Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Tantangan untuk Prabu Girindra Nata


__ADS_3

Sebenarnya para pembantunya dan banyak pendekar sudah memperingatkan Prabu Girindra Nata untuk tidak melayani tantangan berduel dari Pangeran Langit Barat. Karena, para pendekar itu dan juga para pembantu Prabu Girindra Nata curiga, kalau itu hanya pancingan ataupun tipuan dari pihak Kerajaan Menara Langit terutama Pangeran Langit Barat, untuk mengukur kekuatan dari Kerajaan Kisma Pura.


Namun, karena Prabu Girindra Nata yang sangat terobsesi dengan ilmu silat, mengabaikan peringatan para pendekar dan para pembantunya, sehingga tidak bisa dicegah lagi.


Seperti biasanya, dengan penuh percaya diri, Prabu Girindra Nata mendatangi pasukan perang Kerajaan Menara Langit untuk mencari Pangeran Langit Barat.


Akhirnya, Prabu Girindra Nata dikepung dan dikeroyok oleh beberapa Panglima Perang Kerajaan Menara Langit.


Pada pertarungan itu, Prabu Girindra Nata, coba dihadapi oleh Panglima Perang Hapsari, seorang panglima perang perempuan yang mempunyai ilmu kesaktian yang sangat tinggi dan menggunakan senjata sebuah cambuk.


Baru saja Panglima Perang Hapsari melangkah maju, Prabu Girindra Nata sudah melesat dengan sangat cepat, melakukan serangan pukulan dan tendangan.


Mendapatkan serangan itu, tidak ada pilihan lain bagi Panglima Perang Hapsari, selain menangkis dan menghadapi serangan jarak dekat itu. Sehingga di awal pertarungan, sudah terjadi benturan pukulan ataupun tendangan berkali kali.


Plak ! Plak ! Plak ! Plak !


Desss ! Desss ! Desss !


Dalam rangkaian benturan pukulan dan tendangan yang bertubi tubi itu, tanpa terasa, tiga puluh jurus terlewati. Hingga akhirnya pada suatu saat, terjadi benturan pukulan yang sama sama menggunakan tenaga dalam tingkat sangat tinggi, hingga menimbulkan suara yang sangat keras dan membuat tubuh mereka berdua tersurut mundur.


Jdaaammm !


Dalam benturan pukulan itu, Prabu Girindra Nata tersurut mundur dua langkah dengan kuda kuda yang tetap kokoh.


Sementara itu, Panglima Perang Hapsari terhuyung huyung mundur hingga empat langkah dengan muka yang memucat dan nafas yang sedikit tertekan.


"Huuuhhh ! Raja ini memiliki tingkat tenaga dalam yang sangat tinggi. Serangannya juga begitu cepat !" kata Panglima Perang Hapsari dalam hati.


Kemudian, dengan cepat, Panglima Perang Hapsari memasang kembali kuda kudanya sambil mengeluarkan senjata cambuknya.


Terdengar suara desingan dan ledakan beberapa kali, saat Panglima Perang Hapsari memutar mutar cambuknya di atas kepalanya dan menambah aliran tenaga dalamnya.


Swing ! Swing ! Swing !

__ADS_1


Ctarrr ! Ctarrr ! Ctarrr ! Ctarrr !


Kemudian dengan sekali hentakan kaki kirinya, tubuh Panglima Perang Hapsari melesat dengan sangat cepat ke arah Prabu Girindra Nata.


Bersamaan dengan itu, ketika melihat Panglima Perang Hapsari mengeluarkan senjata, Prabu Girindra Nata juga meloloskan senjata pedangnya.


Getaran kekuatan yang sangat besar keluar dari tubuh Prabu Girindra Nata ketika Prabu Girindra Nata menambah aliran tenaga dalamnya.


Kemudian, saat Panglima Perang Hapsari melesat maju menyerang, Prabu Girindra Nata sedikit melenting, kemudian melesat memapaki serangan Panglima Perang Hapsari.


Sesaat kemudian, berkali kali terjadi benturan senjata pedang dengan ujung cambuk yang menyambar nyambar.


Tring ! Tring ! Tring ! Tring !


Ctarrr ! Ctarrr !


Setelah hampir dua puluh jurus, Prabu Girindra Nata terus menerus menangkis datangnya serangan ujung cambuk, tiba tiba Prabu Girindra Nata memutar senjata pedangnya lebih cepat lagi.


Saat serangan ujung cambuk yang datang lagi itu terpental kembali ke belakang karena terkena putaran pedang yang sangat cepat, dengan gerakan yang sangat cepat, Prabu Girindra Nata melenting ke depan kemudian menebaskan senjata pedangnya secara menyilang ke arah tubuh Panglim Perang Hapsari. Hingga akhirnya, dalam satu kejapan mata, senjata pedang Prabu Girindra Nata yang berusaha ditangkis dengan gagang cambuk, tetap berhasil mengenai bahu Panglima Perang Hapsari.


