
Melihat senopati Nata terkejut dan kebingungan dengan munculnya Ni Srayu, Ki Bajrapadsa segera ikut melesat naik ke atas panggung. Sesampai di atas panggung, Ki Bajrapadsa segera berdiri di samping Senopati Nata.
"Ni Srayu, pertandingan bela diri ini dilihat banyak orang. Banyak tokoh persilatan yang ikut menonton. Biar pertandingan ini selesai dulu," kata Ki Bajrapadsa pada Ni Srayu.
Sebenarnya Ni Srayu tidak takut jika terjadi keributan dan dikeroyok oleh dua orang di depannya. Namun saat teringat penonton, Ni Srayu berusaha menahan diri dulu. Khawatirnya, beberapa orang yang diisukan muncul lagi di dunia persilatan, ikut menonton pertandingan.
"Hih hi hi hi .... Umumkan bahwasanya yang menang adalah muridku ! Baru aku akan turun !" kata Ni Srayu.
Akhirnya senopati Nata dari atas panggung mengumumkan, pemenang pertandingan ke tiga adalah Jati Kartika murid dari Ni Srayu.
Setelah mendengar pengumuman itu, Ni Srayu turun dari panggung dan kembali ke kursi penonton dengan senyum kemenangan.
Untuk beberapa saat, suasana di atas panggung utama sepi. Namun suasana di bawah panggung ramai.
Para penyelenggara pertandingan beladiri sedang berembug tentang kejadian tadi. Sedangkan di bagian penonton, juga terdengar orang orang berkomentar.
Setelah jeda cukup lama, akhirnya pertandingan ke empat dimulai. Hestama murid Padepokan Kartika Murda akan melawan Kawung Jenar murid dari Ki Klawu Carma.
Begitu diumumkan dan naik ke panggung, tanpa menunggu lagu, mereka berdua segera memulai pertarungan.
Di awal awal jurus, Hestama dan Kawung Jenar bertarung seperti biasa. Saling serang, bertukar pukulan dan tendangan selayaknya pertandingan.
Namun setelah berjalan sekitar dua puluh jurus, pertandingan ke empat ini suasananya hampir sama dengan yang terjadi di pertandingan ke tiga.
Kawung Jenar mulai menyerang dengan brutal dan keji. Serangan serangannya sudah tidak untuk bertujuan menjatuhkan lawannya, namun serangan serangannya terlihat sekali untuk melukai bahkan untuk membunuh lawannya.
Senopati Nata yang berada di samping panggung pertandingan, berkali kali mencoba mengingatkan Kawung Jenar untuk tidak berlaku keji dan membahayakan nyawa lawannya. Namun, semua peringatan itu sepertinya tidak digubris oleh Kawung Jenar.
Perlahan lahan, pertarungan yang awalnya berlangsung seimbang, karena Hestama tetap menahan diri dengan serangan serangannya agar tidak membahayakan lawannya, sedangkan Kawung Jenar sudah tidak mengikuti aturan lagi dengan menyerang untuk melukai dan mematikan, membuat Hestama mulai terdesak.
Hingga pertarungan memasuki lima puluh jurus, Hestama sudah mendapatkan beberapa luka.
__ADS_1
Ketika memasuki jurus ke tujuh puluh, Hestama yang sudah sangat kewalahan dengan kebrutalan Kawung Jenar, kembali mendapatkan tendangan tepat di dadanya.
Duuuaaakkk !!!
Seketika tubuh Hestama terlempar dan jatuh ke belakang. Tanpa memikirkan kondisi lawan bertandingnya, Kawung Jenar melenting ke atas dan kemudian tubuhnya meluncur deras ke arah Hestama yang masih berusaha bangun.
Melihat pertandingan yang kejam dan agar tidak membahayakan peserta yang kalah atau terdesak, dengan cepat senopati Nata segera memasuki arena pertarungan untuk menghentikan pertarungan.
Tubuh Kawung Jenar yang meluncur dari atas dengan tendangan kaki kanan yang siap untuk dilesakkan, ditangkis oleh senopati Nata dengan menepis menggunakan tangan kanan.
Taaakkk !!!
Luncuran tubuh Kawung Jenar berbelok cepat hingga Kawung Jenar terjatuh di sudut panggung.
Bruuuaaakkk !!!
Saat semua penonton masih tersita perhatiannya dengan jatuhnya Kawung Jenar, terlihat kelebatan bayangan tubuh yang melayang ke atas dan dengan cepat melepaskan serangan ke arah senopati Nata sambil berteriak.
