
Untuk beberapa saat, selama perjalanan, Puguh dan Rengganis hanya diam saja. Namun saat mengetahui arah mereka ke hutan yang dekat dengan perbatasan Kadipaten Langitan, Rengganis mulai membuka percakapan.
"Kita hendak kemana kakang ?" tanya Rengganis.
"Kakang sebenarnya juga tidak tahu harus kemana dik. Maka daripada bingung, kita coba menuju ke hutan yang kemaren adik dikeroyok, di depan sana. Siapa tahu ada petunjuk yang bisa kita dapatkan," jawab Puguh.
"Memangnya kakang Puguh tahu, siapa yang mengeroyokku kemaren ?" tanya Rengganis lagi.
"Pastinya belum tahu adik. Tapi kakang sempat bertemu pengeroyok yang perempuan, dia membawa lari tubuh Gogor Gora yang berusaha menyerang Kadipaten Langitan. Ada kemungkinan dia anggota Perkumpulan Jaladara Langking," Puguh sedikit menjelaskan.
Mendengar jawaban Puguh, Rengganis teringat saat dia dikeroyok dua orang berpakaian serba putih. Lawannya yang mengeroyoknya sempat mengatakan, kalau gurunya diminta sekali lagi untuk membantu Perkumpulan Jaladara Langking. Namun saat itu, gurunya menjawab dengan tegas, dia tidak mau lagi berurusan dengan Perkumpulan Jaladara Langking.
Untuk mengisi pembicaraan, sambil berlari Rengganis menceritakan hal itu pada Puguh. Mendengar apa yang diceritakan oleh Rengganis, Puguh pun tersenyum.
"Bagus ! Artinya guruku dan gurumu mempunyai pendirian yang sama," kata Puguh menanggapi cerita Rengganis, "Kapan kapan aku ingin bertemu dengan gurumu."
"Kakang Puguh serius ? Sebenarnya aku belum ingin pulang. Tetapi, .... bagaimana kalau kita menuju ke tempat guruku sambil berkelana ?" kata Rengganis lagi.
"Benar juga ya Toh kita juga tidak punya tujuan yang pasti," jawab Puguh lagi.
"Horreee ! Berarti kita menuju ke tempat tinggal guruku, kakang," sahut Rengganis, "Tapi aku lapar, kakang."
Sreeettt ! Sreeettt !
Puguh tiba tiba berhenti berlari dan diikuti oleh Rengganis.
"Maaf. Adik di sini dulu, kakang mencari makan untuk kita, sebentar," kata Puguh.
"Tidak ! Itu tidak adil kakang. Kakang Puguh mencari hewan buruan untuk dibakar, Rengganis mencari buah buahan. Siapa yang kalah, melakukan pekerjaan membakar," tantang Rengganis sambil tersenyum.
Deg !!!
Puguh terbengong melihat Rengganis tersenyum. Rasanya ada sesuatu sari dalam dadanya yang terbetot keluar.
__ADS_1
"Kakang ! Kakang Puguh !" tanya Rengganis sambil menggoyang goyangkan bahu Puguh.
"Eeehhh iya ... apa tadi ?" tanya Puguh.
"Hhiiihhh hhiiihhh !" Rengganis menghentak hentakkan kakinya ke tanah.
"Makanya kalau ada orang sedang berbicara diperhatikan ! Jangan melamun saja !" kata Rengganis dengan jengkel, "Atau jangan jangan, .... kakang Puguh teringat dengan Tuan Putri yang ditinggal ya ?"
Mendengar ledekan Rengganis itu, Puguh diam saja tidak bisa menjawab. Mukanya merah padam seperti udang direbus.
"Ayo kakang, kita mulai bertanding ! Kakang Puguh mencari hewan buruan, sedangkan aku mencari buah buahan !" kata Rengganis sedikit memaksa, "Kakang Puguh sudah siap ? Kita mulai sekarang !"
Dengan cepat Rengganis melesat ke bagian hutan yang agak rapat pohon.pohonnya. Karena dia tahu, biasanya di bagian hutan yang penuh dengan pepohonan, ada tanaman yang menghasilkan buah dan bisa dimakan.
Sedangkan Puguh, untuk sejenak terdiam saja sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Tetapi kemudian, tubuhnya secepat kilat melesat ke daerah hutan yang agak jarang jarang pohonnya namun ditumbuhi banyak rumput.
Setelah beberapa saat kemudian, terlihat Rengganis muncul di tempat mereka tadi, dan kemudian mencari tempat yang nyaman untuk meletakkan buah buahan yang dia peroleh dari dalam hutan.