Sraaattt !


Melihat Panglima Perang Hapsari terdesak dan terluka, Panglima Perang Anggaraksa segera melompat masuk ke dalam pertarungan dengan menangkis satu tebasan pedang Prabu Girindra Nata yang mengarah ke tubuh Panglima Perang Hapsari.


Traaang !


Tangkisan Panglima Perang Anggaraksa itu membuat Prabu Girindra Nata dan Panglima Perang Anggaraksa sama sama terdorong mundur dua langkah. Keduanya pun sejenak terdiam dan saling menatap tajam, seolah hendak mengukur kekuatan lawannya.


Waktu yang sejenak itu, dimanfaatkan oleh Panglima Perang Hapsari untuk menutup lukanya dengan totokan. Kemudian dengan cepat, Panglima Perang Hapsari meloncat ke samping Panglima Perang Anggaraksa.


"Haahhh ha ha ha ha ! Kalian semua ingin mengeroyok aku ? Majulah ! Aku tidak takut !" kata Prabu Girindra Nata yang sangat menyukai pertarungan. Semakin sulit dan semakin tinggi ilmu kesaktian lawannya, Prabu Girindra Nata semakin merasa tertantang.


Tidak menunggu jawaban lawannya, Prabu Girindra Nata segera kembali melesat ke arah kedua lawannya dan melakukan serangan.

__ADS_1


Senjata pedangnya diputar sedemikian cepat hingga menimbulkan suara menderu dan menggerakkan udara di sekitarnya hingga berhembus cukup kencang.


Pertarungan dua Panglima Perang Kerajaan Menara Langit melawan Prabu Girindra Nata itu menimbulkan berbagai suara yang saling bersahutan.


Trang ! Trang ! Trang !


Taks ! Taks ! Taks ! Taks !


Ctarrr ! Ctarrr !


Pertarungan yang terjadi dalam gerakan yang sangat cepat itu, tanpa terasa sudah berjalan hingga lima puluh jurus. Saling serang dan saling tangkis pun silih berganti.


Walaupun dengan menggunakan jurus jurus keprajuritan yang sederhana dan lugas, namun karena dikembangkan dengan cabang gerakan yang banyak variasinya, dan dimainkan dengan tenaga dalam yang tingkatannya sangat tinggi. Membuat setiap serangan Prabu Girindra Nata sulit ditebak dan selalu berbahaya.


Seratus jurus terlewati dan belum ada tanda tanda ada pihak yang terdesak. Keadaan itu membuat Panglima Perang Kerajaan Menara Langit yang lainnya merasa khawatir, andaikata ada pendekar atau senopati Kerajaan Kisma Pura atau bahkan pasukan perangnya menyusul Prabu Girindra Nata.


"Panglima Perang Anggaraksa ! Segera selesaikan urusan ini !" kata salah satu Panglima Perang lainnya yang bernama Panglima Perang Gardapati, yang sejak tadi hanya menonton.


Kemudian, Panglima Perang Gardapati segera ikut masuk ke dalam pertarungan, menggantikan Panglima Perang Hapsari.


"Panglima Perang Hapsari ! Istirahatlah ! Biar aku selesaikan orang ini bersama dengan Panglima Perang Anggaraksa !" kata Panglima Perang Gardapati.


Kemudian, Panglima Perang Gardapati segera melesat menyerang Prabu Girindra Nata dengan senjata golok bergagang panjangnya.


Sambil melenting ke atas, Panglima Perang Gardapati memutar golok bergagang panjangnya di atas kepalanya. Kemudian, dengan kedua tangannya, ditebaskannya senjata golok bergagang panjangnya ke tubuh Prabu Girindra Nata.


Sementara, Prabu Girindra Nata yang tubuhnya terancam tertebas senjata golok bergagang panjang, segera memutar senjata pedangnya. Pada saat senjata golok bergagang panjang mengarah ke tubuhnya, Prabu Girindra Nata segera mengarahkan senjata pedangnya untuk menghadang laju gerakan senjata golok bergagang panjang.


Pertemuan antara senjata pedang dengan senjata golok bergagang panjang yang sama sama mengandung tenaga dalam tingkat sangat tinggi. Hingga menimbulkan suara yang sangat keras.


Blaaannnggg !


Sesaat setelah suara benturan senjata, Panglima Perang Anggaraksa juga turut menyusul menyerang. Tubuhnya melenting ke atas, memudian sambil tubuhnya menukik ke bawah, Panglima Perang Anggaraksa menebaskan senjata pedangnya ke tubuh Prabu Girindra Nata.

__ADS_1


---------- ◇ ----------


__ADS_2