Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menuju Padepokan Wukir Candrasa


__ADS_3

Setelah selesai menceritakan kisah itu, terlihat luapan emosi di wajah siluman harimau dan binatang siluman yang lain.


"Kalian tahu, dari mana sekelompok orang itu ? Dan ke arah mana bila aku akan mencari siluman elang itu ?" tanya Puguh.


"Secara tepatnya kami tidak tahu. Namun, kalau melihat dari kekuatan dan senjata yang mereka bawa sama semua, kau bisa memulai dari sana. Hanya suatu kelompok manusia atau perguruan yang sangat besar dan mempunyai kemampuan yang tinggi, yang berani berurusan dengan penghuni hutan perbatasan ini !" jawab siluman harimau.


"Kalau kalian akan mencari dimana siluman elang dibawa, arah yang kalian tempuh akan sangat jauh dan berseberangan dengan arah yang kalian tuju, jika memang kalian adalah manusia dari Kerajaan Banjaran Pura !" sambung siluman harimau.


Mendengar perkataan siluman harimau itu, sejenak Puguh merasa bimbang. Dirinya juga sudah berjanji pada raja Kerajaan Banjaran Pura, Prabu Pandu Kawiswara, untuk mewakili Kerajaan Banjaran Pura meladeni tantangan raja Kerajaan Kisma Pura, Prabu Girindra Nata.


"Apakah kalian tahu tentang Prabu Girindra Nata, raja dari Kerajaan Kisma Pura ?" tanya Puguh.


"Kenapa tiba tiba kau bertanya tentang raja itu ?" siluman harimau itu bertanya kembali.


Kemudian Puguh menceritakan urusannya dengan Prabu Girindra Nata pada siluman harimau.


Mendengar cerita itu, siluman harimau menatap tajam wajah Puguh.


"Anak manusia, kami akui kalian sangat berani untuk melawan raja Kerajaan Kisma Pura itu ! Dia raja yang sangat sakti !" kata siluman harimau, "Kalau kalian bisa menerima saran kami. Pergilah dulu mencari siluman elang itu, sampai ketemu. Tentang raja Kerajaan Kisma Pura itu, kami akan memberitahu kalian, kalau rombongan raja menuju ke kerajaanmu. Karena, hanya dengan melintasi hutan perbatasan inilah, jalan menuju ke Kerajaan Banjaran Pura !"


"Bagaimana cara kalian memberitahu kami, kalau Prabu Girindra Nata melintasi hutan perbatasan ini ?" tanya Puguh dengan heran.


"Kami semua para binatang siluman percaya pada kalian, dengan menceritakan tempat dan keadaan siluman elang. Kami hanya berharap, kalian juga mempercayai kami, bahwasanya kami akan memberi kabar pada kalian, jika raja Kerajaan Kisma Pura melewati hutan perbatasan ini !" kata siluman harimau sambil kemudian mulutnya bergerak meniup yang membuat sebuah benda kecil meluncur ke arah Puguh.


Melihat ada sebuah benda yang meluncur ke arahnya, Puguh segera menangkapnya dengan tangan kanannya.


"Cincin ?" tanya Puguh.


"Pakailah di jari manismu. Kalau cincin itu mengeluarkan getaran tenaga dalam, itu artinya kalian harus segera kesini secepatnya, karena raja Kerajaan Kisma Pura telah melewati hutan ini !" sahut siluman harimau.


Kemudian, tanpa.menunggu jawaban Puguh, siluman harimau itu melesat ke atas dan melayang hingga di atas puncak pohon.

__ADS_1


"Ikuti aku, anak muda !" teriak siluman harimau.


Mendengar perkataan siluman harimau, Puguh dan Rengganis segera melesat ke atas dan terbang mengikuti siluman harimau.


Setelah Puguh dan Rengganis tiba di sampingnya, siluman harimau itupun menunjuk ke suatu arah.


"Kalian lihat gunung yang terlihat kecil itu ? Menurut kabar yang aku dengar, di lereng gunung itu ada sebuah padepokan bela diri yang sangat besar !" kata siluman harimau, "Mungkin kau bisa mulai dari sana !"


Kemudian, pada hari itu juga, Puguh dan Rengganis kembali melesat ke arah Kerajaan Kisma Pura. Tujuan mereka berdua adalah ke gunung yang ditunjukkan oleh siluman harimau. Tempat yang cukup jauh, bahkan melewati kotaraja Kerajaan Kisma Pura. Tempat yang mungkin bisa dijangkau dalam sehari.


