Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Keluar Lagi Dari Ruangan Gelap Di Dalam Batang Pohon Raksasa


__ADS_3

Puguh teringat semua hal yang sudah dia alami. Namun hanya sampai saat dia dipaksa minum ramuan obat oleh Nyi Chandra Praya.


Begitu teringat tentang Rengganis, Puguh segera bangkit dari duduknya dan kemudian mendongakkan kepalanya, melihat keadaan ruangan tempat dia terjatuh.


"Tempat ini masih seperti yang dulu, tidak ada yang berubah sama sekali," kata Puguh dalam hati.


Puguh sekali lagi memperhatikan sekelilingnya. Keadaan dindingnya masih sama seperti yang dulu. Posisi meja batu dan tiang tiang yang terbuat dari batu hitam, tidak ada yang berubah.


"Bahkan bau dan hawa udaranya pun, masih sangat aku kenal," gumam Puguh.


Seolah tidak ingin melewatkan sekecil apapun yang ada di ruangan itu, Puguh memperhatikannya dengan tatapan yang tajam.


Setelah beberapa lama, kemudian Puguh melompat ke tiang batu hitam yang paling rendah. Setelah melihat lihat sebentar, Puguh pun kembali melompat ke tiang yang lebih tinggi lagi.


Sesampainya di tiang yang ke tiga, Puguh sedikit termangu. Ingatannya kembali ke masa saat dia akan keluar dari ruangan di dalam batang pohon raksasa itu.


Saat itu, dia hanya berpikir untuk meningkatkan kemampuan dan kemampuannya agar segera dapat keluar dari tempat ini.


Tapi sekarang ada hal lain yang terpikirkan.


"Apa aku tunggu saat purnama ya, agar bisa melihat tempat ini dengan lebih lengkap. Mungkin ada hal hal lain yang belum sempat aku temukan, yang mungkin bisa menambah sempurnanya ilmuku," kata Puguh dalam hati.


Akhirnya Puguh mengurungkan niatnya untuk keluar dari tempat itu. Kemudian Puguh turun untuk menunggu malam tiba.


-----*-----


Puguh harus menunggu tiga hari untuk mendapati bulan purnama. Waktu tiga hari itu Puguh pergunakan untuk mengamati semua hal yang ada di dalam ruangan di dalam pohon raksasa itu.


Begitu hari gelap dan memasuki malam purnama, Puguh sudah berdiri di atas pilar yang paling rendah. Puguh tidak ingin ada yang terlewatkan sedikitpun.


Saat sinar bulan purnama mulai memasuki ruangan di dalam batang pohon raksasa, melalui lubang di puncak batang pohon, Puguh mulai mengamati dengan teliti semua yang dilihatnya.


Tiga jam penuh Puguh mengamati dan menghafalkan semua yang dia lihat.


Setelah sinar bulan purnama tidak lagi bisa masuk ke dalam ruangan di dalam batang pohon raksasa, Puguh segera turun dan segera mengulang semua gerakan yang telah dia baca.

__ADS_1


Memang sebagian besar gerakan yang Puguh amati dan hafalkan sama seperti yang sudah dia pelajari. Namun ada beberapa yang dulunya tidak sempat atau tidak bisa terbaca oleh Puguh.


Maka, begitu Puguh mempraktekkan semua gerakan yang dia baca tadi, Puguh merasakan, jurus jurusnya menjadi lebih kuat dan membahayakan. Selain itu, pengembangan jurusnya menjadi lebih banyak variasinya.


Semua hal itu, Puguh lakukan jalani selama tiga hari tiga malam penuh. Karena puncak bulan purnama hanya tiga hari.


Pada hari ke empat, di dalam ruangan gelap di dalam batang pohon raksasa, Puguh mencoba mengulang semua gerakan mulai jurus pertama hingga jurus terakhir.


Setelah gerakan rangkaian jurus jurus itu dicoba secara utuh, Puguh merasakan perbedaan yang sangat besar. Jurus jurus yang dia kuasai sekarang ini, Puguh rasakan menjadi lebih mantap, lebih kuat, dan lebih efektif.


Selain itu, setelah mengulang menbaca selama bulan purnama, Puguh mendapatkan pencerahan dalam tehnik ilmu meringankan tubuh dan juga bersemedi dan rangkaian gerakan untuk pembentukan tenaga dalam.


