
Ketika ketujuh orang itu turun ke tanah, Puguh sedikit terkejut.
"Panglima Perang Jaladri membawa lebih banyak pembantu pembantunya yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi ! Semoga tidak ada lagi panglima perang yang tingkat kekuatannya sangat tinggi, yang datang bersama pasukan perangnya !" kata Puguh dalam hatinya.
"Pangeran Kanaya Wijaya ! Seperti kemaren, Panglima Perang Jaladri biar aku yang menghadapinya. Sedangkan enam orang yang lainnya, bisa kalian hadapi masing masing berdua !" kata Puguh.
"Baiklah Pendekar Puguh !" jawab Pangeran Kanaya Wijaya.
Sementara itu, Panglima Perang Jaladri tersenyum senang melihat kekuatan orang orang yang menyambutnya.
"Anak muda ! Ayo kita lanjutkan pertarungan kita yang tertunda kemaren !" kata Panglima Perang Jaladri.
Kemudian, sambil melesat maju, Panglima Perang Jaladri meloloskan senjata rantai yang terlilit di pinggangnya. Lalu dengan sekali ayun, bandul bola besi berduri melesat dengan sangat cepat dan menghantam Puguh.
Jdaaarrr !
Terlihat debu mengepul pekat, saat bandul bola besi berduri menghantam tempat Puguh berdiri. Sedangkan Puguh sendiri telah menghindar dengan melesat ke atas, kemudian berhenti dan melayang di udara.
Melihat Puguh melesat ke atas kemudian melayang terbang, Panglima Perang Jaladri pun segera menyusul melayang terbang.
Kemudian, dalam posisi melayang, Panglima Perang Jaladri mengeluarkan dan mengalirkan tenaga dalamnya hingga jumlah yang besar, dan dilanjutkan dengan melemparkan bandul bola besi berduri ke atas beserta dengan rantainya.
Lalu, dengan tangan kanan masih memegang ujung rantai, Panglima Perang Jaladri meletakkan telapak tangan kirinya di depan dada dalam posisi terbuka, sambil bibirnya bergerak gerak membaca mantera.
Beberapa saat kemudian, terjadilah suara ledakan pada bandul bola besi berduri dan senjata rantainya yang telah teraliri tenaga dalam.
Jdaaammm ! Jdaaammm ! Jdaaammm !
Dalam ledakan itu, bandul bola besi berduri beserta rantainya, berubah menjadi wujud harimau raksasa utuh berwarna kemerahan.
Ketika wujud harimau raksasa itu telah sempurna, panglima Perang Jaladri segera mengayunkan tangan kanannya. Pada saat itu juga, wujud harimau raksasa itu juga melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh.
"Siluman harimau besi ! Habisi anak manusia itu !" teriak Panglima Perang Jaladri.
__ADS_1
"Ggrrrwww !" siluman harimau besi itu menjawab dengan auman sambil terus melesat ke arah Puguh.
Sementara itu, ketika melihat Panglima Perang Jaladri juga melayang ke atas, Puguh berkata pada Pangeran Kanaya Wijaya, "Pangeran, usahakan menahan dulu yang lainnya !"
Kemudian, ketika Panglima Perang Jaladri meningkatkan jumlah tenaga dalamnya, Puguh pun segera menambah aliran tenaga dalamnya, hingga membuat sinar hijau yang keluar dari bilah pedangnya, semakin bertambah terang dan bertambah luas. Sebagian dari sinar hijau terang itu, dengan cepat membentuk wujud elang raksasa.
"Siluman Elang ! Sepertinya lawan kita saat ini, ingin mengadu kekuatan siluman yang dibawanya ! Jangan sampai kalah ! Aku mengandalkanmu !" kata Puguh dalam pikirannya.
"Kkrrraaakkk ! Serahkan kepadaku, Puguh !" jawab siluman elang itu yang langsung masuk ke dalam pikiran Puguh, sambil melesat terbang dengan sangat cepat, menghadang arah gerakan siluman harimau besi.
Sesaat kemudian, di langit di atas tebing yang menjulang di tepi sungai, terjadi benturan berkali kali, dua kekuatan siluman yang berada pada tingkat yang sangat tinggi.
Benturan dua kekuatan siluman itu menimbulkan suara ledakan berkali kali dan juga menimbulkan percikan sinar hijau terang bercampur sinar kemerahan.
Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !
Baaammm ! Baaammm !
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan, Puguh dan Panglima Perang Jaladri secara terus menerus, mengalirkan tenaga dalamnya ke arah kedua siluman yang sedang bertarung.
Dbaaammm !
Ketika kedua siluman itu terdorong ke belakang, Puguh dan Panglima Perang Jaladri juga terdorong mundur hingga beberapa langkah.
