
Kegelapan malam sudah sepenuhnya menguasai seluruh permukaan bumi. Suasana hiruk pikuk di sepanjang jalan tepi sungai berangsur angsur berkurang dan akhirnya kembali sunyi.
Panglima Perang Jaladri pun terpaksa menghentikan pertarungannya melawan Puguh, setelah melihat tanda bola api di langit sebagai pertanda mengakhiri peperangan. Karena lebih memilih tanggung jawabnya pada keselamatan pasukannya.
Walaupun dengan menahan rasa amarah karena ada anak muda yang mampu melawannya bahkan mampu memberinya luka luka, Panglima Perang Jaladri tetap mundur dan kembali ke Istana Kerajaan Kaling Pura yang mereka duduki.
Kemurkaan Panglima Perang Jaladri semakin bertambah ketika hanya satu wakil panglima perangnya yang kembali pulang itupun dengan luka luka lebam yang memenuhi seluruh tubuhnya.
Bahkan, setelah mendapatkan laporan, hanya sekitar lima puluh orang prajurit yang berhasil pulang walaupun dengan tubuh penuh luka, Panglima Perang Jaladri semakin murka.
Tanpa menghiraukan luka luka yang disandangnya, Panglima Perang Jaladri memanggil lima orang wakil panglima perangnya ditambah dengan satu orang wakil panglima perang yang sudah terluka untuk membicarakan tentang pertempuran di hari berikutnya.
"Panglima Perang Jaladri, bagaimana kalau kita kirim seribu pasukan untuk menumpas pengacau itu ?" kata salah satu wakil panglima perang.
"Kita berangkat semua. Permasalahannya bukan di jumlah prajurit. Di luar perkiraanku, ada pendekar muda yang memiliki kesaktian sangat tinggi, membantu mereka !" jawab Panglima Perang Jaladri sambil berdiri dari kursinya, "Persiapkan seluruh pasukan ! Kalian semua berenam pimpin pasukan itu !"
"Tapi, Panglima Perang Jaladri ! Kita diberi tugas hanya untuk menjaga istana ini !" kata wakil panglima perang yang tadi bertanya.
"Persetan dengan perintah itu ! Di sini, yang memegang komando, aku. Yang berhak memutuskan apapun, aku !" Sahut Panglima Perang Jaladri sambil menatap tajam satu persatu keenam wakilnya.
"Aku akan membalas semua yang para pengacau itu lakukan pada kita ! Mereka telah membunuh empat wakilku ! Hal itu tidak bisa dibiarkan !" gumam Panglima Perang Jaladri pelan namun bisa terdengar oleh keenam wakil panglima perang itu.
Akhirnya, tidak ada pilihan lain, keenam wakil panglima perang itu segera memberikan perintah pada masing masing prajuritnya untuk bersiap siap menghadapi tertempuran besok pagi.
----- * -----
__ADS_1
Sementara di markas sementara Padepokan Kuwanda Brastha, sebuah bangunan yang cukup tersembunyi, tempat Puguh dan Roro Nastiti pertama kali bertemu dengan Pangeran Kanaya Wijaya.
Puguh dan Pangeran Kanaya Wijaya serta yang lainnya, sebenarnya merasa senang dengan keberhasilan mereka menjalankan tak tik, sehingga bisa memenangkan pertempuran.
Mereka hanya kehilangan sekitar dua puluh pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha, yang harus tewas karena berusaha mengeroyok satu wakil panglima perang yang berada dibawah, yang memimpin pasukan perang.
Sedangkan semuanya tidak terluka, kecuali dua orang senopati yang beberapa bagian tubuhnya lebam lebam karena terus menerus memaksakan diri untuk mengadu pukulan ataupun tendangan.
Namun, diam diam Puguh dan Roro Nastiti merasa khawatir jika pasukan perang Kerajaan Menara Langit, besok menyerang lagi dengan membawa kekuatan yang lebih besar lagi.
"Pangeran Kanaya Wijaya, apakah para pendekar yang mau membantu pasukan perang Kerajaan Kaling Pura, hanya yang berasal dari perkumpulan pengemis itu ?" tanya Roro Nastiti.
"Pendekar Roro Nastiti, Kerajaan Kaling Pura hanyalah kerajaan kecil di pesisir. Kami tidak memiliki padepokan, apalagi yang besar. Hanya ada satu padepokan, yaitu Padepokan Samudra Sona, yang sekarang tidak muncul satupun anggotanya, kemungkinan sudah dihabisi oleh pasukan perang Kerajaan Menara Langit !" jawab Pangeran Kanaya Wijaya.
