
Ketika hari hampir tengah malam, Puguh berpamitan hendak pulang. Begitu sampai di ujung jalan, dia segera melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menuju tempat gurunya menunggu.
----- o -----
Sementara di tempat menginap Ki Bajrapadsa dan Widura, Ki Bajrapadsa masih berdiri di luar rumah.
"Apa keluarnya Pendekar Tangan Seribu ada hubungannya dengan yang diceritakan oleh senopati Nata ?" kata Ki Bajrapadsa dalam hati.
Saat di rumah senopati Nata, Ki Bajrapadsa mendapatkan cerita dari senopati Nata, kalau saat ini sedang terjadi kericuhan di dunia persilatan ataupun di pemerintahan.
Kericuhan itu dipicu oleh kabar burung akan turunnya wangsit yang erat kaitannya dengan kekuatan dan kekuasaan.
Wangsit itu diberitakan berwujud benda pusaka, tetapi berwujud apa, belum ada yang bisa memperkirakannya.
Terjadi kericuhan di kalangan kaum persilatan, karena mulai terjadi perselisihan antar tokoh tokoh persilatan yang bermula dari rasa saling mencurigai. Ditambah lagi dengan munculnya kembali tokoh tokoh dunia persilatan yang sudah menyatakan mengundurkan diri.
Sedangkan di pemerintahan, terjadi saling curiga di antara para penguasa kadipaten dan saling berebut pengaruh diantara mereka. Sehingga sering timbul perselisihan prajurit antar kadipaten.
Menghadapi situasi tersebut, penguasa Kadipaten Langitan, Raden Tumenggung Suryo Langit, berupaya menarik tokoh tokoh dunia persilatan terutama yang dari golongan putih untuk menjadi sekutunya atau jika bersedia, untuk dijadikan pasukan militernya dengan memberikan jabatan jabatan tinggi di keprajuritan. Paling tidak, membuat para tokoh persilatan, terutama yang memiliki padepokan, tidak berseberangan kepentingan dengan pihak kadipaten.
Salah satu cara yang Raden Tumenggung Suryo Langit lakukan adalah dengan memanfaatkan pertandingan beladiri untuk menemui para tokoh persilatan.
Pada setiap pertemuannya dengan tokoh persilatan ataupun padepokan, Raden Tumenggung Suryo Langit selalu menyampaikan, jangan sampai perselisihan, perseteruan dan perebutan pengaruh ataupun diam diam perebutan benda pusaka yang disebutkan dalam wangsit, tidak mengakibatkan kesengsaraan rakyat. Maka Raden Tumenggung Suryo Langit mengajak tokoh tokoh dunia persilatan yang berada di wilayah kekuasaannya untuk bersatu dengan Kadipaten Langitan, ataupun kalau tidak mau bekerja sama, paling tidak, tidak berseteru dengan Kadipaten Langitan dan tidak membuat kekacauan di wilayah Kadipaten Langitan.
----- o -----
Setelah menyusul gurunya dan beristirahat semalam di atas pohon seperti kemaren malam, pada pagi harinya, Puguh kembali diajak oleh Ki Dwijo pergi ke lapangan tempat didirikannya panggung panggung untuk pertandingan beladiri.
Seperti hari kemaren, Ki Dwijo lebih memilih untuk membaur dengan penonton dari kalangan penduduk biasa ataupun pendekar pendekar yang tidak terkenal. Karena sudah sangat lama Ki Dwijo tidak menampakkan diri, sehingga banyak tokoh persilatan yang sudah tidak mengenal wajahnya. Hal ini membuat Ki Dwijo semakin leluasa untuk membaur dengan penonton.
__ADS_1
Sementara itu di atas panggung utama, senopati Nata, salah seorang senopati prajurit Kadipaten Langitan, mengumumkan hasil undian pertandingan final.
Widura dari Padepokan Macan Kumbang akan melawan Argani dari Padepokan Tapak Arga. Sementara itu, Mada murid Padepokan Samodra Prana akan melawan Raksanala dari Kadipaten Langitan. Sedangkan Prabawati dari Kadipaten Langitan akan melawan Jati Kartika murid dari Ni Srayu. Kemudian terakhir Hestama dari Padepokan Kartika Murda melawan Kawung Jenar murid dari Ki Klawu Carma.
Pertandingan pertama, Widura dari Padepokan Macan Kumbang melawan Argani dari Padepokan Tapak Arga. Pertarungan mereka berjalan seimbang. Dengan semangat darah mudanya yang menggebu gebu, mereka saling menyerang dengan sekuat tenaga.