Melihat serangan yang tiba tiba dan membahayakan, senopati Nata segera bergerak menghindar dan berusaha menangkis.
Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk !
Setelah berhasil menghindari dan menangkis beberapa serangan beruntun, satu tendangan lawan tidak bisa ditepis dengan sempurna, sehingga masih mengenai perutnya.
Buuuggghhh !!!
Senopati Nata terpelanting dan terjatuh. Hal itu memicu beberapa orang ikut melesat naik ke atas panggung.
Ki Bajrapadsa dan senopati utama Wiguna serta beberapa tokoh persilatan segera mendekati senopati Nata.
Terlihat pula Ni Srayu dan dua orang lainnya yang berpakaian serba hitam yang sudah berdiri di samping Ki Klawu Carma.
__ADS_1
Melihat keadaan yang bisa menimbulkan kekacauan yang sangat besar, senopati utama Wiguna sebagai pemegang wewenang penuh dalam hal keamanan di Kadipaten Langitan, segera maju selangkah.
"Siapapun kalian dan dari kelompok apapun kalian, jangan pernah berharap bisa membuat kerusuhan di Kadipaten Langitan, apalagi di acara yang dihadiri banyak tokoh persilatan sahabat kami !" teriak senopati utama Wiguna.
"Heh he he he ..... meskipun kami hanya datang berempat, kami tidak takut pada kroco kroco seperti kalian !" jawab Ki Klawu Carma.
Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Ki Klawu Carma tidak salah. Dengan kekuatan Ki Klawu Carma, Ni Srayu dan dua orang berpakaian serba hitam dengan gambar awan di dada kanannya, sudah cukup untuk mengalahkan kekuatan prajurit Kadipaten Langitan, walaupun dibantu oleh beberapa pendekar dari beberapa Padepokan yang ada di Kadipaten Langitan. Namun, pendekar pendekar yang hadir di tempat itu, hanyalah perwakilan dari masing masing Padepokan, sehingga hanya membawa kekuatan kecil, bukan guru besar ataupun tokoh tokoh tua di masing masing padepokan.
"Senopati Nata, cepat lindungi Kanjeng Adipati. Biar aku yang menghadapi mereka !" perintah senopati utama Wiguna.
Mendengar perintah, senopati Nata yang diikuti beberapa komandan prajurit segera melesat ke arah Raden Tumenggung Suryo Langit yang duduk di samping panggung beserta pejabat pejabat Kadipaten Langitan yang lain.
"Heh he he he .... ! Hari ini sejarah Kadipaten Langitan akan berhenti di sini !" teriak Ki Klawu Carma yang merasa yakin dan percaya diri bisa menguasai pertarungan, karena dia tidak melihat, ada tokoh tokoh lain yang harus di waspadai oleh mereka berempat.
"Prajurit ! Buat formasi bulan sabit di bawah panggung !" teriak Senopati utama Wiguna.
"Heh he he he ... ! Ni Srayu ! Nini akan pilih lawan yang mana !" kata Ki Klawu Carma pad Ni Srayu.
"Aku sebenarnya akan mengambil nyawa senopati itu !" kata Ni Srayu sambil menunjuk ke arah Senooati Nata, "Namun dengan ikan yang lebih besar ini bagus juga, buat melemaskan otot otot !"
Kalau begitu, tunggu apalagi ! Kita hancurkan mereka hari ini dan segera kita ambil hadiahnya !" sahut Ki Klawu Carma sambil tubuhnya melesat ke arah Ki Bajrapadsa.
Tanpa bisa dicegah lagi, pertarungan besar segera terjadi. Hal ini menimbulkan kepanikan di deretan kursi penonton dan tamu yang lainnya.
Sementara, di tengah tengah deretan kursi penonton yang semuanya panik, Ki Dwijo masih dengan santainya duduk bersama Puguh. Terlihat, Puguh tidak menampakkan perasaan takut sama sekali. Karena dia sudah sangat percaya dengan gurunya. Melihat gurunya masih tenang tenang saja, artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh gurunya.
"Huhhh ! Tontonan bagus, malah dirusak oleh cecunguk cecunguk itu !" kata Ki Dwijo sambil mengebut kebutkan pakaiannya yang putih lusuh.
"Ngger Puguh, kamu tenang di sini dulu. Biar guru tendang orang orang rusuh itu !" kata Ki Dwijo. Bicaranya belum juga selesai, namun tubuh Ki Dwijo sudah melesat dan terlihat berdiri di tengah tengah panggung utama.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1