
Dalam dunia persilatan, bagaimanapun kekuatan adalah segalanya.
Setelah memasuki seratus jurus lebih, akhirnya Dewi Laksita yang menghadapi dua biksu yang masing masing kesaktiannya seimbang dengan dirinya, terdesak dan sudah mendapatkan banyak luka.
Demikian juga dengan Putri Cinde Puspita, walaupun mempunyai getaran kekuatan yang sama uniknya dengan yang dimiliki Rengganis, karena tertinggal dalam kesempurnaan penguasaan tehnik dan juga jam terbang, membuat Putri Cinde Puspita terdesak oleh Rengganis. Bahkan beberapa luka sayatan sudah menghiasi tubuhnya. Pakaiannya pun sudah banyak terkena noda darah.
Akhirnya, setelah beberapa kali terjadi benturan senjata, Dewi Laksita harus terjengkang karena perutnya mendapatkan sodokan ujung tongkat di tangan Mahawiku Nuraga.
Duuuaaakkk !
Terkena pukulan tongkat di perutnya, tubuh Dewi Laksita terlempar ke belakang dan jatuh terduduk. Sambil memaksakan untuk tersenyum, Dewi Laksita perlahan bangkit berdiri lagi. Terlihat sedikit darah di kedua sudut bibirnya.
Bersamaan dengan itu, Putri Cinde Puspita yang sudah sangat terdesak, memaksakan diri menangkis serangan pedang Rengganis. Sambil memusatkan tenaga dalamnya ke arah senjata dwisulanya, Putri Cinde Puspita mengarahkan senjata dwisulanya untuk menyapok bilah pedang yang menyasar ke dadanya.
Untuk kesekian kalinya, terdengar suara dengungan yang sangat keras saat bilah dwisula berbenturan dengan bilah pedang Rengganis.
Twaaannnggg !
Suara dengungan itu disusul dengan suara teriakan keduanya.
Rengganis berteriak karena merasakan sakit di telinganya karena suara dengungan itu. Terlihat kedua bola matanya berubah menjadi ungu, tidak lagi biru.
"Aaarrrccchhh !"
Semantara itu, Putri Cinde Puspita berteriak saat tubuhnya terlempar ke belakang hingga beberapa depa dengan bahu kirinya masih saja tergores bilah pedang.
"Aaahhhh !"
Tubuh Putri Cinde Puspita terjatuh di tanah hingga bergulingan kemudian berhenti terduduk dengan satu kaki berlutut.
Melihat lawannya terduduk, Rengganis segera melenting dan melesat dengan sangat cepat ke arah Putri Cinde Puspita. Pedangnya lurus ke depan mengancam dada Putri Cinde Puspita.
Di saat yang bersamaan, tiba tiba terdengar suara yang mengejutkan mereka semua.
"Adik Rengganis, hentikan !" teriak Puguh yang akhirnya bisa menyusul dan menemukan Rengganis, sambil tangan kanannya meloloskan senjata pedang dari sarungnya, untuk menangkis pedang Rengganis. Tangkisan itu menimbulkan suara yang cukup keras.
Traaannnggg !
Terkena tangkisan Puguh, pedang Rengganis berbelok arah dan tubuhnya sedikit terhuyung.
__ADS_1
Sambil membetulkan kuda kudanya, Rengganis menatap Puguh yang baru datang. Bukan senang karena Puguh datang, justru Rengganis kebingungan karena dalam pandangannya, ada dua Puguh di tempat itu.
Tatapan tajam mata ungu Rengganis berpindah pindah dari Puguh ke Mahawiku Nuraga. Namun sesaat kemudian, Rengganis kembali berteriak kencang sambil tangan kirinya memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.
"Aaarrrccchhh !"
Tiba tiba dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata, Rengganis melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Melihat Rengganis pergi, Puguh berniat mengejar, namun melihat disitu ada Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita yang terluka, sedangkan di tempat itu masih ada Wiku Polobogo yang kemaren ikut mengeroyoknya serta temannya sesama biksu, Puguh menunda perginya untuk mengejar Rengganis.
Seketika bilah pedangnya mengeluarkan sinar hijau terang saat teraliri tenaga dalam yang meluap keluar dari tubuh Puguh.
"Kejahatan apa lagi yang kau lakukan, biksu jahat ? Rupanya kau belum jera juga !" kata Puguh sambil menatap tajam Wiku Polobogo.
Ditatap seperti itu oleh Puguh, Wiku Polobogo melirik ke arah Mahawiku Nuraga. Sekilas, mereka berdua terlihat menganggukkan kepala dengan pelan.
Kemudian, dengan sangat cepat, kedua biksu itu melesat ke arah Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita yang berdiri terdiam, lalu melayangkan serangan dengan tongkat mereka pada keduanya.
Melihat serangan licik itu, Puguh Puguh segera melesat untuk menghalau serangan kedua biksu itu. Pedangnya berputar begitu rupa hingga membentur kedua tongkat di tangan kedua biksu itu.
Trang ! Trang !
Melihat Puguh hendak mengejar ke arah lari Wiku Polobogo, Dewi Laksita segera mencegahnya.
"Anak muda, jangan kau kejar dulu !" kata Dewi Laksita.
"Lalu bagaimana dengan Rengganis ?" tanya Puguh.
