Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Serangan Gelap


__ADS_3

Sementara itu sebelumnya. Di istana Kerajaan Banjaran Pura yang telah dikuasai oleh pasukan perang dari Kerajaan Menara Langit.


Pangeran Langit Barat dan Ki Naga Kecil gurunya, tidak terlalu memperdulikan keterkejutan para prajurit pasukan perangnya.


Ki Naga Kecil segera mengajak Pangeran Langit Barat untuk masuk ke ruangan khusus, yang hanya mereka yang boleh dan bisa memasukinya.


"Pangeran Langit Barat muridku ! Proses pengendalian kekuatan siluman binatang, akan semakin sempurna jika kau bisa mengambil inti kekuatan atau inti tenaga dalam dari pendekar yang sudah mencapai tingkat sangat tinggi !" kata Ki Naga Langit.


"Maksud guru, aku harus banyak bertarung melawan pendekar berkekuatan sangat tinggi dan membunuhnya ?" tanya Pangeran Langit Barat sambil tersenyum menyeringai.


"Tidak harus kamu yang bertarung, muridku ! Yang penting ada pendekar yang bisa dibunuh !" kata Ki Naga Kecil.


"Haahhh ha ha ha ha ! Baiklah guru ! Guru tidak usah khawatir tentang bertarung. Guru siapkan saja siluman binatang yang akan guru berikan kepadaku !" jawab Pangeran Langit Barat.


Kemudian, di petang harinya pada hari itu juga, terlihat berkelebat dengan sangat cepatnya, empat bayangan, meninggalkan Istana Kerajaan Banjaran Pura. Empat bayangan itu melesat terbang ke arah perbatasan kotaraja Kerajaan Banjaran Pura atau tepatnya ke arah markas darurat pasukan perang gabungan dari Kerajaan Kisma Pura dan Kerajaan Banjaran Pura.


Sesampai di dekat markas darurat yang dibangun oleh pengikut Pangeran Indra Prana, keempat bayangan itu turun dan terlihat seperti mengintai keadaan.


"Pangeran Langit Barat, kami bertiga akan mengalihkan perhatian mereka. Saat terjadi kerusuhan, Pangeran segera mencari sasaran dan secepatnya dibunuh kemudian dibawa lari pergi dari sini !" kata seorang laki laki paruh baya yang buntung lengan kanannya.


"Baiklah Panglima Perang Jaladra ! Begitu ada kesempatan, kalian segeralah bergerak !" sahut Pangeran Langit Barat.


Ketika waktu memasuki tengah malam dan keadaan cukup sunyi, Panglima Perang Jaladra dan dua gadis cantik tangan kanan Pangeran Langit Barat itu segera melesat menuju tempat yang telah mereka pilih.


Mereka bertiga dengan cepat menggerakkan senjata mereka, membantai para prajurit yang bertugas jaga pada malam itu.


Kemudian, dengan cepat mereka membakar pos penjagaan dan beberapa bangunan yang berdiri di dekat pos penjagaan.

__ADS_1


Kebakaran itu membuat beberapa pemimpin pasukan perang dan para pendekar yang sedang jaga segera melesat mendekat.


Namun, saat mereka baru saja mendekat, tubuh mereka terpental ke belakang dan kemudian jatuh memuntahkan darah segar, saat ada kelebatan bayangan yang menyerang mereka.


Kelebatan bayangan yang menyerang mereka itu adalah Panglima Perang Jaladra dan dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Pertarungan dalam kekacauan karena kebakaran, atau yang lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai pembantaian itu, berlangsung dengan cepat.


Saat di langit, Panglima Perang Jaladra sudah melihat tanda dari Pangeran Langit Barat, segera saja mereka bertiga melesat pergi dan meninggalkan korban tewas ataupun terluka yang cukup banyak.


Banyaknya prajurit jaga dan pemimpin pasukan perang yang tewas, membuat terkejut Pangeran Indra Prana, Putri Cinde Puspita dan para pendekar seperti Ki Dwijo, Resi Wismaya dan yang lainnya.


Beberapa waktu kemudian, mereka semua dikejutkan lagi dengan tewasnya beberapa pendekar berkekuatan tingkat tinggi di tempat istirahatnya dan hilangnya dua pendekar yang kesaktian dan kekuatannya sudah pada tingkat sangat tinggi.