Setelah pertarungan berjalan sekitar enam puluh jurus, mulai terlihat Widura sedikit unggul dengan bisa mendesak lawannya.
Akhirnya setelah terdesak dan terus menerus menerima serangan tanpa bisa lagi membalasnya, Widura bisa menjatuhkan lawannya dan memaksa lawannya menyerah tidak bisa lagi melakukan perlawanan, setelah cakaran tangan kanannya mengancam leher lawan. Karena apabila lawannya nekat tidak mau menyerah, jari jari tangan kanan Widura akan menembus merongkongan lawan.
Dilanjutkan dengan pertandingan kedua, antara Mada dari Padepokan Samodra Prana melawan Raksanala dari Kadipaten Langitan.
Mirip dengan pertarungan yang pertama. Pertarungan Mada melawan Raksanala juga berlangsung seimbang. Bahkan, setelah memasuki jurus ke seratus, barulah Raksanala menunjukkan keunggulannya.
Sebagai wakil dari Kadipaten Langitan, Raksanala menunjukkan kelebihannya sebagai salah satu calon pendekar yang mempunyai pertahanan yang rapat dan gaya serangan yang lugas mematikan khas dari senopati senopati Kadipaten Langitan.
Tidak menunggu jeda terlalu lama, pertandingan ketiga segera dilangsungkan.
Pertarungan antara Prabawati dari Kadipaten Langitan melawan Jati Kartika murid dari Ni Srayu membawa suasana berbeda pada pertandingan beladiri hari ini.
Di luar dugaan para penonton semuanya, Jati Kartika, gadis remaja dengan penampilannya yang cantik dsn pembawaan yang kalem, ternyata mempunyai serangan serangan yang sangat ganas dan keji.
Sudah beberapa kali pihak penyelenggara memperingatkan Jati Kartika agar tidak bertindak yang mengancam nyawa lawannya. Namun semua peringatan itu seolah tidak didengarnya.
Sebenarnya tingkat tenaga dalam dan kecepatan mereka seimbang. Hanya faktor sifat serangan mereka yang berbeda.
Kalau Serangan Prabawati hanya bersifat menjatuhkan, atau membuat lawannya terpaksa menyerah tanpa terluka parah.
Namun, serangan Jati Kartika bersifat menghancurkan. Sehingga setiap serangannya, jika sampai mengenai lawannya, berpotensi lawannya mendapatkan luka parah bahkan bisa menimbulkan kematian.
__ADS_1
Sebenarnya mereka berdua mempunyai kekuatan yang seimbang. Hingga suatu ketika, saat pertarungan sudah memasuki sekitar lima puluh jurus, saat terjadi saling tukar serangan, pukulan Jati Kartika berhasil mengenai dada Prabawati.
Deeessshhh !!!
Tubuh Prabawati tersurut mundur terkena pukulan dan kemudian terjatuh, karena merasakan dadanya sedikit sesak.
Pada saat Prabawati hendak mengatur nafasnya, tubuh Jati Karika sudah melenting ke atas dan kemudian langsung melesat ke bawah ke arah Prabawati yang terjatuh dengan kepalan tangan kanannya mengancam ubun ubun Prabawati.
Pada saat pukulan Jati Kartika tinggal sejengkal lagi mengenai ubun ubun Prabawati, tiba tiba dari deretan kursi penyelenggara pertandingan beladiri, melesat sebuah bayangan yang langsung menangkis pukulan maut Jati Kartika.
Plaaakkk !!!
Begitu pukulannya tertangkis, tubuh Jati Kartika langsung terpelanting dan jatuh terduduk.
Sementara, Prabawati yang selamat dari maut, langsung diajak ke pinggir arena pertarungan untuk diobati.
Pada saat itulah meluncur sebuah bayangan, naik ke atas panggung.
"Hih hi hi hi .... pertandingan macam apa ini ! Penyelenggaranya tidak adil, ikut membela salah satu peserta !" terdengar suara perempuan tua yang serak serak basah.
"Siapa kau ? Selain peserta dan penyelenggara dilarang naik ke panggung," tanya senopati Nata yang tadi menangkis pukulan Jati Kartika.
Mendengar pertanyaan itu, perempuan tua itu menjawab," Apa kalian tidak kenal dengan alat ini ?"
Melihat perempuan tua itu mengeluarkan senjatanya yang berwujud tasbih coklat, senopati Nata terkejut setengah berteriak.
"Ni Srayu ? .... Benarkan engkau Ni Srayu ?" tanya Ki Nata.
__________ ◇ __________
__ADS_1