"Percayalah padaku, akan aku ceritakan padamu," jawab Dewi Laksita sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Melihat keadaan Dewi Laksita, Puguh segera memberikan bantuan dengan menyalurkan tenaga dalamnya melalui punggung Dewi Laksita.
Kemudian Puguh menempelkan bilah pedangnya di punggung Dewi Laksita selama beberapa waktu untuk menjaga bilamana Dewi Laksita terkena racun.
Setelah selesai membantu mengobati Putri Cinde Puspita juga, kemudian Dewi Laksita bercerita.
"Nampaknya Rengganis terkena sihir dari kedua biksu tadi. Sihir itu membuat penyatuan kekuatan Rengganis dengan kekuatan siluman serigala mata biru goyah," kata Dewi Laksita.
"Aku khawatir dengan keselamatan Rengganis," ucap Puguh.
__ADS_1
"Tapi jangan khawatir. Karena kekuatan Rengganis sudah pada tingkat sangat tinggi, dia hanya goyah proses penyatuan kekuatannya, tidak sampai terpengaruh dan dikendalikan oleh kedua biksu yang menyihirnya. Dan kedua biksu itu tidak akan berani berbuat macam macam pada Rengganis, karena tingkat kekuatan dan tenaga dalam mereka dibawah Rengganis," jawab Dewi Laksita.
"Lalu, bagaimana cara untuk menghilangkan sihir yang mengenai Rengganis ? Apakah kedua biksu itu harus aku tangkap ?" tanya Puguh.
"Kau tangkap kedua biksu, bahkan kau bunuh mereka sekalipun, tidak akan menyembuhkan Rengganis ! Hanya ada satu cara untuk menghilangkan sihir itu. Kau dorong sihir yang masuk ke tubuh Rengganis dengan kekuatan tenaga dalam yang tingkatnya lebih tinggi dari tenaga dalam Rengganis. Aliran tenaga dalam itu untuk membersihkan apapun yang sempat dihirup atau meresap ke dalam pori pori kulit Rengganis dan masuk ke dalam peredarannya !" jawab Dewi Laksita.
Mendengar penjelasan Dewi Laksita yang sangat panjang, selama beberapa saat Puguh terdiam.
"Jangan khawatir anak muda. Kami akan membantumu mencari dan menyembuhkan Rengganis. Karena sejak awal aku memang berniat membebaskan Rengganis dari jeratan kedua biksu itu !" kata Dewi Laksita.
Akhirnya Puguh ditemani oleh Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita mengejar ke arah larinya Rengganis. Selama perjalanan bersama yang cukup singkat itu, Putri Cinde Puspita bisa cepat akrab dengan Puguh, karena sebelumnya mereka sudah saling kenal. Sehingga merska berdua jadi sering berbincang, selama dalam perjalanan.
----- * -----
Pada hari berikutnya, Puguh yang ditemani oleh Dewi laksita dan Putri Cinde Puspita tiba di suatu lembah yang sangat luas yang membelah deretan gunung gunung.
Tempat yang mereka lewati itu tampak sangat indah. Dengan sawah sawah di kiri dan kanan jalan dan latar belakang gunung yang menjulang tinggi di kejauhan membuat mata tidak pernah merasa bosan untuk melihatnya.
Cukup jauh di ujung jalan yang dilalui Puguh dan Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita, terlihat beberapa bayangan tubuh berdiri di tengah jalan, seolah menunggu mereka bertiga.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sampai di ujung jalan yang berada persis di kaki gunung. Nampaknya ujung jalan itu berupa persimpangan, ke arah kanan dan kiri.
Begitu sudah dekat, Puguh melihat, mereka yang berdiri di tengah jalan itu adalah Iswara Dhatu dan Kartika Dhatu cucunya serta lima orang gadis yang menjadi wakil wakil utama dari Trah Keluarga Asmara Dhatu.
"Aahhh, ... Trah Keluarga Asmara Dhatu memang selalu beruntung. Bisa bertemu dengan Pewaris ilmu ilmu Pendekar Penunggang Elang dan juga bertemu dengan Dewi Laksita !" kata Iswara Dhatu sambil menjura.
"Hheeehhh he he he he ! Apakah kau sengaja menghadang perjalanan kami, Iswara Dhatu ?" tanya Dewi Laksita.
"Sejujurnya, kami memang sengaja menghadang kalian semua. Terutama karena kami dari Trah Keluarga Asmara Dhatu, punya kepentingan untuk bertemu dengan Puguh !" jawab Iswara Dhatu sambil tersenyum.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Para pembaca yang berbahagia, penulis memohon maaf kalau selama ini penulis jarang membalas koment, saran ataupun kritik dari para pembaca. Tetapi sekedar untuk diketahui, setiap hari hal pertama yang penulis lakukan adalah membaca seluruh koment, saran dan kritik pembaca semua.
Terimakasih atas koment, saran dan kritikannya yang lucu, yang pedas, yang penuh semangat, selama ini. Terimakasih juga telah mengingatkan, bilamana penulis ada yang lupa. Semua itu sangat membantu sebagai penyemangat untuk menulis lebih baik lagi.
Penulis berharap para pembaca tidak pernah bosan untuk memberikan koment, saran dan kritikan.
Selamat membaca dan menikmati.
__ADS_1