Setelah memeriksa tempat pertarungan dan menanyakan pada pemimpin pasukan perang yang masih bisa diselamatkan, mereka semua hanya bisa menduga duga, kemungkinan yang melakukan serangan gelap adalah pihak pasukan Kerajaan Menara Langit.


Pada hari berikutnya, pasukan perang kerajaan Kisma Pura dan Kerajaan Banjaran Pura yang sudah bersiap untuk berperang, merasa heran, karena pasukan perang Kerajaan Menara Langit, tidak keluar dari kotaraja untuk melakukan serangan.


Hal itu membuat Pangeran Indra Prana merasa curiga dan khawatir, strategi apa yang sedang dilakukan oleh pasukan lawan.


Karena curiga jangan jangan itu merupakan pancingan agar pasukan perangnya masuk dan menyerang kotaraja, maka justru Pangeran Indra Prana menahan diri dan memerintahkan pada seluruh pasukan perangnya untuk berjaga dan tidak melakukan penyerangan.


Hingga akhirnya, sampai dengan waktu kembali petang, hari itu tidak terjadi pertempuran.


Namun, pada malam harinya, kembali terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Pangeran Langit Barat yang dibantu oleh Panglima Perang Jaladra dan dua gadis muda tangan kanannya serta beberapa wakil panglima perang.


Dengan kekuatan yang lebih kuat dibandingkan dengan hari kemaren, Pangeran Langit Barat langsung menyerang pos penjagaan.

__ADS_1


Sementara itu, karena sudah meningkatkan kewaspadaan, para senopati Kerajaan Kisma Pura dan Kerajaan Banjaran Pura serta dibantu oleh para pendekar, segera menghadang Panglima Perang Jaladra dan dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat serta beberapa wakil panglima perang.


Diam diam, para senopati Kerajaan Kisma Pura dan Kerajaan Banjaran Pura terkejut. Karena yang melakukan penyerangan ke pos penjagaan, ternyata sekelompok orang yang memiliki getaran kekuatan yang sudah mencapai tingkat sangat tinggi.


Sementara itu, Panglima Perang Jaladra dan dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat serta beberapa wakil panglima perang Kerajaan Menara Langit diam diam juga terkejut. Karena pada malam ini, banyak pendekar dan senopati yang menghadang mereka.


Namun begitu, para pendekar dan senopati yang malam itu ikut berjaga, masih belum menjadi lawan yang sepadan Panglima Perang Jaladra dan dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Sehingga setelah beberapa waktu bertarung, korban mulai berjatuhan di pihak pasukan perang Pangeran Indra Prana.


Suara pertarungan itu, ternyata membuat Pangeran Indra Prana dan Putri Cinde Puspita serta para pendekar senior lainnya keluar dan mendekat.


Namun, belum sempat mereka masuk ke dalam pertarungan, Panglima Perang Jaladra dan dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat serta para wakil panglima perang sudah melesat pergi meninggalkan pertarungan.


Karena mereka sudah melihat aba aba dari Pangeran Langit Barat, yang sudah berhasil membunuh beberapa pendekar yang memiliki tingkat kekuatan sangat tinggi.


Sementara itu, melihat musuh melarikan diri, Pangeran Indra Prana bersama dengan beberapa pendekar, seperti Ki Dwijo dan Resi Wismaya dan yang lainnya mencoba mengejar.


Mereka melesat ke atas, terbang dengan sangat cepat agar dapat mendekat ke arah lawan.


"Pangeran Indra Prana ! Bukankah dia Pangeran Langit Barat ?" tanya Resi Wismaya.


"Betul Resi ! Pantas saja tidak ada yang mampu melawannya ! Tetapi, ..... Kenapa mereka harus menggunakan taktik serangan gelap ? Bukankah mereka mampu untuk melakukan peperangan secara terbuka ?" jawab Pangeran Indra Prana.


"Kita harus hati hati, Pangeran ! Jangan jangan ini hanya pancingan atau jebakan buat kita !" tambah Ki Dwijo.


Akhirnya Pangeran Indra Prana, Ki Dwijo, Resi Wismaya dan para pendekar yang lain, kembali melesat turun. Di dalam markas darurat mereka, mereka melakukan pembahasan tentang apa yang sudah terjadi tadi.

__ADS_1


---------- ◇ ----------


__ADS_2