"Pangeran Kanaya Wijaya ! Ada kemungkinannya, Panglima Perang Jaladri mengirim kembali pasukan perang yang lebih besar lagi, untuk menghancurkan kita ! Atau bahkan mungkin kekuatan seluruh pasukan perangnya dibawa kesini. Untuk menghadapi kemungkinan hal itu terjadi, mungkin kita bisa mulai menggunakan kekuatan prajurit. Dan yang sangat penting, bisakah Padepokan Kuwanda Brastha mengirim lebih banyak lagi anggotanya yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi hingga sangat tinggi ?" kata Puguh memberikan saran.
Sslain itu, Pangeran Kanaya Wijaya juga diam diam akan menyiapkan seluruh sisa prajuritnya yang berjumlah sekitar lima ratus prajurit.
Kekuatan pasukan perang itu, akan diturunkan dalam pertempuran, jika keadaannya memaksa harus menggunakan kekuatan prajurit.
----- * -----
Pada pagi hari berikutnya, sejak pagi pagi sekali, Pangeran Kanaya Wijaya sudah berada di atas tebing dan ditemani oleh Puguh, Roro Nastiti, kedua senopati Kerajaan Kaling Pura serta beberapa pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha yang memiliki ilmu silat tingkat sangat tinggi.
Melihat cukup banyak jumlah para pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha yang membantu Pangeran Kanaya Wijaya sejak pertama bertempur di tepi sungai ini, serta merasakan cukup banyak pendekar yang memiliki kekuatan sangat tinggi, Puguh menyarankan pada Pangeran Kanaya Wijaya untuk melakukan pergeseran posisi.
__ADS_1
Puguh tetap berada di atas tebing bersama dengan Pangeran Kanaya Wijaya ditemani oleh selusin pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha.
Sedangkan Roro Nastiti dan dua senopati Kerajaan Kaling Pura, yang mempunyai keahlian dalam memimpin dan mengomando pasukan dalam jumlah yang banyak, bersembunyi bersama sama dengan sekitar lima ratus prajurit sisa pasukan perang Kerajaan Kaling Pura.
Sisa dari para pendekar Padepokan Kuwanda Brastha, seperti biasa, disebar di sepanjang jalan di tepi sungai.
Di atas tebing, Pangeran Kanaya Wijaya dan yang lainnya yang berada di sana, dengan perasaan harap harap cemas, mereka semua terus menatap ke arah Istana Kerajaan Kaling Pura.
Pangeran Kanaya Wijaya berharap, pada hari ini tidak ada pengiriman pasukan perang oleh Kerajaan Menara Langit. Tetapi, apabila ada pengiriman pasukan perang, Pangeran Kanaya Wijaya sangat berharap, bantuan kekuatan para pendekar bisa tiba terlebih dahulu di sini, sehingga bisa menambah kekuatan pasukannya.
Akhirnya pada saat menjelang siang, Pangeran Kanaya Wijaya mendapat laporan, adanya pasukan perang yang sangat besar yang sedang berjalan menuju ke tebing dan tepi sungai ini.
Dan benar apa yang dikabarkan prajurit pengintai, dari atas tebing, Puguh dan Pangeran Kanaya Wijaya, dari jarak yang masih jauh, barisan pasukan perang yang sangat panjang, yang besar kekuatannya hampir tiga kali pasukan perang yang bertempur kemaren.
Dan perkiraan itu memang benar adanya, karena Panglima Perang Jaladri mengirim seluruh pasukan perangnya yang masih berjumlah sekitar seribu tiga ratusan prajurit.
Namun, diam diam yang menjadi perhatian Puguh bukan jumlah prajuritnya. Tetapi, siapa saja panglima perang yang memimpin seluruh pasukan perang itu. Karena sampai sekarang, Puguh belum bisa merasakan atau mendeteksi, berapa jumlah panglima perangnya.
Setelah beberapa lama dan barisan pasukan perang itu hampir dekat dengan tempat mereka memunggu, tiba tiba, dari barisan paling belakang sendiri, melesat terbang, tujuh orang yang memiliki getaran kekuatan sangat tinggi.
Ketujuh orang yang melesat terbang dengan sangat cepat ke arah tebing itu dipimpin lagi oleh Panglima Perang Jaladri yang memakai pakaian panglima perang yang berwarna kuning keemasan.
Di samping kanan kirinya, enam orang wakil panglima perang yang menggunakan pakaian panglima perang berwarna hitam.
Tujuh orang panglima perang itu melesat terbang sangat cepat, hingga akhirnya mendahului pasukan perangnya, sampai terlebih dahulu di atas tebing dan segera disambut oleh Puguh dan Pangeran Kanaya Wijaya serta para pendekar lainnya dengan sikap waspada.
__ADS_1
---------- ◇ ----------