Puguh yang harus tersurut mundur hingga tiga langkah dengan kuda kuda yang tidak berubah, segera mengalirkan kembali tenaga dalamnya ke arah pedangnya dan juga ke arah siluman elang yang melayang di atasnya.
Sementara itu, Panglima Perang Jaladri, yang tubuhnya mendapatkan tekanan dari sesuatu yang tidak terlihat, membuat tubuhnya terhempas ke belakang, melayang bergulingan hingga beberapa langkah.
"Uhukkk hukk hukkk ! Anak ini, kekuatannya sepertinya semakin bertambah saja !" gumam Panglima Jaladri.
"Tapi aku tidak mungkin kalah dari anak ini !" kata Panglima Perang Jaladri dalam hati sambil memasang kuda kudanya kembali.
Sesaat kemudian, terjadi lonjakan kekuatan di dalam tubuh Panglima Perang Jaladri. Rantai di tangan kanannya mengeluarkan suara bergemerincing, saat bandul bola besi berduri melesat lagi ke atasnya.
__ADS_1
Kemudian, senjata rantai.dan bandul bola besi berduri itu mengeluarkan ledakan yang lebih keras lagi, dan sesaat kemudian berubah menjadi sosok siluman harimau besi yang tubuhnya berwarna keperakan seperti logam dan kedua mata yang menyalang merah.
"Siluman harimau besi ! Gunakan kekuatan puncakmu, untuk menghancurkan siluman elang dan anak manusia itu !" teriak Panglima Perang Jaladri sambil tangan kanannya melakukan gerakan seperti orang melempar.
Sementara itu Puguh, melihat lawannya membali bersiap lagi, segera mengalirkan tenaga dalamnya dalam jumlah yang sangat besar, ke seluruh tubuhnya dan juga ke senjata pedangnya.
Wujud siluman elang yang terbentuk dari pendaran sinar yang keluar dari bilah pedangnya, terlihat seperti semakin nyata dan warna hijau pada bulu bulunya terlihat semakin terang.
"Aku harus segera menghentikannya, untuk mengakhiri pertarungan yang sudah berlangsung selama beberapa hari ini !" kata Puguh dalam hati.
"Kkrrraaakkk ! Ayo kita habisi mereka dengan gabungan kekuatan kita !" kata siluman slang di dalam pikiran Puguh.
Sesaat Puguh terkejut dan tersenyum, karena lupa kalau pikiran siluman elang, berada di dalam pikirannya, setiap wujud siluman elang keluar dan berada di dekatnya.
Kemudian, saat Panglima Perang Jaladri mengayunkan tangan kanannya, Puguh pun mengayunkan senjata pedangnya ke arah depan, yang membuat seketika itu juga, wujud siluman elang melesat dengan sangat cepat, memapaki datangnya siluman harimau besi yang melesat ke arahnya.
Sesaat kemudian, terjadi lagi benturan berkali kali antara siluman elang dengan siluman harimau besi. Benturan dua wujud siluman yang membawa getaran kekuatan yang sangat besar itu, menimbulkan suara yang sangat keras, lebih keras dari yang pertama tadi.
Blang ! Blang ! Blang ! Blang !
----- * -----
Bersamaan dengan itu, Pangeran Kanaya Wijaya dengan dibantu oleh dua belas orang pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha, harus menghadapi enam orang wakil panglima perang yang memiliki kesaktian sangat tinggi dan hanya sedikit di bawah Panglima Perang Jaladri. Sedangkan kedua belas pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha itu, tingkat kesaktiannya masih dibawah Roro Nastiti. Sehingga setiap satu wakil panglima perang harus dihadapi oleh paling tidak tiga atau empat orang pendekar.
Karena jumlah kekuatannya yang kalah jauh, membuat Pangeran Kanaya Wijaya dan para pendekar yang membantunya terdesak hebat, saat pertarungan baru berjalan sekitar dua puluh lima jurus.
Karena merasa unggul dalam kekuatan, dan karena sejak awal, Panglima Perang Jaladri tidak mau dibantu, dua dari enam wakil panglima perang tadi segera melesat turun untuk membantu dan mengatur para prajuritnya.
Hal itu membuat pertarungan di sepanjang jalan di tepi sungai, yang awalnya pasukan perang Kerajaan Kaling Pura di atas angin walaupun kalah dalam jumlah, karena dibantu oleh Roro Nastiti dan para pendekar Padepokan Kuwanda Brastha, seketika berubah.
Dua orang wakil panglima perang yang turun membantu para prajurit itu harus dihadapi oleh Roro Nastiti bersama sama dengan beberapa pendekar Padepokan Kuwanda Brastha.
Hingga akhirnya, pasukan perang Kerajaan Kaling Pura, bahkan Roro Nastiti dan para pendekar yang lainnya terdesak hebat.
__ADS_1
---------- ◇ ----------