, semakin meluas dan membuat hawa udara di sekitarnya semakin bertambah dingin.
Dengan gerakan mereka berdua yang semakin cepat, membuat hanya sedikit orang yang bisa mengikuti jalannya pertarungan.
Dengan tingkat kecepatan seperti itu, membuat pertarungan lebih banyak terjadi di udara.
Bagi sebagian besar orang, pertarungan itu terlihat sebagai kelebatan sinar yang saling berbenturan dan menimbulkan suara benturan yang sangat keras.
Hingga pada suatu saat, dalam posisi melayang, Ki Dahana Yaksa berusaha mengurung Puguh dengan rangkaian jurus jurusnya. Kelebatan sinar merah yang keluar dari bilah pedangnya, mematuk matuk dan menebas tubuh Puguh.
Bersamaan dengan itu, kilatan kilatan bilah pedang yang berwarna hijau terang yang sekarang bercampur dengan warna biru itu, terus menghadang kemanapun arah sinar merah itu berkelebat.
Blarrr ! Blarrr ! Blarrr !
Blaaannnggg !
Setiap terjadi benturan tenaga dalam yang sangat kuat, membuat tubuh mereka selalu terpental ke belakang. Setiap kali pula kekuatan mereka bertambah. Seperti yang terjadi sekarang ini.
Sesaat setelah terjadi benturan, Ki Dahana Yaksa kembali berteriak sambil mengempos tenaga dalam.
Aarrrggghhh !
Sesaat setelah teriakan itu, secara perlahan wujud siluman elang itu menjadi semakin nyata.
Seluruh tubuhnya berwarna hijau dengan bola mata yang berwarna merah membara. Terlihat tubuhnya semakin bertambah besar. Getaran kekuatan yang keluar dari tubuhnya pun terasa semakin kuat dan sangat menekan.
Kraaakkk !
"Inikah siluman elang yang dulu menemani Pendekar Penunggang Elang ? Sungguh siluman dengan kekuatan yang sangat besar. Semoga siluman elang itu masih mengenali pedang yang menjadi rumahnya ini !" kata Puguh dalam hati.
Kemudian secara bersamaan, Puguh mengalirkan tenaga dalamnya hingga jumlah yang sangat banyak, terutama ke dalam bilah pedangnya.
__ADS_1
Sinar hijau yang menyelimuti tubuhnya menjadi semakin meluas dan menyala terang. Bilah pedangnya sudah tidak nampak, hanya terlihat seperti sinar berwarna hijau, dengan garis biru di tengahnya.
"Siluman serigala mata biru ! Keluarlah ! Bantu aku menarik kembali siluman elang itu !" teriak Puguh.
Perlahan lahan, wujud siluman serigala mata biru menjadi semakin nyata, dengan getaran kekuatan yang sangat mengintimidasi.
"Ggrrrhhh ! Percayakan padaku, anak muda !" jawab siluman serigala mata biru.
Sementara itu, tanpa semua orang sadari, keluarnya kekuatan penuh dua siluman binatang itu membuat beberapa sosok yang membaur dengan orang orang yang menyaksikan pertarungan itu, matanya berkilat.
Kemudian, saat semua orang masih terpukau dengan apa yang mereka lihat, beberapa sosok itu mundur dengan perlahan dan kemudian melesat pergi bergantian ke arah yang berbeda beda.
Di tengah halaman depan istana yang sangat luas itu, tubuh Ki Dahana Yaksa yang hampir sepenuhnya dikuasai oleh kekuatan siluman elang, kembali melesat, menerjang ke arah Puguh.
Bersamaan dengan itu, Puguh yang sudah bersiap, segera bergerak maju menyambut serangan Ki Dahana Yaksa.
Sesaat kemudian, terjadi dua pertarungan yang berlangsung dalam gerakan yang sangat cepat.
Dengan pedangnya yang menyala hijau kebiruan, Puguh terus menerus menghadang ke arah manapun pedang Ki Dahan Yaksa menyerang.
Klang ! Klang !
Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !
"Sepertinya Ki Dahana Yaksa sudah mulai dikuasai oleh kekuatan siluman elang. Aku harus segera menghentikannya, sebelum sifat jahat siluman elang sepenuhnya menguasai tubuhnya dan mendominasi kekuatan siluman elang !" kata Puguh dalam hati.
"Siluman serigala mata biru ! Kau tahan dulu siluman elang itu ! Akan kucoba menghentikan dulu orang ini !" kata Puguh dengan agak keras.
