
Setelah melakukan perjalanan selama satu hari penuh tanpa beristirahat, Ki Dwijo dan Resi Wismaya sampai di kotaraja Kerajaan Kisma Pura.
Di kotaraja, terutama di Istana Kerajaan Kisma Pura dan sekitarnya, diam diam terjadi kesibukan untuk persiapan melakukan peperangan, walaupun tidak sampai menimbulkan suasana tegang dan menakutkan.
Hampir di seluruh penginapan ataupun rumah makan, dipenuhi oleh para pendekar yang sengaja datang ke kotaraja untuk membantu pasukan kerajaan berperang melawan pasukan perang asing, yang dikabarkan sedang dalam perjalanan menunu ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura.
Hal itu dikarenakan adanya ajakan Ki Prana Jiwa, Ketua Muda Padepokan Kuwanda Brastha dan juga kabar yang disampaikan oleh Ki Prana Jiwa tentang adanya pasukan perang yang sangat besar dari negeri seberang lautan.
Selain itu, juga dikarenakan raja Kerajaan Kisma Pura, Prabu Girindra Nata, yang mempunyai banyak kenalan tokoh tokoh dunia persilatan yang berada di dalam wilayah Kerajaan Kisma Pura, ataupun para tokoh dunia persilatan yang berasal dari negeri negeri di sekitar wilayah Kerajaan Kisma Pura.
Sementara itu, kedatangan Ki Dwijo dan Resi Wismaya segera disambut oleh Ki Prana Jiwa, yang merasa gembira dengan kedatangan mereka berdua.
Ki Prana Jiwa bisa segera mengetahui kedatangan Ki Dwijo dan Resi Wismaya, karena hasil laporan dari para anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang bertugas menjadi mata mata.
----- * -----
Sementara itu di tempat lain. Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita membutuhkan waktu tiga hari untuk tiba di Kerajaan Banjaran Pura.
Saat memasuki wilayah Kerajaan Banjaran Pura, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita disambut oleh suasana tegang dan gelisah seluruh rakyat Kerajaan Banjaran pura dan para punggawa kerajaan.
Setibanya di Istana Kerajaan Banjaran Pura, kedatangan Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita disambut dengan gembira oleh Prabu Pandu Kawiswara. Karena Prabu Pandu Kawiswara sudah melihat sendiri kemampuan silat Putri Cinde Puspita.
Sebenarnya, walaupun di Istana Kerajaan Banjaran Pura sudah kedatangan tokoh tokoh tua dunia persilatan yang berada di wilayah Kerajaan Banjaran Pura, seperti Ki Bhanuniwo, Ki Pande, Ki Tanggul Alas serta Ki Kebo Ranu, namun belum bisa memberikan ketenangan pada seluruh punggawa kerajaan hingga para prajuritnya.
__ADS_1
Pada suatu kesempatan saat berbincang bincang dengan Putri Cinde Puspita dan Dewi Laksita, Prabu Pandu Kawiswara mengatakan, kalau dirinya mengharapkan kedatangan Puguh dan Senopati Roro Nastiti. Prabu Pandu Kawiswara juga mengatakan, kalau dirinya sempat tidak langsung mempercayai kabar yang disampaikan oleh Puguh dan Senopati Roro Nastiti, tentang adanya paaukan perang yang sangat besar yang sudah mendarat di pesisir yang menjadi wilayah Kerajaan Kaling Pura.
Pada saat itu juga, Putri Cinde Puspita menceritakan tentang pertemuannya dengan Puguh dan Senopati Roro Nastiti.
"Kakang Prabu Pandu Kawiswara, aku dan guru sempat bertemu dengan Puguh dan Senopati Roro Nastiti. Bahkan saat itu, kami sempat bertarung bersama, melawan tiga belas panglima perang dari pasukan negeri seberang lautan itu. Kami berhasil menewaskan sebagian besar panglima perang itu. Namun, kami semua harus segera berpisah, karena kami berbagi tugas !" kata Putri Cinde Puspita.
Kemudian, Putri Cinde Puspita menceritakan tentang Puguh yang ditemani oleh Senopati Roro Nastiti, yang mendapatkan tugas untuk melihat dan memastikan keadaan Kerajaan Kaling Pura, negeri yang pertama kali kedatangan pasukan perang yang sangat besar kerajaan seberang lautan.
Setelah mendengar cerita Putri Cinde Puspita, Prabu Pandu Kawiswara segera memerintahkan beberapa prajuritnya untuk menghadang kedatangan Puguh dan Senopati Roro Nastiti, untuk kemudian, mengajak Puguh dan Senopati Roro Nastiti menuju ke Kerajaan Banjaran Pura.
