Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Mengalahkan Palvagasura


__ADS_3

Siluman kera raksasa itu untuk sesaat terkejut. Anak manusia yang baru beberapa pekan kemarin dia culik dan selalu ketakutan setiap melihatnya, pukulannya bisa membuatnya terdorong ke belakang.


Hal itu membuat siluman kera raksasa semakin murka dan merasa tidak terima.


Maka, dengan mengerahkan tenaga dalamnya lebih banyak lagi, siluman kera raksasa itu menotolkan kaki besarnya ke tanah. Sesaat kemudian tubuhnya melesat ke atas dengan sangat cepat ke arah Rengganis. Kemudian tengan kanannya memukul ke arah wajah Rengganis dengan kekuatan penuh.


Melihat serangan yang nekat itu, Rengganis kembali menggeser tubuhnya ke kanan. Namun dengan sangat cepatnya tangan kiri siluman kera raksasa menyusulinya dengan pukulan ke arah perut Rengganis.


Pukulan tangan kiri siluman kera raksasa itu tetap mengenai samping perut, walaupun Rengganis sudah memiringkan tubuhnya, sambil kedua tangannya melakukan gerakan menyerap kekuatan pohon, yang kemudian diarahkan untuk menghantam punggung siluman kera raksasa itu, seperti gerakan dahan pohon menyapok.


Buuggg !


Dbaaammm !


Siluman kera raksasa yang tidak mengira, Rengganis bisa melakukan pukulan itu, tubuhnya terdorong ke depan dengan keras dan jatuh terjerembab ke tanah.


Bruuaaakkk !


Melihat siluman kera raksasa itu jatuh ke tanah, dengan cepat Rengganis menggerakkan telapak tangan kanannya untuk melakukan pukulan jarak jauh.


Baru saja siluman kera raksasa mengangkat tubuhnya untuk bangun, pukulan jarak jauh Rengganis sudah kembali menerjang punggungnya dengan keras, hingga membentuk lubang besar di tanah dimana tubuh besar siluman kera raksasa itu amblas ke tanah. Tubuh siluman kera raksasa itu tidak bergerak lagi.


----- * -----


Sementara itu di pertarungan Puguh melawan Palvagasura. Baru kali ini Puguh mengalirkan tenaga dalamnya pada tingkat yang setinggi ini, ke dalam pedang yang dipegangnya.


Selain membuat bilah pedang itu menyala hijau yang semakin terang, juga membuat pedang itu mengeluarkan hawa yang sangat dingin.


Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya Palvagasura mulai merasakan efek dari hawa dingin itu.


Hingga pada suatu saat, Palvagasura kembali menambah aliran tenaga dalamnya ke kedua rantainya. Kemudian, kedua rantai itu diputar kembali dengan sangat cepatnya hibgga tidak nampak lagi wujud rantainya.


Untuk beberapa saat, Palvagasura menyadari, walaupun putaran rantainya bertambah cepat, namun suara dengungan yang ditimbulkan tidak muncul lagi. Palvagasura mengira, hal itu disebabkan karena putaran rantai yang semakin cepat.


Kemudian, dengan melayang sedikit lebih tinggi lagi, Palvagasura mengayunkan rantai di tangan kanannya. Kemudian disusul dengan tangan kirinya yang mengayunkan rantai yang dipegang.


Kedua rantai yang tadinya berputar sangat cepat, ujungnya tiba tiba melesat ke arah Puguh.

__ADS_1


Puguh yang sudah selalu bersiap dengan segala kemungkinan, segera memapaki datangnya ujung rantai. Pedang di tangan kanannya ditarik sedikit ke balakang, kemudian dengan gerakan setengah melingkar dari arah kanan, pedang Puguh membentur ujung rantai yang lebih dahulu tiba di depannya.


Kemudian dengan cepat, Puguh memutar kembali pedangnya untuk kemudian memapaki datangnya ujung rantai yang kedua.


Traaakkk ! Traaakkk ! Praaanggg !


Begitu berbenturan dengan pedang Puguh yang mengeluarkan hawa sangat dingin, kedua rantai itu hancur berkeping keping.


Melihat kedua rantainya hancur, untuk sesaat Palvagasura terdiam. Pada saat itulah, Puguh sudah melesat mendekat sambil.mengayunkan tangan kirinya ke dada Palvagasura.


Jdaaammm !


Terkena pukulan di dadanya, tubuh Palvagasura melayang mundur hingga beberapa meter.