Mendengar ucapan Puguh, siluman serigala mata biru itu menggeram sambil terus bertarung melawan siluman elang.
Ggrrrhhh !
Kemudian, Puguh menambah lagi aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Dengan gerakan yang bertambah cepat, Puguh berusaha mendesak Ki Dahana Yaksa dengan cecaran tusukan ataupun tebasan pedang.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Dengan tingkat kesadaran yang semakin tipis, Ki Dahana Yaksa merasakan tangannya bergetar setiap senjata pedangnya berbenturan dengan pedang di tangan Puguh.
Hingga suatu saat, Puguh melihat, gerakan Ki Dahana Yaksa menjadi sedikit melambat. Dalam posisi sama sama melayang, setelah berkali kali mencecar dengan tebasan pedang, tendangan kaki kiri Puguh berhasil mendarat tepat di dada Ki Dahana Yaksa.
Duuuaaakkk !
Terkena tendangan dengan kekuatan yang sangat tinggi, tubuh Ki Dahana Yaksa terlempar hingga beberapa langkah, jatuh bergulingan dan berhenti dalam posisi terduduk.
__ADS_1
Selama beberapa waktu, Ki Dahana Yaksa merasakan dadanya sesak dan nafasnya berat. Sesaat kemudian, Ki Dahana Yaksa memuntahkan darah segar.
Sementara itu, melihat Ki Dahana Yaksa terduduk dalam kondisi terluka, Puguh segera melesat ke arah siluman elang.
"Siluman serigala mata biru ! Terimakasih ! Sekarang serahkan dia padaku !" teriak Puguh yang melayang menghadang gerakan siluman elang sambil mengalirkan sebagian besar tenaga dalamnya ke arah pedangnya.
Seketika, bilah pedang di tangan kanan Puguh mengeluarkan nyala hijau yang semakin terang dan pekat.
Disertai dengan bacaan mantera yang sudah diajarkan oleh Resi Wismaya, Puguh mengarahkan ujung pedangnya ke arah siluman elang.
Melihat pedang itu dan merasakan getaran kekuatan dari pedang itu, sesaat siluman elang itu terpaku. Namun dengan menggerakkan kepalanya disertai dengan teriakan yang keras, siluman elang itu melesat ke arah Puguh.
Kraaakkk ! Kraaakkk !
Menyadari siluman elang itu masih sempat mengenali getaran kekuatan dari senjata pedang di tangan kanannya, Puguh segera menyambut serangan siluman elang itu.
Dengan tetap melayang cepat ke depan, Puguh sedikit berkelit untuk menghindari hempasan dari sayap siluman elang. Kemudian telapak tangan kirinya melakukan hantaman cepat yang mengenai dada siluman elang.
Daaakkk !
Saat tubuh siluman elang itu terdorong ke belakang dengan agak limbung, Puguh segera berusaha mendekatkan ujung pedangnya ke paruh siluman elang.
Begitu pedang itu sangat dekat dengan paruh siluman elang, pedang di tangan Puguh bergetar dan bergerak secara liar.
Dengan tenaga dalamnya, Puguh berusaha mengendalikan gerakan pedangnya.
Puguh merasakan, pedangnya ditarik oleh kekuatan yang keluar dari dalam paruh siluman elang.
Puguh pun mempertahankan pedang itu sekuatnya dan berusaha menarik kembali pedang itu.
Setelah beberapa waktu terjadi tarik menarik tenaga dalam antara Puguh dan siluman elang, terlihat wujud nyata siluman elang itu semakin memudar. Bersamaan dengan itu, warna merah di kedua bola mata siluman elang itu semakin mengecil dan akhirnya menghilang.
Kemudian, wujud siluman elang yang kembali berbentuk siluet itu perlahan terserap masuk ke dalam bilah pedang.
Bersamaan dengan itu, Ki Dahana Yaksa yang sudah agak pulih kondisinya dan juga mulai pulih kesadarannya karena ditinggalkan oleh kekuatan siluman elang, berdiri dan melihat pedang di tangan Puguh.
"Pedang itu ! Benarkah pedang milik Pendekar Pengendara Elang ? Pedang itu harus menjadi milikku !" gumam Ki Dahana Yaksa.
Kemudian, dengan seluruh sisa kekuatannya, Ki Dahana Yaksa melesat ke arah Puguh dan menebaskan pedangnya dengan sepenuh tenaga ke tubuh Puguh.
Sraaattt !
Jdaaarrr !
__ADS_1
__________ ◇ __________