----- * -----
Di tempat yang lain lagi, Puguh dan Roro Nastiti menuju ke wilayah Kerajaan Kaling Pura.
Perjalanan Puguh dan Roro Nastiti berjalan lambat karena, mereka berdua di setiap tempat selalu mencari berita tentang pasukan perang itu.
Pada suatu siang, saat Puguh dan Roro Nastiti sedang beristirahat di bawah pohon di pinggir jalan, mereka berdua didatangi oleh beberapa orang yang mengenakan pakaian seperti seorang pengemis.
"Maaf kami mengganggu, tuan dan nona. Apakah benar kami berbicara dengan Pendekar Puguh ?" tanya salah seorang dari mereka.
"Benar ! Ehh tunggu, apa hubungan kalian dengan Ki Prana Jiwa ?" jawab Puguh kemudian ganti bertanya.
"Kami adalah anak buah dari Ketua Muda Padepokan Kuwanda Brastha, Ki Prana Jiwa !" jawab salah seorang dari beberapa orang berpakaian seperti pengemis.
__ADS_1
Kemudian, Puguh dan Roro Nastiti diajak ke suatu tempat. Setelah melewati beberapa belokan, mereka tiba di tempat yang cukup tersembunyi. Di tempat itu, Puguh dan Roro Nastiti dipertemukan dengan seseorang laki laki yang mengenakan pakaian yang sudah sobek sobek. Namun, walaupun dalam pakaian yang sobek dan terlihat kumuh, tetap terlihat bahwasanya laki laki itu masih sangat muda dan terlihat tampan.
"Pendekar Puguh, terimakasih sekali, telah bersedia datang di tempat ini. Sebelumnya, maafkan atas kelancangan kami !" kata laki laki muda itu.
Kemudian, laki laki muda itu menceritakan, kalau dirinya adalah Pangeran Kanaya Wijaya, putra dari raja Kerajaan Kaling Pura yang telah dibunuh oleh salah seorang panglima perang dari Kerajaan Menara Langit yang menyerbu kemudian menduduki Istana Kerajaan Kaling Pura.
Dirinya bisa selamat, karena saat kebetulan saat melakukan perlawanan, dibantu oleh anggota Padepokan Kuwanda Brastha cabang pesisir yang kebetulan posisi ketua cabang dipegang oleh Pangeran Kanaya Wijaya.
Setelah berlatih ilmu silat dan tenaga dalam, Pangeran Kanaya Wijaya diam diam bergabung dengan Padepokan Kuwanda Brastha, karena tertarik dengan pergerakan Padepokan Kuwanda Brastha yang membela kebenaran, melindungi rakyat kecil dan tertindas serta membasmi kejahatan dan memusuhi pejabat kerajaan yang berbuat jahat.
Pada kesempatan itu, Pangeran Kanaya Wijaya meminta bantuan pada Puguh untuk merebut kembali Istana Kerajaan Kaling Pura, sekaligus membebaskan adiknya, Putri Citraloka yang dimasukkan ke penjara bersama sama dwngan penghuni istana yang lainnya.
"Pangeran Kanaya Wijaya, tentang merebut kembali Kerajaan Kaling Pura, kami akan membantu semampu kami. Tapi tolong ceritakan pada kami, pasukan perang yang sangat besar itu dari mana dan bagaimana perkiraan kekuatan mereka !" kata Puguh menanggapi cerita Pangeran Kanaya Wijaya.
Kemudian Pangeran Kanaya Wijaya menceritakan, kalau sebenarnya, pasukan perang yang sangat besar itu berasal dari Kerajaan Menara Langit, suatu kerajaan yang sangat besar dari seberang lautan.
Pasukan yang sangat besar itu mempunyai beberapa panglima utama, yang biasanya mengenakan pakaian panglima perang berwarna keemasan, dan mempunyai banyak sekali panglima perang yang tingkat kesaktiannya sangat tinggi.
Mereka semua dipimpin oleh seorang pangeran yang bernama Pangeran Langit Barat.
"Sekarang ini, seberapa besar, pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang berada di Kerajaan Kaling Pura dan seberapa besar jumlah kekuatan panglimanya, Pangeran ?" tanya Puguh lagi.
"Pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang masih berada di Kerajaan Kaling Pura ini, hanya sekitar dua ribu prajurit. Dipimpin oleh seorang panglima utama yang bernama Jaladri dan dibantu oleh sekitar delapan panglima perang !" jawab Pangeran Kanaya Wijaya.
__ADS_1
"Baiklah Pangeran, mari kita berhitung dengan kekuatan yang kita punya !" kata Puguh lagi.
---------- ◇ ----------