Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertarungan di Puncak Gunung Pedang


__ADS_3

Gunung yang menjadi daerah kekuasaan Padepokan Wukir Candrasa itu tidak terdapat kawah karena bukan gunung api aktif. Gunung yang memiliki puncak yang cukup luas itu, dikenal dengan nama Gunung Pedang.


Sejak Padepokan Wukir Candrasa berdiri, gunung itu seperti menjadi milik Padepokan, sehingga tidak orang bisa memasuki wilayah gunung itu. Hanya orang orang biasa ataupun penduduk biasa yang diperbolehkan tinggal di sekitar kaki gunung itu.


Sekarang ini Padepokan Wukir Candrasa dipimpin oleh Ki Dahana Yaksa. Seperti pemimpin pemimpin Padepokan Wukir Candrasa sebelumnya, Ki Dahana Yaksa juga mempunyai kesaktian yang luar biasa. Bahkan dirinya termasuk salah satu dari sedikit orang tersakti di Kerajaan Kisma Pura.


Ki Dahana Yaksa sendiri, sejak masih muda adalah orang yang sangat gila dengan kesaktian. Diam diam ambisinya adalah menjadi orang yang paling sakti dan tidak ada yang bisa mengalahkannya.


Selain itu, untuk membuktikan kalau ilmu kesaktian Padepokan Wukir Candrasa tidak terkalahkan. Karena, Ki Dahana Yaksa pernah mendengar cerita, kalau leluhurnya dulu sempat dikalahkan oleh seorang pendekar berjuluk Pendekar Pengendara Elang.


Untuk memenuhi ambisinya itu, Ki Dahana Yaksa rela menempuh segala cara untuk mewujudkan ambisinya.


Setiap berhasil menciptakan ilmu baru atau mendapatkan tehnik baru, Ki Dahana Yaksa selalu mengundang tokoh tokoh dunia persilatan yang dia pandang mempunyai kesaktian yang sangat tinggi, untuk melakukan pertemuan. Namun ujung ujungnya adalah menjadi kesempatan untuk mengadu ilmu kesaktian.


Beberapa kali mdlakukan adu ilmu kesaktian, Ki Dahana Yaksa masih saja belum bisa mengalahkan beberapa tokoh yang dia undang, diantaranya adalah Resi Wismaya, Dewi Laksita dan Iswara Dhatu.


Seperti sekarang ini, Ki Dahana Yaksa sedang mempelajari tehnik menggunakan kekuatan siluman, baik yang dimasukkan ke dalam tubuhnya kemudian digabungkan dengan tenaga dalamnya, ataupun dimasukkan ke dalam senjata pedangnya yang membuat kekuatan dan ketajaman senjata pedangnya bertambah.


Untuk itu, sejak masih menjadi Ketua Muda hingga sekarang menjadi Pemimpin Besar Padepokan Wukir Candrasa, Ki Dahana Yaksa menyuruh beberapa orang untuk mencari siluman siluman yang mempunyai kekuatan sangat tinggi dan sudah berusia ratusan tahun.


Hingga suatu saat Ki Dahana Yaksa mendengar cerita ada siluman elang yang mempunyai kekuatan yang sangat tinggi. Kabarnya siluman elang itu milik Pendekar Pengendara Elang yang sudah lama menghilang. Dan kabarnya siluman elang itu berada di sekitar makam Asmara Dhatu yang berada di daerah kekuasaan Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Karena Ki Dahana Yaksa yang menganggap kalau siluman elang itu sudah tidak ada yang memiliki, dan Ki Dahana Yaksa ingin menangkap siluman elang itu, maka beberapa kali terjadi bentrok antara Padepokan Wukir Candrasa dengan Trah Keluarga Asmara Dhatu, padahal Trah Keluarga Asmara Dhatu tidak ingin berurusan dengan pihak manapun.


Kemudian, karena tidak ingin membahayakan anak keturunan Asmara Dhatu, siluman elang itu akhirnya masuk ke hutan perbatasan dan mengambil tempat yang tidak dihuni binatang siluman lainnya.


----- * -----


Menjelang siang hari, Puguh dan Rengganis yang mengikuti kakek tua yang mengajaknya naik ke puncak gunung, tiba di tempat pertemuan, setelah melewati beberapa pos penjagaan.

__ADS_1


Yang dikatakan tempat pertemuan itu, bukanlah suatu bangunan yang ada meja kursinya. Namun, hanya sebidang tanah datar di puncak Gunung Pedang yang biasa dipergunakan untuk mengadu ilmu kesaktian.


Kakek tua serta Puguh dan Rengganis belum sampai di tanah datar, sudah terdengar suara beberapa orang.


"Resi Wismaya ! Apa apa kau sudah sebegitu tua, sehingga untuk datang ke sini pun butuh waktu berhari hari !" kata Ki Jala Seta dengan muka serius.


"Hiihhh hi hi hi hi ... ! Bukan ! Bukan karena sudah tua ! Tetapi karena memang sudah tidak bertenaga !" sahut Dewi Laksita.


"Selamat datang Resi Wismaya ! Terima kasih telah bersedia menghadiri undangan kami !" kata Ki Dahana Yaksa sambil menjura.


"Heehhh he he he he ! Pemimpin Besar Padepokan Wukir Candrasa memang tuan rumah yang baik !" sahur Resi Wismaya sambil tubuhnya melesat dan kemudian duduk di tempat yang telah disediakan.