Setelah membaca petunjuk yang tergambar secara utuh, Puguh menemukan, tehnik yang dia pelajari dan dia praktekkan sekarang ini, jauh lebih efektif dan lebih sempurna dari yang dia kuasai sebelumnya.


Setelah sekitar sepuluh hari Puguh habiskan untuk berlatih, Puguh merasa mantap kalau yang dia pelajari sekarang ini, sudah tidak ada yang tertinggal.


Keesokan harinya, Puguh memutuskan untuk keluar dari ruangan gelap di dalam batang pohon raksasa.


Setelah menyentuh dan mengusap semua benda yang ada di ruangan itu, seolah olah berpamitan, Puguh mulai menapaki pilar pilar yang berdiri di tengah ruangan ataupun yang menempel di dinding menuju ke atas dengan ringannya, seolah seperti berjalan biasa.


Puguh menikmati setiap pijakan pada setiap pilar yang dia lewati, seolah olah itu adalah yang terakhir.


Hingga akhirnya tanpa terasa, Puguh telah sampai di puncak pohon dan keluar melalui lubang yang biasa untuk lewat sinar rembulan.


Begitu sampai di luar, Puguh baru saja hendak menarik nafas panjang, saat telinganya mendengar dengusan nafas. Selain itu, Puguh juga merasakan adanya getaran energi yang sangat besar di belakangnya.


Gggrrrrr .... !!!


Puguh perlahan menoleh ke belakang. Sama seperti dulu saat keluar dari lubang pohon, di belakang Puguh muncul kepala kera raksasa yang meringis menakutkan.


Namun, entah kenapa, dengan tingkat tenaga dalamnya yang sekarang ini, Puguh tidak merasa takut dengan kera raksasa di belakangnya itu.


"Kamu ingin melemparku seperti dulu lagi ?" tanya Puguh kepada kera raksasa itu, "Cobalah kalau kau mampu memindahkan badanku dari dahan ini."


Puguh berbicara sendiri seolah menantang kera raksasa itu.

__ADS_1


Seperti mengetahui apa yang dikatakan oleh Puguh, kera raksasa itu berteriak sangat kencang dan kemudian tangan kanannya yang tidak berpegangan pada dahan ditepuk tepukkan pada dadanya.


Aaarrrccchhh .... !!!


Bugghh ! Bugghh ! Bugghh !


Kemudian dengan kecepatan yang sangat luar biasa, tangan kanan kera raksasa itu membuat gerakan mengemplang ke tubuh Puguh. Seperti orang yang tidak mengetahui ada bahaya, Puguh mengangkat tangan kanannya seperti orang yang sedang menghalau lalat.


Seketika terjadi suara benturan yang sangat keras, saat telapak tangan kanan kera raksasa itu bertemu dengan telapak tangan kanan Puguh.


Plaaakkk !!!


Benturan dua telapak tangan yang sangat berbeda jauh ukurannya, membuat kera raksasa itu merasakan tangan kanannya bergetar hebat hingga ke bahu, bahkan getaran itu merembet hingga ke seluruh badannya.


Sesaat kera tersebut terkejut dan menatap tajam ke arah Puguh.


Kemudian, kera raksasa itu kembali berteriak kencang.


Aaarrrccchhh !!!


Selesai berteriak, kera raksasa itu dengan sangat ringannya, mengayunkan tubuhnya pada dahan menggunakan kedua tangannya hingga tubuh besarnya berputar di dahan. Kemudian dengan tiba tiba, kera raksasa itu menjejakkan kedua kakinya mengarah ke tubuh Puguh.


Tidak ada pililah lain bagi Puguh, gerakan jejakan kaki kera raksasa itu ditangkis dengan kedua lengannya hingga menimbulkan suara ledakan.


Dbbaaammm !


Sesaat setelah suara ledakan itu, Puguh melesat ke bawah untuk menyusul tubuh kera raksasa yang terpental kemudian jatuh melayang ke bawah.


Puguh mendarat di tanah dengan kedua tangan menyangga tubuh kera raksasa itu. Kemudian tubuh kera raksasa itu dilemparkan hingga jatuh dalam posisi berdiri.


Kera raksasa itu berdiri terdiam sambil kedua bola matanya menatap tajam Puguh.


"Terimakasih, telah menjaga pohon itu untukku. Aku pergi dulu," kata Puguh sambil tubuhnya membungkuk dengan kedua telapak tangan tertelangkup di dada.


Kemudian, tanpa melihat lagi reaksi kera raksasa itu, tubuh Puguh berkelebat lenyap dari pandangan.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2