"Heeehhh ... Karena kakang Puguh kalah, maka kakang Puguh yang menyiapkan makan untuk kita !" kata Rengganis sambil berkacak pinggang, "Aku mau istirahat dulu."
Tanpa memperhatikan reaksi Puguh, Rengganis langsung menuju ke bawah sebuah pohon dan merebahkan tubuhnya.
Sementara Puguh yang ditinggal, langsung mempersiapkan semua yang diperlukan untuk mengolah semua bahan makanan itu.
Tanpa Rengganis ketahui, sebenarnya Puguh sudah lebih dahulu mendapatkan hasil buruan. Berkat semua inderanya yang terlatih saat hidup di dasar jurang, Puguh dengan cepat bisa menemukan dan menangkap seekor kelinci dan seekor ayam hutan. Kemudian Puguh segera mencari Rengganis untuk memastikan keselamatan Rengganis. Karena bagaimanapun, Rengganis pernah mendapatkan serangan yang hampir merengut nyawanya.
Kemudian, setelah menemukan Rengganis, dengan tingkat tenaga dalamnya yang sudah tinggi, Puguh mengikuti Rengganis dari belakang tanpa bisa dirasakan getaran energinya oleh Rengganis.
Beberapa saat kemudian, semua makanan telah siap dan Puguh segera memanggil Rengganis agar mendekat.
Karena sudah merasakan lapar sejak tadi, tanpa menunggu disuruh lagi dan tanpa malu malu, Rengganis langsung mencicipi semua makanan itu.
Puguh yang melihat itu, hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Masakan kakang Puguh enak. Kakang Puguh belajar memasak sama siapa ?" tanya Rengganis.
"Kakang belajar memasak sekedarnya, diajari oleh guru," jawab Puguh.
Sambil menyantap makanan yang tersedia, mereka berdua membicarakan banyak hal. Semakin lama berbincang dengan dengan Rengganis, Puguh semakin merasakan aneh pada dirinya. Dia tahu, Rengganis adalah perempuan yang tidak terlalu memperhatikan adat dan batasan, namun Puguh merasa nyaman berdekatan dengan Rengganis.
Tanpa terasa, makanan yang cukup banyak itu ludes disantap mereka berdua. Kemudian mereka beristirahat sejenak.
Menjelang siang, mereka berdua melanjutkan perjalanan untuk mengembara, walaupun tujuan utama mereka adalah ke tempat tinggal guru sekaligus kakek Rengganis.
----- * -----
Sementara itu di Kadipaten Langitan. Sehari dua hari, Den Roro masih sanggup tinggal di gedung Kadipaten Langitan bersama pendekar pendekar yang lain. Namun, semakin lama, hatinya merasakan, kalau suasana dintemoat dia berada sudah tidak seperti dulu lagi, rasanya seperti ada yang dicabut darinya.
Akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi, Den Roro mengatakan kepada kakaknya, Den Bagus, ingin pulang ke Kademangan Pandan Ireng.
Pada awalnya, kakaknya tidak memperbolehkan dengan alasan berbahaya dalam perjalanan. Namun, karena Den Roro yang terus mendesak, akhirnya kakaknya memperbolehkan Den Roro pulang, tapi dengan kawalan satu regu pasukan.
Tanpa membantah lagi, Den Roro mengiyakan apa yang diperintahkan oleh kakaknya. Yang penting dia bisa segera pergi dari tempat ini.
Pada keesokan harinya, Den Roro bersama dengan satu regu prajurit keluar dari gedung Kadipaten Langitan untuk menuju ke Kademangan Pandan Ireng. Mereka semua berangkat dengan berkuda karena Den Roro tidak mau diantarkan menggunakan kereta kuda.
Ketika perjalanan sudah sampai di luar kota Kadipaten Langitan, Den Roro meminta untuk berhenti dulu. Kemudian Den Roro turun dari kudanya dan berdiri menatap satu regu pasukan yang mengantarnya.
"Kalian lanjutkan dulu perjalanan menuju Kademangan Pandan Ireng. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan dulu !" kata Den Roro.
"Tapi Den Roro, ... " kata salah seorang prajurit yang menjadi pemimpin prajurit.
"Kalau ditanya oleh Kanjeng Romo Demang, katakan saja, aku akan segera menyusul pulang begitu urusanku selesai !" sahut Den Roro, "Terimakasih telah menemaniku, sampai jumpa lagi, aku pergi."
Tanpa memperpanjang percakapan lagi, Den Roro segera membalikkan badan kemudian melesat secepat cepatnya, yang karena ketidak tahuannya, arah yang diambil oleh Den Roro berlainan arah dengan yang diambil oleh Puguh dan Rengganis.
__________ ◇ __________
__ADS_1