Ki Wismaya melihat, disana sudah lebih dulu hadir, Dewi Laksita, seorang pendekar wanita yang tidak pernah menetap di suatu tempat seperti dirinya. Sudah hadir juga, Ki Jala Seta, Ki Kala Caraka bersama Sampur Jenar, murid perempuannya. Kemudian ada Ki Kraman Jiwa bersama muridnya yang bernama Prana Jiwa. Sedangkan dari pihak Padepokan Wukir Candrasa, yang menemani Ki Dahana Yaksa adalah Bantala Yaksa, anaknya yang sekaligus sebagai Ketua Muda.


Puguh dan Rengganis segera menyusul berdiri di belakang kakek tua yang dipanggil Resi Wismaya itu.


Melihat siapa yang berdiri di belakang Resi Wismaya, mata Ki Jala Seta melotot. Tangannya menunjuk ke arah Rengganis dan Puguh, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya yang menganga.


Melihat keheranan dan tatapan bertanya dari orang orang itu, Resi Wismaya segera memperkenalkan mereka.


"Heehhh he he he he ! Jangan terlalu terkejut begitu ! Perkenalkan, mereka murid muridku !" kata Resi Wismaya.


Mendengar perkataan Resi Wismaya, Ki Dahana Yaksa tersenyum lebar penuh kelegaan.


"Ahh, Resi Wismaya selalu saja membuat kejutan !" kata Ki Dahana Yaksa, "Bantala Yaksa anakku, bawalah taku tamu muda kita berkeliling Padepokan, untuk melihat lihat Padepokan kita !"


Mendengar perintah itu, Bantala Yaksa segera beranjak dan mengajak Puguh, Rengganis, Sampur Jenar dan Prana Jiwa, menuruni puncak gunung menuju ke markas pereka di punggung gunung itu.


Sementara itu di puncak gunung, Resi Wismaya menatap tokoh tokoh persilatan yang diundang oleh Ki Dahana Yaksa.

__ADS_1


"Kenapa Iswara Dhatu tidak kau undang ?" tanya Resi Wismaya pada Ki Dahana Yaksa.


"Maaf Resi Wismaya, .... Aku lupa mengundangnya !" jawab Ki Dahana Yaksa.


"Owhhh ... Ya sudah. Aku pikir kalian yang tidak mengundangnya !" kata Resi Wismaya lagi. Namun Resi Wismoyo menduga, kemungkinan Iswara Dhatu sengaja tidak diundang, karena setahu dia dan yang dia dengar, saat ini sedang terjadi ketegangan antara Padepokan Wukir Candrasa dengan Trah Keluarga Asmara Dhatu.


"Ki Dahana Yaksa ! Resi Wismaya ! Pertemuan bisa kita mulai sekarang ? Atau kalian masih ingin menumpahkan rasa rindu kalian !" tanya Ki Kraman Jiwa sambil memasang muka tidak sabar.


"Heehhh he he he ! Ki Kraman Jiwa memang selalu bersemangat ! Silahkan dimulai Ki Dahana Yaksa !" kata Resi Wismaya sambil tertawa.


"Baiklah ! Mari kita mulai !" kata Ki Dahana Yaksa sambil tubuhnya melesat ke belakang, diikuti semua yang hadir di situ, juga melompat ke belakang.


Seketika Ki Dahana Yaksa, Resi Wismaya, Ki Jala Seta, Ki Kala Caraka, Ki Kraman Jiwa serta Dewi Laksita terlihat berdiri saling berjauhan membentuk lingkaran.


Setelah itu, Ki Dahana Yaksa melemparkan sebuah benda yang dia ambil dari kantong bajunya ke arah tengah tengah keenam tokoh tokoh persilatan itu.


Sesaat kemudian, benda yang dilemparkan oleh Ki Dahana Yaksa itu melayang layang di tengah tengah mereka semua dan mulai mengeluarkan nyala putih.


Kemudian, secara serentak, tanpa diberi aba aba, keenam orang yang sudah sama sama tua itu, mengayunkan tangan kanan mereka yang penuh dengan tenaga dalam ke arah benda yang menyala putih itu.


Terlihat, ada enam larik sinar yang melesat cepat ke arah benda yang melayang layang di tengah tengah mereka. Enam larik sinar yang berasal dari tangan kanan keenam orang yang berdiri saling berhadapan itu, secara bersamaan mengenai benda melayang yang menyala putih, hingga menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.


Blaaannnggg !


Sesaat setelah suara ledakan itu, terbentuk ruangan yang sangat besar berbentuk lingkaran. Lingkaran besar itu terbagi menjadi empat ruangan yang dibatasi dengan sekat putih tipis. Namun walaupun tipis, suara dan cahaya tidak bisa menembusnya.


Dari empat ruangan yang terbentuk itu, tiga ruangan terisi dua orang dua orang, sedangkan satu ruangan lagi masih kosong.


Terlihat, Ki Dahana Yaksa berada satu ruangan bersama dengan Ki Kala Caraka. Sementara itu, Resi Wismaya satu ruangan dengan Ki Jala Seta. Sedangkan Dewi Laksita berada satu ruangan dengan Ki Kraman Jiwa.

__ADS_1


Sesaat kemudian terdengar suara pertarungan dari ketiga ruangan itu.


---------- ◇ ----------


__ADS_2