Pada pagi hari di hari berikutnya, Puguh dan Rengganis tiba di kaki sebuah gunung yang sangat besar dan terlihat sangat tinggi. Begitu luasnya kaki gunung itu sehingga jalan menuju ke arah lereng gunung itu cukup landai.


Pemandangan di kaki gunung itu cukup bagus. Hamparan sawah dengan tanaman padi yang tampak subur dan ladang ladang penuh dengan aneka tanaman palawija.


Hembusan angin yang tidak terlalu kencang membuat paru paru seperti dimanjakan dengan udara yang sangat segar.


Ditambah lagi dengan adanya sungai yang mengalir tidak jauh dari jalan setapak yang dilewati Puguh dan Rengganis. Sungai yang cukup dangkal terlihat dari adanya bebatuan yang menghitam di sela sela aliran air yang tenang.


Setelah berjalan sekitar setengah hari, Puguh dan Rengganis sampai di sekitar lereng gunung itu.


Di kejauhan, Puguh dan Rengganis melihat, ada bangunan yang sangat besar dengan halamannya yang luas di depan mereka, dengan beberapa laki laki muda menjaga di gerbang masuk halaman.


Ketika Puguh dan Rengganis tiba di dekat gerbang masuk ke halaman, mereka berdua dihadang oleh penjaga gerbang yang ternyata usianya masih sangat muda muda.


"Kalian berdua undangan sendiri atau mewakili siapa ?" tanya salah satu dari penjaga itu.


Puguh dan Rengganis yang tidak mengetahui kalau masuk ke lereng gunung itu harus ada undangan, sesaat terdiam.


"Maaf, kami hanya lewat untuk melihat lihat daerah sini !" jawab Puguh.


"Apa kalian belum mengetahui, kalau seluruh wilayah gunung ini mulai dari kaki gunung hingga ke puncak, merupakan daerah kekuasaan Padepokan Wukir Candrasa ?" tanya salah satu penjaga itu.

__ADS_1


"Maaf, kami tidak mengetahuinya," jawab Puguh yang dalam hati terkejut sekaligus gembira, bisa mengetahui tempat keberadaan Padepokan Wukir Candrasa.


"Kembalilah ! Dan jangan pernah menginjakkan wilayah ini kalau tidak mendapatkan undangan. Kecuali kalian ingin ditangkap ! Pergilah !" sahut penjaga itu.


Puguh dan Rengganis baru saja hendak membalikkan badan meninggalkan tempat itu, saat terdengar suara seorang kakek tua.


"Mereka berdua muridku ! Mereka akan menghadiri undangan denganku !" kata seorang kakek tua yang tiba tiba telah berada di samping Puguh, sambil tangan kanannya merogoh kantong dan mengeluarkan selembar batu pipih dan kemudian melemparkannya ke arah penjaga itu.


Penjaga itu memeriksa batu pipih yang dia tangkap untuk memastikan apakah benda itu asli atau bukan.


Setelah mengetahui kalau asli undangan yang Padepokan Wukir Candrasa, penjaga itu mempersilahkan kakek tua itu masuk.


Kakek tua itupun segera melangkah melewati pintu gerbang. Pada saat yang bersamaan, Puguh mendengar suara kakek tua itu seperti berbisik di telinganya.


"Cepat masuk ikuti aku, anak muda !"


Mendengar suara itu, Puguh segera menarik tangan Rengganis dan mengikuti kakek tua itu.


"Kakek, terimakasih telah menolong kami hingga kami bisa menaiki gunung ini !" kata Puguh.


"Heehhh he he he ! Anak muda ! Apa kalian lupa, kalau beberapa hari yang lalu kalian juga telah menolongku ?" kata kakek tua itu sambil terus berjalan mengambil jalur ke arah punggung gunung, tidak menuju ke bangunan yang sangat besar itu. Kakek tua itu adalah orang tua yang bertarung melawan Ki Jala Seta, seorang pendekar yang menggunakan senjata dayung besar, di pinggir danau yang dilewati Puguh dan Rengganis.


"Anak muda, apakah kalian ingin melihat pertandingan menjajal ilmu silat ?" sambung kakek tua itu dengan pertanyaan.


"Dimana diadakan pertandingan silat itu, kakek ?" tanya Puguh.


"Heehhh he he he ! Padepokan Wukir Candrasa ini, setiap beberapa tahun sekali, mengundang beberapa sahabatnya !" jawab kakek tua itu.


"Kita akan menuju puncak gunung. Nanti di sana, kalau ada yang bertanya, jawab saja kamu muridku !Mereka tidak akan banyak bertanya lagi !"


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2