Setelah tubuhnya berhenti melayang ke mundur, tangan kiri Palvagasura memegang dadanya yang terasa sesak. Berdiri dalam posisi melayangnya tampak limbung. Mulutnya terlihat penuh dengan darah. Mulut yang tersenyum getir.


"Apakah aku sudah selemah ini, sehingga bertarung melawan anak muda bangsa manusia ini, dengan mudahnya aku terluka. Atau anak muda bangsa manusia ini yang kemampuannya sudah diatasku ?" kata Palvagasura dalam hati.


"Apakah paman ingin melanjutkan pertarungan ini ?" tanya Puguh sambil melayang mendekat dengan pedang yang masih terhunus.


Kemudian Palvagasura menarik nafas panjang.


"Anak muda bangsa manusia, baru kali ini aku menghadapi lawan yang bahkan bisa mengalahkanku. Sesuai janjiku, aku akan pulang ke negerikuaku dan membawa pulang anakku. Namun terlebih dahulu, akan mengenalkanmu dengan guruku," jawab Palvagasura.


Kemudian, Palvagasura perlahan melayang turun, diikuti oleh Puguh di belakangnya.


Palvagasura mendarat di dekat tubuh siluman kera raksasa. Dilihatnya, masih ada gerak kehidupan di dada siluman kera raksasa.


Kemudian, Palvagasura menoleh ke sosok perempuan dari bangsa manusia yang berdiri di dekat tubuh siluman kera raksasa, dimana Puguh sudah berdiri di dekatnya.


Senyuman Palvagasura semakin kecut saat melihat Puguh dan perempuan itu sudah saling kenal.


"Ggrrrhhh ! Gadis muda ! Titip jagakan dia !" kata Palvagasura sambil menunjuk tubuh siluman kera raksasa.


Kemudian, tanpa memperdulikan yang lainnya, Palvagasura mengajak Puguh untuk pergi ke tempat gurunya.


"Ikuti aku !" teriak Palvagasura sambil tubuhnya melesat terbang ke atas.

__ADS_1


Melihat Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa itu sudah terbang ke atas, Puguh pun segera mengikutinya.


Selama beberapa waktu, mereka berdua melayang lurus ke atas. Hingga akhirnya mereka melewati gumpalan gumpalan awan putih.


Setelah menembus barisan awan putih yang sangat banyak, Palvagasura berhenti di atas hamparan awan putih yang sangat besar dan luas.


Palvagasura menapak di atas hamparan awan itu, dan berjalan ke arah tengah hingga dua puluh lima langkah.


Puguh segera mengikuti apa yang dilakukan oleh Palvagasura. Awalnya Puguh ragu umtuk menapak di atas hamparan awan. Satu kaki Puguh tapakkan ke atas awan. Dalam hati Puguh heran dan kagum, ternyata kakinya seperti menapak di atas tanah.


Akhirnya Puguh menyusul Palvagasura, melangkah ke arah tengah tengah hamparan awan putih dan berhenti disamping Palvagasura.


Selama beberapa saat, mereka berdua hanya berdiri terdiam. Namun kemudian, Palvagasura menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya seraya membungkukkan kanannya.


"Guru, kami datang menemuimu !", Ucap Palvagasura pelan.


Tiba tiba, Puguh merasakan adanya hentakan lonjakan tenaga dalam dari arah depannya. Diikuti adanya bagian gumpalan awan yang bergerak dan membentuk sesosok tubuh kera raksasa.


Kera raksasa yang berwarna putih seperti awan itu, bangun dan kemudian terduduk.


"Ada urusan apakah Palvagasura, sehingga kau harus mengganggu tidurku !" kata kera raksasa putih itu.


"Maaf guru, ada yang hendak minta tolong padamu !" jawab Palvagasura.


Kemudian tanpa diminta, Palvagasura segera menceritakan apa yang sudah dialami oleh Puguh.


Setelah mendengar cerita tentang Puguh, tangan kiri kera putih raksasa itu menggaruk garuk kepalanya.


:Jadi kau itu tersesat ke tempat ini, anak muda ?" tanya kera putih pada Puguh.


"Benar paman ! Dan aku minta diajarkan cara agar kami bisa kembali ke negeri kami !" jawab Puguh.


"Baiklah ! baiklah ! Anak muda ! Aku akan mengajarimu. Namun sebelumnya, aku ingin merasakan kemampuanmu !" kata kera putih raksasa sambil kemudian berdiri. Lalu, tangan kirinya mengibas pelan.


Dari kibasan itu, melesat gumpalan gumpalan putih sebesar kepalan tangan yang meluncur sangat cepat ke arah Puguh.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2